Pendekar Setengah Naga

Pendekar Setengah Naga
Shilla Tiger


__ADS_3

Di bangku tribun dalam


"Gisel bangun-bangun, dasar tukang tidur." Ucap Arung, sambil mengguncang bahu Gisel.


Beberapa saat kemudian.


"Ehmmmm.... nyammmy... eh sayang sejak kapan kamu disini?" Tanya Gisel.


"Gadis ini tidur seperti orang mati, mana mungkin dia menyadari keberadaan ku saat datang tadi." Gumam Arung.


"Sudah lama Gisel, sepertinya malam ini kita tidak bisa makan malam bersama mama mu,"


"Udah kemalaman Gisel,"


"Sekarang saja sudah jam setengah sebelas, kurang baik jika kita makan malam nya jam segini." Ucap Arung.


"Benar juga yang di katakan Arung, aku sih ketiduran tadi." Gumam Gisel.


"Ya sudah Arung, tidak apa-apa, lain kali aja,"


"Nanti akan ku sampaikan kepada mamaku kalau kita kemalaman." Ucap Gisel.


"Ya katakan pada Nyonya Ya, lain kali ya." Ucap Arung.


Tak lama berselang, dua orang wanita cantik pun datang menghampiri Arung.


"Hai Arung, sudah lama ya kita tidak berjumpa,"


"Aku selalu menonton live streaming pertandingan mu lho." Ucap gadis cantik tersebut yang ternyata adalah Xiao Mei Mei.


Gisel dan Arung pun melihat ke arah wanita yang menyapa mereka barusan. Wajahnya sangat cantik dan terlihat sangat muda, sedangkan wanita yang satunya lagi juga cantik namun ekspresi nya terlihat sedikit kesal dan bingung. Arung pun membeku untuk beberapa saat, Gisel menatap kedua wanita cantik itu dengan ekspresi yang sedikit kesal.


"Siapa cewek-cewek ini, kok main sapa aja,"


"Apa mereka gak menghargai Pacar di sebelah Arung ini." Gumam Gisel.


"Xiao Mei Mei, Shilla." Gumam Arung.


"Kenapa mereka bisa ada disini?" Gumam Arung.


"Mei Mei, wah senang sekali melihatmu,"


"Kecantikan mu tidak pernah lekang, saat terakhir kali aku melihat mu di basement parkiran penginapan." Ucap Arung.


"Ternyata bukan hanya aku yang mengingat nya, ternyata kau masih ingat juga dengan ciuman resmi pertama kita, Adik Kecil." Gumam Xiao Mei Mei.


Tanpa sadar, Arung pun memeluk Xiao Mei Mei cukup lama, seluruh mata peserta yang berada di tribun dalam pun menatap ke arahnya.


"Wah.... Pemuda Tampan itu memeluk seorang gadis cantik di depan gadis cantik lainnya." Ucap salah satu peserta.


"Sepertinya akan terjadi sesuatu yang menarik." Ucap peserta lainnya.


"Basement Penginapan, mungkin kah mereka habis melakukan hal tersebut,"


"Ugh..........apa yang mereka lakukan di basement,sebaiknya aku menanyakan nya nanti." Gumam Gisel.


"Arung kau masih mengingat saat kita berciuman panas di tengah deras nya hujan malam itu,"


"Kya............... aku ingin menciumnya lagi, tapi ada Shilla dan gadis berambut ungu ini." Gumam Xiao Mei Mei dengan pipi yang memerah.


"Ternyata benar, bahkan Arung berani memeluk nya di depanku, mereka pasti memiliki suatu hubungan terlarang." Gumam Gisel, kemudian menoleh ke arah wajah Xiao Mei Mei.


"Tuh kan benar, wajah gadis cantik berambut merah itu memerah." Gumam Gisel.


"Kak Mei Mei di peluk Arung, mungkin kah Arung sangat senang bertemu dengan Kak Mei Mei,"


"Atau Kak Mei Mei dan Arung sebenarnya......." Gumam Shilla.


Gisel pun berdiri dari kursi tribun dan menarik Arung, kemudian menggandeng tangan Arung.


"Gadis berambut ungu ini mengganggu kesenangan ku saja, siapa dia?" Gumam Xiao Mei Mei.


"Arghh...... beraninya dia memeluk calon suamiku,"


"Dasar dada gede." Gumam Shilla.


Kebanyakan gadis yang lahir di Kota Awan Hitam memiliki dada yang besar, kebalikan nya di Desa Tiger ukuran dada nya standard. Suasana di sekitar gadis cantik tersebut pun mulai menegang, Mei Mei pun hanya diam saja dengan pipi yang memerah.


"Aku harus bagaimana ni, tampaknya Gisel mengambek?" Gumam Arung.


"Siapa mereka, sayang." Tanya Gisel.


"Waduh........Gisel sudah mulai menampakkan taringnya." Gumam Arung.


Mendengar kata "sayang" dari mulut Gisel lalu melihat Gisel menggandeng tangan Arung, Mei Mei pun kini sedikit kesal.


"Ugh...... dia tidak melepaskan gandengan tangan nya terhadap Adik Kecil." Gumam Xiao Mei Mei.


"Berani sekali gadis berambut ungu ini, itu calon suamiku...... " Teriak Shilla di dalam hati.


Terlihat suhu udara di sekitar Arung dan Gisel naik, Arung seperti menyadari kemarahan dari Xiao Mei Mei dan Shilla.


"Kok makin panas disini, sebaik nya aku melepaskan gandengan tangan Gisel,"


"Aku khawatir pecah pertempuran di sini." Gumam Arung.


Arung pun mulai melepaskan gandengan tangan Gisel, lalu memperkenalkan kedua gadis cantik tersebut.


"Sudah berani...... "


"Arung, kau berani melepaskan gandengan tanganku, awas kau ya." Gumam Gisel.


"Ehm.... ehmm...... " Suara gereheman Arung.


"Ini adalah pendekar dari Klan Xiao, Xiao Mei Mei yang sudah banyak membantu ku dan di samping nya ini," Ucap Arung, sambil melihat gadis cantik yang satunya lagi yang ternyata adalah Shilla.


Gisel hanya mengamati dan mendengar perkataan Arung.


"Ini adalah gadis pemarah, eh tidak tidak ini adalah Shilla Tiger anak dari Matriak di keluargaku." Ucap Arung.


"Gadis pemarah....... " Gumam Gisel.


Shilla dari tadi hanya diam dan bingung melihat wajah Arung yang berubah menjadi semakin tampan


"Saat ini Arung kok makin tampan aja, seperti nya dia operasi plastik di Pulau Koreas." Gumam Shilla.


Xiao Mei Mei pun baru menyadari perubahan pada penampilan Arung.


"Lho bukannya rambut Arung dulunya berwarna hitam, sekarang kok sama dengan ku?"


"Mungkinkah dia sengaja mengubah warna rambutnya agar terlihat sama denganku, agar kami di katakan pasangan serasi,"


"Kya........ Adik Kecil I Love You Full." Gumam Xiao Mei Mei.


Beberapa saat kemudian Xiao Mei Mei pun menghampiri Gisel, berniat berjabat tangan.


"Kenalkan aku Xiao Mei Mei." Ucap Xiao Mei Mei, sambil menjabat tangan Gisel.


"Aku Gisel pacarnya Arung, Mei Mei." Ucap Gisel.


"Aku Gisel." Ucap Gisel.


"Apa............. " Teriak Shilla.


"Hah........pacar nya," Ucap Xiao Mei Mei, sambil menatap ke arah wajah Shilla.


"Adik Kecil, baru enam bulan aku meninggalkan mu di Kota, kau telah memiliki pacar,"


"Malangnya nasibku, aku telat bertindak saat itu," Gumam Xiao Mei Mei.


"Bagaimana ini, seharusnya Arung kan hanya menjadi pacarku seorang,"


"Sebaiknya aku memastikannya, dan bertanya sama Arung,"


"Mungkin saja itu akal-akalan gadis berambut ungu." Gumam Shilla.


"Pacar, benarkah itu Arung?"


"Benarkah gadis berambut ungu ini pacarmu Arung?" Ucap Shilla.


Shilla pun menghampiri Gisel, berniat berjabat tangan.


"Aku shilla, Gisel." Ucap Shilla, sambil menjabat tangan Gisel.


"Aku Gisel dan aku pacar pertama Arung." Ucap Gisel.


Suasana di tribun dalam tiba-tiba mencekam, seperti ada aura yang berbeda dari mereka bertiga. Xiao Mei Mei dan Shilla saling tatap-tatapan, Gisel pun menatap ke arah Arung.


"Wah.... situasi seperti nya makin tak terkendali, aku khawatir akan pecah perang di tribun dalam ini." Gumam Arung.


"Benar Shilla, Gisel adalah Pacarku," Ucap Arung.


Para peserta pun mulai menguping pembicaraan mereka berempat, dengan tatapan sinis.


"Wah sepertinya cinta segi empat, Pemuda itu tidak hanya Tampan sepertinya juga seorang Fuckboy." Ucap salah satu peserta.


"Play boy juga tuch cowoknya, mentang-mentang tampan." Ucap peserta lainnya.


"Tidak hanya elemen legenda yang membuat ku terkejut saat melihat Pemuda itu, tapi melihat cinta segi empat itu lebih mengejutkan,"


"Keserakahan cinta, tiap dari mereka memiliki keserakahan cinta." Gumam salah satu peserta lainnya.


"Dasar para anak muda ini mereka berniat bertengkar disini, sebaiknya aku mengajak mereka ke tempat yang sepi." Gumam Xiao Mei Mei.


Xiao Mei Mei kemudian mengajak Arung, Gisel, dan Shilla pergi membicarakan hal tersebut di tempat yang lebih sepi. Mereka berempat pun pergi ke taman kota yang berada tidak jauh dari stadium tersebut. Jam di taman sudah menunjukkan pukul 23.30 malam, Shilla dan Gisel masih terlihat bersemangat.


Di taman kota di pojokan yang sepi


Beberapa menit kemudian, mereka berempat pun duduk di sebuah bangku taman dan di temani rembulan malam ini. Keadaan pun hening di bangku taman tersebut, Xiao Mei Mei pun mengambil inisiatif untuk membuka percakapan.


"Sebenarnya aku juga kesal dengan Gadis Berambut Ungu ini, tapi aku harus segera kembali,"


"Sebaiknya aku segera menyelesaikan perselisihan diantara mereka bertiga dulu ." Gumam Xiao Mei Mei.


"Arung, aku tahu kamu sudah melakukan sebuah kontrak jiwa dengan Gisel,"


"Hiks.... hiks..... hiks..... " Tangis kecil Shilla di dalam hati.


"Ternyata kau selingkuh di belakangku." Gumam Shilla.


"Namun kau juga harus membaca surat dari Matriak ini terlebih dahulu." Ucap Xiao Mei Mei, sambil memberikan sepucuk surat.


"Arung.... padahal aku bersusah payah untuk bisa bersama dengan mu,"


"Hiks...... hiks.... hiks...... "


"Ternyata di sini kau malah membuat kontrak jiwa tanpa seizin keluarga mu." Tangis dan Gumam Shilla.


"Aku tidak tahu Mei Mei masalah kontrak jiwa tersebut, semuanya terjadi begitu saja." Gumam Arung.


"Surat?" Gumam Gisel.


Arung pun kemudian membuka amplop tersebut terlebih dahulu, dan akan mulai membacanya. Tiba-tiba saja Shilla merampas surat tersebut dari tangan Arung.


"Lama amat, sini biar aku yang baca surat nya, Arung." Ucap Shilla, sambil membuka surat dari Matriak.


Xiao Mei Mei dan Shilla sudah mengetahui isi surat tersebut, sementara Gisel menatap ke arah Shilla.


"Main rampas aja gadis berambut merah itu." Gumam Gisel.


"Kedua wanita ini sungguh sangat cantik, apakah mereka juga menyukai Arung?"


"Oh Tuhan apa yang harus ku perbuat?" Gumam Gisel dalam hati


Shilla pun mulai membaca suratnya.


"Dup...... dup...... dup..... " Suara detak jantung Arung yang berdetak kencang.


"Firasatku tidak enak lagi nih." Gumam Arung.


"Ehm..... ehm.....baiklah aku membacanya ya Gisel dengar baik-baik." Ucap Shilla.


"Kok Gisel?" Gumam Xiao Mei Mei.


"Kok aku?" Gumam Gisel.


"Arung, aku sudah melihat performa mu dalam kompetisi prajurit di Kota Awan Hitam. Engkau sudah berkembang sangat pesat beberapa bulan ini dan mengangkat martabat keluarga Tiger."


"Ternyata selama ini Matriak menyaksikan pertarungan ku, kukira dia hanya mengirim ku ke liang lahat saja." Gumam Arung.


"Dengan ini aku ingin kau menjadi pendamping ataatau suami Matriak masa depan keluarga Tiger, yaitu Shilla." Ucap Shilla.


"Apa................ gadis pemarah jadi istriku." Teriak Arung di dalam hati.


"Aku tidak percaya, itu pasti akal-akalan Shilla saja." Gumam Gisel.


Gisel lalu merampas paksa surat di tangan Shilla, dan membacanya kembali. Sementara itu Arung sangat terkejut dan tidak menyangka Matriak memintanya menjadi pendamping Shilla.


"Wah ekspresi Adik Kecil benar-benar terkejut." Gumam Xiao Mei Mei.


Shilla hanya diam dan menatap ke arah Gisel yang tengah membaca ulang surat dari Matriak.


"Oh tuhan, aku sudah terlanjur cinta dengan Arung, aku harus bagaimana?"


"Aku tidak ingin di madu." Gumam Gisel dalam hati, tanpa sadar Gisel pun meneteskan air mata.


Shilla dan Xiao Mei Mei pun pura-pura tidak melihatnya, sementara itu Arung mengambil surat di tangan Gisel lalu membacanya lagi.


"Gisel.... " Gumam Arung.


"Arung sudah tengah malam, sebaiknya aku pulang terlebih dahulu." Ucap Gisel, lalu bangun dan berjalan keluar dari taman.


"Hiks...... hiks...... hiks....... " Tangis kecil Gisel, sambil berjalan membelakangi Arung dan lainnya.


"Wah Gisel sampai menangis, dia tidak terima,"


"Aku harus bagai mana?" Gumam Arung.


"Tunggu Gisel biar ku antarkan." Ucap Arung, kemudian bangun dan mengejar Gisel.


"Ternyata Gisel benar-benar tulus mencintai Arung, kasihan dia belum bisa menerima di madu oleh Arung,"


"Hiks...... hiks...... hiks.......... " Gumam dan Tangis Xiao Mei Mei.


"Sebenarnya aku juga belum bisa di madu, apalagi di madu oleh anak teman baikku sendiri."


"Gisel aku dapat memahami perasaan mu saat ini." Gumam Xiao Mei Mei.


"Hiks...... hiks..... hiks...... " Tangis kecil Xiao Mei Mei di dalam hati.


"Kasihan Gisel, tapi aku tidak bisa melepaskan Arung,"


"Ini sudah perintah dari Matriak." Gumam Shilla.


Sementara itu Xiao Mei Mei dan Shilla masih duduk di kursi taman dan mengeluarkan beberapa kaleng beer. Arung pun mengantar Gisel, dan memanggil kan taxi untuknya.


"Shilla bagaimana pendapatmu, Arung tidak mungkin membatalkan kontrak jiwanya dengan Gisel?" Tanya Xiao Mei Mei.


Shilla pun membeku untuk sesaat, kemudian menoleh ke arah Xiao Mei Mei.


"Mau bagaimana lagi Kak Mei Mei, mama sudah memutuskan pernikahan ini begitu juga dengan Tetua-tetua lainnya." Jawab Shilla.


"Sepertinya tekad Shilla sudah bulat, kalau begitu aku juga harus menerima keadaan ini." Gumam Xiao Mei Mei.


"Ya sudah kalau begitu Shilla, akur-akur lah dengan Gisel tampak nya ia gadis yang baik." Ucap Xiao Mei Mei.


"Oh ya kak, kenapa Arung memanggil kakak, Mei Mei?" Tanya Shilla.

__ADS_1


"Kakak yang menyuruhnya Shilla." Jawab Xiao Mei Mei.


"Aku curiga, seperti nya ada sesuatu diantara mereka,"


"Nanti akan ku tanyakan ke Arung." Gumam Shilla.


Tak lama kemudian Arung pun kembali ke pojokan taman, Keadaan menjadi canggung di bangku taman ini. Xiao Mei Mei pun melihat jam di HP nya, dia masih memiliki urusan lainnya di Desa Tiger.


"Wah sudah kemalaman nich, sebaiknya aku harus segera kembali." Gumam Xiao Mei Mei.


"Arung, Matriak menitipkan Shilla padamu mulai sekarang."


"Menitipkan, memangnya Shilla barang?" Gumam Arung.


"Enam bulan lagi ia akan mengikuti ujian menjadi alkemis di Kota Seribu Obat, kamu harus membantunya dan mendukungnya." Ucap Xiao Mei Mei.


"Sepertinya Kak Mei Mei, sudah mau kembali ke Desa Tiger." Gumam Shilla.


"Ia Mei Mei, aku pasti akan membantu dan mendukungnya sekuat tenagaku."


"Bahkan aku rela menyerahkan jiwa dan ragaku." Ucap Arung.


"Pangeran ku........ Kya...... Arung kau memang yang terbaik." Gumam Shilla.


"Tapi masalah pendamping Shilla aku bingung Mei Mei." Ucap Arung.


Sementara itu Shilla hanya mendengarkan pembicaraan mereka berdua saja sambil meneguk beer beberapa kali.


"Bingung kenapa, apakah Shilla kurang cantik?" Tanya Xiao Mei Mei.


"Bagiku Shilla sangat cantik, namun aku tidak mungkin mencampakkan Gisel."


"Bahkan beberapa malam yang lalu, aku sudah bertemu dengan keluarganya." Ucap Arung.


Xiao Mei Mei pun menatap wajah Shilla.


"Dasar mesum dia bahkan sudah melamarnya, mesum...... " Gumam Shilla.


"Hah........ " Suara hembusan nafa panjang Xiao Mei Mei.


"Kalau itu urusan kalian berdua, baiklah hari sudah larut malam,"


"Aku harus segera kembali ke Desa Tiger."


"Arung, Aku kembali dulu ya, ini ada sedikit oleh-oleh dari desa dari Matriak dan aku." Ucap Xiao Mei Mei sambil memberikan dua buah cincin ruang ke tangan Arung.


"Sudah mau balik?" Gumam Arung.


Xiao Mei Mei pun kemudian berpamitan dan kembali ke Desa Tiger. Sekarang tinggal hanya mereka berdua di pojokan taman yang sepi tersebut.


"Ah.............aku sampai lupa menanyakan kepada Arung, kenapa warna rambut dan matanya berubah, serta dia semakin tampan." Gumam Xiao Mei Mei, sambil menghidupkan mobil truk nya.


"Ya sudahlah nanti ketika aku kemari lagi akan kutanyakan." Gumam Xiao Mei Mei dalam hati.


Kembali ke pojokan taman yang sepi


Shilla menatap wajah Arung, Arung pun menatap kembali wajah Shilla. Mereka berdua pun membeku untuk beberapa saat setelah Xiao Mei Mei pergi.


"Kwak...... Kwak....... Kwak...... " Suara beast Gagak lewat.


"Shilla kamu tidak keberatan aku menjadi pendamping hidupmu?" Tanya Arung.


"Kesempatan bagus membuat kontrak jiwa, seperti nya Arung lengah." Gumam Shilla, kemudian menggenggam tangan Arung.


"Firasatku tidak enak, sepertinya seseorang pernah menggenggam tanganku seperti ini?" Gumam Arung.


"Aku tidak keberatan Arung, apakah kamu keberatan Arung." Jawab Shilla.


Sementara itu Arung tidak sadar kalau tangan nya tengah di genggam oleh Shilla. Arung pun membeku untuk sesaat, mengingat kelakuan Shilla padanya selama ini di keluarga Tiger. Namun Arung sangat menghargai dan menghormati Matriak.


"Matriak sangat baik kepadaku, ia berkali-kali menyelamatkan hidupku saat di amuk masa para murid wanita di Kediaman Tiger,"


"Aku tidak mungkin membuat putri satu-satunya Matriak bersedih." Gumam Arung.


"Ya aku tidak keberatan Shilla, Matriak pasti memiliki alasan nya tersendiri." Ucap Arung.


"Drrtttttttt.............. " Suara setruman listrik.


Seketika Arung pun terpental beberapa meter dari tempat ia duduk.


"Uhuk...... uhuk...... uhuk...... " Suara batuk Arung.


Arung pun memuntahkan darah dari mulutnya, seketika Arung pun terluka parah.


"Maafkan aku Arung, jika kau tahu begini kau pasti tidak akan setuju." Gumam Shilla.


Shilla pun bangun dari tempat ia duduk dan berjalan ke tempat Arung terjatuh, kemudian memapah Arung.


"Makanya jadi lelaki itu cukup punya pacar satu saja beginilah akibatnya." Ucap Shilla, sambil memapah Arung berjalan.


"Maksudnya apa Shilla, kenapa aku bisa terpental dan terluka parah tiba-tiba?" Tanya Arung, sambil memuntahkan darah dari mulut nya.


"Mungkinkah dia masih dendam karena dijodohkan denganku, dan menyerang ku secara diam-diam tadi?' Gumam Arung.


"Kita baru saja melakukan kontrak jiwa, bagi kultivator jika melakukan kontrak jiwa lebih dari sekali mereka akan terluka parah."


"Kontrak jiwa lagi..... " Gumam Arung.


'Lebih dari dua kali, salah-salah bisa mati, Arung." Jawab Shilla.


Arung akhirnya sadar, sebelumnya Shilla telah menggenggam tangannya sehingga terjadilah kontrak jiwa.


"Aku bertindak sebelum berfikir." Gumam Arung dalam hati.


"Ya sudah lah Shilla, bantu saja aku sampai ke depan Stadium." Ucap Arung.


"Iya.. iya.. " Ucap Shilla.


"Kau bisa menyetir kan." Ucap Arung.


"Tentu saja, ketika perjalanan ke Kota Awan Hitam ini,"


"Aku bergantian menyetir bersama Kak Mei Mei." Ucap Shilla.


Shilla pun kemudian memapah Arung sampai ke depan gerbang stadium, kemudian Arung pun menyuruh Shilla menyetir mobil jeep perang miliknya.


Di dalam mobil jeep perang


"Wah Arung kamu kaya sekali yach saat ini, bukankah mobil ini berharga ratusan ribu koin emas?" Tanya Shilla, sambil mengendarai mobil jeep perang.


"Sudah menyetir saja Shilla, aku sangat lelah dan sedang terluka parah nich." Jawab Arung, sambil menelan pil naga pemberian Putri Naga Kecil.


"Uhuk...... uhuk..... uhuk...... " Suara batuk Arung, kemudian memuntahkan darah.


"Benar-benar parah lukanya, itulah derita nya kalau mau poligami." Gumam Shilla.


"Iya.. iya Arung, kita mau kemana ni?" Tanya Shilla lagi.


"Ikuti Map ini sana Shilla." Jawab Arung, sambil menempatkan HP tablet nya di dasboard depan mobil di dekat Shilla.


"Hati-hati bawanya Shilla, jangan sampai cedera ku bertambah." Ucap Arung.


"Sepertinya dia terluka parah, kasian dia." Gumam Shilla.


"Beres bos.... " Ucap Shilla.


Penginapan Stadium Awan Hitam.


"Byurrrr................." Suara hujan deras.


Beberapa saat kemudian mereka berdua pun tiba di Penginapan Stadium Awan Hitam. Shilla pun memapah Arung turun dari mobil lalu memasuki hotel, kemudian mereka pun disambut oleh dua Gadis Cantik Penjaga Pintu.


"Selamat malam Tuan, Nona,"


"Selamat Datang." Ucap kedua Penjaga tersebut, sambil memberi kan hormat dan tersenyum kepada mereka.


Shilla hanya membungkuk sedikit kemudian kembali memapah Arung. Begitu pula dengan Arung, ia hanya melambaikan tangannya.


'Mungkinkah mereka itu pasangan suami istri." Gumam salah satu pengawal.


"Kasian Pendekar Tampan itu, biasanya dia sangat ceria." Gumam salah satu pengawal lainnya.


Di lobi hotel.


Saat memasuki lobi hotel, raut wajah Arung mulai tampak gelisah.


"Ugh..... aku sampai kelupaan sama tiga gadis kembar itu, bisa runyam lagi kalau jumpa dengan mereka disaat genting begini." Gumam Arung, kemudian menoleh ke arah meja resepsionis.


Terlihat tiga gadis kembar tersebut ternyata sudah tertidur pulas di meja resepsionis.


"Hah.............. " Suara hembusan nafas panjang Arung.


"Kenapa Arung, apa cederamu bertambah parah,"


"Apa sebaiknya kita ke rumah sakit saja Arung?" Tanya Shilla.


"Tidak usah Shilla, kita kembali ke kamar ku saja di lantai 30, kemudian beristirahat,"


"Oh ia....Shilla tolong ambilkan kunci kamar ku nomor 303 yang tergantung di dinding ruangan resepsionis tersebut,"


"Jangan sampai kau membangunkan ketiga gadis kembar tersebut ya, kasian mereka pasti lelah seharian ini bekerja." Ucap Arung.


"Wah... Arung benar-benar Pemuda yang berbudi luhur, walaupun terluka ia masih memikirkan keadaan orang lain." Gumam Shilla, lalu mengendap-ngendap mengambil kunci di ruangan resepsionis.


"Ayo Arung kita kembali ke kamar mu." Ucap Shilla, kembali memapah Arung.


Mereka berdua pun mulai memasuki lift.


Di dalam Lift.


"Bagus Shilla, aku lupa kemarin menyuruh Ayu menitipkan kunci kamarku disini,"


"Jika mereka bertiga mengetahui kondisi ku saat ini, habislah aku,"


"Syukurlah ketiga cewek kembar itu tengah tidur, jika tidak akan tambah kacau jadinya." Gumam Arung, yang tengah di papah oleh Shilla.


"Kasian dia..... " Gumam Shilla.


Beberapa menit kemudian, mereka pun tiba dilantai 30 dan mulai keluar dari lift. Shilla pun kembali memapah Arung kembali ke dalam kamar nya.


Di dalam Kamar.


"Wah kamar penginapan ini sangat besar, ini lebih terlihat seperti sebuah apartemen,"


"Arung pasti sangat kaya saat ini." Gumam Shilla, sambil mengamati sekeliling.


"Bahkan di dalam kamar ini Ada dapurnya, kamar mandinya, bahkan ada ruang santainya,"


"Harga sewa kamar ini pastinya sangat mahal." Gumam Shilla.


"Gadis pemarah ini pasti takjub dengan kamar VVIP ini, aku pun saat pertama kali kemari sempat takjub juga, apalagi dengan tiga gadis kembar yang siap memang daku kapan saja." Gumam Arung kemudian mulai bermeditasi untuk memulihkan cederanya di dalam kamar.


"Hoam.............. " Suara menguap milik Shilla, ia pun kemudian duduk di sofa.


"Wah.............bahkan sofanya saja begitu nyaman dan empuk, tidak salah lagi ini pasti kamar VVIP." Gumam Shilla, kemudian mengenjot-enjot sofa untuk beberapa saat.


"Empuknya.............. "


"Saat ini Arung sudah di dalam kamar, sebaiknya sebentar lagi saja aku menyusulnya ke dalam kamar,"


"Lalu aku akan mengeluarkan ranjang ekstra dari cincin ruang penyimpanan milik ku,"


"Kya......... aku jadi malu, ini pertama kalinya aku tidur bersama laki-laki,"


"Biar dia terlebih dahulu memulihkan cedera nya, kasian calon suamiku." Gumam Shilla, kemudian merebahkan tubuhnya di sofa tersebut.


Beberapa saat kemudian, akibat kelelahan Shilla pun tertidur di sofa yang berada di ruang santai.


Beberapa jam kemudian.


"Akhirnya selesai juga, walaupun belum pulih sepenuh nya tetapi sudah agak baikan." Gumam Arung,


Ia pun kemudian beranjak keluar dari dalam kamar dan berniat menyuruh Shilla tidur di dalam kamar. Melihat Shilla yang sudah tertidur pulas, Arung pun mengambil selimut di dalam kamar lalu menyelimutinya.


"Dasar Gadis Pemarah, ternyata kau cantik juga saat tidur yach." Gumam Arung.


Ia pun kemudian kembali ke dalam kamar lalu merebahkan tubuh nya di atas ranjang.


"Hoam............ " Suara menguap Arung, beberapa saat kemudian Arung pun tertidur pulas di ranjang kamar nya.


Keesokan siangnya, Arung pun terbangun dan bergegas ke kamar mandi berniat untuk membersihkan dirinya.


"Krak............... .. " Suara pintu terbuka.


Alangkah terkejut nya Arung ketika membuka pintu kamar mandi, ternyata Shilla sedang berendam di bak air panas.


"Oh my god...... Indahnya." Gumam Arung.


"Arung, si mesum ini main masuk aja tanpa mengetuk terlebih dahulu,"


"Untung saja si mesum ini sudah jadi calon suamiku, jika tidak aku pasti akan menembaknya dengan beberapa bola panas." Gumam Shilla, kemudian melanjutkan berendam nya.


"Maaf Shilla, aku tidak tahu kamu sedang mandi."


"Aku akan keluar sekarang." Ucap Arung.


"Tidak usah Arung, biar aku saja yang keluar aku pun sudah selesai mandi." Ucap Shilla, Ia pun keluar dari bak mandi.


"Apa.......... mengapa Shilla menjadi semesum ini, dia sengaja memperlihatkan tubuh nya?" Gumam Arung.


Shilla pun kemudian mengenakan sehelai handuk lalu bergegas keluar dari kamar mandi.


"Dasar mesum, kau pasti menyukainya." Gumam Shilla.


Arung pun membeku untuk sesaat, Ia bingung melihat perubahan sikap Shilla semenjak melakukan kontrak jiwa dengannya. Ketika di kediaman Tiger, Shilla pasti langsung melesatkan bola api ke arah Arung jika ketahuan mengintip mau itu sengaja atau pun tidak sengaja.


"Ada apa dengan Shilla, kenapa dia begitu vulgar setelah melakukan kontrak jiwa?" Gumam Arung.


Arung pun kemudian mandi, setelah nya ia pun berpakaian dan berniat mengajak Shilla makan di luar.


"Wah Gisel kemana ya hari ini, biasanya tiap pagi ia selalu menumpang mandi di tempat ku." Gumam Arung dalam hati, sambil memakai pakaian.


"Apa dia marah gara-gara surat dari Matriak ya?" Gumam Arung dalam hati.


Arung pun bergegas keluar dari kamar, ia pun terkejut melihat di atas meja dapur sudah ada banyak hidangan tersedia.


"Shilla menyiapkan makanan untukku, aku tidak tau ternyata Shilla sebaik ini." Gumam Arung.


"Hiks..... hiks..... hiks..... " Tangis harus Arung.


"Mengapa ketika di Kediaman Tiger, Shilla begitu ganas terhadap ku,"


"Ternyata Shilla gadis yang sangat baik." Gumam Arung.


Sebenarnya Shilla sudah mulai menyukai Arung sejak di Kediaman Tiger, hanya saja tabiat Shilla seperti itu. Atung pun mulai menatap ke arah Shilla, ia tidak pernah melihat Shilla memasak sekalipun di Kediaman Tiger namun siang ini Shilla memasakkan banyak masakan-makanan lezat untuk nya.


"Jangan termenung aja disitu Arung, kemari lah,"


"Kau sudah selesai kan, ayo kita makan dulu." Ucap Shilla,


"Baik Shilla." Ucap Arung, ia pun duduk berhadapan dengan Shilla di meja makan.


Kedua mata mereka pun saling beradu, pipi Shilla tampak mulai memerah.


"Kryuk....... kryuk.............. " Suara keroncongan perut Arung.


"Kasihan dia sampai kelaparan seperti itu." Gumam Shilla.

__ADS_1


"Selamat makan." Ucap Arung, ia pun mulai menyantap makanan di atas meja begitu juga dengan Shilla.


Beberapa saat kemudian.


"Ehmm.........Arung, kau mau kemana sehabis ini?" Tanya Shilla, sambil menggigit sepotong daging.


"Aku berencana ke Stadium Awan Hitam, nanti malam jam sembilan aku ada jadwal bertarung Shilla." Jawab Arung.


"Oh iya dia kan tengah dalam masa ujian menjadi prajurit." Gumam Shilla.


"Aku boleh ikut bersama dengan mu Arung?" Tanya Shilla.


"Seperti nya Shilla tipe orang yang tidak suka tinggal di dalam rumah, dia pasti bosan." Gumam Arung.


"Laki-laki yang satu ini tidak boleh di biarkan berkeliaran seorang diri, aku khawatir dia akan mencari gadis-gadis lainnya." Gumam Shilla.


"Ya tentu saja Shilla." Jawab Arung.


Beberapa menit kemudian, mereka pun selesai menyantap semua hidangan di atas meja. Melihat perubahan sikap pada diri Shilla, Arung pun menjadi kagum pada Shilla. Arung pun berniat memberikan nya Buah Pohon Raja Api kepada Shilla.


"Shilla terimalah Buah Pohon Raja Api ini." Ucap Arung.


"Buah apa?" Gumam Shilla.


"Buah ini bisa meningkatkan kultivasi mu satu tingkatan setelah memakannya." Ucap Arung, sambil mengeluarkan buah pohon raja api dari cincin penyimpanan miliknya dan memberikannya ke tangan Shilla.


"Benarkah Arung?" Tanya Shilla.


"Tentu saja Shilla, hanya saja carilah waktu yang tepat untuk memakan nya." Jawab Arung.


Shilla pun kemudian memandangi Buah Pohon Raja Api tersebut, sementara itu Arung mengeluarkan bola energi berwarna hijau dari cincin ruang miliknya lalu meletakkannya di atas meja dan berniat menanyakannya kepada Nyonya Ya.


"Benarkah buah ini bisa meningkatkan kultivasi ku?"


"Sebaiknya aku mencoba nya saja." Gumam Shilla.


Shilla pun kemudian memakan Buah Pohon Raja Api tersebut, beberapa saat kemudian aura api mulai meluap-luap dari tubuhnya.


"Sepertinya Arung tidak berbohong, tenaga dalam ku serasa meluap,"


"Sepertinya aku akan segera menerobos." Gumam Shilla.


Sementara itu Arung sedang mencari Buah Pohon Raja Petir untuk di berikan kepada Gisel dan Nyonya Lang. Arung pun tersadar lalu melihat ke arah Shilla, sekelebat sinar berwarna merah pun keluar dari tubuh Shilla.


"Sepertinya Shilla sudah menerobos, buah itu memang benar-benar ajaib, hanya dalam hitungan menit seorang kultivator bisa dengan mudah menerobos satu tingkatan." Gumam Arung.


Beberapa saat kemudian ranah kultivasi Shilla pun naik setingkat menjadi ranah alam lautan puncak. Tiba-tiba saja bola energi berwarna hijau pun ikut terhisap ke dalam dantian milk Shilla, seketika aura hijau pun keluar dari tubuhnya.


"Tidak salah lagi itu pasti essensi tumbuhan." Gumam Arung.


Arung pun sekarang yakin bahwa bola energi berwarna hijau yang di dapatkannya setelah membunuh beast pohon di Goa Giok Hijau adalah sebuah "Essensi". Tak lama kemudian Shilla pun memuntahkan darah dari mulut nya, tenaga dalam di dalam tubuhnya terlihat meluap-luap secara tidak beraturan.


"Uhuk...... uhuk...... uhuk........ " Suara batuk darah Shilla.


Arung khawatir tubuh milik Shilla akan meledak karena tidak mampu menahan energi essensi beast pohon tersebut. Arung pun teringat dengan metode kultivasi ganda milik Putri Naga Kecil ketika mereka berada di puncak gunung berapi Goa Bawah Tanah Padang Tandus Naga.


"Ugh...... kepalaku mulai terasa pusing." Gumam Shilla.


"Shilla aku khawatir tubuhmu akan meledak karena tenaga dalam mu bersirkulasi tidak beraturan." Ucap Arung.


"Benar Arung, tiba-tiba saja tenaga dalam ku tidak beraturan,"


"Aku sudah mencoba menstabilkan nya namun tidak berhasil." Ucap Shilla.


"Apakah ini efek samping dari Buah Pohon Raja Api tersebut, Arung." Ucap Shilla.


"Bukan Shilla, sepertinya itu karena essensi beast pohon di atas meja yang terhisap ke dalam dantian mu." Ucap Arung.


"Bola hijau itu penyebabnya." Gumam Shilla.


"Kau harus percaya padaku, aku bisa membantu menstabilkan tenaga dalam mu kembali." Ucap Arung.


"Uhuk....... uhuk....... uhuk......... " Suara batuk darah Shilla.


"Ugh......... kepalaku makin pusing." Gumam Shilla.


"Baiklah Arung, apa yang harus kulakukan?" Ucap Shilla.


"Begini caranya............ " Ucap Arung.


Arung pun menceritakan tentang metode kultivasi ganda untuk menstabilkan essensi beast pohon di dalam dantian Shilla. Mendengar metode tersebut pipi Shilla pun mulai memerah dan raut wajahnya terlihat malu.


"Metode yang mesum...... "


"Tanpa berpakaian, apakah ini akal-akalan Arung saja."


"Ya sudah lah, lagian Arung kelak akan menjadi suamiku." Gumam Shilla dalam hati.


"Apakah Shilla akan menyetujui metode ini, kasihan dia aku khawatir essensi tersebut akan meledakkan tubuhnya." Gumam Arung.


Shilla pun beranjak dari dapur lalu berjalan ke kamar Arung, ia pun menoleh ke arah belakang.


"Ayo Arung, sebaiknya kita lakukan di dalam lebih nyaman dan tertutup ketimbang di ruang santai ini." Ucap Shilla.


"Syukurlah dia setuju." Gumam Arung.


Arung dan Shilla pun beranjak kedalam kamar, sesampainya dikamar mereka pun melepaskan seluruh pakaiannya. Setelah itu mereka duduk bersimpuh di atas ranjang dengan kedua telapak tangan bersentuhan dan menutup mata.


"Ugh....... malunya aku, dia melihat semuanya, mama." Gumam Shilla.


"Goresan alam lainnya, sangat indah,"


"Namun goresan alam di Benua Naga lebih indah." Gumam Arung.


"Shilla, bertahanlah,"


"Aku akan memulainya sekarang." Ucap Arung.


Arung pun mulai menstabilkan tenaga dalam di tubuh Shilla.


"Shilla aku akan mulai mentransfer kan tenaga dalam ku ke kamu, tenaga dalam mu ke aku,"


"Ikutin saja ritmenya." Ucap Arung.


"Ugh....... ayam jago.... apa yang kupikirkan." Gumam Shilla, pipinya pun memerah.


'Baik Arung." Ucap Shilla.


Arung pun mulai menstabilkan tenaga dalam di dalam tubuh Shilla, tak lama kemudian aura berwarna hijau keluar melalui pori-pori di tubuh mereka berdua. Beberapa jam kemudian seberkas cahaya hijau melesat keluar dari tubuh mereka, cairan hitam pekat dan berbau pun keluar dari tubuh Arung dan Shilla.


"Benar, metode mesum ini benar-benar berhasil,"


"Sepertinya peredaran energi di tubuhku sudah kembali normal." Gumam Shilla.


"Shilla, sudah selesai untung kita cepat melakukanya,"


"Jika telat sedikit saja, tubuhmu akan meledak." Ucap Arung.


"Meledak..... " Gumam Shilla.


Beberapa saat kemudian tenaga dalam di tubuh Shilla pun kembali stabil seperti sedia kala, mereka pun kembali berpakaian.


"Krakkkk.......... " Suara pintu terbuka.


Tanpa di duga-duga seseorang membuka pintu kamar Arung, ternyata Gisel yang membukanya. Alangkah terkejutnya Gisel melihat Arung yang sedang memakai celana boxer dan Shilla yang tengah memakai penutup dada berduan di kamar.


"Aduh...... kacau Gisel pasti berpikiran yang tidak-tidak." Gumam Arung.


"Gadis berambut ungu..... ugh.... malunya aku." Gumam Shilla.


"Arung..... ternyata kau seorang Fuckboy, kau tidak menyia-nyiakan kesempatan,"


"Kau langsung menidurinya." Gumam Gisel.


"Hiks...... hiks..... hiks..... " Tangis kecil Gisel.


Air mata kembali menetes di pipi Gisel.


"Brukk............... " Suara pintu kamar Arung di tutup dengan keras.


Gisel pun menutup pintu kamar dan bergegas keluar meninggalkan Arung dan Shilla. Arung yang melihat reaksi Gisel seperti itu tidak bisa berkata apa-apa dan melanjutkan berpakaian, sementara itu Shilla juga melanjutkan untuk berpakaian.


Di Koridor Penginapan


Beberapa menit kemudian, Gisel kembali mengingat kejadian di dalam kamar Arung.


"Padahal baru saja semalam mereka bertemu, lalu siang ini mereka sudah melakukannya."


"Aku saja yang sudah lama bersama Arung, tapi belum pernah sampai pada tahap itu."


"Shilla dia baru semalam berjumpa dengan Arung namun sudah melakukannya, dasar Fuckboy." Gumam Gisel, dalam hati.


"Hiksss...... hikssss...... hiks.... " Suara tangis kecil Gisel.


Gisel pun beranjak pergi ke Stadium, sementara itu Arung berniat menyusul Gisel namun HP tablet milik nya berdering. Arung pun kemudian duduk di ruang santai.


"Kringgg....... kringggg....... kringg....... " Suara HP berbunyi,


"Nomor tidak dikenal, siapa ya?" Gumam Arung, ia pun mengangkatnya.


Di Perpustakaan Awan Hitam


"Halo brother, kamu menakjubkan sekali semalam sungguh kemenangan yang sempurna."


"Ini aku Robert Wong, sori tadi pagi aku belum sempat mengantarkan buku yang kau pinjam dari perpustakaan."


"Tapi siang ini aku bisa mengantarkan nya, share kan alamat mu ya bro." Ucap Robert, melalui HP.


"Ternyata Robert." Gumam Arung.


"Oh Robert ternyata, baiklah,"


"Robert tolong belikan beberapa keranjang buah-buahan ya."


"Nanti akan ku ganti biaya membeli buah-buahan tersebut, sesampai disini Robert." Ucap Arung melalui HP


"Buah-buahan, tiga keranjang pula?" Gumam Robert.


Sementara itu Shilla menguping di pintu kamar Arung.


"Buat apa Arung menyuruh Robert untuk membeli buah-buahan mungkinkah dia ingin mengunjungi temannya yang sakit?" Gumam Shilla.


"Ok bro, ini aku segera OTW ke tempat mu." Ucap Robert, kemudian mematikan HP nya.


"Beep...... beep...... beep...... " Suara HP mati.


Di dalam Kamar Arung


"Bahkan HP tablet nya pun sangat mahal di bandingkan dengan HP jadul milik ku." Gumam Shilla dalam hati.


"Hikss.... hikksss...... " Tangis kecil Shilla dalam hati, sambil melipat sprei yang menghitam dan menggantikannya dengan sprei baru miliknya.


"Shilla bagaimana kondisimu?" Tanya Arung


"Sudah baikan kok, kamu khawatir dengan ku ya?" Tanya Shilla.


"Tentu saja Shilla." Ucap Arung.


"Jika terjadi apa-apa dengan mu, Matriak pasti akan bersedih." Gumam Arung.


"Shilla, seperti nya ranah ku telah turun ke ranah alam Ksatria puncak untuk sementara akibat kultivasi ganda tersebut." Ucap Arung.


"Ya benar Arung, ranah kultivasi ku juga seperti nya kembali ke ranah alam kesatria puncak." Ucap Shilla.


"Kalau perkiraan ku benar kondisi kita akan seperti ini selama satu bulan Shilla, jadi sebaiknya kita tidak pergi kemana-mana dulu." Ucap Arung.


"Ujian mu malam ini kan Arung, kalau aku sih tidak masalah tidak pergi kemana-mana dulu." Ucap Shilla.


Arung pun terdiam untuk beberapa saat.


"Oh iya.......... ujian ku, aku akan mencari cara supaya bisa menang nantinya." Gumam Arung.


"Malam ini aku akan bertanding seperti biasanya apapun kondisinya Shilla." Ucap Arung.


Kemudian Shilla pun beranjak ke dapur berniat membuat kan tiga gelas susu naga untuk dirinya, Arung, dan temannya yang akan datang sebentar lagi. Ternyata Shilla sungguh perhatian terhadap Arung, sementara itu ia tengah duduk di ruang santai dan sedang mencari informasi mengenai lawan tanding nya di video live streaming pertandingan sebelumnya. Shilla pun meletakkan susu naga di atas meja, kemudian ia duduk di kursi sebelahnya lalu mengeluarkan HP jadulnya.


"Wah dia tau aja kalau aku lagi lelah, tidak ku sangka ternyata Shilla sepengertian ini." Gumam Shilla.


Arung pun meneguk beberapa teguk susu naga buatan Shilla, dan menoleh ke arah Shilla yang sedang bermain dengan HP jadulnya.


"Kasian Shilla padahal calon Matriak tapi HP nya kuno sekali, kalau aku menang bertanding malam ini akan kubelikan HP baru buatnya." Gumam Arung dalam hati, sambil santai menonton live streaming lawan nya sebelumnya.


"Wah Arung tampan sekali sekarang, terima kasih mama." Gumam Shilla dalam hati, pipinya pun memerah menatap wajah Arung.


"Tok.... tok.... tok.... " Suara ketukan pintu.


Shilla pun beranjak dan membukakan pintu buat teman nya Arung.


"Masuklah, Arung sudah menunggu mu." Ucap Shilla


"Wah bidadari surga berambut merah, si bro benar-benar beruntung." Gumam Robert, ketika melihat Shilla.


"Cantiknya kapan aku mendapatkan cewek seperti ini." Gumam Robert, melihat Shilla.


"Ia nona," Ucap Robert, Shilla pun mempersilahkan Robert duduk di kursi kemudian ia pun masuk ke dalam kamar.


Arung yang melihat perubahan sikap Shilla merasa tidak percaya.


"Kemana gadis pemarah, yang biasanya itu." Gumam Arung dalam hati.


"Lho bro ranah mu kok sama denganku, apa yang terjadi?" Tanya Robert, sambil meletakkan beberapa buku di atas meja.


"Panjang ceritanya Robert untuk sementara ini ranah ku berada di alam kesatria puncak." Jawab Arung


"Oh ia Terima kasih ya sudah mengantarkan bukunya." Ucap Arung.


"Gawat bro, gimana dengan pertandingan mu nanti malam lalu selanjutnya bro?" Tanya Robert, sambil mengeluarkan dua keranjang penuh buah-buahan.


"Doakan saja aku menang Robert." Jawab Arung.


"Hiks... hiks... hikss... " Suara tangisan hati Robert.


"Kau memang gentleman Arung, menang kalah aku tetap erada di pihak mu Arung." Ucap Robert.


"Terima kasih lagi Robert, minumlah." Ucap Arung, Robert pun meminum susu naga buatan Shilla.


Ternyata Shilla diam-diam menguping pembicaraan Arung dan Robert di dalam kamar. Tak terasa hari pun sudah menjelang sore, saatnya Arung berangkat ke Stadium Awan Hitam.


"Sepertinya sudah sore Robert, aku harus segera ke stadium." Ucap Arung.


"Baiklah kalau begitu, aku pamit pulang dulu bro." Ucap Robert


"Tunggu dulu Robert, ada hadiah kecil buatmu." Ucap Arung, sambil memberikan Buah Pohon Raja Air kepada Robert.


"Buah apa ini bro?" Tanya Robert.


"Ini buah ajaib yang akan menaikkan ranah mu satu tingkat, oh iya berapa uang mu yang terpakai untuk membeli buah-buahan itu." Jawab Arung.


"Sudahlah bro, kita kan teman." Ucap Robert.


Robert pun kembali ke kediamannya, Arung pun bersiap pergi ke Stadium Awan Hitam untuk mengikuti kompetisi.


"Shilla ayo kita ke Stadium Awan Hitam, katamu kamu mau ikut." Ucap Arung.


Shilla pun keluar dari kamar dan beranjak ke arah Arung, kemudian Shilla mengambil kunci mobil jeep ditangan Arung.


"Biar aku yang menyetir Arung." Ucap Shilla, sambil berjalan ke depan.

__ADS_1


"Eh tunggu Shilla, ini cincin garasinya," Ucap Arung sambil menyerah kan cincin garasinya kepada Shilla.


Arung dan Shilla pun bergegas pergi ke Stadium Awan Hitam.


__ADS_2