
"Byurrrr................." Suara hujan deras mengguyur Samudra Zamrud Hijau.
"Jderrr...... Jderrr.......... " Suara sambaran petir di kejauhan.
Suhu dingin pun menemani peperangan kali ini, embun dan sedikit kabut mulai membungkus sekitar nya.
Para Prajurit-Prajurit Manusia Beast tersebut mulai turun dari Kapal-Kapal Perang nya, kemudian mulai menembakkan balok-balok kayu runcing ke segala penjuru.
"Whussss................ " Suara hempasan angin saat balok-balok kayu tersebut melesat.
Dari arah Kapal-Kapal Layar Langit pun Komandan-Komandan pun mulai menembak kan berbagai macam serangan bertujuan menepis atau menghalau serangan mematikan dari para Manusia-Manusia Beast tersebut.
"Whussss................. " Suara hempasan angin saat beragam serangan mulai melesat dari Kapal-Kapal Layar Langit tersebut.
"Duargh...... Duargh....... Duargh......... " Suara ledakan akibat benturan berbagai elemen tersebut.
Para Manusia-Manusia Beast pun mulai menghunuskan Pedang Kayu Besi nya lalu mengayun-ayunkan nya, berniat memulai peperangan dan memotong-motong para Kultivator-Kultivator Manusia tersebut.
"Kill..... Kill..... Kill...... " Yel-Yel Teriakan Kompak Prajurit-Prajurit dari Pihak Musuh tersebut.
Para Komandan-komandan dan Calon-Calon Alkemis pun mengeluarkan senjata-senjata suci andalan nya masing-masing kemudian bersiap bertarung sampai dengan titik darah penghabisan.
Di Dek Kapal Yang Di Nakhodai Wakil Komandan Gisel.
Wakil Komandan Cantik berambut pirang tersebut telah mengeluarkan Cambuk Qilin Emas Halilintar Surgawi nya, Komandan-Komandan lain nya pun telah mengeluarkan senjata-senjata suci milik mereka.
"Bagus sekali, dengan ini aku dapat menyalurkan amarah ku." Gumam Gisel lalu mulai memasang kuda-kuda.
Aura petir mulai melingkupi sekitar nya, Gadis Berambut Pirang itu pun mengangkat cambuk nya yang seketika menegang lalu mengeluarkan sambaran petir yang dahsyat ke langit.
"Jderrr................... " Suara sambaran petir tersebut.
Para Komandan-Komandan di sekitar Gisel yang menyaksikan hal itu pun terpaku akan kedahsyatan senjata dewa tersebut, lalu bergumam di hati.
"Kenapa Gadis Cantik ini hanya berpangkat Wakil Komandan?" Gumam Salah Satu Komandan.
Wakil Komandan Gisel pun menghentakkan cambuk tersebut ke arah kerumunan Prajurit-Prajurit Beast yang tengah menyerang tersebut. Serangan Gisel saat ini menggunakan hampir 50 persen tenaganya nya, ia sudah lama ingin menyalurkan kemarahan nya namun belum menemukan tempat yang cocok hingga hari berhujan ini.
"RASAKAN INI PELAKORRR.......... " Teriak Wakil Komandan Gisel.
Sebuah Telapak Halilintar Ungu melesat turun dari langit, Komandan-Komandan yang berada di sekitar Gadis Pirang tersebut kembali bergumam di hatinya ketika mendengar perkataan Gisel dan melihat serangan dahsyat nya.
"Laki-laki mana yang memiliki nyali menduakan Gadis seberbahaya ini, apa laki-laki itu sudah tidak sayang pada nyawa nya lagi?" Gumam Salah Satu Komandan Laki-laki.
"Fiuh..... "
"Sebaiknya aku tidak mengganggu Pacarnya Gadis Psiko ini." Gumam Salah Satu Komandan Wanita Fuckgirl.
Melihat serangan dahsyat tersebut, salah satu Komandan Mawar Ungu melesat kelangit kemudian menjelma ke wujud asalnya menjadi manusia pohon setinggi 20 meter dan berusaha menahan serangan tersebut.
"Dzzzitttt...... Dzzzitttt........ " Suara percikan petir dari Tapak Halilintar Ungu Raksasa tersebut.
"Ugh..... Tapak ini sungguh dahsyat aku gak kuat lagi." Gumam Komandan Mawar yang menahan serangan tersebut.
"Akhhh............. " Teriak nya lalu tewas terkena serangan dahsyat Gisel tersebut, beberapa Prajurit-Prajurit Beast ikut tewas bersama salah satu Komandan Mawar tersebut.
"Duarghhh........ " Suara ledakan akibat serangan Gisel tersebut.
"Hah......... " Suara Nafas Panjang Gisel.
"Leganya..... " Gumam Gisel kemudian mengurut-urut dada nya.
Sementara itu Jendral Mawar Ungu saat ini berhadapan dengan Jendral Catherine yang sedang berdiri di atas kepala Burung Elang Petir.
__ADS_1
"Catherine, ranah Manusia Beast Tumbuhan itu sangat tinggi, bagaimana cara nya kita mengalah kan nya?" Tanya Bernardo.
"Kita pikirkan itu nanti Bernardo, aku akan mencoba menganalisa kelemahan Jendral berotot tersebut." Jawab Jendral Catherine.
Jendral Mawar Ungu pun mulai melesat terbang, sambil mengayunkan pedang nya.
"Slassshhh............... " Suara ayunan Pedang nya.
Lima buah Pedang Kayu Raksasa melesat terbang ke arah Jendral Catherine dan Burung Elang Petir nya.
"Bernardo...... " Teriak Jendral Catherine.
Bernardo pun mengepakkan sayap nya, lima sambaran Halilintar biru pun beradu dengan Pedang-Pedang Kayu tersebut.
"Duarghhh...... Duarghhh...... Duargh...... " Suara saat ke dua elemen saling beradu.
Asap pun mulai mengepul dari bekas ledakan tersebut, sesosok Jendral Kekar melesat terbang kemudian melesatkan tanaman merambat dari telapak tangan nya.
"Pergilah Catherine... " Teriak Bernardo.
Tubuh Burung Elang Petir pun terlilit oleh tanaman merambat tersebut hingga terjatuh ke bawah.
"Brukkkk.......... " Suara saat tubuh Burung Elang Petir yang terjatuh.
"Tanaman merambat itu sangat menyusahkan." Gumam Jendral Catherine kemudian melesatkan beberapa bola petir ke arah Jendral Mawar Ungu.
"Dia meremehkan ku." Gumam Jendral Kekar tersebut.
Dengan lincah Jendral dari Ras Beast itu mulai memotong-motong bola petir raksasa tersebut.
"Slassshh.........slassshhh... " Suara tebasan-tebasan Pedang Mawar Ungu nya.
"Ugh.... Gawat dia makin mendekat." Gumam Jendral Catherine sambil terus melesat kan tembakan bola petir nya.
"Slassshh.........slassshhh... " Suara tebasan-tebasan Pedang Mawar Ungu nya.
"Apa... " Gumam Jendral Mawar Ungu lalu memasang perisai kultivasi kayu di sekujur tubuh nya.
"Jderrr.................. " Suara sambaran petir dahsyat tersebut.
Akibat serangan sambaran petir tersebut Jendral Kekar tersebut bersama dengan perisai kultivasi kayu nya terpental hingga ke Kapal Perang milik Prajurit-Prajurit nya.
"Duarghhhh......... " Suara saat tubuh Jendral Mawar Ungu menghantam Kapal Perang tersebut.
"Siapa yang membantuku?" Gumam Catherine kemudian menoleh ke belakang.
Ternyata sambaran petir dahsyat tersebut berasal dari Naga Petir milik nya Nona Lin, sementara itu Nona Blue tengah memotong-motong tumbuhan merambat yang melilit tubuh Burung Elang Angin dengan Pedang Api nya.
"Jendral Catherine, maaf kami datang terlambat seperti nya sedang ada pesta disini." Ucap Nona Lin kemudian terbang melesat ke sebelah Jendral Catherine di atas kepala Naga Petir nya.
Beberapa saat kemudian Burung Elang Petir pun terbebas dari lilitan tanaman merambat tersebut, lalu terbang kembali ke arah Jendral Catherine begitu pula dengan Nona Blue.
"Nona Lin, Nona Blue syukurlah kalian ada disini,"
"Aku tidak yakin akan menang melawan Jendral Beast Tumbuhan itu." Ucap Jendral Catherine kemudian mengeluarkan Sabit Thunder Storm nya.
Beberapa saat kemudian Jendral Mawar Ungu kembali melayang dari kepulan asap bekas ledakan tersebut.
"Jadi kalian ingin mengeroyok ku yach?"
"Baiklah akan kuladeni kalian semua." Ucap Jendral Mawar Ungu.
Sementara itu pertarungan pun terjadi antara Komandan-komandan dan Calon-Calon Alkemis tersebut dengan Prajurit-Prajurit Manusia Beast di berbagai tempat tersebut.
__ADS_1
Kembali ke Arung yang saat ini tengah menyelam dan hampir sampai ke permukaan.
"Duarghhh....... Duarghhhh......... Duarghhhh...... " Suara ledakan terdengar dari atas permukaan.
"Arung, kau dengar itu?" Ucap Shilla.
"Ia seperti nya ada pertempuran dahsyat di dekat Kapal-Kapal Layar Langit tersebut." Ucap Arung.
"Lihat itu teman-teman, kenapa ada tanaman merambat yang menutupi permukaan Samudra ini." Ucap Ayu sambil menunjuk ke atas.
"Ugh.... Aku belum pernah bertarung seumur hidup ku, bagai mana ini, kalau Shilla dan Ayu seperti nya mereka sudah terbiasa bertarung." Gumam Jeni sedikit takut akan pertarungan di atas.
"Bersiap lah semuanya, seperti nya hari ini akan di penuhi dengan darah." Ucap Arung kemudian mulai mencabut Pedang Taifun dan Tornado Apinya.
"Siap Komandan... " Sahut kompak ketiga Calon Alkemis tersebut lalu mulai mengeluarkan Senjata Suci milik mereka masing-masing.
Arung pun mulai menebaskan kedua pedang nya bersamaan, bilah pedang angin dan pedang api mulai menyilang kemudian menghantam tanaman merambat tersebut.
"Duarghhh............. " Suara ledakan akibat serangan Arung tersebut.
Lubang pun tercipta dari serangan dahsyat milik Arung tersebut, mereka pun melesat keluar dari dalam lubang tersebut.
"Dup... Dup.... Dup..... " Suara Tapak Kaki mereka saat mendarat di atas tanaman merambat tersebut.
Terlihat di sekitar mereka mayat-mayat Beast dan komandan-komandan maupun Calon-Calon alkemis bergelimpangan, suara ledakan terdengar hampir di seluruh penjuru.
"Ini adalah medan Perang, Bos." Ucap Jeni Galgadoth.
"Sepertinya kita harus memenangkan perang ini agar dapat kembali ke Planet Bumi." Ucap Ayu.
"Bagaimana ini Arung?" Tanya Shilla.
"Seperti perkataan Ayu, kita harus memenangkan Perang Laut ini." Ucap Arung.
"Bos terlalu mendramatisir keadaan, bukankah kita berperang di atas tumbuhan merambat?" Gumam Jeni.
Dua puluh Prajurit-Prajurit Beast pun mulai mengelilingi mereka.
"Bersiaplah teman-teman." Ucap Arung.
Ke 20 Prajurit-Prajurit tersebut pun mulai menerjang ke arah Arung dan yang lain nya sambil mengayunkan Pedang Kayu Besi nya.
"Tring...... Tring..... Tring.... "
"Tring..... Tring..... Tring......."
"Tring...... Tring...... Tring..... " Suara saat Arung dan yang lain nya beradu pedang dengan Prajurit-Prajurit Beast tersebut.
Kembali Ke Goa Giok Merah, di Pulau Kelabang Merah.
Terlihat Reinkarnasi Jendral Kelabang Merah telah berhasil mengkultivasi kan dengan sempurna kerangka merah milik tubuh nya dahulu. Gadis cantik itu pun mulai membuka kedua belah mata nya.
"Kalian pikir bisa lari setelah mencuri barang milik ku?" Gumam Jendral Kelabang Merah kemudian bangun dan bersiap membunuh Komandan Jackal beserta yang lain nya.
"Bagus kekuatan ku sudah kembali, saat nya aku mengambil apa yang menjadi milik ku sebelum nya,"
"Bocah-bocah itu akan menyesal karena telah berurusan dengan ku." Ucap Jendral Kelabang Merah lalu bangun dan mulai mencari Komandan Jackal dan yang lain nya.
"Whussss................ " Suara hembusan angin saat Jendral Kelabang Merah tersebut terbang.
"Ha..... Ha...... Ha....... " Tawa menyeramkan Jendral Kelabang Merah tersebut.
TO BE CONTINUED.........
__ADS_1
[MOHON VOTE DAN LIKE NYA AGAR NOVEL INI TETAP TERBIT ON TIME CC NOVELIS JALANAN].