Pendekar Setengah Naga

Pendekar Setengah Naga
Warisan Klan Rubah Dewa.


__ADS_3

Lembah Klan Rubah Dewa, di Bulan.


Tiba-tiba saja Shilla dan Gisel berada di dalam sebuah lembah, Lembah ini memiliki tebing-tebing yang tinggi dan curam. Di sekeliling tebing terlihat ada goa-goa dengan pelindung energi berwarna-warni. Di dasar lembah tersebut terdapat beragam tanaman yang indah dan juga terdapat beberapa kolam yang menyemburkan gletser air.


"Tempat apakah ini, apakah aku sudah mati saat di dalam dasar lorong tersebut?" Gumam Gisel.


Dari atas tebing dua sosok Rubah Berekor Sembilan berwarna hitam dan putih raksasa mulai menuruni tebing dan menjelma menjadi seorang pemuda tampan berambut hitam dan wanita cantik berambut pirang. Kedua pasangan tersebut berdiri tepat di hadapan Shilla dan Gisel, kemudian mereka tersenyum ramah.


"Wah.......ternyata dua orang gadis yang teramat cantik, yang menjadi pewaris kita Lilya." Ucap Freya.


"Benar Freya, wah.....tenang gadis cantik,"


"Kenalkan aku Lilya dan ini suamiku Freya, kalian berdua pasti bingung kan dimana kita ini sekarang." Ucap Lilya.


"Benar nona, bukankah tadi kami sedang berada di ruang bawah lorong jebakan,"


"Dimana Arung, kenapa hanya kita berdua yang ada disini." Ucap Shilla.


"Kalian tengah berada di dalam sisa-sisa ruang ingatan milik kami berdua, akan sulit dech menjelaskannya gadis-gadis." Ucap Freya.


"Wujud kami pun tidak akan bertahan lama, karena kami hanyalah sisa-sisa ingatan yang kami segel ke dalam telur anak kami." Ucap Lilya.


"Jadi kenapa kami bisa, berada disini nona?" Tanya Gisel.


"Sebelum kami berdua tewas di ruangan tersebut, kami memasang sebuah segel warisan di kedua telur itu,"


"Segel tersebut akan aktif ketika ada sesorang atau sesosok makhluk yang menyentuh nya."


"Elemen cahaya dan kegelapan, serta seni bela diri rubah akan diwariskan kepada siapa pun yang menyentuh telur tersebut untuk pertama kali nya." Ucap Lilya.


"Jadi setelah 4000 tahun berlalu, kalian lah orang yang beruntung tersebut, nona-nona." Ucap Freya.


"Wah.......benarkah senior, jadi kami mendapatkan warisan dari senior berdua." Ucap Gisel.


"Benar namun kalian harus merawat dan menjaga kedua anakku yang akan menetas beberapa saat lagi, segel warisan akan terbuka ketika kekuatan kalian cukup, nona-nona." Ucap Lilya.


"Maksudmu kedua telur tersebut?" Ucap Shilla.


"Binggo, sepertinya kau sudah paham nona cantik." Ucap Freya.


"Freya sepertinya dunia ingatan ini tidak akan bertahan lama, sebaiknya jangan berbasa-basi lagi dan cerita kan semuanya." Ucap Lilya.


"Baiklah nona-nona kalian harus mendengar kan kisah ini baik-baik, aku tidak dapat mengulanginya kembali,"


"Kami berdua adalah Ras Beast Bangsawan Klan Rubah Berekor Sembilan, kami mendapatkan tugas dari ayah dan ibuku untuk mendapatkan sebuah cermin rubah yang merupakan harta pusaka klan rubah kami,"


"Kami pun turun ke Kerajaan Jangbaek ini sekitar 4000 tahun yang lalu, nasib sial ternyata ketika mencari kesana kemari kami bertemu raja pencuri dari aliansi pencuri Jangbaek," Ucap Freya.


Sementara itu Shilla dan Gisel terus menyimak perkataan Tuan Freya.


"Aku dan istriku bertarung selama tiga hari tiga malam dan kami berhasil membuatnya cedera parah, namun dia memiliki suatu jurus yang aneh di bandingkan cedera nya cedera kami yang lebih parah," Ucap Freya.


"Aku dan Lilya terpaksa kabur dan menyelam ke dasar Ngarai ini, lalu kami menemukan tempat aneh ini dan berniat bersembunyi di dalamnya,"


"Nasib kami siap dan terkurung di dalam ruangan tersebut, namun sebelum mati kami berdua memasang sebuah segel warisan pada kedua telur kami ini." Ucap Freya.


"Jadi aku dan Lilya berharap kalian bisa menjaga anak kami, aku akan memberikan bonus pusaka yang kusembunyi kan di bawah tubuh ku,"


"Baiklah Freya sepertinya waktu kita sudah habis, nona-nona ini akan terasa sakit sedikit tapi kalian harus menahannya,"


"Dan selamat tinggal." Ucap Lilya.


"Selamat tinggal cantik, aku titip Friska dan Rea ya," Ucap Freya.


"Tunggu dulu tuan... nona." Ucap Gisel.


Tubuh Lilya dan Freya pun berubah menjadi seberkas energi kegelapan dan cahaya, kedua energi masing-masing masuk kedalam dahi Gisel dan Shilla. Lambang bulan sabit berwarna hitam muncul di dahi Shilla, kemudian lambang matahari pun muncul di dahi Gisel.


Kembali ke mansion Putri Naga Kecil


"Arghhhhhh................. " Teriak Shilla.


"Arghhhhhhh............. " Teriak Gisel.


Arung yang mendengar teriakan Shilla dan Gisel pun langsung beranjak ke kamar tidur.


"Ada apa Gisel, Shilla?" Tanya Arung.


"Gisel, sepertinya aku bermimpi bertemu dengan rubah yang tewas di dalam ruangan gelap itu," Ucap Shilla.


"Aku pun juga sama," Ucap Gisel.


Kemudian Shilla dan Gisel menceritakan mimpi yang sama yang di alami oleh mereka berdua. Tak lama berselang kedua telur itu pun menetas, seekor bayi rubah berekor sembilan pun lahir. Gisel dan Shilla pun langsung beranjak ke arah bayi rubah tersebut lalu menggendong nya.


"Oh begitu ceritanya, jadi kalian bermimpi mendapatkan warisan seni bela diri ya,"


"Mungkin kalian terlalu lelah, sehingga fikiran kalian memimpikan hal yang aneh-aneh," Ucap Arung.


"Mungkin saja Arung, ini sungguh aneh,"


"Ya sudah lah aku sudah sangat lapar sekali, aku akan memasak sesuatu di dapur." Ucap Gisel sambil meletakkan bayi rubah putih ke atas ranjang dan ia pun beranjak ke dapur.


Gisel tidak menyadari nya, apa yang mereka impikan itu bukanlah akibat kelelahan. Namun itu adalah sisa-sisa ingatan milik Lilya dan Freya. Sementara itu Shilla masih bingung kenapa ia bisa bangun di dalam sebuah kamar yang sangat nyaman, melihat Shilla kebingungan Arung pun mulai menjelaskan perihal bola ruang tersebut.


Kembali ke lorong yang di lalui oleh Robert dan yang lain nya.


Setelah lima belas hari menyusuri lorong yang dipenuhi beast tersebut, akhirnya mereka pun tiba di ujung lorong. Di ujung lorong tersebut terdapat sebuah pintu berwarna kuning, di depan pintu tersebut telah berdiri seekor beast Raja Siluman Petir yang kekuatan nya setara dengan kultivator di ranah alam langit puncak.


"Aurghhhh.................... " Suara raungan Raja Siluman Petir.


"Hah.......... " Suara nafas panjang Ayu.


"Kali ini lawan kita cukup kuat, Kayla." Ucap Ayu.


"Huft.......... " Suara nafas panjang Kayla.


"Sepertinya ini Bos Beast di dalam lorong ini Ayu." Ucap Kayla.


Pertarungan sengit pun terjadi, beast Raja Siluman Petir pun menerjang ke arah Robert dan Jupiter.


"Akh........... " Teriak kesakitan Robert.


Robert pun terkena serangan cakar petir beast tersebut, seketika Robert pun tak sadarkan diri.


"Brukkk..... " Suara tubuh Robert yang jatuh ke lantai.


Ketiga wanita cantik itu pun telah mengeluarkan senjata sucinya dan berniat menyerang balik beast tersebut.


"Ugh.... kurang ajar, padahal Robert itu adalah yang paling lemah,"


"Tapi makhluk ini menyerang nya duluan." Gumam Jupiter.


Raja Siluman Petir ini memiliki perawakan yang hampir sama dengan Raja Siluman Air hanya saja pada tubuhnya mengeluarkan energi Petir yang meluap-luap.


"Dzzitt......... Dzzitt........ Dzzitt...... " Suara luapan petir di sekujur tubuh nya.


Kecepatan beast ini juga tergolong sangat cepat, kecepatan nya sama seperti seorang kultivator yang tengah menggunakan jurus langkah petir.


"Sebaiknya kalian waspada, Beast ini walaupun memiliki tubuh yang besar tapi juga sangat cepat." Ucap Kayla.


Kali ini Raja Siluman Petir mulai menerjang ke arah Kayla, ia pun menebaskan Pedang Amarah nya. Seberkas energi petir berbentuk pedang pun mengarah ke arah beast tersebut, dengan lincah makhluk tersebut pun berhasil menghindari nya dan melesatkan cakar nya ke dada Kayla.


"Akh................ " Teriak kesakitan Kayla.


"Gadis Pemabuk." Teriak Ayu, keceplosan.


Terkena serangan tersebut Kayla pun roboh, dan mengeluarkan banyak darah dari mulut nya.


"Brukkk............ " Suara tubuh Kayla yang jatuh ke lantai.


Jupiter pun mulai mengeluarkan rantai pengikat jiwa ke arah beast tersebut melalu Pedang Darah nya, terkena serangan rantai pengikat jiwa tersebut Raja Siluman Petir pun tidak dapat bergerak untuk beberapa saat.


"Ugh..... arghh.... arghhh......... " Gumam Makhluk tersebut, sambil berusaha untuk bergerak.


"Ayu, cepat penggal kepala nya,"


"Cepatlah aku hanya dapat menahan nya selama beberapa menit saja." Ucap Jupiter.


Sementara itu Raja Siluman Petir terus berusaha melepaskan diri dari rantai pengikat jiwa.


"Ugh.... kesempatan ini hanya muncul sekali, jika aku gagal,"


"Bisa di pastikan kami semua tewas di tangan makhluk ini." Gumam Ayu.


Ia pun mulai mengumpulkan seluruh tenaga dalam nya di dalam pedang nya lalu menerjang ke arah beast tersebut, sambil mengayunkan Pedang Naga Api yang tengah di selimuti aura api berwarna hitam.


"Rasakan ini siluman brengsek." Teriak Ayu, sambil memenggal kepala beast tersebut.


"Crooot.... " Suara darah yang muncrat, dari leher Beast tersebut.


Darah berwarna ungu pun muncrat dari bekas penggalan di leher Raja Siluman Petir tersebut, seketika tubuh makhluk tersebut roboh dan tersungkur ke lantai.


"Brukkk............ " Suara tubuh makhluk tersebut tersungkur ke lantai tanpa kepala.


Kayla pun bergegas ke arah Robert dan meminumkan nya sebuah pil herbal, kemudian Mereka pun duduk di ujung lorong tersebut sambil menunggu Robert sadarkan diri.


"Syukurlah kau tidak apa-apa Robert, hampir saja jantung ku copot tadi." Gumam Kayla.


Benih-benih cinta sudah mulai tumbuh di hati Kayla terhadap Robert.


"Kayla istirahatlah, dan bermeditasi lah." Ucap Jupiter.


"Sepertinya sahabat ku ini sudah memiliki perasaan terhadap Robert, tampak matanya berbunga-bunga saat menatap Robert." Gumam Jupiter.


"Terima kasih Jupiter." Ucap Kayla.


"Benar yang di katakan oleh Jupiter Kayla, sebaiknya kau segera memulihkan dirimu,"


"Kelihatannya Robert akan sadar dalam beberapa jam lagi,"


"Aku sudah memeriksa nya, sirkulasi energi nya juga sudah stabil kembali,"


"Jadi kau bisa fokus untuk ber kultivasi, Kayla" Ucap Ayu.


"Sepertinya ada yang sedang di mabuk kepayang, ugh...... aku masih menyesal tidak menembak Arung saat di Hutan Tak Bernama." Gumam Ayu.


"Robert, cepatlah sadar kumohon." Gumam Kayla.


Beberapa saat jam kemudian Robert pun mulai membuka matanya, Kayla sejak tadi duduk bermeditasi sambil menunggu Robert sadarkan diri.


"Groagh...... groagh hh......... " Suara dengkuran Ayu dan Jupiter di pojokan.


Sedangkan Jupiter dan Ayu telah tertidur pulas di pojokan lorong lainnya.


"Hah............. " Suara nafas panjang Kayla.


"Mereka sungguh tidak setia kawan, bagaimana mereka bisa tidur pulas sementara ketua ekspedisi nya tengah cedera parah,"


"Robert untung masih ada aku yang peduli padamu." Gumam Kayla.


"Arghhh..... dadaku." Ucap Robert, lalu mengamati sekeliling ruangan.


"Huft............. " Suara nafas panjang Robert, saat melihat tubuh tak berkepala Raja Siluman Petir.


"Sepertinya bencana Beast itu sudah berhasil di atasi oleh Kayla dan yang lain nya, maafkan aku teman-teman aku hanya menjadi beban." Gumam Robert.


"Kayla bagaimana keadaan kalian?" Tanya Robert.


Mendengar suara Robert, Kayla pun bangun dari meditasi nya dan memeluk Robert.


"Robert, dia sudah sadar,"


"Aku sangat khawatir hingga tidak bisa tidur." Gumam Kayla.


Ia ternyata sangat khawatir dengan keadaan Robert saat ini.


"Syukur lah Robert, kau sudah bangun,"


"Aku sangat khawatir." Ucap Kayla, sambil meneteskan air mata.


"Ternyata ada hikmah di balik luka ku ini, empuk nya dada Kayla,"


"Ugh...... celanaku mulai sempit." Gumam Robert.


Robert yang tengah di peluk oleh Kayla pun teramat senang, jantungnya berdegup kencang saat mencium aroma tubuh Kayla.


"Hiks..... hiks..... hiks...... " Tangis harus Robert di dalam hati.


"Ternyata tubuh wanita teramat lembut, ternyata begini rasanya memiliki seorang kekasih,"


"Arung aku sudah dapat sedikit merasakan apa yang kau rasakan saat bersama dua gadis cantik tersebut." Gumam Robert.


Seumur hidupnya ini adalah kedua kali nya, dirinya dipeluk oleh seorang wanita. Kali pertama ketika ia di peluk oleh ibunya dan kali kedua ketika dirinya di peluk oleh Kayla.


"Wah..........Terima kasih Kayla, telah mengkhawatirkan aku,"


"Sepertinya aku sudah agak baikan sekarang, sebaiknya kita harus segera memasuki pintu berwarna kuning tersebut." Ucap Robert, sambil berdiri.


"Kenapa terburu-buru Robert, kita dapat membukanya esok pagi,"


"Sekarang lebih baik kita beristirahat terlebih dahulu." Ucap Kayla.


Setelah sadarkan diri, Robert pun memiliki sebuah firasat yang buruk. Ia mulai khawatir akan adanya serangan beast lanjutan, walaupun di lorong tersebut sudah tidak ada Beast nya lagi karena seluruh beast telah tewas di tangan mereka.


"Firasat ku tidak enak Kayla, sebaiknya kau bangunkan mereka." Ucap Robert.


Melihat Robert begitu serius, Kayla pun mulai membangunkan Jupiter dan Ayu. Setelah kedua gadis cantik tersebut bangun, mereka pun segera memasuki pintu berwarna kuning tersebut.


"Hoam......... " Suara menguap Jupiter,"


"Mengapa kedua pasangan yang lagi di mabuk kepayang ini teramat buru-buru." Gumam Jupiter, lalu mulai memasuki pintu kuning tersebut.


Dibalik pintu berwarna kuning tersebut terdapat sebuah ruangan berukuran 1 km x 1 km dengan banyak sekali rak buku berukuran raksasa di dalam nya.


"Wah................ternyata benar ada perpustakaan disini Robert, ada sekitar 10 buah rak raksasa di dalamnya,"


"Benar Robert, sepertinya ini memang peninggalan dari zaman kuno,"


"TTerlihat dari buku dan rak-rak tersebut yang telah di penuhi oleh debu." Ucap Jupiter.

__ADS_1


Karena cedera nya Robert pun duduk di dekat pintu berwarna kuning.


"Huft.............." Suara nafas panjang Robert.


"Ternyata benar seperti yang di tulis pada bait sebuah lagu anak-anak di zaman dahulu,"


"Di dalam Ngarai ini terdapat sebuah Perpustakaan Kuno." Ucap Robert.


Robert pun mulai menyanyikan lagu tersebut dengan irama lagu cicak-cicak di dinding kalau di dunia asal Arung.


"Pustaka-Pustaka di sini.


"Berada di Ngarai Biru,"


"Datang seorang raja pencuri,"


"Hap.... langsung di jarah." Nyanyikan kecil Robert.


Mendengar Robert berkata dan bernyanyi seperti itu, Jupiter dan Ayu pun mulai berang.


"Ugh.........Ternyata penjelajahan kali ini di dasarkan pada sebuah bait lagu anak-anak di zaman kuno,"


"Dasar .....Arung bodoh....." Gumam Ayu.


Mereka sudah menempuh banyak resiko hingga sampai mempertaruhkan nyawa nya selama ini, bahkan Ayu sampai terpisah dengan Gisel dan Calon Adik Iparnya.


"Robert.....kenapa kau tidak menceritakannya sejak awal penjelajahan,"


"Bahwa sanya kau mendapatkan lokasi perpustakaan ini dari sebuah bait penggalan lagu anak-anak," Ucap Jupiter, sambil berjalan ke arah Robert.


"Ha... ha... ha.... " Tawa kecil Robert.


"Kalau aku mengatakan nya dari awal kalian semua pasti tidak akan percaya, lihatlah akhirnya kita benar-benar sampai kan,"


"Sudahlah Jupiter, ini ambil cincin ruang ini lalu tolong masukkan semua buku dan rak tersebut ke dalam cincin ruang ini." Ucap Robert.


"Hi.... Hi.... Hi...... " Tawa kecil Kayla.


"Tidak kusangka Robert mendapatkan lokasi ini dari sebuah bait lagu anak-anak." Gumam Kayla, lalu pergi membantu Jupiter begitu pun dengan Ayu.


Jupiter pun mulai mengambil cincin ruang milik Robert dan mereka mulai memasukkan seluruh buku-buku kuno kedalam cincin ruang milik Robert termasuk dua buah peti emas yang ada di pojokan ruangan tersebut.


"Lain kali jika dia menemukan reruntuhan Kuno lagi aku akan menginvestigasi nya terlebih dahulu." Ucap Jupiter.


"Aku setuju Jupiter, aku pun akan menceritakan hal ini kepada Calon Adik Ipar ku.... eh maksudnya Arung." Ucap Ayu.


Tak terasa malam pun menjelang pagi, akhirnya Robert beserta yang lain nya telah berhasil menyimpan semua buku-buku kuno ke dalam cincin ruang tersebut.


"Huft.................... " Suara nafas panjang Kayla.


"Ayo kita kembali, Jupiter Ayu." Ucap Kayla, lalu menghampiri Robert.


"Bagaimana dengan Adik ku Gisel dan Calonnya, apa kita tidak menunggu mereka terlebih dahulu?" Tanya Ayu.


"Hah.................... " Suara nafas panjang Jupiter.


"Ayu sangat berbeda dengan adik nya yang liar Gisel, dia sungguh sangat polos hingga sampai saat ini masih terus menjomblo,"


"Dan harus menjadi tukang pukul nyamuk Gisel." Gumam Jupiter, lalu mulai menggeleng-geleng kan kepala nya.


"Ayu, seperti nya Adik Nakal mu dan Shilla akan sedikit lama di dalam lorong tersebut, mungkin saja saat ini mereka sedang melakukan Party Nakal bertiga,"


"Kau tahu kan apa yang akan dilakukan oleh sepasang kekasih jika berada di tempat yang sunyi lalu lembab seperti ini, jika kau mau menunggu mereka selesai berbulan madu,"


"Tunggulah disini aku yakin mereka baru akan keluar dua bulan lagi." Jawab Jupiter.


"Party Nakal,..... kau sungguh mesum Pendekar Don Juan,"


"Aku tidak mungkin menunggu kalian selama dua bulan disini, sebaik nya aku pergi saja." Gumam Ayu.


"Aku yakin mereka bertiga akan baik-baik saja, sebaiknya kita kembali ke Kota Awan Hitam." Ucap Ayu, lalu mulai berjalan keluar dari ruangan tersebut.


"Tenang saja aku akan menghubungi Arung nanti, seperti yang di katakan Jupiter,"


"Saat ini mereka bertiga mungkin sedang berbulan madu." Ucap Robert.


Setelah mendengar perkataan Robert, mereka pun mulai beranjak keluar dari ruangan tersebut dan hendak kembali permukaan.


"Kasian Robert, aku akan membantu nya." Gumam Kayla, berniat memapah Robert.


Robert pun tidak mampu berdiri lagi, sepertinya cederanya kambuh lagi. Kayla pun mulai memapah nya berjalan keluar dari lorong nomer tiga tersebut berniat kembali ke permukaan.


Hutan Zombie, Pulau Iblis Ular.


Meri pun mulai memasuki Hutan Zombie tersebut, ia telah berjalan cukup dalam tiba-tiba saja sekawanan kultivator zombie pun mulai mengejarnya.


"Kya..... Makhluk apa itu, kenapa mereka mengejarku." Teriak Meri, lalu melesat menggunakan Jurus Langkah Petir ke atas sebuah pohon.


Tampak Kultivator Zombie tak ber otak tersebut kebingungan sedang mencari-cari Meri, tak lama berselang kawanan zombie lain nya pun mulai muncul.


"Dup...... Dup...... Dup.... " Suara detak jantung Meri yang cepat.


"Hutan apa ini, kenapa hutan ini di penuhi banyak sekali makhluk-makhluk seperti itu,"


"Patutlah Supir Taxi Online itu terlihat takut sampai di depan gerbang, dasar Supir,"


"Kenapa dia tidak memberitahukan ku, jadi aku kan bisa melakukan persiapan." Gumam Meri, lalu bersembunyi di balik dedaunan.


"Huft............. " Suara nafas panjang Meri.


Tampak seekor Beast Kijang berhasil di tangkap oleh kawanan zombie-zombie tersebut lalu makhluk-makhluk tersebut pun mulai memangsa nya hidup-hidup.


"Aurghhhh......... " Raungan kesakitan Beast Kijang tersebut hingga akhirnya tewas."


Meri yang melihat kejadian tersebut pun ketakutan.


"Bulu kuduk ku sampai berdiri, apa itu hantu kelaparan?"


"Bisa jadi, untung saja makhluk-makhluk tersebut tidak berotak sehingga mereka tidak menyadari keberadaan ku di atas sini,"


"Hutan ini sungguh angker." Gumam Meri, lalu bersembunyi kembali di balik dedaunan.


Beberapa saat kemudian Meri kembali menelusuri Hutan Zombie tersebut dengan cara melompati satu pohon ke pohon lain nya, di karena kan di bawah terdapat banyak sekali zombie-zombie kelaparan berkeliaran.


"Kenapa makhluk-makhluk tersebut bisa sebanyak ini ya, jika bukan untuk mendapatkan Tuan Muda Arung aku tidak akan pernah mau masuk ke dalam hutan angker seperti ini." Gumam Meri, lalu terus melompat dari satu pohon ke pohon lainnya.


Beberapa jam kemudian hari pun sudah mulai malam, dan terdengar suara ledakan dari kejauhan.


"Duarghhh...... Duargh...... Duargh......... " Suara ledakan dari kejauhan.


"Hah...... " Suara nafas panjang Meri.


"Aku sudah menelusuri Hutan ini selama berjam-jam, namun tidak kunjung menemukan ujung nya,"


"Sebaiknya aku pergi menuju ke arah suara ledakan tersebut, semangat Meri semua kesulitan ini demi hubungan mu dengan Tuan Muda Arung." Gumam Meri.


Meri pun melesat kembali dari pohon ke pohon berniat menuju arah suara ledakan tersebut berasal.


Beberapa menit kemudian,


Meri pun melihat sebuah perisai kultivasi berwarna hitam di depan nya yang di sekeliling nya di kelilingi zombie-zombie tersebut. Di dalam nya terlihat seorang wanita cantik mengenakan pakaian hitam dengan luka di sekujur tubuh nya, di hadapan nya terdapat seekor Beast Naga Es dengan panjang sekitar 50 meter.


"Kasian wanita cantik tersebut, dia pasti terluka karena melawan Beast tersebut." Gumam Meri.


"Aurghhhh.............. " Raungan Beast Naga tersebut, lalu melesat kan beberapa bongkahan es dari mulutnya.


Kultivator wanita tadi pun memasang perisai kultivasi berelemen Bayangan, karena kekuatan dari kultivator itu lebih lemah dari Beast Naga perisai kultivasi bayangan pun hancur terkena bongkahan es tersebut.


"Duarghhh.............. " Suara ledakan akibat bongkahan es tersebut.


Kultivator wanita tadi pun terpental dan terluka parah setelah nya.


"Uhuk.... Uhuk.... Uhuk...... " Suara batuk Kultivator wanita tersebut, lalu memuntahkan darah hitam yang kental.


"Kasian wanita itu." Gumam Meri, lalu melesat ke dalam perisai hitam tersebut berniat membantu kultivator tersebut.


"Aurghhhh................. " Raungan Beast Naga tersebut.


Meri pun mengeluarkan Tongkat Pemukul Naga nya, melihat tongkat tersebut Naga Es pun ketakutan dan kabur.


"Whuss...................... " Suara hempasan angin saat Naga Es tersebut kabur.


"Lho....... Kok kabur, apa mungkin Beast tersebut takut dengan kultivator berelemen petir?" Gumam Meri.


Meri pun menghampiri Kultivator yang terluka tadi lalu menyalurkan tenaga dalam nya berniat mengobati luka dalam nya.


"Ugh........ Siapa Gadis ini kenapa Naga tadi takut kepadanya." Gumam Kultivator tersebut.


Beberapa menit kemudian, kultivator cantik itu pun sudah agak baikan.


"Terima kasih khisanat, jika bukan karena pertolongan mu,"


"Aku mungkin sudah mati tadi, namaku Tyaz Rose,"


"Aku adalah salah satu Tetua di Sekte Kupu-kupu Hantu." Ucap Tyaz.


"Kebetulan sekali, aku bisa memohon nya untuk menjadikan ku muridnya." Gumam Meri.


Meri pun berlutut di hadapan Tetua Tyaz, lalu membungkuk dan memberi hormat.


"Tetua Tyaz tolong terimalah aku menjadi murid mu, aku sangat perlu mempelajari sebuah jurus untuk mengatasi jurus menghilang." Ucap Meri.


"Aku tidak mungkin tidak menerima nya menjadi murid ku, dia telah menyelamatkan nyawaku dari serangan Beast Naga tersebut,"


"Sebaiknya aku menanyakan alasan nya saja." Gumam Tetua Tyaz.


"Untuk apa gerangan kau mempelajari jurus tersebut, jujur lah?" Tanya Tetua Tyaz.


"Ugh.... Aku sebenarnya sangat malu untuk mengatakan alasan ku kepada Tetua Tyaz, tapi aku harus jujur." Gumam Meri, lalu menarik nafas panjang.


"Huft..................... " Suara hembusan nafas panjang Meri.


"Sepertinya alasan nya sangat kuat, sampai-sampai dia berani masuk ke dalam Hutan Zombie ini." Gumam Tetua Tyaz.


"Sebenarnya begini Tetua Tyaz, mungkin cerita nya agak sedikit mesum." Ucap Meri.


"Tidak apa-apa Khisanat, lanjut kan saja,"


"Lagian sekte kita ini merupakan sekte beraliran hitam, tenang saja khisanat." Ucap Tetua Tyaz.


"Begini ceritanya Tetua........... " Ucap Meri, lalu mulai menceritakan adegan saat mereka menangkap Arung dan menyekap nya di Ruangan Resepsionis.


Beberapa menit kemudian,


"Begitu ceritanya Tetua Tyaz, jadi aku bermaksud mengetahui cara untuk mengatasi ilmu menghilang nya Tuan Muda Arung,"


"Aku beserta kedua adik ku memiliki cita-cita ingin menjadikan nya sebagai Calon Suami kami, Tetua." Ucap Meri.


"Ugh....... Aku sangat malu menceritakan maksud ku mempelajari jurus tersebut." Gumam Meri.


"Hah............ " Suara nafas panjang Tetua Tyaz.


"Gadis cantik berdada besar ini sangat cocok mempelajari jurus-jurus di sekte ku, pemikiran nya saja sangat mesum,"


"Tidak kusangka ini semua demi laki-laki, kenapa dia tidak mencari kultivator Dukun saja dan meminta sebuah pelet yang ampuh untuk nya,"


"Kenapa dia mesti mempertaruhkan nyawanya masuk kedalam hutan yang di penuhi dengan zombie ini." Gumam Tetua Tyaz.


"Ilmu menghilang Calon Suami mu itu namanya adalah Jurus Tabir Hantu, dan cara mengatasinya adalah dengan cara mempelajari jurus Mata Bathin." Ucap Tetua Tyaz.


"Jurus Tabir Hantu, dan Jurus Mata Bathin?"


"Baguslah ternyata aku datang ke tempat yang tepat." Gumam Meri.


"Karena kau sudah menyelamat kan ku, kau akan kuangkat menjadi murid luar ku untuk sementara,"


"Lima bulan lagi kau harus kembali ke mari dan mengikuti ujian menjadi murid dalam, dan ini ambillah ketiga Kitab ini." Ucap Tetua Tyaz, lalu memberikan tiga buah Kitab kepada Meri.


"Terima Kasih Tetua Tyaz." Ucap Meri, lalu menerima kitab-kitab tersebut.


"Baiklah itu adalah Kitab Perisai Kultivasi Zombie, Kitab Jurus Tabir Hantu, dan Kitab Jurus Mata Bathin, pelajarilah dan jika ada yang tidak kau ketahui ikuti lah meeting online ku melalui aplikasi zoom meeting,"


"Simpanlah nomer Whatsapp ku ini, akan ku kabari id dan passcode nya nanti." Ucap Tetua Tyaz, lalu memberikan nomor whatsapp nya.


"Wah....... Gaul banget Tetua Tyaz ini bahkan dia mengajar secara online pakai aplikasi zoom meeting, Hebat.... Hebat... Hebat." Gumam Meri, lalu mengambil dan menyimpan nomer whatsapp Tetua Tyaz.


"Aku belum bisa mengajak nya ke mansion ku, sebaiknya dia ku suruh kembali ke tempat asal nya terlebih dahulu,"


"Lima bulan lagi baru dia kuterima menjadi murid dalam ku." Gumam Tetua Tyaz, lalu mengayunkan tangan nya.


Sebuah terowongan dengan perisai kultivasi zombie pun muncul di hadapan nya. Tampak para zombie di luar tidak dapat memasuki terowongan perisai kultivasi tersebut.


"Khisanat sebaiknya kau kali ke tempat asal mu terlebih dahulu, setelah lima bulan kembali lah kemari." Ucap Tetua Tyaz.


"Baik Tetua." Ucap Meri.


"Oh........iya Khisanat beritahukan nama mu sebelum kau pergi, aku juga ingin tahu nama murid luar ku." Ucap Tetua Tyaz.


"Nama ku Meri Dragon Hunter, Tetua." Ucap Meri.


"Ya sudah kalau begitu Meri pergilah, aku harus kembali ke sekte untuk mengikuti zoom meeting dulu,"


"Dan jangan lupa mengirimkan nomer whatsapp mu kepada ku." Ucap Tetua Tyaz.


"Baik Tetua." Ucap Meri, lalu beranjak pergi dengan cara memasuki terowongan kultivasi zombie tersebut.


Beberapa saat kemudian, didalam Terowongan Perisai Kultivasi Zombie.


"Sekte ini benar-benar sesat, Tetua Tyaz menerima ku menjadi muridnya sebelum mengetahui nama ku,"


"Lalu saat aku menceritakan mengenai cerita mesum tersebut, Tetua Tyaz terlihat sangat tenang,"


"Aku khawatir saat Tetua Tyaz melihat Tuan Muda Arung, dia akan meminta ku menjadikan Tuan Muda Arung Calon Suaminya Juga,"


"Semoga saja ituprasangkan buruk ku saja." Gumam Meri, sambil berlari di dalam terowongan berniat kembali ke Kota Awan Hitam.


Kembali ke Tetua Tyaz yang saat ini tengah berjalan di dalam hutan zombie dengan memasang perisai zombie di sekitar nya.


"Kira-kira laki-laki seperti apa yang sampai membuat muridku dan kedua adik nya jatuh cinta?"

__ADS_1


"Jika laki-laki tersebut benar-benar tampan aku juga berniat menjadikan nya suami ku dan berbagi suami dengan murid luar ku, lagian aku sudah sangat lama menjomblo." Gumam Tetua Tyaz, lalu beranjak kembali ke Sekte Kupu-kupu Hantu.


Dua bulan pun berlalu di dalam bola ruang milik Putri Naga Kecil.


Saat ini Arung, Gisel, dan Shilla sedang duduk di ruang santai sambil menikmati segelas teh gingseng di pagi hari. Kedua rubah kecil pun saat ini sudah berukuran sebesar kucing, dan mereka tengah bermain di hutan di sekeliling mansion. Selama dua bulan berada di mansion ini Gisel dan Shilla semakin akrab apalagi sekarang mereka memiliki peliharaan yang sama.


"Shilla, apa kau sudah memberi makan Rea pagi ini?" Tanya Gisel.


"Tenang saja Gisel, aku sudah memberi makan mereka berdua dengan daging phoenix yang kuambil di dalam ruangan di lantai empat mansion ini," Jawab Shilla.


"Wah..........Terima kasih banyak Shilla, aku berencana akan memberi mereka makan sekarang,"


"Ternyata sudah kamu kasih makan duluan buat mereka, baguslah kalau begitu." Ucap Gisel.


"Fiuh............ "


"Di balik bencana ternyata ada sebuah hikmah, kedua gadis ini sudah akur sekarang." Gumam Arung.


"Ehm.... nona-nona sepertinya kita harus pergi sekarang, dari dalam bila ruang ini dan menuju ke ujung lorong jebakan tersebut,"


"Tenaga dalam beserta kultivasi ku pun telah pulih sepenuh nya, jadi aku pikir sebaiknya kita segera keluar dari dalam sini." Ucap Arung, sambil meneguk teh dan membaca buku mengenai manfaat essensi bagi vitalitas.


"Kultivasi ku dan Gisel pun seperti nya sudah kembali pulih juga, aku juga setuju dengan mu Arung,"


"Robert pun sudah kembali terlebih dahulu sebulan yang lalu, dia sudah mendapatkan banyak buku kuno dan dua buah peti harta bersama nya,"


"Dia meneleponku saat kalian sedang mandi, katanya dia akan membagi buku-buku kuno dan isi di dalam peti harta itu ketika kita kembali ke Kota Awan Hitam,"


"Dan dia bilang katanya kita dapat pulang lebih awal menggunakan pesawat di bandara pulau Balighe bagian depan," Ucap Arung.


"Lho...........jika ada pesawat yang menuju kemari kenapa kita harus repot-repot menggunakan jalan darat selama berhari-hari Arung." Tanya Shilla.


"Kamu seperti tidak tahu saja Shilla, itu kan akal-akalan Robert supaya bisa bersama dengan Kayla, kau tidak memperhatikan gerak-geriknya selama di kapal selam." Ucap Gisel.


"Wah..... ternyata seperti itu ya."


"ha... ha... ha.... " Tawa kecil Arung, mengetahui kalau sahabatnya ternyata memiliki agenda lain nya di dalam penjelajahan tersebut.


"Ternyata Robert berkonspirasi dengan mengambil jalan darat, dasar Robert." Gumam Arung.


"Sayang kau tidak apa-apa kembali, bukan kah hidupmu selama dua bulan di sini sangat menyenangkan bisa bersama dua orang bidadari,"


"Tiap malam aku dan Shilla memijit kepala dan bahu mu, Shilla setiap pagi memasak hidangan yang lezat untuk kita." Ucap Gisel.


Shilla pipinya pun mulai memerah, saat mendengarkan perkataan Gisel barusan.


"Ya.......mungkin aku beruntung memiliki pacar seperti kalian berdua, apalagi melihat kalian akur selama dua bulan ini,"


"Sungguh hati ku sangat senang dan tenang," Ucap Arung, sambil mengelus-elus dada nya.


Mendengar perkataan Arung, Gisel dan Shilla pun menjadi malu dan salah tingkah.


"Dasar Pendekar Don Juan, kau selalu saja pandai menggombal." Gumam Gisel.


"Arung kami berdua kan sudah akur, dan telah bisa menerima kekurangan dan kelebihan satu sama lain nya, jadi jangan pernah berpikir sedikit pun untuk menambah Calon istri lain nya,"


"Jika kau berani, awas saja,"


"Aku sudah diajarkan Mama bagaimana mengiris-iris terong." Ucap Shilla, dengan nada mengancam.


"Kali ini aku sangat mendukung mu, Shilla"


"Aku pun akan memberikan hukuman kepada Arung jika ia sampai berani mencari wanita lainnya." Ucap Gisel, dengan ekspresi mengancam.


"Wah.........bisa berabe nich kalau mereka sempat tahu hubunganku dengan Nona Mitha dan Clara, bisa di cincang kayak nya aku,"


"Apalagi Shilla bakalan habis aku ditembaki dengan bola api milik nya dan terong ku, aku tidak dapat membayangkan nya,"


"Sebaiknya aku harus mengalihkan topik pembicaraan kali ini." Gumam Arung.


Arung pun mulai berdiri dari kursi giok, kemudian ia memegang pergelangan tangan Gisel dan Shilla bersamaan.


"Ayo kita keluar dari sini sekarang, ingat Gisel beberapa hari lagi kita harus mengikuti ujian final kompetisi,"


"Dan kamu Shilla, kamu seharusnya belajar karena empat bulan lagi kamu harus mengikuti ujian menjadi Alkemis di kota seribu obat." Ucap Arung, sambil berjalan menuju tangga dan menarik lengan kedua gadis cantik tersebut.


"Mesranya, dia sangat perhatian dengan ku,"


"Kau memang Calon Suami Idaman." Gumam Gisel.


"Siap sayang." Ucap Gisel.


"Ugh...... dia mengingat waktu ujian ku, ternyata selama ini Pendekar **** Boy ini memperhatikan aku,"


"Aku tidak rugi telah memasakkan makanan selama ini untuk nya." Gumam Shilla.


"Baiklah ayo kita keluar, Arung." Ucap Shilla.


Setelah keluar dari dalam bola ruang mereka pun mulai berteleport ke ujung lorong jebakan kedua.


"Blitzzz.......... " Suara jurus teleportasi milik Arung.


"Wah akhirnya kita keluar juga dari dalam ruangan ber gravitasi tinggi itu,"


"Lho..........Arung kenapa kita berteleport ke ujung lorong Jebakan kedua ini,"


"Kenapa kita tidak berteleport ke sisi sebelah nya, gimana cara kita menyeberangi nya nanti?" Tanya Shilla.


Di lorong jebakan kedua ini seluruh lantai telah hancur di akibatkan oleh Arung yang membangkitkan elemen dewa "Black Hole", saat menyerap essensi dari Rubah hitam dan putih saat itu.


"Tenang Shilla, aku punya firasat bagus kali ini,"


"Aku rasa di ujung lorong ini, kita tidak akan menemukan pintu berwarna kuning yang telah di masuki oleh Robert dan yang lainnya."


"Aku rasa tiap lorong menyimpan rahasia tersendiri nya." Ucap Arung, sambil berjalan terus ke depan.


"Benar yang dickatakan Arung, kita harus menelusuri lorong ini kan kentang kalau tidak." Ucap Gisel, sambil mengekor di samping kanan Arung.


"Dasar Liar...... " Gumam Shilla.


"Ya sudah, kau adalah pemimpin keluarga nya,"


"Walau pun aku adalah calon matriak mu, kau tetap pemimpin ku." Ucap Shilla, sambil mengekor ke sebelah kiri Arung.


"Huft.............. " Suara nafas panjang Arung.


Setelah beberapa langkah berjalan di lorong jebakan tersebut, mekanisme jebakan lain nya pun mulai aktif. Sebuah energi bola api ber elemen legenda melesat dari titik awal lorong jebakan kedua menuju ke arah Arung dan lainnya. Di bagian depan bola api hitam pun melesat dengan kecepatan yang sama ke arah Arung dan yang lainnya.


"Ternyata lorong yang kami masuki ini penuh dengan jebakan." Gumam Arung, ia pun bergegas mengkode kedua gadis cantik tersebut untuk mendekat dengan isyarat tangan nya.


"Jurus mesum itu lagi." Gumam Shilla.


Gisel dan Shilla pun paham apa yang di rencanakan oleh Arung, mereka pun lalu mendekat dan memeluk pinggang dan leher Arung.


"Sepertinya mereka sudah mulai terbiasa, aku jadi kepikiran membuat Party Nakal,"


"Ugh..... apa yang kupikirkan kenapa aku bisa semesum ini." Gumam Arung.


Ia pun langsung berteleport ke ujung lorong jebakan ketiga tersebut bersama kedua gadis cantik tersebut.


"Blitzzzz........... " Suara jurus teleportasi milik Arung.


"Duarggghhhhhh................ " Suara ledakan yang terjadi akibat dua elemen dengan daya penghancur yang kuat saling beradu.


"Groaghhhhh..................... " Suara lorong jebakan yang bergetar.


Ledakan tersebut juga memicu runtuh nya langit-langit id lorong jebakan ketiga tersebut, sehingga membuat jalan tersebut tidak dapat di lalui kembali.


"Jika terkena jebakan itu kita bisa langsung tewas tadi, untung saja ada jurus ajaib mu, sayang." Ucap Gisel.


"Jurus ajaib opo, ini kan jurus mesum,"


"Untung berpelukan dengan Calon Suami sendiri, jika orang lain kan berarabe,"


"Eh..... tapi tunggu dulu pasti Pendekar Don Juan ini pernah beberapa kali memeluk Gadis Cantik lainnya dengan jurus ini,"


"Ugh....... dasar Pendekar Fuckboy." Gumam Shilla.


"Ayo Gisel kita jalan terus, sepertinya jebakan ini di desain untuk membunuh siapapun yang lewat disini,"


"Pasti ada harta yang bagus di ujung nya." Ucap Arung.


"Ayo Sayang." Ucap Gisel.


Arung, Gisel dan Shilla pun terus menyusuri lorong jebakan tersebut, ternyata kali ini di ujung lorong jebakan ketiga di penuhi dengan duri-duri di dinding-dinding lorong. Lorong pun mulai mengecil menjadi 2,5 meter dengan duri sepanjang 1 meter di kedua sisinya, sehingga lorong jebakan ketiga ini hanya bisa dilewati dengan jalan menyamping.


"Dasar Kultivator Arsitek, gak ada otak,"


"Ini bukan lagi jalan untuk belajar, tapi jalan untuk bunuh diri,"


"Apa yang di pikirkan oleh Kaisar di zaman tersebut sehingga mengizinkan bangunan publik di desain seperti ini." Ucap Shilla.


"Sabar Shilla, mungkin saja ada pintu lain nya yang lebih mudah untuk di masuki,"


"Hanya saja kita tidak mengetahui nya." Ucap Arung.


"Sebenarnya benar yang di katakan Shilla, ada yang salah dengan desain lorong menuju Perpustakaan tersebut." Gumam Arung.


Shilla yang memiliki sedikit ilmu mengenai pengobatan dan racun pun mulai memeriksa ujung duri yang menghitam lalu mengeluarkan beberapa botol cairan aneh di dalam cincin ruang milik nya.


"Sepertinya otak Shilla sudah kembali normal." Gumam Gisel.


Shilla pun mulai menuangkan cairan berwarna hitam, kemudian cairan berwarna putih namun belum ada reaksi apa pun.


"Aneh..... kenapa belum ada reaksi apa pun?" Ucap Shilla.


"Tidak kuduga dia memiliki kemampuan mengenai racun dan pengobatan, pantas saja Matriak mengirim nya mengikuti ujian di Kota Seribu Obat." Gumam Arung.


Terakhir Shilla pun menuangkan cairan berwarna hijau dan bereaksi, asap hijau pun mengepul dari ujung duri tersebut.


"Berbahaya sekali, racun ini memiliki efek membunuh seorang kultivator di ranah alam bumi puncak dengan hanya sekali goresan,"


"Kita akan mati jika tergores sedikit saja, sebaiknya kita kembali Arung,"


"Lorong ini panjangnya 20 km akan susah jika kamu berteleport di dalam sini." Ucap Shilla, ia sudah menganalisa kalau jarak maksimum Arung berteleport adalah sejauh 10 km saja.


"Sayang kamu kan bisa langsung berteleport ke balik pintu merah di sana kan." Ucap Gisel sambil menunjuk ke arah pintu berwarna merah di ujung lorong jebakan ke empat tersebut.


Arung dan Shilla sebelumnya sangat terfokus pada duri di sekitar dinding dan tidak menyadari adanya pintu berwarna merah di ujung lorong tersebut. Mereka berdua pun kini menatap ke arah pintu berwarna merah tersebut.


"Wah.............akhirnya, kita berhasil sampai juga ke ujung lorong jebakan ini,"


"Ternyata firasat ku benar,"


"Tiap lorong di dalam perpustakaan ini menuju keruangan yang berbeda-beda, baiklah aku akan berteleport ke sana kalian berdua tinggal lah disini dulu." Ucap Arung, sambil memasang kuda-kuda jurus teleportasi.


"Tapi Arung, lorong ini cukup berbahaya lalu duri-duri ini sangatlah beracun." Ucap Shilla, sambil menarik lengan baju Arung.


"Wah.... ternyata sangat beracun, bisa jadi jamur aku,"


"Janda di bawah umur, gak mau... aku gak mau." Gumam Gisel.


"Benar yang dikatakan Shilla, aku tidak mau menjadi janda di usia muda, Sayang." Ucap Gisel.


"Tenang saja gadis-gadis aku memiliki tubuh pil dewa obat, racun setingkat ini tidak akan berpengaruh terhadap ku." Ucap Arung, sambil menyentuh ujung duri tersebut yang menyebabkan jari telunjuknya berdarah.


"Sayang aku serius, kenapa kau melukai diri mu sendiri,"


"Aku tidak mau menjadi Janda." Ucap Gisel.


"Hiks... hiks... hiks... " Tangis Gisel, ia menganggap Arung akan mati terkena racun.


"Aku juga gak mau jadi Janda bahkan kita belum sempat melangsungkan malam pertama." Ucap Shilla.


"Hik...... hiks...... hik...... " Tangis Shilla, lalu memeluk Gisel.


"Benar yang dikatakan Shilla, jika tau begini kenapa sewaktu di dalam mansion tersebut,"


"Kita tidak melakukan Party Nakal saja." Ucap Gisel.


"Huft................ " Suara nafas panjang Arung.


"Party Nakal, dasar otak mesum." Gumam Arung.


beberapa menit kemudian, Gisel dan Shilla pun terkejut lalu melepaskan pelukan nya.


"Lho.....seharusnya racun tersebut sudah berefek padamu Arung?"


"Wah..........ternyata benar kamu memiliki tubuh pil dewa obat, sungguh beruntung kamu Arung." Ucap Shilla, lalu menyeka air mata di pipi nya.


"Benarkah Shilla, Arung tidak apa-apa." Ucap Gisel, sambil menyeka air mata di pipinya.


"Tentu saja pirang, aku kebal terhadap racun setingkat ini,"


"Lihat saja aku masih baik-baik saja." Ucap Arung, sambil menggosok kepala Gisel.


"Benar Gisel, sepertinya Arung memiliki tubuh pil dewa obat." Ucap Shilla.


"Baiklah aku akan berteleport sebanyak dua kali dan langsung memasuki pintu berwarna merah tersebut."


"Hati-hati Sayang, segera lah kembali kemari setelah nya." Ucap Gisel.


"Ya Arung." Ucap Shilla.


"Party Nakal, benar juga yang di katakan Gisel,"


"Ugh..... seharusnya aku menggodanya saat di dalam mansion tersebut." Gumam Shilla.


Arung pun mulai berteleport sebanyak dua kali ke balik pintu berwarna merah tersebut.


"Blitz zz................... " Suara jurus teleportasi milik Arung.


Sementara itu Gisel dan Shilla mengeluarkan sebuah meja dan tiga buah kursi dari dalam cincin ruang milik nya, mereka pun kemudian mengeluarkan teh gingseng lalu duduk menunggu Arung sambil minum secangkir teh tersebut bersama.


"Tos.... Shilla." Ucap Gisel.


"Tos........ " Ucap Shilla.


"Dasar Pemabuk, apa dia pikir kita sedang minum beer apa." Gumam Shilla.

__ADS_1


__ADS_2