Pendekar Setengah Naga

Pendekar Setengah Naga
Kembali ke Kota Awan Hitam


__ADS_3

"Byurrrr................... " Suara hujan deras.


Suasana hening pun tercipta di langit, Tampak Nona Beast tengah mengamati Arung serta berniat ingin menyerang nya. Angin sepoi-sepoi pun berhembus di langit ini, Nona Beast pun menebaskan pedang Iblis putih kembarnya.


"Sepertinya dia ingin menguji ku, dengan serangan yang lemah tersebut,"


"Sebaiknya aku berpura-pura kesulitan saja saat menangani serangan tersebut." Gumam Arung.


Energi bilah pedang cahaya dan kegelapan saling menyilang kemudian melesat ke arah Arung. Arung pun kemudian mengayunkan tangannya, seketika akar tanaman menutupi tubuh nya, membentuk sebuah bola perisai kultivasi tumbuhan.


"Duarghhh......................... " Suara ledakan akibat kedua bilah pedang mengenai perisai kultivasi tumbuhan.


Seketika perisai tersebut pun tercabik-cabik dan perlahan-lahan menghilang, tampak Arung mengalirkan sedikit darah di mulutnya.


"Uhuk..... uhuk.... uhuk..... " Suara batuk Arung dan mengeluarkan darah.


"Ternyata bocah Naga ini hanya menggertak saja, dengan serangan seperti itu saja ia sudah terluka." Ucap Nona Beast.


"Arung...... serangan tadi telah melukainya." Gumam Shilla, yang tengah menonton di kejauhan.


"Sepertinya siasat ku berhasil, ketika makhluk ini lengah aku akan menghantam nya dengan Palu Emas Hitam Surgawi ini." Gumam Arung.


Nona Beast pun menerjang ke arah Arung, berniat memenggal kepalanya. Ketiga pedang pun tengah beradu di atas langit ini, tampak Arung semakin tertekan.


"Cantik-cantik tapi bodoh, dia tertipu dengan trik murahan seperti ini." Gumam Arung.


"Baru segini saja kau telah kesulitan Naga Kecil, malam ini kami akan berpesta-pora memakan daging mu." Ucap Nona Beast, sambil mengayunkan kembali kedua pedang nya.


"Sepertinya dia sudah lengah," Gumam Arung, kemudian melesatkan jurus teleportasi.


"Blitz....................... " Suara Jurus teleportasi milik Arung.


Nona Beast pun kebingungan dan menebas angin di hadapan nya.


"Kemana Naga itu menghilang?" Gumam Nona Beast, sambil menoleh kesana-kemari.


Ternyata Arung telah berteleport ke belakang Nona Beast tersebut, kemudian melontarkan palu ke arah makhluk tersebut.


"Membesar" Ucap Arung.


Palu itu pun membesar secara Perlahan-lahan, Nona Beast pun berbalik kebelakang. Nasib sial bagi Nona Beast sebuah Palu Raksasa berelemen api hitam tengah melesat kearah nya.


"Sejak kapan dia ada di sana." Gumam Nona Beast, kemudian segera memasang perisai kultivasi api beracun.


Di kejauhan tampak Shilla tengah menonton di atas pedang terbang.


"Ternyata Arung memiliki senjata seperti itu, senjata dewa memang sungguh mengerikan." Gumam Shilla.


"Kenapa selama pertandingan ia tidak pernah mengeluarkan nya, apa mungkin Arung menyiapkannya untuk pertandingan final,"


"Sebagai kartu truff nya, Kalau ia dia benar-benar cerdas." Gumam Shilla.


Kembali ke pertarungan.


Malang bagi Nona Beast, perisai kultivasi api beracun pun hancur seketika terkena palu dewa. Nona Beast pun terpental hingga ke daratan dan terluka parah.


"Duargh........................ " Suara ledakan akibat palu dewa.


Arung pun melesat turun kebawah, ke arah jatuhnya Nona Beast.


"Ughh.......... sial ternyata itu siasat nya saja pura-pura lemah, walaupun di berada di ranah alam bumi puncak kekuatannya sangat besar,"


"Sebaiknya aku kabur, aku tidak akan menang melawan Naga ini." Gumam Nona Beast.


Seberkas energi api ungu kembali membakar tubuh Nona Beast, beberapa menit kemudian tubuh makhluk ini kembali bertransformasi menjadi Burung Phoenix Surgawi.


"Aurghhhh................................ " Raungan suara Beast tersebut, kemudian melesat terbang dari hutan tersebut.


Arung pun melihat Burung Phoenix tersebut berniat melarikan diri dari nya, ia pun kemudian mengejar ketat di belakang burung tersebut sambil menyimpan kembali palu dewa ke dalam cincin ruang miliknya.


"Kau tidak akan bisa kabur dariku, kau akan menjadi seonggok daging panggang." Teriak Arung.


Sementara itu Shilla ikut mengejar mereka dari kejauhan.


"Naga ini tidak membiarkan ku lari, gawat aku harus menambah kecepatan ku." Gumam Nona Beast, sambil melesat lebih kencang.


"Byurrrr.............. " Suara hujan deras.


Beberapa menit kemudian.


"Baiklah kita sudahi kejar-kejaran ini" Gumam Arung, kemudian berteleport ke arah leher Phoenix tersebut.


"Blitzzz........................... " Suara jurus teleportasi milik Arung.


Dalam satu kedipan mata Arung pun tiba di atas leher Burung Phoenix tersebut.


"Sejak kapan dia ada disitu." Gumam Nona Beast.


"Terimalah ajal mu." Ucap Arung kemudian memenggal kepala Burung Phoenix tersebut.


"Argghhhhhhh................................. " Suara teriakan terakhir Burung Phoenix ketika menjelang ajalnya.


"Arung sungguh sangat kuat saat ini, bahkan lebih kuat dari saat di kompetisi." Gumam Shilla.


Tubuh Burung Phoenix pun jatuh ke bawah begitu juga dengan cincin merah penyimpanan miliknya. Arung pun kemudian menyimpan tubuh Phoenix ke dalam cincin ruang miliknya kemudian memungut cincin merah tersebut.


"Byurrrr.................. " Suara hujan deras.


Arung pun kembali ke pedang terbang, kemudian duduk bermeditasi kembali. Akar tanaman mulai muncul dari pedang hijau ini melilit tubuh Arung, Shilla tidak berkata apa-apa karena Arung tampak kelelahan.


"Shilla aku punya hadiah buatmu, rasanya tidak adil bagiku jika tidak memberikanmu sesuatu."


Arung merasa tidak enak karena sudah memberikan Gisel Pedang Emas dan Cambuk Qilin Emas Halilintar Surgawi, sedangkan Shilla belum di berikan apa pun.


"Hadiah?" Ucap Shilla terkejut.


Arung kemudian menyerahkan Roda Emas dan Pedang Iblis Putih Kembar kepada Shilla.


"Ambillah Shilla, kau dulu telah meminjamkan ku, sarung tangan mu." Ucap Arung.


Shilla pun menerima hadiah dari Arung kemudian menyimpannya, ia pun kemudian duduk di hadapan Arung dan menciumnya. Di tengah guyuran hujan mereka pun berciuman, beberapa saat kemudian mereka pun menyudahinya. Shilla pun kembali ke tempat nya, akar tumbuhan kembali melilit tubuh nya.


"Terima kasih cinta, istirahat lah,"


"Nanti kalau sudah sampai aku akan membangunkan mu, sayang." Ucap Shilla, kemudian melesat kan pedang hijau tersebut.


Kembali ke dalam bola ruang


Saat ini Gisel tengah tertidur dan memimpikan salah satu kenangan dari Liliya dan Freya.


Di sebuah Lembah, terlihat seorang anak kecil tengah bermain roda berputar di sebuah taman yang indah. Pepohonan disekitar taman itu mengeluarkan cahaya ke kuning-kuningan. Gisel belum menyadari bahwa gadis kecil tersebut adalah Liliya.


"Mama ku mana ya kok tidak menjemput ku, padahal sudah sore." Ucap Liliya sambil bermain roda berputar.


"Hiks...... hiks..... hiks....... " Tangis kecil Lilya, yang di dalam roda berputar.


Beberapa saat seorang bocah laki-laki seumuran Liliya menghampiri nya, ternyata bocah laki-laki itu adalah Freya.


"Adik kecil kenapa kau menangis?" Tanya Freya, sambil.


Roda berputar pun perhentian berputar, Freya pun masuk ke dalam bola tersebut.


"Mamaku belum menjemput ku Kak." Ucap Lilya.


Saat ini Lilya sedang menangis sambil menutup matanya, dan belum menyadari bocah laki-laki di samping nya.


"Bersabarlah Adik Kecil, sebentar lagi mama mu pasti menjemput mu." Ucap Freya, sambil mengelus-elus kepala Liliya.


"Makasih Kak, kamu baik banget." Ucap Liliya, kemudian membasuh air mata yang ada di pipi nya.


Perlahan Liliya membuka matanya dan menatap Kakak laki-laki yang ada di samping nya.


"Kamu kan seumuran denganku?" Tanya Liliya, terkejut.


"Tidak Adik kecil, aku lebih tua beberapa ratus tahun dari mu,"


"Gadis rubah tidak boleh cengeng." Ucap Freya.


"Lihat itu bintang jatuh indah kan, Adik kecil." Ucap Freya, sambil menunjuk ke arah bintang jatuh.


Terlihat beberapa bintang jatuh ke balik gunung, di hadapan mereka. Freya belum menyadari beberapa komet kecil sedang mengarah ke taman ini dari belakang mereka.


"Kak.... bintang nya sedang mengarah ke arah kita." Ucap Liliya sambil menarik kecil celana Freya.


"Tidak Adik kecil, bintang nya jatuh ke balik gunung di sebelah sana." Ucap Freya.


"Bukan yang di hadapan kita kak, tapi yang di belakang kita." Ucap Liliya, sambil menunjuk ke arah belakang.


Freya pun menoleh kebelakang.


"Itu kumpulan komet kecil, Adik kecil kita harus segera lari." Ucap Freya sambil menarik lengan Liliya bergegas berlari.


"Komet kak?" Gumam Liliya.


"Gawat, semua kultivasi ku sudah hilang,"


"Tidak kusangka Si Pedang Hitam akan terbunuh oleh komet kecil." Ucap Freya.


"Andai saja aku masih menguasai jurus langkah rubah, kita pasti akan selamat Adik kecil." Ucap Freya, kemudian tersenyum ke arah Liliya.


Komet-komet kecil pun mulai mendekati mereka.

__ADS_1


"Aku bisa kok Jurus Langkah Rubah." Ucap Liliya.


"Duargh........ duargh...... duarghhhh............ " Suara ledakan akibat komet-komet kecil menghantam taman dan sekitar Lembah.


Liliya pun menggenggam tangan Freya kemudian mengeluarkan jurus langkah rubah dengan lincah menghindari beberapa hantaman komet hingga hujan komet pun terhenti.


"Aduh.... " Ucap Liliya kemudian terjatuh karena tersandung bebatuan di sekitar jalan.


"Wah tidak kusangka nyawaku di selamat kan oleh seorang rubah kecil." Ucap Freya, yang ikut terjatuh dan tergeletak di samping Liliya.


"Aku bukan Adik kecil, namaku Liliyana Kumiho,"


"Berhenti memanggilku Adik Kecil jika kau sendiri masih kecil." Ucap Lilya, sambil tergeletak di samping Freya.


Mereka pun menatap hamparan langit di atas, beberapa saat kemudian beberapa serpihan batu jatuh di sekitar tebing ke arah mereka. Freya dengan cepat menahan serpihan batu yang jatuh tersebut dengan tubuhnya, dengan cara memeluk Liliya.


"Namaku Freya Undead." Ucap Freya kemudian jatuh tersungkur ke atas Liliya.


Isak tangis Liliya pun pecah melihat Freya yang tak sadar kan diri tersungkur di atas nya. Beberapa saat kemudian Orang tua Liliya pun datang menjemput.


Lilya tidak menyadari bahwa sanya Freya Undead merupakan salah satu Tetua Klan Rubah Dewa yang telah berusia 1000 tahun. Beberapa bulan yang lalu seseorang di Klan Rubah Dewa meracuninya dengan Racun Kehidupan sehingga seluruh kultivasi nya menghilang dan tubuhnya kembali menjadi seorang bocah.


Kembali ke Gisel yang tengah tertidur, beberapa saat kemudian sebuah kitab emas muncul di sampingnya. Rubah putih dan rubah hitam sudah terbangun sejak tadi. Rubah putih pun menjilati wajah Gisel hingga terbangun.


"Eh Friska, ternyata kamu," Ucap Friska.


"Grug.... Grug..... " Suara gonggongan Rubah Putih mengisyaratkan meminta makan.


"Shilla pasti lupa memberi makan kedua Rubah hari ini." Gumam Gisel, sambil mengelus-elus kepala Friska.


"Mimpi yang sangat aneh." Gumam Gisel, sambil menoleh sebuah kitab emas yang ada di atas ranjang nya.


"Lho kenapa bisa ada kitab emas, sebaiknya aku memberi tahu kan Arung." Gumam Gisel, kemudian menyimpan Kitab Emas tersebut ke dalam cincin ruang miliknya.


Sebelum keluar dari dalam bola ruang, Gisel memberi makan kedua rubah terlebih dahulu.


Kembali ke Arung dan Shilla.


"Byurrrrrrr....................... " Suara hujan deras.


Setelah terbang beberapa jam akhirnya mereka pun tiba di Kota Awan Hitam, kemudian mereka bergegas kembali ke penginapan. Mereka belum menyadari bahwa sanya gedung penginapan yang berlantai 30 puluh ini telah hancur sebagian, itu karena mereka mendarat di atas atap. Di bagian bawah dan tengah lagi di lakukan perbaikan oleh Kontraktor lokal.


Siang nya di Kamar Penginapan Stadium Awan Hitam.


Arung tengah duduk dengan piyama tidur nya, berniat mau tidur. Shilla pun baru selesai mandi, ia kelupaan membawa pakaiannya ke kamar mandi. Shilla pun kembali ke kamar berniat mengambil pakaian, saat ini ia hanya mengenakan sehelai handuk saja.


"Krakkk.................. " Suara pintu di buka oleh Shilla.


Suasana tampak sedikit tegang di dalam kamar, Arung saat itu hendak meminum segelas susu naga yang ada di atas meja.


"Harum sekali, Shilla cantik banget." Gumam Arung, tanpa sengaja menumpahkan gelas susu di atas meja.


"Dup...... dup....... dup............ " Suara detak jantung Shilla.


"Apa yang mau di lakukan Shilla mungkinkah, tapi aku sedang capek banget setelah perjalanan tadi." Gumam Arung.


"Lho dia mendekat kemari." Gumam Arung.


Shilla sebenarnya berniat mengambil cincin ruang miliknya di dalam laci, Arung telah salah paham dan berpikiran lain.


"Dia pasti berpikir mesum." Gumam Shilla, karena gugup Shilla tidak menyadari tumpahan susu yang ada di lantai.


"Akh..... " Suara terkejut Shilla ketika terpeleset.


Shilla pun tersungkur ke atas Arung, tampak wajah Shilla memerah. Beberapa saat kemudian Gisel pun keluar dari dalam bola ruang dan menyaksikan pemandangan tersebut. Mereka bertiga pun membatu untuk sesaat, Shilla kemudian duduk tanpa berbicara sepatah kata pun kemudian membuka laci meja.


"Sepertinya kita sudah sampai, sebaiknya aku keluarkan Friska dan Rea dari dalam bola ruang,"


"Kasian mereka, lanjutkan saja." Ucap Gisel.


"Clara." Ucap Gisel, kemudian kembali masuk kedalam bola ruang.


"Pasti Gisel salah paham, ternyata Shilla hanya ingin mengambil cincin ruang miliknya di dalam lagi,"


"Hah........ padahal aku tadi sudah sedikit berharap." Ucap Arung, kemudian menyalurkan sedikit aura es ke sekitar kamar agar sejuk dan dingin.


Arung pun tidur setelah nya, sementara itu Shilla kembali ke kamar mandi untuk berpakaian.


"Kya....... malunya aku sama Gisel, dia pasti berpikir aku mau melakukan hal itu,"


"Sebaiknya aku pergi ke pasar saja dulu berbelanja bahan makanan, Mama dan Kak Mei Mei kan akan tiba di Kota Awan Hitam dalam beberapa hari lagi." Gumam Shilla.


Di dalam bola ruang


Gisel tengah duduk di tepi pantai dan melempat batu-batu kecil ke air, di temani Friska si rubah putih.


"Hiks.... hiks.... hiks...... " Tangis kecil Gisel.


"Tapi Shilla duluan yang melakukan hal itu...."


"Hiks.... hiks..... hiks......Friska...." Suara dan tangisan kecil Gisel, kemudian memeluk Friska si rubah putih.


Sementara itu si rubah hitam sibuk bermain dengan beast-beast kecil di sekitaran hutan.


"Walaupun begitu aku tidak boleh menganggu mereka, Mama Aya telah mengajari ku soal toleransi sesama istri." Gumam Gisel.


"Hiks..... hiks..... hiks..... " Tangis Gisel.


"Walaupun toleransi, tapi hati ini sedikit perih juga ma................." Ucap Gisel, kemudian kembali memeluk Friska si rubah putih.


"Grug..... Grug..... Grug..... " Gonggongan Friska si rubah putih.


Gisel pun mengeluarkan sekotak penuh beer, lalu mulai meminumnya hingga mabuk beberapa jam kemudian. Friska si rubah putih pun kemudian membawa Gisel, menggunakan tenaga dalam nya kembali ke dalam kamar di lantai tiga. Sementara itu Rea si rubah hitam masih bermain di hutan sekitar mansion.


Malam harinya di Kamar Arung.


"Byurrr............... Suara hujan di luar penginapan.


Shilla masih belum kembali dari pasar, Arung baru saja bangun kemudian mengeluarkan HP tablet miliknya.


"Hah.... ada panggilan tak terjawab dari Kakek Bongpal dan Matriak, aku lupa menghidupkan volume panggung nya saat memutar MP3 di Gerbang Masuk Perpustakaan Kuno." Gumam Arung.


"Ya sudah lah aku akan menelpon mereka besok, sebaiknya aku mau bersantai terlebih dahulu." Ucap Arung kemudian berniat memutar sebuah di HP tablet miliknya.


Arung mendapatkan nomer HP Kakek Bongpal dari Shilla, sebenarnya Arung kangen juga terhadap ayah angkat nya tersebut. Intro musik pun di mulai sebuah lagu darinya grup band Dewa "Sedang ingin bercinta".


" Setiap ada kamu, mengapa jantung ini,"


"Berdetak lebih kencang, seperti genderang mau perang," Suara nyanyian dari HP Arung.


"Wah lagu ini sudah lama tidak kudengarkan." Gumam Arung.


Karena tengah asyik mendengarkan lagu, Arung tidak menyadari kehadiran Gisel yang baru keluar dari bola ruang.


"Setiap ada kamu mengapa darah ini,"


"Mengalir lebih kencang, dari ujung kaki ke ujung kepala." Suara Nyanyian dari HP Arung.


Sementara itu Arung menutup matanya dan menggeleng kan kepalanya, dan tidak menyadari Gisel tengah berjalan di depannya bersama kedua ekor Beast.


"Rea, Friska... kalian di luar dulu ya." Ucap Gisel, dengan nada suara yang pelan.


Arung masih tidak menyadari Gisel kini berada di samping pintu.


"Setiap ada kamu, otakku berpikir,"


"Bagaimana caranya, untuk berdua bersama kamu."


masuk ke reff........


"Aku sedang ingin bercinta, karena mungkin ada kamu,"


"Di sini.....


"Brukkkk......... " Suara pintu tertutup, Arung pun menyadari kehadiran Gisel dan membuka matanya.


"Gisel..... " Ucap Arung.


Gisel tidak banyak berbicara kemudian menghampiri Arung yang tengah duduk dan menciumnya. Setelah itu di dalam kamar terjadi sedikit keributan, kemudian hanya terdengar suara musik yang berasal dari HP milik Arung. Mendengar suara keributan di dalam kamar kedua rubah pun menggonggong.


"Guk..... guk.... guk.... " Gonggongan kedua rubah untuk beberapa saat.


"Tenanglah Friska, Rea kami baik-baik saja." Teriak Gisel dari dalam kamar.


"Sudah Gisel, lanjutkan saja mereka akan baik-baik saja kok." Ucap Arung.


"Guk..... guk.... guk.... " Gonggongan kedua rubah untuk beberapa saat.


Karena hari sudah malam, kedua rubah pun tidur di ruang santai.


Tengah Malam di Pasar Kota Awan Hitam.


"Byurrr............ " Suara hujan deras.


"Wah udah malam nih, mana becek lagi." Gumam Shilla.


"Aku akan berkeliling sedikit lagi, kemudian baru aku kembali." Gumam Shilla, sambil berjalan.


Di Pasar Kota Awan Hitam ini terbentang sebuah jalan dengan lebar 30 meter serta di kiri dan kanannya berjejer kedai-kedai bertingkat empat dengan beraneka ragam bentuk. Tampak lampu-lampu penerangan jalan di kiri dan kanannya, pasar ini tidak di perbolehkan masuk kendaraan oleh pihak pengelola pasar.


"Dari tadi aku berjalan, kenapa di sepanjang jalan ini banyak sekali kedai yang tengah di renovasi ya?"

__ADS_1


"Mungkinkah ini progam revitalisasi pasar agar tampak indah, wah Raja Kota ini benar-benar seorang pemimpin yang cinta keindahan,"


"Pasti Raja Kota ini seorang yang bijaksana." Gumam Shilla.


Shilla tidak menyadari nya, beberapa bulan yang lalu telah terjadi kekacauan di seluruh Benua di Planet Bumi ini. Kekacauan ini di akibatkan oleh Arung, saat ia membangkitkan elemen dewa Black Hole.


"Tidak seperti di Desa Tiger, yang semrawut bahkan rel kereta api saja ada di tengah-tengah pasar,"


"Jika aku ingat pasarnya, kacau deh." Gumam Shilla, sambil berjalan di pasar dengan memasang perisai kultivasi api di atasnya.


"Byurrrrr................... " Suara hujan deras.


Walaupun sudah tengah malam pasar masih tetap saja ramai. Saat berjalan Shilla pun melihat sebuah beast ular jantan bertanduk sembilan yang tengah di pajang di sebuah kedai, ia pun tertarik untuk membelinya.


"Kedai Vitalitas Pria dan Wanita." Ucap Shilla, sambil membaca papan nama kedai.


"Itu kan Ular Jantan Bertanduk Sembilan, wah.......itu sangat bagus untuk vitalitas pria,"


Shilla kemudian membayangkan sebuah Beast ayam jago yang tengah berkokok di malam hari."


"Arung akan menjadi super gagah jjika menyantap sup dari ular tersebut." Gumam Shilla dengan kemudian beranjak ke dalam kedai tersebut.


"Tuan berapa harga Ular Bertanduk Sembilan tersebut." Tanya Shilla.


"Harga nya sekitar 10 ribu koin emas Nona cantik." Jawab Pemilik Kedai tersebut.


"Mahal juga, tapi apa boleh buat,"


"Demi bebeb tercinta..... biar gagah di ranjang,"


"Kya........kya.......... aku jadi malu memikirkan nya." Gumam Shilla, dengan pipi yang memerah.


"Pendekar Cantik berambut hitam ini pasti memikirkan hal yang tidak-tidak,"


Pemilik kedai menggeleng kan kepala nya.


"Enaknya menjadi anak muda." Gumam Pemilik Kedai.


Beberapa saat kemudian seorang tante-tante pun masuk kemudian memberikan sejumlah uang senilai 10 ribu koin emas kepada Pemilik Kedai tersebut, berniat membeli tubuh beast ular tersebut.


"Siapa tante-tante ini, main nyosor bayar aja." Gumam Shilla.


"Aku sudah membayarnya, berarti ular itu milikku." Ucap Tante-tante tersebut.


"Tapi Nona ini baru saja mau membelinya, aku tidak bisa menerima uang dari anda Nyonya." Ucap Pemilik Kedai tersebut, kemudian mengembalikan uang Nyonya tersebut.


"Benar Nyonya, aku duluan yang melihat nya,"


"Seharusnya Ular itu menjadi milikku." Ucap Shilla tidak mau mengalah.


"Dasar cabe-cabean ular itu milikku, anak kecil tidak boleh membeli barang milik orang dewasa." Ucap Tante-tante tersebut, kemudian menoleh ke arah dada Shilla yang kecil.


"Dada nya aja kecil, cabe-cabean ini pasti baru berumur 15 tahunan,"


"Buat apa dia beast ular ini?" Gumam Tante-tante.


"Punya ku tidak kecil tante, ini standar punya tante itu yang ke gedean." Ucap Shilla.


Mereka berdua pun keluar dan mulai tarik-menarik ular dagangan kedai tersebut sambil saling mengumpat, para pengunjung lainnya pun mulai mengerumuni kedai "Vitalitas Pria dan Wanita" ini menyebabkan jalanan macet.


"Dasar cabe-cabean, lepaskan ular ini,"


"Ular ini milikku." Ucap Tante.


"Dasar nenek-nenek sihir, ini milikku." Ucap Shilla.


"Milikku.... " Ucap Shilla.


"Tunggu-tunggu dulu, kita bisa membicarakan semua nya dengan cara baik-baik." Ucap Pemilik Kedai mencoba menengahi pertikaian.


Para pengunjung pasar pun mulai mengerubungi kedai, ternyata salah satu pengunjung pasar tersebut adalah mamanya Gisel "Nyonya Lang" yang tengah berbelanja bersama Joong woon.


"Ma..ma.... ayo lah lekas pulang aku udah mengantuk, besok aku ada ujian lari ma di sekolah." Ucap Joong Woon.


"Hoam............ " Suara menguap Joong Woon.


"Tunggu sebentar, lihat itu Joong Woon." Ucap Nyonya Lang ke arah kerumunan.


"Sepertinya akan ada pertandingan menarik sebentar lagi." Ucap Nyonya Lang.


"Pertandingan.... itu bagus aku dapat belajar dengan melihat langsung,"


"Tunggu saja Akira, aku akan mengalahkan mu kemudian....." Gumam Joong Woon.


"Baik lah ma, sepertinya sebentar lagi ada duel,"


"Kita menonton saja dulu ma, nanti setelah itu baru pulang." Ucap Joong woon, kembali bersemangat.


"Ehm..... giliran orang berkelahi saja, kantuk nya pun menghilang." Gumam Nyonya Lang, kemudian melanjutkan masuk kedalam kerumunan untuk menonton Shilla dan tante-tante itu saling mengumpat.


"Huft...... ada apa lagi disana?" Gumam Komandan Anya.


Beberapa saat kemudian Komandan Anya pun datang bersama beberapa prajurit, ia pun kemudian melerai pertikaian antara Shiilla dan tante tersebut.


"Byurrrrr.............. " Suara hujan deras.


"Milea lagi, pasti dia aja yang buat keributan di pasar ini." Gumam Komandan Anya, kemudian menghampiri mereka berdua.


"Sudah...sudah......... kalian berdua tenanglah, akibat pertengkaran kalian jalanan disini jadi macet."


"Jangan sementang kamu adik Raja Kota bisa seenaknya." Ucap Komandan Anya.


"Raja Kota." Gumam Shilla.


"Dia duluan Komandan Anya yang merebut Ular Tanduk Sembilan ku, padahal aku duluan yang membayarnya." Ucap Tante-tante tersebut, sambil menarik ular tersebut.


"Tidak aku duluan yang melihatnya, ketika aku hendak membayarnya dia menyalip ku Komandan Anya." Ucap Shilla, sambil menarik ular tersebut.


"Dasar cabe-cabean." Ucap Tante-tante tersebut.


"Dasar nenek sihir." Ucap Shilla.


"Dasar kecil.... " Ucap Tante-tante tersebut.


"Dasar kegedean.... " Ucap Shilla, tidak mau mengalah.


"Padahal shift malam ku sebentar lagi berakhir, dasar Milea ini selalu buat ribut saja," Gumam Komandan Anya.


"Tenanglah Nyonya, Nona muda." Ucap Pemilik Kedai mencoba menengahi pertikaian.


"Sudah-sudah lebih baik kita selesaikan di arena saja, siapa yang menang dia yang mendapatkan Ular ini." Ucap Komandan Anya.


"Aku setuju Komandan Anya, akan kujadi kan sambal cabe gadis berambut hitam tersebut." Ucap Tante Milea.


"Aku juga setuju, akan kujadi kan nenek sihir ini tambah keriput." Ucap Shilla.


Mata Shilla dan Tante Milea seperti mengeluarkan cahaya yang saling mendorong.


"Keriput dia pikir aku sudah tua, dasar umur ku saja baru 150 tahun,"


"Awas kamu cabe-cabean, malam ini kamu jadi sambal cabe" Gumam Tante Milea, sambil beranjak ke arena pasar.


"Demi mu Arung, aku harus menang,"


"Kukuruyuk....... " Teriak Shilla di dalam hati.


"Sup Vitalitas ular, i'm coming." Gumam Shilla, sambil beranjak.


Di Arena Pasar.


"Byurrrr................... Suara hujan deras.


Arena di pasar ini berukuran 10 x 10 km dengan di lapisi oleh perisai pelindung di sekitarnya, yang baru saja di pasang oleh Komandan Anya dan beberapa prajurit lainnya.


"Cabe-cabean saatnya kau jadi sambal cabe." Ucap Tante Milea, kemudian mengeluarkan Tombak Es Petir.


"Siapa takut, keriput." Ucap Shilla, kemudian mengeluarkan Pedang Iblis Api Putih dan Sarung Tangan Rubah Merah.


"Itu bukankah senjata langka, kenapa gadis berambut merah itu bisa memilikinya,"


"Bahkan senjata ku saja masih di senjata suci di ranah alam naga, siapa gadis berambut hitam ini?" Gumam Komandan Anya.


"Gadis ini bukan gadis biasa, senjata nya sangat langka." Gumam Tante Milea.


"Aku harus menyerang nya dengan kekuatan penuh ku." Gumam Tante Milea.


Tante Milea pun mengumpulkan segenap kekuatannya pada ujung tombaknya, sebuah bola es berdiameter lima meter mengeluarkan petir muncul diatasnya. Akibat aura es udara disekitar pasar pun menjadi lebih dingin dari sebelumnya.


"Milea... Milea......apa yang di pikirkannya,"


"Langsung menyerang gadis itu dengan serangan penuh nya, sepertinya dia sangat membenci gadis berambut hitam tersebut,"


"Sebaiknya aku bersiap menyelamatkan nya." Gumam Komandan Anya, kemudian mengeluarkan Perisai Emas.


Di arah pengunjung pasar yang tengah menonton.


"Wah..... wah...... senjata suci tingkat tinggi lagi, sejak kapan di kota ini anak muda memiliki senjata suci seperti itu,"


"Aku saja, jika bukan karena calon menantu yang memberikannya,"


"Sampai saat ini pun, aku tidak mungkin memiliki senjata dewa." Gumam Nyonya Lang.

__ADS_1


"Wah........ untung aku belum pulang, benar-benar seru." Ucap Joong Woon.


__ADS_2