
Tiga Hari Kemudian, mereka pun tiba di Gerbang Kota Seribu Obat.
Kota Seribu Obat.
Malam hari.
Tampak saat ini, Xiao Mei Mei yang sedang mengemudikan Mobil Jeep Merah tersebut, lalu Shilla duduk di sebelah nya, sementara itu Arung dan Rea si Rubah Hitam Berekor Sembilan tampak telah tertidur pulas di jok belakang.
"Groaghhhhh........ groaghhhhh........ " Suara dengkuran Arung.
"Tidurlah yang pulas Pendekar Don Juan, malam ini aku akan membuat perhitungan dengan mu." Gumam Shilla.
"Hoam............ " Suara Menguap Xiao Mei Mei.
"Mataku berat banget, rasanya pengen rebahan aja." Gumam Mei Mei.
"Bahaya nich, seperti nya Kak Mei Mei sudah mulai mengantuk." Gumam Shilla.
"Kak Mei Mei kalau sudah mengantuk, gantian sini biar aku saja yang mengemudikan mobil nya Kak." Ucap Shilla.
"Tenang Shilla, Kakak masih kuat kok,"
"Sebaiknya kita mencari penginapan saja terlebih dahulu." Ucap Xiao Mei Mei.
Beberapa saat kemudian mereka pun menemukan sebuah penginapan, mereka pun masuk ke dalam basement Penginapan Perbatasan Seribu Obat tersebut berniat memarkirkan mobil nya.
Basement Penginapan Seribu Obat.
Xiao Mei Mei pun mulai mematikan mesin mobil Jeep tersebut.
"Akhirnya....... "
"Sampai juga." Gumam Xiao Mei Mei.
"Huft............. " Suara nafas panjang Xiao Mei Mei.
"Kasian Kak Mei Mei, dia pasti lelah banget." Gumam Shilla.
"Shilla, kita sudah sampai cepat bangun kan Arung." Ucap Xiao Mei Mei.
"Baik Kak." Ucap Shilla.
Ia pun mulai membangunkan Arung dan Rea si Rubah Hitam Berekor Sembilan.
"Arung..... Arung........ bangunlah." Ucap Shilla, sambil menggoncangkan bahu nya.
"Ugh.... Shilla." Ucap Arung.
"Kita sudah sampai, ayo kita turun." Ucap Shilla, lalu mulai membangunkan Rea si Rubah Hitam Berekor Sembilan.
Setelah bangun, Arung dan yang lain nya pun mulai beranjak menuju lobi penginapan untuk menyewa kamar.
Di Kamar Nomor 303 Lantai 30.
Beberapa menit kemudian, mereka pun tiba ke dalam kamar setelah selesai mengurus administrasi penyewaan kamar.
"Krakkkkk............. " Suara pintu kamar terbuka.
"Aku capek banget, sebaiknya aku mandi saja dulu,"
"Baru setelahnya aku dan Arung melanjutkan bulan madu kami." Gumam Xiao Mei Mei.
"Kenapa bulu kuduk ku merinding ya, mungkinkah kamar ini angker?" Gumam Arung.
"Hah............. " Suara hembusan nafas panjang Xiao Mei Mei.
"Shilla aku mandi duluan ya, badan ku gatel amat udah." Ucap Xiao Mei Mei, lalu beranjak ke dalam kamar mandi.
"Ia Kak Mei Mei." Ucap Shilla.
"Dup............. " Suara pintu kamar mandi tertutup.
Sementara itu Arung dan Rubah Berekor Sembilan tengah duduk di atas sofa lalu mulai menyalakan TV.
"Sebaiknya aku menonton TV saja, jika malam ini Mei Mei memangsa ku lagi, aku akan kesulitan berteleport ke tempat Kekasih Liat ku Luna." Gumam Arung.
"Guk...... Guk....... Guk....... " Gonggongan Rea si Rubah Hitam saat menonton TV.
"Sebaiknya aku menunggu kondisi aman lalu berteleport kembali ke Kota Awan Hitam." Gumam Arung.
Sementara itu Shilla Tiger memiliki sebuah rencana terhadap Pendekar Don Juan malam ini.
"Malam ini aku harus melakukan nya, baiklah,"
"Pertama-tama aku akan membuat Kak Mei Mei tertidur pulas terlebih dahulu dengan obat tidur." Gumam Shilla, lalu mulai beranjak ke dapur.
"Ngapain Shilla malam-malam ke dapur?"
"Oh mungkin dia lapar." Gumam Arung, kemudian kembali menonton TV bersama Rea si Rubah Hitam.
Melihat Shilla ke dapur Rea si Rubah Hitam pun pergi ke tempat tersebut juga.
"Guk..... Guk..... Guk....... " Gonggongan Rea.
"Wah.... Sepertinya dia lapar." Gumam Shilla, lalu mulai mengeluarkan beberapa daging kijang Panggang dari dalam cincin nya.
Ia pun meletakkan daging panggang tersebut ke atas piring lalu memberikan nya kepada Rea si Rubah Hitam.
"Makan lah Rea." Ucap Shilla, lalu mengelus-elus kepala nya.
"Guk.... Guk...... Guk...... " Gonggongan Rea, lalu mulai menyantap makanan tersebut dengan lahab nya.
Arung masih belum menyadari rencana Shilla tersebut, begitupun dengan istri sah nya Mei Mei.
"Baiklah saat nya aku membuat Kak Mei Mei tertidur pulas, sehingga aku bisa melayani Pendekar Don Juan tersebut semalaman ini." Gumam Shilla, lalu mulai mengeluarkan tiga gelas Susu Sapi dan dua buah mangkuk Sup Ular Bertanduk Sembilan Jantan.
Ia pun kemudian membubuhi salah satu susu tersebut dengan obat tidur racikan nya sendiri.
"Fiuh....... " Ucap Shilla, sambil menyeka keringat di dahi nya.
"Sudah selesai, tinggal menunggu Kakak Berdada besar itu selesai mandi." Gumam Shilla.
Beberapa saat kemudian Kak Mei Mei pun selesai mandi, Shilla cepat-cepat menghampirinya lalu menawarkan nya segelas susu sapi berprotein.
"Kak Mei Mei minum lah, aku tahu Kakak capek banget seharian ini menyetir." Ucap Shilla.
"Wah.... Shilla memang anak yang sangat baik, dia tau aja kalau aku sedang haus saat ini." Gumam Xiao Mei Mei.
Xiao Mei Mei tidak menyadari nya, susu sapi tersebut telah di bubuhi obat tidur berdosis tinggi.
"Terima Kasih Shilla." Ucap Xiao Mei Mei lalu meneguk habis susu tersebut.
"Ah..... nikmatnya." Ucap Xiao Mei Mei, lalu meletakkan gelas tersebut ke atas meja di dapur.
Setelah nya, ja pun mulai berjalan masuk ke dalam kamar berniat mengganti pakaian nya.
"Bravo... "
"Kak Mei Mei pasti akan segera tumbang beberapa saat lagi, sekarang aku tinggal menyingkirkan Rea saja." Gumam Shilla.
Beberapa menit kemudian.
Ia pun mulai menghidangkan Sup dan Susu Sapi kepada Arung, lalu membawa Rea masuk ke dalam kamar.
"Krakkk........... " Suara Pintu Terbuka.
Tampak Xiao Mei Mei telah tertidur pulas di atas ranjang, Shilla pun kembali mengeluarkan Daging Kijang Panggang lalu meletakkan nya kembali di atas piring.
"Groagh hh.......... groaghhhhh....... " Suara mendengkur Xiao Mei Mei.
"Guk..... Guk..... Guk..... " Suara Gonggongan Rea si Rubah Hitam, lalu mulai menyantap Daging Panggang tersebut.
"Baiklah sekarang aku hanya tinggal merayu Pendekar Don Juan itu saja, Dia pasti sudah gerah sekali selama tiga hari ini tidak merasakan kehangatan dan belaian dari Gadis-gadis cantik,"
"Jika tidak melakukan nya sekarang, mungkin entah kapan aku bisa mendapatkan kesempatan seperti ini lagi." Gumam Shilla, lalu beranjak keluar dari dalam kamar dan meninggalkan Rea di dalam nya.
Di Ruang Santai di dalam Kamar Penginapan.
Tampak Arung tengah menyantap sup penambah libido tersebut, ia belum menyadari kalau sup tersebut akan membuat libido nya berangsur-angsur naik. Sementara itu Shilla tengah mandi di dalam Kamar Mandi.
Di dalam Kamar Mandi.
Tampak Shilla tengah mandi menggunakan shower sambil menyabun tubuh putih nya.
"Byurrrr............. " Suara air shower.
"Aku harus mandi sewangi-wanginya malam ini,"
"Ugh..... Pendekar Don Juan, bersiapa lah." Gumam Shilla.
Kembali ke Ruang Santai.
"Ugh..... Sup buatan Shilla nikmat banget, ia memang sangat pintar memasak."
Efek dari Sup Ular Bertanduk Sembilan pun mulai di rasakan oleh Pendekar Don Juan tersebut.
"Tapi kenapa suhu di ruangan ini tiba-tiba panas ya, atau ini hanya perasaan ku saja?" Gumam Arung, lalu mulai mengayunkan lengan nya.
Suhu udara pun menjadi lebih dingin karena aura es dari tenaga dalam milik Arung.
"Begini lebih baik." Gumam Arung, lalu kembali menyantap Sup tersebut.
Beberapa saat kemudian Shilla pun selesai mandi lalu keluar dari dalam kamar mandi tersebut dengan hanya mengenakan Daster hitam transparan.
"Kraakkkkk.............. " Suara pintu kamar mandi terbuka.
Lekukan dan dalaman yang di kenakan oleh Shilla pun tampak jelas, aroma wangi lavender yang sensual pun tercium dari arah nya. Tampak mata Pendekar Don Juan itu tidak lepas menatap Putri dari Kediaman Tiger tersebut.
"Cobaan apa lagi ini?"
"Shilla, ugh.... Kenapa celana ku tiba-tiba semakin sempit." Gumam Arung.
"Tap...... Tap.......Tap........ " Suara langkah Kaki Shilla, saat menuju ke sofa yang di duduki Arung.
"Dup..... dup...... dup........ " Suara detak jantung Arung yang bertambah kencang seiring mendekat nya Bidadari ber daster sexi tersebut.
Shilla pun duduk di sebelah Arung sambil mengibaskan rambut basah nya, lalu mulai menyantap sup nya.
"Shilla..... aku gak kuat..... " Gumam Arung.
"Wah..... Kamu mau nambah lagi sup nya ya Arung?" Tanya Shilla.
Arung hanya menganggukkan kepala nya, sambil berkonsentrasi mengendalikan pikiran dan tindakan nya
"Buka mulutmu." Ucap Shilla, lalu mulai menyulangkan sesendok sup ular ke dalam mulut nya.
"Shilla........ saranghae." Ucap Arung.
"Saranghae.....????" Gumam Shilla.
Akibat Sup Ular tersebut Arung pun tidak dapat menahan nya lagi, lalu mulai mencium bibir merah Shilla hingga ia tertidur di sofa.
"Brukkkk........... " Suara tubuh Shilla saat terjatuh ke atas sofa.
Pandangan mereka berdua pun saling beradu seperti menyisaratkan akan terjadi nya adu panco di atas sofa tersebut.
"Ugh.... Berhasil." Gumam Shilla, lalu mulai ******* bibir Arung.
"Shilla.... Saranghae.... " Ucap Arung.
Gulat malam pun terjadi di atas sofa tersebut untuk beberapa jam, sementara itu di dalam kamar Xiao Mei Mei dan Rea telah tertidur pulas.
03.00 Malam, pergulatan pun selesai tampak mereka berdua tengah berpakaian.
Beberapa saat kemudian.
"Shilla aku di perintahkan oleh Jendral Es untuk menjumpai teman nya di Kota ini, mungkin beberapa hari ke depan aku akan kembali." Ucap Arung, sambil berpakaian.
"Perintah Jendral Es, aneh juga malam-malam begini ia mau pergi ke tempat teman nya Jendral Es,"
"Ya sudah lah ini pasti sebuah tugas negara, aku akan mengizinkan nya,"
"Lagian kan Pendekar Don Juan ini baru mendapat jatah tidak mungkin dia menggoda perempuan lain nya." Gumam Shilla.
"Ya sudah Arung pergilah, jangan lupa pulang ya." Ucap Shilla.
"Iya Sayang." Ucap Arung.
"Giliran udah di kasih servis aja panggil nya Sayang... Sayang." Gumam Shilla.
"Nanti tolong beritahu Mei Mei ya, dan kau minta ditemani oleh nya saja saat mengikuti ujian nanti." Ucap Arung, lalu mulai beranjak keluar dari dalam kamar tersebut.
"Ia sayang, Hati-hati di jalan ya,"
"Jangan menambah Calon Istri lagi ya, jika kau perlu sesuatu seperti itu,"
"Datang lah kepada ku." Ucap Shilla.
"Dup............. " Suara pintu tertutup.
"Shilla makin mesum aja, apa Xiao Mei Mei yang menularkan sifat mesum tersebut?" Gumam Arung.
Di Koridor Hotel.
Arung pun mulai berjalan menjauh dari kamar tersebut, berniat berteleport kembali ke Kota Awan Hitam.
"Bagus Shilla sudah tertipu dan Xiao Mei Mei sedang tertidur pulas, aku akan segera kembali ke Kota Awan Hitam dan menjenguk Kekasih Liar ku lima tahun yang lalu Luna Thunder." Gumam Arung, lalu mulai memasang Jurus Teleportasi.
"Blitzzz.................. " Suara Jurus Teleportasi Milik Arung.
Tanpa di sadari Arung, sebelum dia berpindah tempat ada dua orang Office Boy yang sedang bertugas hendak membersihkan kamar-kamar yang kosong.
"Dro....... lihat itu, siapa pemuda berambut biru itu,"
"Kenapa dia berjalan sendirian di dalam koridor ini?" Bisik Tono.
"Ia Ton, bulu kuduk ku sampai berdiri,"
"Mungkinkah dia adalah arwah penasaran yang sering menghantui lantai 30 ini?" Bisik Hendro.
Dalam sekejap mata Arung pun mulai menghilang dari hadapan Hendro dan Tono. Kedua Office Boy ini pun saling bertatapan.
"Hantu............ " Teriak Kedua Office Boy tersebut Kompak, lalu mulai melarikan diri dari Koridor Angker tersebut.
Di dalam Kamar.
"Siapa yang teriak tengah malam begini?" Gumam Shilla, lalu mulai membuka pintu kamar tersebut berniat asal suara teriakan tersebut.
"Kraaakkk........... " Suara pintu terbuka.
"Whusss............. " Suara hempasan angin sekelebat bayangan putih melesat mengejar Hendro dan Tono.
"Dup................... " Suara pintu tertutup.
"Tidak kusangka Hotel ini benar-benar angker, sebaik nya aku tidak berkeliaran malam-malam begini." Gumam Shila.
"Hi...... Hi....... Hi........ " Suara tertawa hantu tersebut.
"Ugh.... suara tawa yang sangat menyeramkan." Gumam Shilla, lalu beranjak tidur memeluk Kak Mei Mei.
Rumah Sakit Kota Awan Hitam
Di dalam kamar tempat Wakil Komandan Luna di rawat.
Tampak Luna tengah berjalan keluar dari dalam kamar mandi setelah buang air kecil, menggunakan kursi roda nya. Ia pun menyorong roda tersebut menggunakan kedua tangan kecil nya sambil mengalirkan air mata.
"Hiks...... Hiks...... Hikss......... " Tangis kecil Luna.
"Kenapa hidup ku bisa semalang ini, Tunangan ku yang pertama hilang lima tahun yang lalu,"
"Tunangan ku yang sekarang telah tewas di bunuh orang tak di kenal, dan aku yang sekarang hanyalah seonggok daging yang tak berguna." Gumam Luna, lalu kembali meneteskan air mata nya.
"Hiks...... Hiks...... Hiks...... " Tangis Luna, sambil menyorong roda kursinya.
"Dosa apa yang telah aku perbuat sehingga harus mengalami nasib seperti ini." Gumam Luna.
"Hiks...... Hiks...... Hiks...... " Tangis Luna, sambil menyorong roda kursinya.
Dalam sekejap mata Pendekar Don Juan pun berpindah tempat ke Kamar tempat Luna di rawat.
"Dup.......... " Suara Tapak kaki Arung saat mendarat di hadapan Luna.
Luna pun menoleh ke arah Arung dengan wajah berlinangan air mata.
"Kenapa Gadis Liar ku menangis, Ugh.... dada ku terasa sesak melihat nya menangis." Gumam Arung.
"Pendekar Naga?" Ucap Luna, lalu mulai menyeka air mata nya.
"Syukurlah kau masih hidup Sayang, setelah satu bulan berperang bersama Leopold-Leopold tersebut aku mengira kau telah tewas, Sayang." Ucap Luna, lalu memeluk Arung yang berada di hadapan nya saat ini.
Arung pun menggendong Luna dari kursi roda nya lalu merebahkan nya diatas ranjang, ia pun duduk di sebelahnya setelah nya.
"Hiks...... Hiks....... Hiks....... " Tangis Kecil Luna yang sangat terpukul dengan keadaan menyedihkan nya saat ini.
"Terima Kasih kau sudah ada disini Pendekar Naga ku." Gumam Luna.
Arung pun berniat memberitahukan jati diri nya yang sebenarnya kepada Luna, Kekasih Liar nya.
__ADS_1
"Luna, sebenarnya aku adalah Arung,"
"Apa kau mempercayai ku?" Tanya Arung.
"Arung.... pantas saja ia sangat Pendekar Naga sangat mirip dengan nya." Gumam Luna.
Luna pun menoleh ke arah Pendekar Naga.
"Ternyata identitas asli Pendekar Naga adalah Arung, pantas saja saat pertama kali aku melihat mu aku merasa sudah mengenal mu sangat lama,"
"Aku sangat memahami teknik ciuman Pendekar Naga, akan kupastikan saat ini juga,"
"Apa benar kau adalah Pendekar Naga atau cuman mau nge prank." Ucap Luna, lalu mulai ******* bibir Arung.
"Apakah ini hanya akal-akalan nya saja atau pun ia benar-benar memastikan nya." Gumam Arung.
Ia pun membalasnya, mereka pun kembali berciuman untuk beberapa saat. Di depan pintu kamar sudah ada Jupiter yang telah kembali setelah selesai membeli mie buat guru nya di kantin rumah sakit tersebut.
"Ugh..... Tidak kusangka selama ini Arung adalah Pendekar Naga." Gumam Luna, sambil terus ******* bibir Pendekar Naga lalu mulai meneteskan air mata nya.
"Krakkkkk............. " Suara pintu terbuka.
"Oh My God........ Hubungan Terlarang, tidak kusangka selama ini guru ku berselingkuh." Gumam Jupiter, hingga menjatuh kan piring berisi mie yang di pegang nya ke lantai.
"Tringg............ " Suara piring terjatuh.
Ternyata itu adalah Jupiter yang saat ini bertugas menjaga guru nya malam ini. Ia pun mulai mengenai paras tampan Pemuda yang berselingkuh dengan guru nya.
"Arung....... Rambut mu.... " Ucap Jupiter.
"Tidak kusangka kau benar-benar Pendekar Don Juan, bahkan guruku pun kau embat,"
"Aku semakin yakin jika kalian bertiga saat di lorong Perpustakaan tersebut melakukan Party Nakal." Gumam Jupiter, lalu membungkuk dan kembali keluar dari dalam kamar tersebut.
"Dup......... " Suara pintu tertutup.
Tampak mie yang baru saja di beli oleh Jupiter tumpah di atas lantai kamar, mereka pun menyudahi ciuman nya setelah itu.
"Huft............ " Suara Nafas Panjang Luna.
Arung pun mengeluarkan tembakau ular nya, lalu mulai menghisap nya.
"Whusss........... " Suara hembusan rokok Arung.
"Gawat, Jupiter melihat nya,"
"Bisa runyam masalah nya." Gumam Arung.
"Jadi saat ini aku harus memanggil mu Arung atau Pendekar Naga?" Tanya Luna.
"Whussss........... " Suara hembusan rokok Arung.
"Terserah padamu Luna, yang penting kau tidak boleh bersedih kembali." Jawab Arung.
"Baiklah aku akan memanggilmu Pendekar Naga, untunglah kau segera muncul Pendekar Naga,"
"Tuan Muda Quill baru saja di bunuh beberapa bulan yang lalu saat Tragedi White Hole, makanya aku saat ini sangat sedih meratapi kisah hidup ku." Ucap Luna.
"Hah...... Kenapa perasaan ku menjadi lega ya, memacari Luna berarti aku membantu Tuan Muda Quill menjaga nya." Gumam Arung.
Luna pun teringat mengenai metode Kultivasi Ganda yang dahulu pernah di ceritakan oleh Arung yang dapat mengembalikan kultivasi diri nya.
"Arung kumohon kita harus melakukan kultivasi Ganda tersebut segera, aku sangat kesulitan dengan kondisi ku saat ini." Ucap Luna, lalu memegang tangan Arung.
"Kasihan dia, selama ini pasti banyak orang yang membully nya." Gumam Arung.
"Baiklah Luna kapan kita akan melakukan nya?" Tanya Arung.
"Saat ini juga Sayang." Ucap Luna.
"Sudah kuduga....... " Gumam Arung.
"Baiklah Luna, apa kau membawa kedua essensi tersebut?" Tanya Arung.
"Aman Sayang, baiklah aku akan memanggil murid ku terlebih dahulu,"
"Dan merahasiakan hubungan kita untuk sementara waktu ini, aku tidak enak dengan Keluarga Quill,"
"Baru beberapa bulan Tuan Muda nya meninggal aku sudah berpacaran dengan salah satu Komandan baru Ku." Ucap Luna.
"Komandan, berita itu sungguh cepat menyebar." Gumam Arung.
"Baiklah Luna." Ucap Arung, lalu kembali menghisap tembakau ular milik nya.
"Whusss............. " Suara hembusan asap rokok.
"Jupiter..... Jupiter...... Masuklah, ada yang ingin ku bicarakan." Teriak Luna.
"Kraakkkkk........ " Suara pintu terbuka.
Jupiter pun mulai masuk lalu berdiri di samping ranjang guru nya.
"Pasti guru memintaku merahasiakan hubungan terlarang ini." Gumam Jupiter.
"Ia Guru, ada apa?" Tanya Jupiter.
"Aku mohon kepada mu Jupiter, untuk dapat merahasiakan hubungan ku dengan Arung." Jawab Luna.
"Hiks...... Hiks...... Hiks...... " Tangis Kecil Jupiter di dalam hati.
"Tidak kusangka guru ku sekotor ini kalau masalah asmara, bahkan dia berani berselingkuh dengan Tunangan Jendral Es." Gumam Jupiter, lalu menoleh ke arah Pendekar Don Juan.
"Baik Guru." Ucap, Jupiter.
"Sebaiknya aku diam saja agar tidak menambah runyam permasalahan." Gumam Arung.
"Baiklah kalau begitu aku akan pergi dengan Arung untuk beberapa hari, rahasiakan masalah ini,"
"Katakan saja kalau aku di rujuk ke Rumah Sakit di Ibu Kota, jangan beritahukan Kayla atau siapa pun,"
"Jika sudah mabuk Kayla mulutnya tidak terkontrol." Perintah Luna.
"Bahkan mereka bersiap untuk melakukan sebuah kegiatan terlarang, Guru sadar lah." Gumam Jupiter.
"Siap Guru." Jawab Jupiter.
"Pendekar Naga, ayo kita berangkat." Ucap Luna.
"Jupiter, aku pergi dulu ya,"
"Aku pinjam guru mu untuk beberapa hari." Ucap Arung.
"Ia Arung." Ucap Jupiter.
"Baiklah Luna." Ucap Arung, llalu mulai menggendong tubuh Luna kemudian berteleport.
"Blitzzzzz.............. " Suara Jurus Teleportasi milik Arung.
Dalam sekejap mata kedua pasang Kekasih Gelap tersebut pun menghilang dari pandangan Jupiter.
"Tidak kusangka Arung benar-benar seorang Pendekar Don Juan, ia bahkan sampai memiliki hubungan terlarang dengan guru ku,"
"Jika Gisel sampai mengetahuinya, pasti akan pecah perang kembali di Kota Awan Hitam ini,"
"Mungkinkah Arung ingin men *****-***** guruku, aku semakin yakin jika mereka bertiga melangsungkan Party Nakal saat di lorong Perpustakaan tersebut,"
"Malam ini mereka berdua pasti akan bersenang-senang, dasar Pendekar Don Juan." Gumam Jupiter, lalu mulai membersihkan tumpahan mie di lantai.
"Hiks..... Hiks..... Hiks...... " Tangis kecil Jupiter di dalam hati.
"Hanya aku saja Prajurit yang belum memiliki seorang kekasih, apa aku mengejar Robert saja,"
"Apakah Kayla akan marah?" Gumam Jupiter.
Perpustakaan Kuno Kerajaan Jangbaek, dasar lorong jebakan ber gravitasi tinggi.
Dalam sekejap mata setelah dua kali berteleport, Ia dan Kekasih Gelap nya pun, berpindah tempat ke dasar lorong jebakan ber gravitasi tinggi tersebut.
"Dup.......... " Suara langkah kaki Arung saat mendarat.
"Ugh.... Tubuhku tiba-tiba berat sekali." Gumam Luna yang sudah mulai merasakan gaya gravitasi yang besar.
Tempat tersebut sangat gelap, Arung pun menggunakan mata lima elemen nya lalu menggunakan mata kegelapan.
"Mata Night Vision ini memang praktis." Gumam Arung.
Bola mata Arung berubah warna menjadi hitam, lalu pupil matanya berubah menjadi merah darah.
"Sekarang sudah lebih baik aku dapat melihat dengan jelas di dalam kegelapan ini." Ucap Arung, lalu mulai mengeluarkan bola ruang milik nya.
"Gelap banget di sini Arung, gimana kau bisa melihat nya." Ucap Luna.
"Cepat lepas pakaian mu lalu keluarkan kedua essensi magnet tersebut." Ucap Arung, sambil melepas pakaian nya.
"Dia makin berani aja menyuruhku melepas pakaian ku, dia pikir aku wanita gampangan apa?" Gumam Luna, namun tetap melepas pakaian nya.
"Essensi yang satunya lagi gimana Sayang." Ucap, Luna, lalu mulai mengeluarkan kedua essensi magnet tersebut.
"Tidak usah Luna, aku khawatir akan mengganggu pengobatan mu." Ucap Arung, lalu duduk bermeditasi.
"Oh...... seperti itu ya, aku sudah tidak sabaran untuk dapat kembali beraksi di Kota Awan Hitam." Gumam Luna.
Beberapa saat kemudian mereka berdua pun telah bersiap untuk melakukan Kultivasi Ganda tersebut, kedua belah telapak tangan mereka pun telah mulai saling bersentuhan.
"Huft................ " Suara Nafas Panjang Pendekar Naga.
"Luna aku akan memulai memutar tenaga dalam ku, kau hanya perlu menyesuaikan ritme nya saja." Ucap Arung.
"Baik Sayang,"
"Apa pun yang kau perbuat pada ku aku pasrah." Ucap Luna.
"Gadis Liar ini pasti berpikiran negatif, mungkin dia sudah gerah selama lima tahun ini." Gumam Arung.
Tampak aura berwarna-warni mulai berkumpul di sekujur tubuh mereka berdua, kedua essensi pun mulai melayang dan melebur ke dalam tubuh mereka.
"Luna konsentrasi lah." Ucap Arung.
"Ugh...... Hangat sekali, pembuluh-pembuluh darah ku terasa sangat nyaman sekali." Gumam Luna.
Mereka berdua pun terus melakukan Kultivasi Ganda selama tiga hari tiga malam tanpa makan dan minum.
Tiga hari kemudian.
Tampak cahaya hitam kebiru-biruan melesat keluar dari tubuh mereka berdua ke atas, menandakan mereka berdua telah berhasil menyerap seluruh essensi tersebut.
"Akhirnya selesai juga." Gumam Arung, tampak sangat kelelahan.
"Hah..... Hah..... Hah....... " Suara Nafas Terengah-engah Arung.
Saat ini Kultivasi dan cedera parah Luna telah sembuh, namun kultivasi nya menurun ke ranah alam Ksatria puncak untuk sementara waktu begitu pula dengan Arung.
"Sepertinya berhasil, aku dapat menggerakkan kedua kaki ku kembali." Gumam Luna, tampak wajah nya kembali ceria.
"Sepertinya Gadis Liar ku semangat nya telah kembali seperti sedia kala, menyetrum-nyetrum seperti listrik." Gumam Arung, lalu mulai menelan Pil Naga.
"Wah.... Aku merasakan dantian ku telah pulih sepenuhnya Arung,"
"Metode Mesum ini benar-benar berhasil." Ucap Luna, lalu mulai bangun dari meditasi nya.
"Untunglah ini benar-benar berhasil.... Sebaiknya kita beristirahat dulu Luna." Ucap Arung, lalu bangun dan memegang lengan Luna.
"Clara..... " Ucap Arung, mereka berdua pun terhisap ke dalam Bola Ruang Pemberian Putri Naga Kecil.
"Clara, siapa itu?" Gumam Luna.
Bola Ruang Pemberian Putri Naga Kecil.
Dalam sekejap mata mereka berdua kembali berpindah ke dalam bola ruang.
"Dup... ....... " Suara Tapak kaki Arung dan Gadis Liar nya saat mendarat di depan Gerbang Mansion Putri Naga Kecil.
Luna sangat terkejut melihat pemandangan di dalam dunia di dalam bola ruang tersebut, tampak sebuah mansion Kuno yang megah berdiri di tengah pulau yang di kelilingi oleh hutan.
"Dimana kita saat ini Pendekar Naga?" Tanya Luna.
Arung pun mulai menjelaskan perihal bola ruang tersebut, setelah nya mereka berdua pun mulai beristirahat di dalam Kamar Putri Naga Kecil di dalam mansion tersebut.
Keesokan paginya.
Di dalam Kamar
Tampak Arung dan Luna masih tidur di atas ranjang sambil berpelukan dengan hanya mengenakan piyama tidur yang transparan berwarna ungu.
"Ugh......... " Suara Luna, lalu mulai melempangkan tubuh nya.
"Pendekar Naga, hari ini aku akan melepas rinduku selama lima tahun ini." Gumam Luna, lalu mulai mencium pipi Arung.
Ia pun bangun lalu beranjak keluar dari dalam kamar tersebut dan berniat membuat kan sarapan pagi di dapur.
Di Dapur.
"Dapur di dalam mansion ini sungguh mewah, bahkan kursinya saja terbuat dari giok,"
"Akhirnya aku pulih juga, hari-hari di mana aku terus di bully telah berakhir,"
"Ini semua berkat Pendekar Naga." Gumam Luna.
Beberapa saat kemudian sarapan pun telah selesai di buat oleh Luna, ia pun mulai menghidangkan nya di atas meja giok tersebut. Arung pun mulai membuka kedua matanya lalu beranjak keluar dari dalam kamar.
"Gadis Liar ku, ugh..... Syukurlah dia sudah bersemangat kembali." Gumam Arung, saat menatap Luna yang tengah menghidangkan masakan di atas meja giok.
"Pendekar Naga sudah bangun." Gumam Luna.
"Arung, ayo kita sarapan bareng,"
"Kau pasti sangat laper sudah tiga hari tiga malam belum makan." Ucap Luna.
"Iya Sayang, kau juga kan belum makan selama ini." Jawab Arung.
Sepasang Kekasih yang terlibat hubungan terlarang itu pun mulai sarapan pagi romantis nya berdua di atas meja giok, tanpa ambil pusing akan situasi percintaan mereka yang sangat rumit.
"Kau mau kemana setelah ini Sayang?" Tanya Luna, sambil menyantap nasi goreng ayam tersebut.
"Masakan ini lezat juga." Gumam Arung, sambil menyantap Nasi Goreng tersebut.
"Aku berencana pergi ke Akperti Luna, lalu menjumpai Rektor disana,"
"Jendral Es menyuruhku melapor kepada nya." Jawab Arung.
"Oh... Ya iyalah, kau kan sekarang adalah Tunangan nya Jendral Es,"
"Ya sudah mandi saja sana dulu, setelah itu kita berdua akan pergi ke Akperti,"
"Biar kutemani kau ke Akademi tersebut, dulu Kakak ku berkuliah disana." Ucap Luna.
"Sepertinya masalah hubungan ku dengan Jendral Es telah menyebar luas di Benua Es Api ini." Gumam Arung.
"Oh... Iya aku baru ingat, Kakak nya Luna kan Jendral Catherine Thunder." Gumam Arung, sambil menyantap nasi goreng ayam tersebut.
Beberapa saat kemudian Arung pun selesai menyantap nasi goreng tersebut.
"Luna, kalau begitu aku mandi dulu ya." Ucap Arung, lalu mulai beranjak ke dalam Kamar Mandi.
"Iya Sayang." Ucap Luna.
"Dup........... " Suara Pintu Kamar Mandi tertutup.
"Baiklah Sayang, aku akan memberikan mu hadiah karena telah mengembalikan kultivasi ku saat ini." Gumam Luna, lalu ikut masuk ke dalam Kamar mandi tersebut.
"Kraaakkk......... " Suara Pintu Kamar Mandi terbuka.
"Dup.......... " Suara Pintu Kamar Mandi tertutup.
Di dalam Kamar Mandi.
Arung yang saat ini tengah berendam di dalam bak air panas, ia pun terkejut melihat kedatangan Luna ke dalam Kamar Mandi.
"Luna,.... Ugh... "
"Jangan katakan dia akan melakukan nya di dalam kamar mandi ini." Gumam Arung.
Luna pun mulai membuka seluruh pakaian nya dan ikut berendam di dalam bak yang sama dengan Pendekar Naga berendam.
"Terima Kasih Sayang." Ucap Luna, lalu mulai ******* habis bibir Tunangan nya tersebut.
"Ternyata dia telah merencanakan hal ini sejak tadi." Gumam Arung, sambil membalas ciuman panas Luna.
Pertarungan yang basah dan becek pun mulai terjadi di dalam Bak Air Panas tersebut selama beberapa jam.
Kota Seribu Obat, siang harinya setelah pergulatan panas.
Akademi Perwira Tinggi Kekaisaran Dewi Es.
Bangunan kampus ini berlantai 100 dan sangat besar lalu sangat modern, dan juga merupakan icon kota Seribu obat karena bentuk nya yang seperti Pedang Tertancap.
"Wah..... Besar Banget Kampus Akperti ini." Gumam Arung.
__ADS_1
Tampak di sekitar kampus sudah sangat ramai Komandan-komandan baru yang berlalu lalang, mereka berdua pun mulai masuk ke dalam bangunan yang mirip pedang tertancap tersebut.
Di dalam Lift.
Ada lima orang yang berada di dalam Lift termasuk Arung dan Luna. Ketiga orang lain nya merupakan Komandan-komandan Wanita di Akperti ini.
"Wah..... ganteng nya Komandan Baru itu, tapi kok ranah nya sangat rendah,"
"Bagaimana ia bisa masuk ke Akademi ini." Gumam salah satu Komandan tersebut.
"Luna kita mau kemana sekarang?" Tanya Arung.
"Tenang Sayang, kita akan ke lantai 100 di sana adalah tempat para Dosen tinggal dan berkantor." Jawab Luna.
Beberapa saat kemudian, mereka pun tiba di lantai 100.
Koridor Lantai 100.
Tampak di dalam koridor tersebut banyak Komandan-komandan baru Akperti yang berlalu lalang, beberapa menit kemudian mereka berdua pun tiba di depan pintu ruangan Rektor Akperti tersebut.
Luna pun mulai mengetuk Pintu Ruang Rektor tersebut.
"Tok..... Tok...... Tok......... " Suara ketukan Pintu.
"Sepertinya ada Komandan baru lagi yang mengeluh, sebenarnya aku ini Ibu Rektor atau terapis." Gumam Ibu Rektor
"Masuk lah...... " Suara dari balik pintu tersebut.
"Ayo Luna." Ucap Arung.
"Krakkkk............. " Suara pintu terbuka, Arung dan Luna pun mulai masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Pemuda Berambut Biru dan Gadis Berambut Ungu, eh tunggu dulu bukannya itu adik nya Catherine Thunder." Gumam Diamond Dragon Ice.
Sepertinya Diamond Dragon Ice mengenali Luna
"Luna..... " Ucap Ibu Rektor.
"Benar bu, aku Luna adik nya Kak Catherine." Ucap Luna.
"Duduk lah Luna, kudengar dari Catherine saat ini kau telah kehilangan kultivasi mu." Ucap Ibu Rektor.
Mereka berdua pun duduk di hadapan Ibu Rektor, Arung pun terkejut ternyata Luna mengenali orang nomer satu di dalam Kampus Akperti tersebut.
"Wah.... jaringan Luna sangat hebat, ia mengenali Ibu Rektor ini." Gumam Arung.
"Karena suatu peristiwa, kultivasi ku dapat kembali seperti sedia kala nya Bu, hanya saja kultivasi ku belum pulih sepenuh nya." Ucap Luna.
"Syukurlah..... Catherine sangat mencemaskan kultivasi mu karena kau adalah calon Patriak selanjutnya, siapa Pemuda Ganteng yang bersama mu ini Luna?" Tanya Ibu Rektor.
"Ini adalah Tunangan nya Jendral Es, Bu." Ucap Luna.
Ibu Rektor pun terdiam sejenak lalu mulai memandangi Arung.
"Wah.... tampan sekali, wajar kalau Jendral Es sampai mencium nya saat itu,"
"Jika aku si posisinya mungkin aku akan melakukan hal yang lebih extrim lagi." Gumam Ibu Rektor.
"Aku sudah menunggu mu beberapa hari ini, kukira kau tidak akan datang,"
"10 Kapal Layar Langit telah berangkat beberapa hari yang lalu menuju Planet Kuno Jupiter, hari ini Kapal Layar Langit yang terakhir akan berangkat,"
"Kau harus segera pergi ke kapal tersebut." Ucap Ibu Rektor.
"Kapal Layar Langit?" Gumam Arung.
"Apa itu Kapal Layar Langit Bu?" Tanya Arung.
"Oh iya... Kau kan masih baru di Akperti ini, Kapal Layar Langit adalah senjata suci tipe kendaraan antara Planet,"
"Pembelajaran pertama Mahasiswa baru adalah untuk mendapatkan Beast Kuno Kontrak di Planet Kuno Jupiter, syarat nya adalah kau harus membawa dua orang Wakil Komandan bersama dengan mu." Ucap Ibu Rektor.
Luna dan Arung pun saling menatap.
"Bu Rektor daftarkan aku dan Gisel sebagai Wakil Komandan yang akan pergi bersama dengan nya ke Planet Kuno tersebut." Ucap Luna.
"Iya Bu, aku setuju dengan itu." Ucap Arung.
"Baiklah, aku akan mendaftarkan nya sekarang juga, kalian pergilah ke atap gedung ini Jendral Karna telah menunggu di sana." Ucap Ibu Rektor.
"Baik Bu..... " Ucap Kompak Sepasang Kekasih Terlarang tersebut.
Mereka berdua pun keluar dari ruangan tersebut lalu beranjak pergi ke atap gedung.
Di Koridor Lantai 100
"Hah........." Suara Nafas Panjang Arung, lalu mulai mengeluarkan tembakau ular nya.
"Baru saja bertempur di dalam bak mandi, setelah nya aku harus pergi ke Planet Asing." Gumam Arung.
"Whusss......... " Suara hembusan asap rokok.
"Arung aku akan menghubungi Gisel sekarang, kau mohon lah kepada calon adik ipar mu nanti untuk dapat singgah di Kota Awan Hitam dan menjemput Gisel di sana." Ucap Luna.
"Baiklah Luna." Ucap Arung.
"Jendral Play Boy itu ya, kalau dia tidak mau membantu ku,"
"Akan ku telpon Kakak nya." Gumam Arung.
Luna pun mulai menghubungi Gisel.
Kediaman Keluarga Alba.
"Byurrrr................. " Suara hujan deras.
Tampak Wakil Komandan Gisel tengah berlatih Jurus Langkah Rubah di lantai sepuluh mansion milik keluarga nya tersebut.
"Jurus ini benar-benar cepat, kecepatan nya berimbang dengan Jurus Langkah Petir." Gumam Gisel.
Beberapa saat kemudian, Hand Phone milik Gisel pun berdering.
"Kringg....... Kringg....... Kringg......... " Suara HP yang berdering.
Gisel pun menghentikan langkah ringan nya, lalu mulai mengangkat HP nya.
"Lho.... Wakil Komandan Luna, bukankah dia saat ini sedang cedera parah?" Gumam Gisel, lalu menerima panggilan tersebut.
"Halo Gisel, ada tugas penting dari Komandan baru mu." Ucap Luna melalui HP.
"Apa itu Wakil Komandan Luna?" Tanya Gisel melalui HP.
"Berhentilah memanggilku begitu, saat ini pangkat kita sama Gisel,"
"Panggil saja aku Luna." Ucap Luna melalui HP.
"Ia Kak Luna, perintah apa itu?" Tanya Gisel melalui HP.
"Kita ditugaskan oleh Komandan Arung untuk ikut bersamanya ke Planet Kuno Jupiter sekarang, dimana kami dapat menjemputmu Gisel?" Tanya Luna melalui HP.
"Komandan Don Juan itu... Eh.. Eh... Maksudku Komandan Arung ya,"
"Baiklah aku akan menunggu di atap Mansion Kediaman Keluarga Alba." Jawab Gisel melalui HP.
"Baik lah Gisel, persiapkan bekal mu Gisel,"
"Mungkin kita akan berada di sana selama beberapa bulan, dan pastikan kau pamit dengan orang tua mu." Ucap Luna melalui HP.
"Baik Kak Luna." Ucap Gisel melalui HP.
"Beepp...... Beepp........ Beepp.......... " Suara HP Mati.
"Dasar Komandan Don Juan itu, setelah sekian lama nya tidak muncul,"
"Sekalinya muncul memberikan tugas negara, setidak nya berikan juga aku tugas ibu negara." Gumam Gisel.
Yang di maksud Gisel dengan tugas ibu negara adalah Nafkah Bathin nya.
"Sebaiknya aku bersiap-siap dulu, dan berpamitan dengan mama-mama ku." Gumam Gisel, lalu beranjak dari ruang latihan tersebut.
Atap Gedung Akperti.
Tampak ada sebuah Kapal Layar yang sangat besar tengah berlabuh di atas atap bagunan Akperti tersebut, para Komandan-komandan baru tengah mengantri masuk bersama wakil-wakil nya. Arung dan Luna pun ikut mengantri di barisan yang paling belakang, tampak yang melakukan check ini Komandan baru tersebut adalah Komandan Uranus yang merupakan salah satu dari istri Jendral Karna.
"Kalau tidak salah Komandan yang melakukan check in itu adalah istri adik ipar nya Pendekar Naga." Gumam Luna.
"Sepertinya aku mengenal Pemuda berambut biru ini, tapi kenapa check list namanya sudah habis yach?"
"Mungkinkah mereka berdua adalah penyusup, sebaiknya aku memastikan nya terlebih dahulu?" Gumam Komandan Uranus.
"Siapa nama mu Komandan Muda?" Tanya Komandan Uranus.
"Namaku Arung Komandan." Jawab Arung.
Alangkah terkejutnya Komandan Uranus mendengarkan nama tersebut, sikap nya pun berubah menjadi ramah tamah kepada Pemuda Berambut Biru tersebut.
"Oh... Calon Abang Ipar, ayo masuklah,"
"Kenapa tidak memberitahu Karna kalau kau mau datang." Ucap Uranus, lalu mulai mengantar kan mereka berdua.
"Hah........... " Suara nafas panjang Arung.
"Ternyata Komandan ini mengenali Tunangan Jendral Es." Gumam Luna.
Komandan-komandan baru lain nya pun bingung melihat perlakuan khusus tersebut
"Siapa Pemuda itu kenapa istri Jendral Karna sangat peduli terhadap nya?" Gumam salah salah satu Komandan.
Komandan Uranus pun mengantar Arung dan Luna ke ruang Kemudi Kapal, tampak di sana Jendral Karna tengah mengemudikan kapal tersebut.
Ruang Kemudi Kapal.
Jendral Karna pun melihat ke arah Arung, ia mulai menyadari sosok berambut biru tersebut adalah Calon Abang Ipar nya.
"Abang Ipar ku." Gumam Jendral Karna.
"Abang Arung, kukira ibu Rektor hanya bercanda saat menelpon ku tadi, ternyata kau benar-benar datang." Ucap Jendral Karna.
"Wah.... Sejak menjadi Tunangan Jendral Es, sosok Arung pun menjadi besar." Gumam Luna.
"Dari gelagat nya dia pasti akan membantuku, sepertinya sosok Jendral Es begitu kuat." Gumam Arung.
Ia pun mulai melangkahkan kakinya berniat menghampiri Jendral Karna.
"Jendral Karna, aku bisa minta tolong kepadamu untuk singgah di Kota Awan Hitam lalu menjemput wakil Komandan ku di sana?" Tanya Arung.
"Tentu saja bisa Abang Ipar, baiklah Uranus kabar kan kepada anak-anak baru itu untuk duduk dengan tenang kapal ini akan segera berangkat." Perintah Jendral Karna.
"Baik Sayang." Ucap Uranus.
Ia pun beranjak pergi ke kabin aula kapal hendak memberitahukan keberangkatan Kapal Layar Langit tersebut.
"Terima Kasih Jendral Karna." Ucap Arung.
"Untuk Abang Ipar ku apapun akan kulakukan, kalau kau memintaku untuk singgah di warung kopi untuk ngopi sesaat pun aku bersedia." Ucap Jendral Karna.
"Sepertinya sosok Jendral Es sangat di segani oleh adik nya, Jendral nakal ini saja sangat menghormati Abang Ipar nya." Gumam LunaLuna, lalu mulai membaca majalah yang ada di kursi tersebut.
Di Atas Atap Bangunan Raksasa yang Seperti Pedang Menancap.
Tampak sebuah Kapal mulai melayang beberapa meter dari atap gedung tersebut, lalu mulai melesat menuju Kota Awan Hitam.
"Whussss................ " Suara hempasan angin saat Kapal Layar Langit melesat menuju Kota Awan Hitam.
Di Kota Awan Hitam.
"Byurrrr.................... " Suara hujan deras.
Tampak di atas atap mansion Kediaman Keluarga Alba, Nyonya Ya, Ayu, dan Gisel tengah duduk menunggu kedatangan Pendekar Don Juan nya menjemput nya.
"Gisel, ingat pesan mama yach,"
"Jangan mengungkit-ungkit masalah pertunangan nya dengan Jendral Es, di dunia kultivasi ini seorang Pemuda berbakat seperti Arung memang di takdirkan untuk memiliki banyak istri." Ucap Nyonya Ya, menasehati Putri nya.
"Benar Gisel, kau harus akur-akur dengan Jendral Es, laki-laki seperti Arung kedepannya pasti memiliki banyak istri." Ucap Ayu, menasehati adik nya.
"Siap Ma... Siap Kak Ayu, aku legowo sekarang,"
"Kak Ayu jangan lupa memberi makan Friska ya." Ucap Gisel.
"Tenang saja Wakil Komandan Gisel, Friska akan kurawat seperti adikku sendiri." Ucap Ayu, lalu menghornat ke arah Gisel.
"Jangan lupa memberikan nya beer, jika dia tidak bisa tidur di malam hari ya Kak." Ucap Gisel.
"Ugh.... Dasar pemabuk, bahkan Beast nya pun menjadi Beast pemabuk,"
"Sama seperti nya." Gumam Nyonya Ya, lalu mengurut-urut kepalanya.
"Iya Gisel." Ucap Ayu.
Beberapa saat kemudian sebuah Kapal Layar raksasa melayang di atas Mansion Kediaman Keluarga Alba tersebut.
Di Dalam Ruang Kemudi Kapal.
"Byurrrr............ " Suara hujan deras.
"Abang Ipar, kita sudah sampai,"
"Biar Uranus saja yang menjemput Wakil Komandan mu." Ucap Jendral Karna.
"Tidak apa-apa Jendral Karna, biar aku saja yang menjemput nya sendiri." Ucap Arung, lalu mulai memasang kuda-kuda jurus teleportasi.
Sementara itu Luna dan Uranus sedang duduk berbincang-bincang di sofa di pojokan ruang kemudi tersebut.
"Blitzzzz................. " Suara Jurus Teleportasi Milik Arung.
Dalam sekejap mata Arung pun berpindah tempat dari dalam ruang kemudi berpindah ke sebelah Gisel yang saat ini berada di atas atap mansion nya.
"Kemana Abang Ipar, jurus apa yang di gunakan nya?" Ucap Jendral Karna, Uranus pun bingung saat Arung tiba-tiba menghilang.
"Jurus dari aliran mana itu?" Gumam Uranus.
Di Atas Atap Mansion Kediaman Keluarga Alba.
"Dup............. " Suara Tapak kaki saat Arung mulai mendarat ke atas atap.
"Calon Menantu?" Gumam Nyonya Ya.
"Nyonya Ya, Ayu... "
"Apa kabar nya?" Tanya Arung, berniat berbasa-basi.
"Kami sehat-sehat saja Arung, seperti nya kalian terburu-buru ya,"
"Aku titip Putri ku ini ya Arung, tolong di jaga baik-baik." Ucap Nyonya Ya.
"Ia Arung, selama dia tidak bersama dengan mu dia sering pergi mabuk-mabukan bersama Kayla." Ucap Ayu.
"Mama.... Kak Ayu, kok buka buka kartu aku sih." Ucap Gisel.
"Dasar gadis pemabuk." Gumam Arung.
Arung pun lalu memegang lengan Gisel, berniat melakukan teleportasi kembali ke dalam ruang kemudi kapal.
"Lho bukan nya harus di peluk, untuk berteleport,"
"Kenapa dia hanya memegang lengan ku?" Gumam Gisel.
"Nyonya Ya, Ayu, aku pamit dulu ya." Ucap Arung, lalu berteleport kembali ke dalam ruang kemudi kapal.
"Iya Arung, Hati-hati ya." Ucap Nyonya Ya.
"Blitzzzz.............. " Suara jurus teleportasi milik Arung.
Nyonya ya dan Ayu pun mulai melambaikan tangannya beberapa kali ke arah Kapal Layar Langit tersebut.
"Dup............. " Suara Tapak kaki Arung dan Gisel saat mendarat di ruang kemudi.
Ruang Kemudi.
"Berarti selama ini aku tertipu oleh jurus ini, dasar Komandan Don Juan." Gumam Arung.
Tampak di ruangan tersebut Jendral Play Boy, Uranus, dan Luna.
"Lho.... Jendral Play Boy." Gumam Gisel.
Begitu Abang Ipar nya tiba, Jendral Karna langsung menghampirinya.
"Abang Ipar kau sudah kembali, kau pasti capek kan,"
"Perjalanan kita mungkin akan memakan waktu selama sebulan, sebaik nya Abang Ipar beristirahat saja dulu." Ucap Jendral Karna.
"Benar yang dikatakan Adik nya Mitha, aku benar-benar sangat lelah hari ini." Gumam Arung.
"Baiklah Jendral Karna, dimana ruang istirahat nya?" Tanya Arung.
"Uranus, tolong antarkan abang ipar mu ini ke dalam kabin di sebelah kabin kita." Perintah Jendral Karna.
__ADS_1
"Baik Sayang." Ucap Komandan Uranus, lalu mulai mengantarkan mereka bertiga ke Kabin Kamarnya, tampak di sepanjang jalan Komandan-komandan baru lainnya menatap ke arah Arung dan yang lain nya.
"Ternyata Komandan Uranus adalah istri Jendral Play Boy tersebut.