
Di Dalam Bola Ruang Pemberian Putri Naga Kecil.
Dalam sekejap mata sepasang tunangan yang sedang di mabuk cinta tersebut pun berada di depan gerbang masuk Mansion Putri Naga Kecil setelah Arung mengucapkan pasword nya.
"Brukkkk................" Suara kaki mereka berdua saat mendarat di depan gerbang.
"Waw...... Di mana kita berada sekarang Tunangan ku?" Tanya Nona Mitha, teramat penasaran.
"Ugh.... pipi ku sakit sekali, awas saja Gadis Psikopat itu nanti,"
"Hutang ini akan ku ingat." Gumam Nona Mitha.
"Ayo kita masuk dulu Nona Mitha." Ucap Arung, lalu menarik pergelangan tangan nya.
"Berhenti memanggilku Nona Mitha, Arung,"
"Panggil aku Mitha saja mulai dari sekarang, Arung." Ucap Mitha.
"Mitha, seperti nya dia mulai luluh dengan ku,"
"Fiuh........ " Gumam Arung.
Mereka berdua pun mulai memasuki mansion tersebut, lalu mulai menaiki tangga menuju lantai ke tiga yang merupakan tempat peristirahatan Arung.
"Tap..... tap..... tap....... " Suara langkah kaki mereka berdua.
"Wah..... Arung kau harus menceritakan kepada ku sekarang juga, tempat apa ini?" Tanya Mitha, sangat terkesan sekaligus penasaran melihat Mansion Kuno tersebut.
Arung pun mulai mengajak Mitha untuk duduk di dalam ruang santai di dalam ruangan Putri Naga Kecil tersebut.
"Bahkan kursi dan meja di dalam mansion ini semua nya terbuat dari giok, tidak kusangka tunangan ku memiliki mansion seperti ini." Gumam Mitha.
Mitha lalu duduk di kursi dan mulai mengamati interior Kuno di dalam ruangan tersebut. Sementara itu Arung pergi ke dapur lalu membuat kan se kendi besar Susu Naga.
"Mitha pasti akan menyukai Susu Naga ini, susu ini tidak di produksi di Benua Es Api atau pun di wilayah Kekaisaran mana pun." Gumam Arung.
Beberapa saat kemudian, Arung pun kembali ke ruang santai lalu duduk di samping Tunangan nya dan menghidangkan minuman ke atas meja giok tersebut.
"Minumlah dulu Mitha, kau pasti sudah sangat haus." Ucap Arung.
"Minum nya bisa menyusul Sayang,"
"Arung, kau harus menceritakan kepada ku mengenai tempat ini saat ini juga, itu perintah." Perintah Jendral Es.
"Huft............... " Suara nafas panjang Arung.
"Nasib bertunangan dengan atasan jika itu adalah sebuah perintah bawahan tidak akan dapat membantahnya dan harus mematuhi nya." Gumam Arung.
"Siap Jendral Es, jadi begini ceritanya............. " Ucap Arung, lalu mulai menceritakan mengenai bola ruang tersebut.
Beberapa menit kemudian, Arung pun telah selesai menceritakan perihal bola ruang tersebut.
"Oh..... Menakjubkan sekali Arung." Ucap Mitha.
"Aku sangat ingin memiliki bola ruang seperti ini, akan kutunggu waktu yang tepat untuk meminta nya kepada Arung." Gumam Mitha.
"Ya sudah Mitha, mandi lah duluan,"
"Kamar mandi di sana." Ucap Arung, lalu menunjuk letak kamar mandi tersebut.
"Kau tidak ikut, ayo kita mandi sama-sama." Ucap Mitha.
Arung sebenarnya sangat terkejut dengan statemen yang di keluarkan oleh Mitha tersebut, namun berkat Teratai Kebijaksanaan yang telah menyatu dengan nya ia tetap tenang.
"Duluan lah Mitha, aku akan menyusul mu nanti." Ucap Arung.
"Huft............... " Suara nafas panjang Arung.
"Perasaan ku saja atau memang dia sangat dewasa sekarang." Gumam Mitha, lalu mulai beranjak ke dalam kamar mandi.
"Brukkkk......... " Suara pintu kamar mandi tertutup.
"Apa yang terjadi saat ini, kenapa ranah ku turun lagi ke ranah alam ksatria,"
"Sebaik nya aku menghubungi Putri Naga Kecil sekarang." Gumam Arung.
Lalu mencoba menghubungi Putri Naga Kecil melalui giwang merah di telinga nya.
"Putri Naga Kecil..... Putri Naga Kecil...... "
"Ugh..... Kenapa tidak berhasil ya?" Gumam Arung.
Samar-samar suara Jendral Api kembali terngiang di dalam kepala Arung.
"Cara pengaktifan Giwang Darah Naga tersebut adalah dengan cara menyalurkan tenaga dalam berelemen api ke dalam nya, saat ini energi di dalam giwang tersebut sudah habis." Suara di kepala Arung.
"Mantap jiwa, memang Ingatan Jendral Api yang terbaik,"
"Baiklah aku akan mencoba nya saat ini juga." Gumam Arung, lalu mulai menyalurkan tenaga dalam berelemen api ke dalam Giwang Darah Naga tersebut.
Aura kemerahan mulai berkumpul di sekujur tubuh Arung, beberapa menit kemudian seluruh tenaga dalam nya terserap ke dalam Giwang Darah Naga tersebut.
"Ugh..... Tenaga dalam ku tersedot semua nya, sungguh sangat mengerikan konsumsi tenaga dalam yang di butuhkan untuk mengaktifkan Giwang Darah Naga tersebut." Gumam Arung.
"Arung..... Arung..... Pangeran Naga Genit.... " Telepati Putri Naga Kecil.
"Setelah Pendekar Don Juan, sekarang Pangeran Naga Genit." Gumam Arung.
"Hah............. " Suara hembusan nafas panjang Arung.
"Akhirnya berhasil juga." Gumam Arung.
"Berhasil apa nya hah...?" Tanya Putri Naga Kecil.
Gazebo di halaman tengah Mansion Putri Naga Kecil, di Istana Naga Benua Naga Selatan.
Saat ini Putri Naga Kecil sedang duduk di dalam gazebo bersama Claire Tiger anak angkat nya.
"Mama.... Siapa itu?" Tanya Claire.
"Ini telepati dari Papa mu Claire." Ucap Putri Naga Kecil.
"Aku mau ngomong mama... Dengan Papa ku... " Ucap Claire.
"Ya boleh, tapi nanti ya setelah orang dewasa selesai berbicara." Ucap Putri Naga Kecil.
"Mama... Pelit." Ucap Claire.
"Siapa itu Claire, kenapa dia memanggil Putri Naga Kecil dengan sebutan mama,"
"Mungkinkah Putri Naga Kecil telah menikah dengan Pangeran Naga lain nya di sana, karena aku tak kunjung kembali?" Gumam Arung.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak Pangeran Naga, Claire adalah bayi Naga yang kita temukan di Goa Bawah Tanah di Padang Tandus Naga saat itu." Telepati Clara.
"Lho.... Kenapa dia bisa besar secepat itu, apa yang di makan nya?" Gumam Arung.
"Dia ini kan anak dari Leluhur Naga Khayangan, jadi pertumbuhan nya berbeda dengan bayi Naga lain nya."
"Dia saat ini menjadi anak angkat kita, kapan kau akan kembali kemari Pangeran Naga?" Telepati Putri Naga Kecil.
"Mungkin dalam beberapa bulan lagi Putri Naga Kecil, aku tinggal mengikuti satu tahap ujian lagi saat ini." Gumam Arung.
Saat di dalam Ngarai Biru Arung telah menceritakan mengenai asal usul nya serta ujian yang tengah di ikuti nya kepada Putri Naga Kecil.
"Oh.... Jadi kenapa selama ini aku tidak bisa menghubungi mu?" Tanya Putri Naga Kecil.
"Begini ceritanya................ " Ucap Arung, lalu mulai menceritakan mengenai konsumsi energi yang sangat besar untuk mengaktifkan Giwang Darah Naga tersebut.
Arung juga menceritakan masalah nya saat ini, yang tiba-tiba saja kehilangan kekuatan nya di saat malam dengan bulan berwarna merah tersebut.
"Apa..... Ternyata aku lupa memberitahukan kepadamu mengenai malam Dragon Moon tersebut, syukur lah kau tidak di kuasai oleh Jiwa Elemen Naga Mu saat itu,"
"Sebaiknya kau harus segera kembali ke Benua Naga, aku akan memberitahukan semua nya kepadamu,"
"Mungkin teman mu itu adalah seekor Naga atau Manusia Setengah Naga, namun dia belum menyadari nya sampai saat ini." Telepati Clara.
Kemudian telepati tersebut pun terputus, ternyata untuk bisa berkomunikasi antar bintang memerlukan tenaga dalam yang sangat besar.
"Kalau Mitha ada lah seekor Naga mungkin saja kami melakukan metode kultivasi ganda saat menjelma menjadi Naga tanpa kami sadari." Gumam Arung, lalu mulai mengambil cermin di dalam cincin ruang nya.
"Apa..........................?"
"Ugh.... Ternyata benar Mitha adalah seekor Naga Betina." Gumam Arung.
Ternyata saat Arung melakukan komunikasi LDR an dengan Putri Naga Kecil, Mitha telah selesai mandi dan saat ini sudah selesai berpakaian.
"Sebaik nya aku segera menemui Putri Naga Kecil, walaupun aku tidak mati saat itu,"
"Rasa nya di kunyah hidup-hidup itu benar-benar menyakitkan." Gumam Arung.
Note: LDR adalah Long Distance Relationship.
Saat ini Mitha tengah mengenakan pakaian daster transparan berwarna putih yang sangat sexi, ia pun duduk di samping Arung saat ini.
"Ugh.... Mitha, biasanya kau dingin tapi pagi ini kau sangat panas." Gumam Arung.
Mitha pun mulai meneguk Susu Naga milik nya yang belum habis di minum nya tadi.
"Mitha seperti nya kita telah berkultivasi ganda tanpa kita berdua sadari, dan hasilnya aku sudah berfusion seperti mu,"
"Lihat rambutku dan lihat mata mu." Ucap Arung, lalu memperlihatkan cermin kepada Mitha.
Tampak bola mata Mitha sudah berubah menjadi ke emasan sama seperti Arung.
"Kya..... mata ku berwarna sama dengan Tunangan ku, kami berdua saat ini sangat mirip,"
"Seperti kembar identik saja,"
"Arung kali ini aku benar-benar I Love You dengan mu, apalagi kau saat ini sangat mirip dengan penyelamat jiwaku." Gumam Mitha.
"Ceritakan pada ku apa yang terjadi." Ucap Mitha.
Arung pun mulai menceritakan segala hal mengenai Kultivasi Ganda tersebut.
Siang harinya di luar mansion Putri Naga Kecil.
Tampak Arung tengah duduk di bawah pohon di pinggiran danau tersebut sambil membaca Kitab Jurus Teleportasi Bagian ke Tiga, dia sudah membaca nya sejak tadi namun baru sedikit memahami nya. Di samping nya tampak Mitha lagi membaca Kitab Penggunaan Senjata Suci Kipas Dewi Es Surgawi.
"Ternyata Mitha walau pun adalah seorang wanita yang sangat dingin, namun kalau sudah menjadi seorang tunangan dia bawaan nya nempel terus kayak perangko." Gumam Arung, lalu menoleh ke arah Mitha dengan daster sexi nya.
"Konsentrasi Arung, kau harus kembali ke Benua Naga untuk menyelesaikan masalah malam Dragon Moon tersebut." Gumam Arung lalu mulai kembali membaca metode jurus bagian ketiga tersebut.
Beberapa jam kemudian.
"Sebenarnya Jurus ini baru bisa di lesatkan saat aku berada di ranah alam lautan puncak, tapi satu bulan lagi baru kondisi ku pulih seperti sedia kala nya,"
"Sebaik nya aku mencoba nya saja." Gumam Arung.
"Baiklah Mitha, aku sudah sedikit paham jurus bagian ke tiga ini,"
"Aku akan mencoba nya saat ini juga." Ucap Arung, lalu berdiri dan berjalan agak menjauh dari Mitha.
"Ehm.... Pendekar Tampan ini juga sangat berbakat, ia baru membaca Kitab tersebut sebentar,"
"Tapi sudah memahami nya sedikit." Gumam Mitha.
"Silahkan Pendekar Tampan." Ucap Mitha.
"Dia benar-benar mirip dengan Pemuda berambut biru yang menyelamat kan ku lima tahun yang lalu,"
"Oh my god, jantung ku kembali berdegup kencang saat melihat nya." Gumam Mitha.
"Dup...... dup........ dup...... " Suara detak kan Jantung Mitha yang semakin cepat.
Arung pun mulai melakukan sedikit pemanasan, aura biru mulai berkumpul di sekitar nya. Ia pun mulai memasang kuda-kuda jurus tersebut.
"Rasakan energi alam, lalu sinkron kan dengan tenaga dalam di dalam dantian,"
"Ikuti Irama Alam, lalu salurkan tenaga dalam yang di butuhkan." Gumam Arung.
"Blitzzzz....................... " Suara Jurus teleportasi milik Arung.
"Lho.... Dia benar-benar cepat." Gumam Mitha.
Beberapa menit kemudian,
"Brukkk....... " Suara Tapak kaki Arung saat mendarat di samping Mitha.
"Apa.... Sejak kapan dia ada di samping ku?" Gumam Mitha.
Arung pun duduk kembali di samping Mitha lalu mulai membaca Kitab tersebut kembali. Karena penasaran Mitha pun bertanya kepada Arung.
__ADS_1
"Bagaimana Arung, apa berhasil?" Tanya Mitha.
"Huft.......... " Suara nafas panjang Arung.
"Sepertinya berhasil Mitha, hanya saja untuk melesatkan jurus ini ranah ku harus berada di ranah alam lautan puncak." Ucap Arung.
Semenjak bersatu dengan Teratai Kebijaksanaan, kemampuan Arung dalam memahami suatu jurus pun jadi semakin lebih baik.
"Ya mau bagaimana lagi Arung, bagaimana jika kita coba melakukan Kultivasi Ganda tersebut,"
"Kan katamu kau memiliki sebuah essensi lagi di dalam cincin ruang mu milik mu, kan sama saja ranah kita kan sudah turun,"
"Sekalian saja kita melakukan kultivasi ganda tersebut." Ucap Mitha.
"Benar juga yang di katakan Mitha, baik lah kalau begitu." Gumam Arung.
Saat ini Arung belum mengetahui konsekuensi bagi seekor Naga jika memiliki terlalu banyak elemen di dalam tubuh mereka, begitu pula dengan Mitha.
"Wah.... Aku penasaran elemen apa yang akan ku bangkitkan nantinya." Gumam Mitha, lalu mulai melepaskan pakaian nya, lalu duduk bersimpuh.
"Ugh..... Ternyata Mitha ini mesum juga, baru beberapa jam bersama ku dan dia sudah tidak memiliki malu lagi,"
"Mungkinkah dia tiap malam akan naik ke ranjang ku dan memangsaku seperti Putri Naga Kecil." Gumam Arung, lalu melakukan hal yang sama.
Mereka pun lalu duduk bermeditasi dan saling berhadapan, Arung pun mengeluarkan essensi Singa Es yang di dapatkan nya dari Nyonya Ya lalu meletakkan nya di tengah-tengah.
"Baiklah bersiap lah Mitha." Ucap Arung.
Aura berwarna-warni mulai muncul di sekujur tubuh mereka, aliran tenaga dalam yang hangat mulai mengalir di pembuluh-pembuluh darah mereka. Essensi Singa Es Kuno pun mulai melayang, tiba-tiba saja sebuah essensi lain nya keluar dengan sendiri nya dari dalam peti giok milik Bongpal dan ikut berada di tengah-tengah.
"Apa kenapa ada essensi lain nya yang muncul, ini sungguh aneh,"
"Kenapa beberapa hari ini aku mengalami banyak peristiwa yang aneh." Gumam Arung.
Saat ini kedua Essensi tersebut melayang di antara mereka.
"Ugh.... Ternyata dia memiliki dua buah essensi, dia memang benar-benar tidak bisa di tebak." Gumam Mitha.
Essensi yang satu nya lagi merupakan Essensi Tiger yang berasal dari dalam peti giok putih milik Bongpal yang di curi Arung saat hendak berangkat ke Kota Awan Hitam sebelum nya.
Seminggu kemudian.
Tampak darah hitam kotor kembali keluar dari tubuh mereka berdua, aura berwarna-warni kembali melesat ke angkasa.
"Sepertinya sudah selesai, lama juga kali ini,"
"Sampai memakan waktu hingga seminggu lamanya." Gumam Arung.
Di dalam Bola Penjara Pohon Dewa Air.
Pagi hari
Tampak Ketua Sekte Iblis Beracun dan Bunga sedang sarapan di bawah pohon raksasa tersebut, tiba-tiba saja seberkas cahaya berwarna-warni melesat dari pohon raksasa tersebut ke atas.
"Apa itu, kenapa muncul fenomena aneh seperti ini?" Gumam Bunga.
"Ada yang tidak beres dengan Pohon raksasa ini." Ucap Ketua Sekte Iblis Beracun, lalu mulai melesat terbang meninggalkan sarapan nya.
"Ugh..... Sepertinya Ketua sangat penasaran dengan fenomena cahaya berwarna-warni tersebut." Gumam Bunga, lalu melanjutkan sarapan nya berniat kembali mengurus Kebun Tembakau Ular.
Di dalam Danau Langit.
Tampak Ikan-Ikan Koi Langit Surgawi tengah berenang-renang dengan santai nya, kemudian di kejutkan dengan seberkas cahaya berwarna-warni yang melesat dari dasar Danau ke Langit.
"Aurghhhh hhh............ Aurghhhh......... " Raungan para Ikan-Ikan Koi Langit Surgawi tersebut saat melihat cahaya tersebut melesat.
Setelah wafat nya Raja Phoenix Air, perisai kultivasi yang melindungi Pulau Terlarang Awan Hitam pun ikut menghilang.
Di Kota Awan Hitam.
"Byurrrr............... " Suara hujan deras.
Empat hari yang lalu beberapa Jendral dan ribuan Prajurit bantuan dari Kekaisaran Dewi Es pun tiba di Kota Awan Hitam lalu ikut membantu membasmi sisa Ikan-Ikan Koi Langit Surgawi yang ada.
Shelter Perlindungan Di bawah Ruangan Resepsionis.
Tampak Meli, Meri, dan Moli tengah tidur-tiduran di ranjang raksasa sambil menyaksikan acara TV.
"Meri, kau memang benar-benar jenius,"
"Untung saja saat itu kau membuat shelter ini, jika tidak saat malam penyerangan Ikan-Ikan Koi tersebut,"
"Entah bagaimana nasib kita." Ucap Meli.
"Ugh.... padahal aku menyiapkan shelter ini untuk mengurung Tuan Muda Arung, lalu berbuat hal-hal nakal dengan nya." Gumam Meri.
"Ini yang namanya belajar dari pengalaman Meli, saat bencana Black Hole pertama kali melanda, Kota ini sudah mengalami kehancuran sekali,"
"Jadi sangat perlu untuk membuat sebuah shelter seperti ini untuk berlindung,"
"Seperti nya keadaan di luar sana sudah aman,"
"Ayo kita keluar Meli." Ucap Meri.
Meri tidak mengajak Moli keluar di sebabkan ia tengah menangis terisak-isak sejak acara final tersebut.
"Moli berhentilah menangis, sudah hampir seminggu kau menangis terus." Ucap Meli.
Ternyata Moli masih sedih karena Tuan Muda Arung telah bertunangan dengan wanita tercantik di Benua Es Api, sebenarnya Meli dan Meri juga ikut menangis saat itu namun mereka sudah sedikit move on.
"Hiks..... Hiks.... Hiks..... "
"Hiks..... Hiks..... Hiks..... " Tangis Moli.
"Aku sangat sedih Meli, aku seperti Kekasih Yang Tidak Di Anggap." Ucap Moli, lalu kembali menangis.
"Ayo kita tinggalkan saja Moli, kita tetap pada rencana awal kita,"
"Setelah menguasai Jurus dari Sekte Kupu-kupu Hantu, kita akan kembali menangkap Tuan Muda Arung,"
"Lalu memaksanya menjadi pacar kita, jika dia tidak mau kita tidak akan pernah melepaskan nya." Ucap Meri.
"Aku setuju Meri, ayo kita keluar." Ucap Meli.
Meri dan Meli pun keluar dari shelter bawah tanah tersebut, sesampainya nya di ruang resepsionis alangkah terkejutnya mereka.
"Meri di sini benar-benar kacau lihatlah banyak sekali mayat kultivator dan Beast di sini, sungguh malam itu benar-benar malam yang sangat mencekam." Ucap Meli.
Mereka berdua kembali terkejut melihat pemandangan di luar, tampak banyak bangunan sudah hancur dan porak-poranda.
"Sungguh bencana Beast yang sangat mengerikan, untung saja kita bertiga bersembunyi di dalam shelter tersebut,"
"Jika tidak entah kita bisa selamat atau tidak." Ucap Meri.
Beberapa saat kemudian terjadi fenomena cuaca yang aneh akibat bangkit nya beberapa elemen dewa Arung dan Mitha. Langit hitam yang sedang hujan tiba-tiba saja mulai mengalirkan petir di sekitar nya.
"Dzzitt.......... Dzzitt........... Dzzzzittt........ " Suara percikan petir di langit.
"Meri bencana apa lagi ini?" Tanya Meli.
"Meli seperti nya langit sedang murka karena kematian Ikan-Ikan tersebut, sebaik nya kita kembali ke dalam shelter." Ucap Meri.
Mereka berdua pun mulai kembali ke dalam shelter berniat kembali berlindung. Sambaran petir pun kembali terjadi ke arah Kota Awan Hitam.
"Jderrr............ Jderrr.............. Jderrr............... " Suara sambaran petir.
Hujan air pun berganti dengan hujan salju, badai hitam pun mulai menerjang ke arah beberapa kota di seluruh Benua yang ada di planet ini. White hole-white hole kembali bermunculan dari balik badai hitam tersebut, fenomena ini telah mengacaukan seluruh kota di lima Benua. Asteroid-asteroid kecil pun mulai berjatuhan membuat pagi tersebut kembali mencekam.
"Duarghhh...... duarghhh....... duarghhh...... " Suara ledakan akibat asteroid yang menghantam beberapa tempat di Kota Awan Hitam.
Kembali ke Bola Ruang Pemberian Putri Naga Kecil.
Mereka berdua pun telah selesai melakukan Metode Kultivasi Ganda tersebut, dan saat ini tengah membersihkan tubuhnya dengan berenang di dalam Danau tersebut tanpa mengenakan sehelai pakaian pun.
"Tidak kuduga watak asli Jendral Es semesum ini, dia benar-benar mengajakku mandi bersama." Gumam Arung.
Saat ini Mitha berada di samping Arung dan sedang berendam bersama di dalam Danau.
"Ternyata Metode yang kau bicarakan itu benar-benar ada, aku merasakan beberapa elemen baru bangkit di dalam tubuh ku,"
"Jadi kapan kita akan menikah Sayang." Ucap Mitha, lalu mulai memeluk leher Arung.
"Uhuk.... uhuk.... uhuk..... " Suara batuk Arung, kesedak tenaga dalam nya sendiri.
"Apa................. "
"Ugh..... Ini pertanyaan yang sangat sulit, bagaimana dengan Shilla, Gisel, dan Mei Mei?" Gumam Arung.
"Wah.... Wajah nya benar-benar mirip dengan pemuda tersebut, Prajurit yang ikut bertarung dengan ku lima tahun yang lalu,"
"Saat ini aku benar-benar jatuh cinta pada Arung." Gumam Mitha, lalu mulai mencium bibir Arung dengan panas nya.
"Ugh.... Syukurlah dia tidak menanyakan nya lagi." Gumam Arung, lalu mereka berdua pun kembali bercumbu dengan panasnya di dalam danau tersebut.
Sebulan kemudian.
Saat ini bangunan-bangunan di Kota Awan Hitam tengah di bangun kembali pasca kerusakan yang terjadi akibat serangan Beast serta bencana alam yang terjadi akibat bangkit nya elemen dewa Arung dan Mitha.
Di salah satu Aula Kantor Prajurit Kota.
Ujian Tahap ketiga di percepat karena saat ini Kekaisaran Dewi Es telah kehilangan banyak Prajurit pasca kejadian tersebut.
"Kemana Pendekar Don Juan itu, kenapa ia tidak datang-datang." Gumam Gisel.
Saat ini Gisel tengah bersiap mengikuti ujian tulis di dalam salah satu aula kantor Prajurit kota bersama Prajurit-Prajurit magang lain nya, tampak bangku tempat Arung seharus nya mengikuti ujian kosong.
"Setelah satu bulan ini aku sudah bisa menerima hubungan mu dengan Jendral Es, tapi kau tetap harus ku hukum." Gumam Gisel, lalu berniat menelpon Arung.
Di dalam bola ruang, di ruang santai.
Tampak Arung tengah duduk di kursi giok di temani Tunangan nya yang sexi Mitha, saat ini mereka tengah menikmati Daging Panggang Raja Siluman Air bersama.
"Ugh.... Tidak kusangka, ternyata Mitha benar-benar seekor Naga, dia bahkan lebih beringas dari pada Putri Naga Kecil,"
"Setiap pagi badan ku remuk semuanya, aku harus menelan lima butir Pil Naga tiap malam nya." Gumam Arung.
Mitha pun lalu mulai menggandeng tangan Arung.
"Ugh.... Tidak lagi, baru semalam,"
"Apa yang di pikirkan oleh Naga Betina ini?" Gumam Arung.
Mitha berniat mencumbu Arung kembali, namun tiba-tiba saja HP milik Arung berbunyi.
"Kring....... Kring.......... Kring......... " Suara HP Arung berdering.
Arung lalu mengeluarkan HP tersebut berniat mengangkat nya, namun Mitha langsung merampas HP tersebut lalu mengangkat nya dan menspeaker kan nya.
"Dasar Pendekar Don Juan, kamu kemana saja sebulan ini,"
"Apa kamu sedang berbulan madu dengan Tunangan Cantik mu, satu jam lagi ujian tulis akan segera di mulai,"
"Kenapa kau tidak datang?" Tanya Gisel.
"Hemmm..... Seperti dugaan ku ternyata Pendekar Tampan ini memiliki gadis lain nya selain aku." Gumam Mitha, tetap tenang dan dewasa karena berusia 150 tahun.
"Gisel.... Kacau mungkinkah Jendral Es akan marah." Gumam Arung, lalu menoleh ke arah Jendral Es.
"Fiuh...... "
"Syukurlah, seperti nya dia menerimanya." Gumam Arung.
Arung pun mulai menjawab pertanyaan Gisel dengan tenang.
"Gisel tenanglah aku tidak akan gagal ujian tulis tersebut, aku memang tidak bisa hadir namun aku akan mencari jalan keluar nya." Ucap Arung.
"Pendekar Don Juan, Shilla titip pesan dengan ku,"
"Setelah ujian ini berakhir kau di suruh kembali ke kediaman keluarga Tiger, Tetua Gigi telah tewas saat insiden Black Hole,"
"Jadi kau harus menghadiri pelantikan Tetua Baru di Kediaman Tiger tersebut." Ucap Gisel.
"Baik Gisel." Ucap Arung.
"Beepp...... Beeppp....... Beeppp...... " Suara HP di matikan.
"Patut Arung mendapatkan julukan Pendekar Don Juan, ternyata gadis yang dekat dengan nya lebih dari satu." Gumam Mitha.
"Pendekar Don Juan... " Ucap Mitha, lalu beranjak ke dapur berniat membuat kan segelas susu Naga.
"Ugh....... Sepertinya dia sedikit kesal, begitu pula dengan Shilla,"
__ADS_1
"Dia pasti marah melihat adegan ciuman tersebut, apa lagi Xiao Mei Mei,"
"Padahal di malam hari nya kami baru saja saling terbuka akan perasaan yang terpendam selama ini." Gumam Arung.
Beberapa saat kemudian, Mitha pun menghidangkan segelas Susu Naga buat Arung. Tampak ia saat ini sedang berpikir keras untuk mengikuti ujian tulis tersebut.
"Tenang lah sayang." Ucap Mitha, lalu mulai memindahkan piring-piring di atas meja ke dapur.
"Sepertinya Mitha mencuri dengar pembicaraan ku dengan Gisel tadi, dia seperti nya memiliki solusi untuk masalah ku kali ini." Gumam Arung.
Mitha pun kembali ke tempat Arung, lalu mengeluarkan sebuah laptop dan modem internet di atas meja.
"Laptop, wah..... Tidak kusangka dia memiliki benda seperti ini,"
"Kukira di dalam otak nya hanya ada meditasi es dan memangsa ku tiap malam nya." Gumam Arung.
"Tenang Sayang, aku akan menghubungi adik ku,"
"Agar kau bisa mengikuti ujian tulis nya dari sini Sayang." Ucap Mitha.
"Benarkah sayang, Terima kasih." Ucap Arung.
"Ya kau harus memberi tahu kan segera kapan kita akan menikah setelah ujian ini selesai." Ucap Mitha, lalu mulai menghidupkan laptop dan berusaha menghubungi Jendral Karna.
Ibu Kota Kekaisaran Dewi Es.
Mansion Milik Jendral Karna.
Saat ini Jendral Karna sedang duduk di sebuah sofa dan sedang di pijat oleh ketiga Komandan yang juga merupakan istri-istri nya.
"Ah..... Setelah peperangan di Kota Awan Hitam, tubuh ku rasanya remuk semua nya." Ucap Jendral Karna.
"Ya remuk lah, kau men summon Pelakor dari Planet Jupiter tersebut." Ucap Komandan Uranus, lalu memijit kuat-kuat kaki Jendral Karna.
"Aduh........ " Teriak kesakitan Jendral Karna.
"Pelan-pelan donk Uranus, kaki ku kan jadi sakit." Ucap Jendral Karna.
"Hatiku lebih sakit saat itu Karna." Ucap Komandan Uranus.
"Ugh.... Kenapa aku merasa bersemangat mendengarkan kata Pelakor itu ya Karna." Ucap Komandan Riri.
"Ugh..... gawat perasaan ku jadi tidak enak." Gumam Jendral Karna.
"Pelakor raksasa yang berdada besar itu membuat ku makin bersemangat memijit mu Karna." Ucap Komandan Amanda.
Komandan Riri dan Komandan Amanda pun mulai memijit bahu Jendral Karna dengan sangat keras berniat menghukum nya.
"Aduh.... Aduh.... Aduh..... " Teriak kesakitan Jendral Karna.
Beberapa saat kemudian suara HP Jendral Karna pun mulai berdering, ketiga Komandan pun menghentikan pijitan keras nya.
"Kring...... Kring..... Kring..... " Suara HP berdering.
Saat ini Jendral Es menghubungi Jendral Karna menggunakan Video Call dari aplikasi whatsapp melalui laptop nya.
"Kakak Kedua, tumben dia video call an,"
"Pasti dia khawatir dengan keadaan ku setelah bertarung melawan Ikan-Ikan Psikopat tersebut, tidak seperti istri-istri ku ini mereka malah kompak menyiksa ku saat ini." Gumam Jendral Karna, saat melihat HP nya.
"Berhenti-berhenti semuanya, Panglima Perang sedang video call an dengan ku." Ucap Jendral Karna.
"Jendral Es, tumben dia Video Call an." Gumam ketiga Komandan lalu berdiri di belakang Jendral Karna karena penasaran.
Jendral Karna pun mulai menjawab panggilan video call dari Kakak Kedua nya.
Tampak di layar HP, Jendral Es terlihat sangat sexi dengan mengenakan daster transparan lalu duduk berduaan bersama dengan tunangan nya.
"Kakak Kedua.... Ternyata dia mencari kamar setelah peperangan besar sebulan yang lalu, bahkan mereka berdua kompak menyamakan warna rambut dan mata nya,"
"Mereka kelihatan seperti ABG yang baru mengenal cinta, ingat umur mu Kakak Kedua." Gumam Jendral Karna.
"Oh..... God..... Aku tidak menyangka Jendral Es benar-benar hot." Gumam Komandan Uranus, dengan ekspresi terkejut.
"Karna aku juga mau bulan madu kembali." Gumam Komandan Riri, lalu menarik-narik baju Jendral Karna.
"So sweat.... Mereka benar-benar pasangan yang sangat serasi." Gumam Komandan Amanda.
"Karna aku ingin minta tolong dengan mu untuk membantu calon Kakak ipar mu mengikuti ujian tulis tersebut, tolong agar dia dapat mengikuti nya secara online melalui laptop ku." Ucap Jendral Es dari dalam Mansion Putri Naga Kecil.
"Kakak kedua, kau kan bisa menghubungi pihak panitia nya langsung,"
"Apa kau ingin pamer denganku saat bermesraan dengan tunangan mu tersebut." Ucap Jendral Karna.
"Ini perintah, awas ya jika kau tidak melaksanakan nya,"
"Akan ku turunkan pangkat mu menjadi Wakil Jendral." Perintah Jendral Es, lalu mematikan Video Call nya.
"Beepp..... Beeppp..... Beepppp..... " Suara Video Call an mati.
"Kakak Kedua........ " Teriak Jendral Karna di dalam hati.
Beberapa saat kemudian Arung pun dapat mengikuti ujian tulis tersebut via online melalui laptop tunangan nya.
"Ha.... ha.... ha.... " Tawa kecil Arung dalam hati.
"Syukurlah aku memiliki Jendral Es." Gumam Arung.
Keesokan Pagi nya.
Selama sebulan ini Mitha selalu mengekor kemana pun Arung pergi di dalam mansion tersebut, saat ini ranah mereka berdua sudah pulih bahkan Jendral Es ranah nya kembali ke masa-masa kejayaan nya dulu di ranah alam malaikat puncak.
"Aku tidak menduga ranah Jendral Es se tinggi ini." Gumam Arung.
Saat ini mereka tengah duduk bermeditasi dan sedang berada di luar Mansion Putri Naga Kecil yaitu di tepian danau. Mereka berdua hendak mengetahui elemen apa saja yang berhasil di bangkitkan setelah metode kultivasi ganda tersebut.
"Kwak..... Kwak..... Kwak..... " Suara Beast gagak yang lagi lewat.
"Baik lah sayang biar aku duluan yang melakukan nya." Ucap Mitha, lalu membalikkan telapak tangan nya.
"Semenjak tinggal berduaan dengan ku dia tiap malam terus menerkam ku, seperti seekor naga yang telah kelaparan selama berpuluh-puluh tahun." Gumam Arung.
Arung saat ini belum mengetahui usia sebenarnya dari Jendral Es tersebut.
"Huft.............. " Suara hembusan nafas panjang Mitha.
Aura berwarna-warni mulai muncul di sekujur tubuh Mitha. Dari telapak tangan nya mulai muncul sebuah bola es lalu berubah menjadi sebuah kumpulan angin lalu berubah lagi menjadi sebongkah tanah lalu berubah kembali menjadi sebuah bola air lalu berubah lagi menjadi api.
"Waw... Elemen Es, angin, tanah, air, dan api.... " Ucap Arung.
Nona Mitha kemudian kembali membangkitkan elemen lain nya.
"Masih ada lagi sayang." Ucap Mitha.
"Huft.................. " Suara nafas panjang Mitha.
Beberapa saat kemudian bola api pun mulai berubah menjadi sebuah bola petir lalu menjadi sebuah bola cahaya yang menyilaukan dan terakhir berubah kembali menjadi sebuah tanaman kecil.
"Hebat kamu Mitha,"
"Elemen Petir, cahaya, lalu tumbuhan,"
"Sudah delapan elemen yang berhasil kamu bangkitkan Mitha." Ucap Arung.
"Tenang sayang aku masih merasakan ada dua buah elemen lagi yang sangat-sangat kuat, akan aku coba bangkitkan sekarang." Ucap Mitha.
Aura berwarna-warni kembali berkumpul di sekujur tubuh Mitha.
"Dua elemen lagi yang sangat kuat, elemen-elemen barusan saja sudah sangat lah kuat." Gumam Arung.
Beberapa saat kemudian sebuah bola kristal bening yang sangat dingin pun mulai muncul dari telapak tangan Mitha. Suhu di sekitar tepian danau pun turun drastis.
"Kenapa dingin sekali ya saat ini." Gumam Arung.
"Elemen apa ini Mitha, aku tidak pernah melihat nya?" Ucap Arung.
"Aku juga tidak tahu Sayang, akan ku coba bangkitkan elemen yang terakhir." Ucap Mitha.
Bola kristal bening yang teramat dingin tersebut pun mulai berubah menjadi sebuah white hole kecil.
"Warppp...... warppp....... warppp....... " Suara yang di timbulkan oleh elemen White Hole tersebut.
"Elemen ini lebih aneh dari yang sebelumnya, Mitha." Ucap Arung.
"Sebaiknya saat aku kembali ke Kota Es Utara aku akan menanyakan perihal kedua elemen ini kepada Matriak Keluarga Dragon Ice ku." Ucap Mitha.
"Oh.... Jadi kampung halaman Mitha itu berada di Kota Es Utara." Gumam Arung.
"Baiklah sayang sekarang giliran mu, jika kau berhasil membangkitkan elemen lebih banyak dari milikku malam ini aku akan memberikan mu kado yang lebih spesial dari pada malam-malam yang sebelum nya." Ucap Mitha.
"Ugh..... Dasar Naga Betina, dia tidak bisa membiarkan Naga Laki-laki nya untuk beristirahat sejenak pun,"
"Tiap malam melakukan nya apa dia tidak bosan." Gumam Arung.
Aura berwarna-warni kembali berkumpul di sekujur tubuh nya, ia pun mulai membalikkan telapak tangan nya tampak sebuah bola air mulai muncul lalu berubah menjadi sebuah api lalu berubah kembali menjadi sebuah api hitam lalu berubah kembali menjadi sebuah tumbuhan kecil lalu berubah kembali menjadi sebongkah es.
"Huft.................... " Suara nafas panjang Arung.
"Elemen air, api, api hitam, tumbuhan, lalu es,"
"Masih lima elemen Sayang, kau pasti bisa ingat kado dari ku malam ini." Ucap Mitha.
"Baiklah akan kucoba kembali." Gumam Arung.
Dari telapak tangan nya mulai muncul sebuah bola angin lalu berubah kembali menjadi sebongkah tanah lalu berubah kembali menjadi sebuah bola petir lalu berubah kembali menjadi sebuah bola cahaya yang menyilaukan lalu berubah kembali menjadi sebuah bola kegelapan.
"Elemen angin, tanah, petir, cahaya, dan kegelapan,"
"Selamat Sayang kita sudah seimbang saat ini, ayo bangkitkan satu elemen lagi dan kau akan segera mendapatkan jakpot nanti malam." Ucap Mitha.
"Huft............ " Suara nafas panjang Arung.
"Sepertinya aku akan cedera parah nanti malam, amukan Naga betina ini pasti akan lebih beringas dari pada malam-malam sebelum nya." Gumam Arung.
Bola berelemen kegelapan di tangan nya pun mulai berubah menjadi sebongkah perak.
"Elemen legenda perak, kau memang pantas menjadi tunangan ku Sayang,"
"Aku ingin segera menikah dengan mu, agar bisa selama nya bersama mu dan kita bisa segera memprogam untuk memiliki anak." Ucap Mitha.
"Ugh.... ternyata dia berniat memiliki anak, pantas saja dia begitu getol menerkam ku tiap malam." Gumam Arung.
"Mitha aku masih merasakan beberapa elemen lagi di dalam tubuh ku." Ucap Arung.
"Apa masih ada lagi, saat ini saja dia dan aku sudah resmi menjadi Ksatria Sage karena telah membangkitkan lebih dari sepuluh buah elemen." Gumam Mitha.
Perak yang melayang tersebut pun mulai berubah menjadi sebuah api berwarna ungu.
"Itu api legenda api beku berwarna ungu." Ucap Mitha.
"Api ini pasti bangkit saat aku berbagi essensi dengan Xiao Mei Mei." Gumam Arung, teringat saat api ungu yang hangat membungkus tubuhnya dan Xiao Mei Mei di malam membara tersebut.
Beberapa saat kemudian api ungu pun mulai berubah menjadi gumpalan awan hitam yang mengalirkan percikan petir berwarna merah.
"Elemen apa lagi ini?" Gumam Mitha.
Gumpalan awan hitam pun mulai berubah menjadi sebuah batu yang terbakar api hitam, lalu berubah menjadi sebuah Black Hole kecil.
"Warppp.... warppp..... warppp..... " Suara yang di timbulkan akibat Black Hole tersebut.
"Apa itu, ada tiga elemen yang tidak aku ketahui." Gumam Mitha.
"Fiuh...... " Ucap Arung.
Beberapa menit kemudian masih di tempat yang sama.
"Sayang, adik ku Karna mengatakan agar aku segera kembali ke Ibu Kota karena bencana White Hole beberapa minggu yang lalu menyebabkan tindak kriminalitas meningkat,"
"Sebaik nya kita segera keluar dari sini dan melanjutkan bulan madu kita di Ibu Kota." Ucap Mitha.
"Kebetulan sekali aku harus kembali pulang ke kediaman Tiger mengikuti pelantikan Tetua baru, aku pun turut berduka akibat kematian Tetua Gigi." Gumam Arung.
"Baiklah Sayang." Ucap Arung.
"Aku pun ingin membalas tamparan Gadis Psikopat tersebut, nanti kau menonton saja ya Sayang,"
"Jangan ikut campur aku sekalian ingin mencoba kemampuan Kipas Dewi Es Surgawi ini,"
"Ini adalah perintah." Perintah Jendral Es.
"Siap Jendral." Ucap Arung.
__ADS_1