Pendekar Setengah Naga

Pendekar Setengah Naga
Bangkitnya Jiwa Ular Jeni dan Arung Bagian Akhir.


__ADS_3

-[Dunia di Dalam Dantian Jeni]-


Kesadaran milik Jeni pun mulai terhisap masuk ke dalam Dunia Ular Petir Bertanduk Sembilan tersebut, tampak Gadis Penurut itu sedang berada di sebuah padang rumput, hujan pun mulai mengguyur dengan derasnya.


"Byurrrr.......... " Suara hujan deras.


"Dimana aku, bukankah tadi aku sedang bersama Bos di dalam kamar, kenapa tiba-tiba aku bisa berada di Padang Rumput ini." Gumam Gadis Penurut tersebut.


Beberapa saat kemudian sambaran Petir Peledak mulai menyambar ke segala penjuru.


"Duargh........ Duarghh........ " Suara ledakan akibat sambaran petir tersebut.


Jeni pun mulai memasang perisai kultivasi berelemen petir di sekitar nya.


"Ugh... Cuaca di Padang Rumput ini begitu ekstrim, tempat apa sebenarnya ini?" Gumam Jeni.


Beberapa menit kemudian petir-petir tersebut mulai menyambar ke satu titik saja, sehingga menyebabkan sebuah ledakan yang begitu besar dan dahsyat.


"Duarghhhh.... " Suara ledakan yang memekakkan telinga.


"Ugh..... Telingaku, rasanya mau meledak." Gumam Jeni sambil menutup ke dua belah telinga nya.


Dari arah ledakan tersebut seekor Ular Petir Bertanduk Sembilan seukuran Black Hole Dragon pun muncul kemudian mulai mengaum.


"Aurghhhh......... " Suara raungan Ular Petir tersebut kembali memekakkan telinga di hari yang di guyur hujan tersebut.


"Akh.... Telingaku." Teriak Jeni kesakitan.


Ular Petir itu pun menoleh ke arah Jeni, sebaliknya Gadis Penurut itu pun menoleh ke arah makhluk buas tersebut.


"Ular raksasa, di mana aku sebenarnya, apa ini adalah sarang nya?" Gumam Jeni saat melihat Ular tersebut.


Tak lama berselang aura petir yang meluap-luap pun muncul di sekitar nya, makhluk tersebut pun mulai menjelma ke wujud Manusia Beast nya.


"Bagaimana mungkin, kau sangat mirip denganku." Ucap Jeni saat melihat wujud Manusia Beast tersebut.


"Ular muda, namaku adalah Vanisa Thunder Dragon." Ucap Vanisa lalu mulai menerjang ke arah Jeni dengan tangan kosong.


"Apa... Kenapa dia langsung menyerangku, setelah memperkenalkan dirinya." Gumam Jeni sambil bertahan dari serangan tangan kosong tersebut.


"Dap... Dup..... Dap..... "


"Dap....Dup..... Dap...... " Suara saat tangan mereka saling beradu.


Jeni dan Vanisa sama-sama berada di ranah alam raja puncak namun kekuatan Vanisa jauh di atas Jeni.


"Ugh... Pukulan-pukulan nya begitu berat." Gumam Jeni sambil menahan pukulan-pukulan berat milik Vanisa.


"Aku akan bermain-main sebentar dengan nya." Gumam Vanisa.


-[Dunia Ular Api Sembilan Warna Bertanduk Sembilan]-


Arung dan Zephyr masih terus bertarung selama tiga hari tiga malam, terlihat mereka berdua masih belum kelelahan. Kekuatan milik Komandan Don Juan tersebut seimbang dengan kekuatan dari Jiwa Ular nya tersebut.


"Ugh.... Jika bertarung tanpa senjata aku akan susah untuk mengalah kan nya." Gumam Arung.

__ADS_1


Tak lama berselang, sebuah suara samar-samar kembali terngiang di dalam dunia tersebut.


"TERIAKAN TERATAI KEBIJAKSANAAN, KAU AKAN MEMPEROLEH SENJATA PALU KEBIJAKSANAAN." Ucap Jendral Api.


"Suara siapa itu?" Ucap Zephyr sambil terus memukul ke arah Arung.


"Terima kasih Jendral." Ucap Arung kemudian mulai berteleport agak menjauh dari Zephyr.


"Blitzzzz........... " Suara jurus teleportasi milik Arung.


Dalam satu kedipan mata, ia pun berpindah tempat agak jauh dari Zephyr, kemudian mulai meneriakkan dua patah kata.


"TERATAI KEBIJAKSANAAN." Teriak Arung.


Sebuah martil emas menyerupai Palu Emas Hitam Surgawi melesat dari angkasa menuju ke genggaman tangan Arung.


"Apa.... " Gumam Zephyr.


"Itu senjata di alam jiwa, bagaimana dia bisa memiliki nya." Ucap Zephyr kemudian mulai menembak kan rentetan api sembilan warna dari kedua belah telapak tangan nya.


"Kau kalah kali ini Zephyr." Gumam Arung kemudian kembali berteleport ke belakang punggung Zephyr.


"Blitzzzz........ " Suara jurus teleportasi milik Arung.


Dalam satu kedipan mata Arung kembali berpindah tempat ke belakang punggung Zephyr, tanpa basa-basi ia pun mulai menghantam punggung Jiwa Ular nya tersebut.


"Duagh............ " Suara hantaman Palu Emas yang menyebabkan ranah jiwa nya turun drastis menjadi ranah alam bumi puncak.


"Akhhhh........... " Teriak Zephyr.


"Duagh........... " Suara hantaman Palu Emas yang menyebabkan ranah jiwa nya kembali turun menjadi ranah alam lautan puncak.


Zephyr pun oleng dan tersungkur ke tanah, Arung hendak menghabisi nya, namun manusia Beast tersebut mencegah nya.


"Tunggu dulu Arung, aku mengaku kalah, aku akan setia kepada mu." Ucap Zephyr sambil menunduk dan memberi hormat.


Arung pun menghentikan serangan nya.


"Kau bisa memanggil namaku untuk mengeluarkan kemampuan Jiwa Ular Api Sembilan Warna mu." Ucap Zephyr.


"Baiklah, untuk sementara aku percaya padamu,"


"Bagaimana caranya aku kembali ke tubuhku Zephyr?" Tanya Arung.


"Sebaiknya Tuan jangan kembali dulu, kasian Nona yang bersama Tuan dia sedang bertarung di Dunia Ular Petir Bertanduk Sembilan.


"Jeni..... Gawat, aku harus segera menolong nya." Ucap Arung.


"Kalau begitu ayo kita pergi ke tempat nya Tuan." Ucap Zephyr kemudian memegang bahu Arung.


Dalam sekejap mata mereka berdua pun berpindah ke dalam Dunia Ular Petir.


-[Dunia Ular Petir Bertanduk Sembilan]-


"Dup.......... " Suara saat tapak kaki Arung dan Zephyr mendarat di atas tanah.

__ADS_1


Terlihat di kejauhan Vanisa telah mencekik Jeni dan mengangkat nya, Arung pun segera melemparkan Palu Emas ke arah Vanisa.


"Whussss........... " Suara hempasan angin saat Palu Emas tersebut mulai membesar.


Sebuah Palu Raksasa menghantam Vanisa hingga Manusia Beast tersebut oleng dan tersungkur jatuh kemudian ranah nya mulai turun drastis.


"Akh........... " Teriak Vanisa kesakitan.


Jeni yang sudah cedera sangat parah pun mulai melihat ke arah Bos Arung, air mata nya pun mulai menetes.


"Bos..... " Ucap Jeni kemudian terduduk lemas karena sudah kehabisan tenaga dalam nya sejak tadi.


Zephyr dan Arung pun melesat dengan cepat ke arah Jeni.


"Naga, kenapa dia bisa masuk ke Dunia Ular." Gumam Vanisa lalu kembali bangun.


"Menyerah lah Ular Petir, jika tidak aku dan Tuanku akan membunuh mu." Ucap Zephyr.


Sementara itu Arung langsung duduk kemudian menyalurkan tenaga dalam nya untuk membantu Jeni.


"Ular Api Sembilan Warna, ugh.... Bagaimana ini,"


"Aku pasti kalah jika melawan mereka." Gumam Vanisa.


Ia pun kemudian berlutut di hadapan Jeni, lalu mulai menyatakan kesetiaan nya.


"Aku akan setia kepadamu Jeni, jika kau butuh bantuan ku panggil saja namaku Vanisa Thunder Snake." Ucap Vanisa.


Beberapa menit kemudian Arung dan Jeni pun mulai bangkit dari meditasi nya.


"Zephyr bagaimana cara nya agar kami berdua dapat kembali ke tubuh kami?" Tanya Arung.


"Baiklah Tuan, aku akan mengembalikan kalian sekarang." Ucap Zephyr kemudian mulai mengayunkan lengan nya Arung dan Jeni pun kembali ke tubuh nya masing-masing.


-[Di Dalam Kamar]-


Arung dan Jeni pun mulai membuka kedua belah mata nya, ternyata tiga hari di dalam dunia dantian tersebut memakan waktu tiga bulan di dalam dunia nyata.


"Bos seperti nya aku bermimpi, bertarung dengan seorang Manusia Beast." Ucap Jeni lalu duduk bersandar di atas ranjang tersebut.


"Itu bukan mimpi Jeni, seperti nya kita membangkitkan elemen baru." Ucap Arung.


"Coba kau panggil nama Jiwa Ular mu." Ucap Arung.


"VANISA THUNDER SNAKE." Ucap Jeni.


Aura petir pun mulai muncul di sekujur tubuh nya, tenaga dalam Jeni pun mulai meluap-luap.


"Ugh..... Benar Bos, tenaga dalam ini sama seperti yang di miliki Manusia Beast tersebut." Ucap Jeni.


"Baiklah Jeni, walaupun ranah mu berada di ranah Alam Raja puncak, namun kekuatan mu setara dengan kultivator di ranah Alam Bumi." Ucap Arung lalu bangun dan beranjak ke luar dari dalam kamar tersebut.


"Ugh.... Bencana yang jadi berkah, keputusan ku tepat untuk menjadi anak buah nya Bos." Gumam Jeni kemudian mulai mengekor Bos nya ke luar.


TO BE CONTINUED.........

__ADS_1


[MOHON VOTE DAN LIKE NYA AGAR NOVEL INI TETAP TERBIT ON TIME CC NOVELIS JALANAN].


__ADS_2