Pendekar Setengah Naga

Pendekar Setengah Naga
Serangan Ikan Ikan dari Langit Bagian Akhir.


__ADS_3

Kembali ke langit di Atas Stadium Kota Awan Hitam


"Byurrrr...................." Suara hujan deras.


Duyung api milik Jendral Karna mulai menembak kan serangan bola api hitam berukuran raksasa ke arah Ikan Koi Langit Surgawi Raksasa tersebut.


"Duarghhh.............. " Suara ledakan akibat bola api hitam raksasa yang menghantam tubuh makhluk tersebut.


Makhluk itu pun mulai mengalir kan elemen air di sekujur tubuh nya lalu elemen petir sesudah nya.


"Dzzitt........... Dzzitt............ Dzzitt....... " Suara percikan petir yang keluar dari tubuh nya.


Ikan Koi Langit Surgawi Raksasa pun mulai mengibas kan ekor nya ke arah Duyung Api dan Jendral Karna yang sedang melayang tersebut, sebuah bilah pedang raksasa berelemen air petir menerjang ke arah mereka.


"Ugh.... Ikan yang bersemangat sekali." Gumam Madonna.


"Duarghhh............. Duarghhh....... " Suara ledakan akibat serangan elemen angin tersebut.


Beberapa saat sebelum terkena serangan tersebut, Duyung api pun sempat memasang perisai kultivasi api sehingga ia hanya terpental dan terluka sedikit.


"Kau tidak apa-apa Madonna?" Tanya Jendral Karna.


"Berhenti memanggilku Madonna panggil aku ratu, Jendral Tampan." Jawab Duyung Api.


"Fiuh...... Sepertinya Ratuku baik-baik saja." Gumam Jendral Karna.


"Baik Ratuku." Ucap Jendral Karna.


"Semoga saja setelah peperangan ini Madonna lupa akan permintaan nya sebelum nya, aku khawatir istri-istri ku akan membunuh ku." Gumam Jendral Karna.


Sebuah sambaran halilintar biru melesat dari bawah lalu mengenai telak Ikan Koi Langit Surgawi tersebut.


"Duarghhh.............. " Suara ledakan akibat serangan tersebut.


Ternyata itu adalah Jendral Catherine dan Burung Elang Petir nya,


"Aurghhhh............... " Suara raungan Ikan Koi Langit Surgawi.


Makhluk itu pun murka lalu menembakkan semburan air dari mulutnya ke arah Jendral Catherine.


"Brusshhhh............... " Suara semburan air raksasa dari mulut Ikan Koi Langit Surgawi tersebut.


Dengan lincah nya Jendral Catherine pun menghindari semburan air tersebut.


"Syukurlah Catherine baik-baik Saja, aku bisa sedikit tenang saat ini." Gumam Jendral Es.


"Gatot, tembakkan bola api raksasa ke arah Ikan Koi tersebut." Perintah Jendral Es.


Naga Salju Api pun mulai menembak kan sebuah bola api raksasa ke arah Ikan Koi Langit Surgawi Raksasa tersebut yang tengah mengamuk.


"Duarghhh......... Duargh...... Duargh....... " Suara ledakan akibat tembakan bola api tersebut.


Saat ini Ikan Koi Langit Surgawi Raksasa telah terluka sedikit.


"Aurghhh.............. " Suara auman ikan koi Langit Surgawi Raksasa tersebut.


Ikan Koi Langit Surgawi Raksasa pun kembali melesatkan beberapa sambaran petir yang mengarah ke segala penjuru dari tubuhnya.


"Gawat....... " Gumam Jendral Es, lalu mengayunkan tangannya.


Sebuah perisai kultivasi es raksasa pun mulai muncul dan melindungi nya dan juga Naga Salju Api nya.


"Duargh..... Duarghhh......... Duarghhh...... " Suara ledakan akibat serangan dahsyat Ikan Koi Langit Surgawi Raksasa tersebut.


Akibat serangan Ikan Koi Langit Surgawi Raksasa tersebut Burung Elang Petir pun terpental ke arah Tribun Penonton.


"Duargh..... Duargh..... " Suara ledakan yang terjadi saat sambaran petir mengenai Burung Elang Petir lalu menabrak Tribun Penonton.


Jendral Catherine dan Burung tersebut pun terpental hingga menghancurkan sebagian besar Tribun Penonton.


"Uhuk.... Uhuk.... Uhuk.... " Suara Batuk Jendral Catherine.


"Akh........ Sayap ku." Ucap Bernardo.


"Kau masih sanggup Bernardo?" Tanya Jendral Catherine.


"Tenang saja Catherine, ayo kita jadikan ikan itu ikan Panggang." Ucap Bernardo, lalu kembali melesat terbang ke atas langit.


Tak terasa hari sudah menjelang malam saat ini, di karena kan akan munculnya fenomena Dragon Moon di malam ini hujan pun berhenti turun di langit Kota Awan Hitam. Langit saat ini sudah mulai di penuhi oleh bintang-bintang, tampak bulan sabit merah pun mulai terlihat dan memancarkan sinar kemerahan nya.


"Hei kalian jangan lupakan aku." Teriak Jendral Wilson, sambil melesat terbang dengan Salamander Petir nya.


"Kau selalu bersemangat seperti biasa nya Wilson, padahal kau tidak mungkin menang melawan ikan gede tersebut." Ucap Yukata Yuko.


"Tenang saja Yuko, kita tidak sendiri lihat di sana ada Catherine dan Mitha juga Jendral Play Boy Karna." Ucap Jendral Wilson.


"Syukurlah Wilson tidak apa-apa." Gumam Jendral Es, saat menoleh ke arah Wilson.


"Wilson, Catherine, dan Karna kalian tahan makhluk ini untuk beberapa saat aku akan mengerahkan jurus Tapak Salju Raksasa." Teriak Jendral Es.


"Siap Panglima." Teriak ketiga Jendral Kompak.


Jendral Es dan Naga Salju Apinya pun mundur beberapa meter, Ia dan Beast Kontrak nya mulai mengumpulkan energi di dalam tubuh nya. Aura putih dingin pun mulai menyelimuti tubuh mereka.


"Aurghhhh............... " Auman Ikan Koi Langit Surgawi tersebut, lalu melesat kan sebuah bola berelemen air dan petir raksasa.


"Yuko, kerahkan segenap kemampuan mu." Perintah Jendral Wilson, sebuah Halilintar ungu pun melesat ke arah bola air petir tersebut.


"Bernardo kepakkan sayap mu kembali." Perintah Jendral Catherine.


Sebuah halilintar biru melesat dari kepakkan sayap Burung Elang Petir milik Jendral Catherine.


"Ratu ku kita juga jangan mau kalah dengan mereka berdua, semburkan lagi bola api hitam yang menggairahkan tersebut dari mulut panas mu My Queen." Perintah Jendral Karna.


"Kau pasti terlena oleh gombalan ku kan Madonna." Gumam Jendral Karna.


"Akhirnya kau menyadari kecantikan ku kan Karna." Gumam Madonna, lalu melesatkan Bola Api Hitam raksasa kembali.


"Duarghhh................................ " Suara ledakan dahsyat akibat beberapa elemen yang saling beradu.


"Groaghhhhh................ " Suara getaran bangunan-bangunan di sekitar ledakan.


"Whusss...................... " Suara hempasan angin yang dahsyat di sekitar ledakan.


Rumah Sakit Awan Hitam.


Jam. 19.30 malam, di langit tampak bulan sabit berwarna merah darah yang menandakan fenomena Dragon Moon akan segera muncul. Saat ini Bongpal tengah menembak kan beberapa bola api ke arah Ikan-Ikan Koi Langit Surgawi yang tengah mengamuk tersebut.


"Duarghhh......... Duargh......... Duarghhh......... " Suara ledakan akibat serangan bola api Bongpal.


"Kasihan juga Kakek Mesum itu, dia sudah dari tadi terus menerus menembak kan bola api ke arah gerombolan Ikan-Ikan tersebut." Gumam Nyonya Vinic.


"Bongpal kau mau gantian dengan ku menghadapi Ikan-Ikan Koi tersebut?" Tanya Nyonya Vinic.


"Tidak apa-apa Matriak aku masih sanggup menahan Ikan-Ikan ini." jawab Bongpal.


"Wah...... Suamiku keren banget, pilihan ku tepat kali ini." Gumam Tabib Syu.


"Fiuh....... "


"Dia pasti bergaya di depan istri nya, dasar Kakek Mesum." Gumam Nyonya Vinic.


Saat ini di dalam kamar tempat Xiao Mei Mei dan Shilla di rawat, tampak Nyonya Vinic tengah memasang sebuah Perisai Kultivasi Api dan Tabib Syu pun duduk di kursi di sebelah nya di ranjang Shilla.


"Hah............. " Suara nafas panjang Nyonya Vinic.


"Kalau Shilla pingsan aku maklum karena ranah kultivasi nya yang masih rendah, namun kau Mei-Mei ranah mu saat ini sekuat Jendral-Jendral di Kekaisaran Dewi Es ini,"


"Apa pernyataan Jendral Es itu benar-benar membuat mu sedepresi ini, Mei Mei." Gumam Nyonya Vinic.


"Kasian Nyonya Vinic, dia pasti sedih melihat anak dan sahabat nya telah terluka parah gara-gara pernyataan Jendral Es tersebut,"


"Aku bingung kenapa teman Nyonya Vinic ikut pingsan dan terluka mendengar pernyataan Jendral Es tersebut,"


"Mungkinkah Mei Mei memiliki orientasi menyukai sesama jenis, dan diam-diam dia ternyata menyukai Jendral Es?" Gumam Tabib Syu, lalu menggeleng-geleng kan kepala nya.


"Ternyata rumor yang beredar mengenai Jendral Es adalah seorang Love Killer benar adanya, hari ini aku sudah melihat nya dengan mata kepala ku sendiri kekacauan akibat statemen nya tersebut." Gumam Tabib Syu.


"Duargh........ Duargh...... Duargh...... " Surat ledakan dari luar.


Saat ini Bongpal tengah menghadapi serangan beberapa Ikan Koi Langit Surgawi di pinggiran dinding yang telah berlubang.


"Huft................. " Suara nafas panjang Bongpal.


"Makhluk-makhluk ini tidak ada habis-habis nya, padahal aku berniat membuat anak dengan Syu Yan di kota ini,"


"Sepertinya aku harus menunda nya dulu, padahal aku sudah membeli beberapa obat kuat semalam di Paviliun Obat." Gumam Bongpal, sambil melesatkan beberapa tembakan bola api ke arah Ikan Koi yang ada di sekitar nya.


"Matriak bersabar lah mereka hanya syok, setelah di infus dan di berikan beberapa obat-obatan mereka pasti akan segera bangun beberapa saat lagi." Ucap Syu Yan.


"Terima kasih Syu Yan." Ucap Matriak.


"Tabib Syu merupakan seorang wanita yang sangat baik kenapa dia sampai bisa menikah dengan Bongpal Mesum itu yach." Gumam Nyonya Vinic.


Beberapa saat kemudian Shilla dan Xiao Mei Mei pun perlahan membuka mata nya.


"Ugh...... Kepalaku sakit sekali, dimana aku?" Gumam Xiao Mei Mei, lalu bangun dan duduk di atas ranjang nya.


"Duargh....... Duargh...... Duargh........ " Suara ledakan dari luar.


"Di mana aku saat ini?" Tanya Shilla.


"Kau berada di Rumah Sakit Shilla." Jawab Matriak.


"Syukurlah Shilla kamu sudah bangun, Matriak sangat mencemaskan mu sejak tadi." Ucap Tabib Syu.


"Ia Tabib Syu saat di arena tadi aku kehilangan kontrol tenaga dalam ku." Ucap Shilla, lalu bangun dan duduk di atas ranjang.


"Duarghhh....... Duarghhh......... Duargh...... " Suara ledakan dari luar.


Xiao Mei Mei dan Shilla pun mengamati ke sekeliling ruangan lalu menyadari saat ini tengah terjadi kekacauan yang besar di Kota Awan Hitam.


"Mei-Mei kenapa kau bisa pingsan seperti ini, kalau Shilla aku anggap itu wajar karena ranah nya masih terlalu rendah,"


"Tapi kau Mei Mei, kau adalah yang terkuat di antara kami saat ini?" Tanya Nyonya Vinic.


"Sepertinya Vinic mulai curiga dengan hubungan terlarang ku dengan Calon Menantu nya, aku harus segera mencari alasan yang tepat." Gumam Xiao Mei Mei.


"Mungkin karena aku melatih Jurus Kitab Sembilan Api Vin, mungkin saat di arena tadi tubuh ku sedikit agak korslet." Ucap Xiao Mei Mei.


"Oh.... Syukurlah tenyata Mei Mei merupakan seorang wanita yang normal, aku sampai takut dekat-dekat dengannya." Gumam Tabib Syu.


"Duarghhh....... Duargh....... Duargh....... " Suara ledakan dari luar.


"Ma... Ma siapa yang memenangkan pertandingan di arena tersebut tadi sore?" Tanya Shilla.


"Benar, apakah yayank ku memenangkan pertandingan nya,"


"Dan masalah pernyataan Jendral Es walau pun itu sangat-sangat pahit aku harus bisa tegar menghadapi nya ." Gumam Xiao Mei Mei.


"Awas kau Arung, kita bertiga akan membuat perhitungan nanti saat kita bertemu." Gumam Shilla.


"Benar Shilla, mama sampai lupa,"


"Bentar ya mama putar kembali live streaming pertandingan tadi sore." Ucap Nyonya Vinic.


Sementara itu Bongpal masih melesat kan tembakan bola api ke arah Ikan-Ikan Koi Langit Surgawi yang berniat menyerang mereka.


"Hah...... " Suara nafas panjang Bongpal.


"Apa mereka tidak mengetahui situasi saat ini, saat ini kita tengah berperang nona-nona." Gumam Bongpal, lalu terus melesat kan tembak kan bola api.


Nyonya Vinic pun mulai memutar video siaran ulang pertandingan tersebut, tampak raut wajah Shilla dan Xiao Mei Mei sangat penasaran dan antusias. Video tersebut pun mulai di putar kembali di saat-saat Jendral Es mulai mengeluarkan statemen yang menggoncang Benua Es Api tersebut.


"Ugh....... Pil Awet Muda bahkan dia memberikan nya sebanyak lima buah, Arung aku kan juga sangat menginginkan benda tersebut,"


"Hiks..... Hiks.... Hiks.... " Gumam dan Tangis kecil Nyonya Vinic di dalam hati.


"Apa....... Dia memberikan dua buah senjata dewa kepada Jendral Es, dan aku hanya di berikan Pedang Iblis Putih Kembar,"


"Calon Suami ku kenapa kau begitu, aku kan Calon Istri Kedua mu dan Jendral Es kan Calon Istri Ketiga mu,"


"Walau pun aku terpaksa menerima Jendral Es, tapi kan kau harus adil Calon Suami ku." Gumam Shilla, raut wajah nya pun terlihat sedih.


Beberapa saat kemudian adegan ciuman panas antara Arung dan Jendral Es pun terjadi yang melelahkan seisi Benua Es Api tersebut.


"Ugh...... Jantung ku, kenapa sesakit ini." Ucap Shilla, lalu menoleh ke arah mama nya.


"Ma.... Ma....... " Ucap Shilla, lalu kembali tak sadar kan diri.


"Shilllaaaa....... " Teriak Matriak.


"Tenang Matriak biar aku yang mengurus Shilla, tenangkan diri mu Matriak." Ucap Tabib Syu, lalu beranjak mengobati Shilla.

__ADS_1


Tabib Syu pun mengalirkan tenaga dalam nya ke dada Shilla, berusaha menstabilkan aliran tenaga dalam nya yang kacau kembali.


"Tabib Syu tolonglah putriku." Ucap Nyonya Vinic, lalu mengalirkan air mata di pipinya.


"Hiks.... Hiks.... Hiks..... "


"Shilla bertahanlah." Tangis dan Ucap Nyonya Vinic.


Tampak dari mulut Shilla darah hitam keluar perlahan, dan denyut nadinya mulai melemah.


Di saat yang sama saat Nyonya Vinic dan Tabib Syu sedang mengobati Shilla.


"Arung kau mencium Jendral Es dengan panasnya, apa kau lupa semalam kau baru saja hinggap padaku,"


"Setelah sari bunga matahari ku kau ambil, kau hinggap ke bunga es tersebut." Gumam Xiao Mei Mei, lalu meneteskan air mata.


"Arung apa yang semalam terjadi di tepian Danau Mematikan kurang membara, setelah kita melakukan nya rerumputan dan pepohonan di sekitar kita hangus terbakar,"


"Ugh..... Dada ku sesak." Gumam Xiao Mei Mei, lalu tak sadar kan diri.


Dari mulut Xiao Mei Mei terlihat banyak sekali darah hitam yang keluar.


"Hah........ Shilla... Shilla, sepertinya kau terlalu mencintai Arung." Gumam Bongpal, lalu menoleh ke arah Xiao Mei Mei.


"Lho........kenapa Mei Mei juga pingsan?" Gumam Bongpal, sambil melesatkan tembakan bola api.


"Syu Yan bergegas lah menolong Xiao Mei Mei, sepertinya dia pingsan juga." Ucap Bongpal.


"Apa.... Ternyata Mei Mei mencintai Jendral Es, bathin nya tidak kuat menerima kenyataan tersebut, sehingga aliran tenaga dalam nya menjadi terbalik." Gumam Tabib Syu, lalu beranjak ke ranjang Xiao Mei Mei.


Kondisi Shilla saat ini sudah stabil setelah mendapat kan pengobatan dari Tabib Syu.


"Hah...... Untung saja kau teman baik ku, aku tidak akan mempermasalahkan hubungan mu dengan Arung,"


"Ini juga salah ku saat itu menyuruh Xiao Mei Mei mengantarkan Pendekar Don Juan tersebut ke Kota Awan Hitam." Gumam Nyonya Vinic, lalu beranjak ke ranjang Xiao Mei Mei berniat membantu Tabib Syu.


"Matriak kita harus membuka pakaian nya sedikit, agar aku mudah mengobati nya." Ucap Tabib Syu.


"Baik Tabib Syu." Ucap Nyonya Vinic, lalu membuka sedikit baju Xiao Mei Mei sehingga leher putih dan sedikit dada nya kelihatan.


"Membuka pakaiannya, wah.... Kesempatan nih, aku pernah berusaha mengintip Mei Mei tapi tidak pernah berhasil." Gumam Bongpal, lalu menoleh kebelakang dan melihat leher putih Xiao Mei Mei.


"Croottt..... " Suara semburan darah dari hidung Bongpal.


Salah satu Ikan Koi Langit Surgawi pun menyadari kelengahan BBongpal tersebut lalu mengalirkan elemen air dan juga mengalirkan elemen petir ke sekitar tubuh nya.


"Dzzitt....... Dzzitt...... Dzzitt..... " Suara percikan petir di tubuh Ikan Koi Langit Surgawi tersebut, lalu menerjang ke arah Bongpal dan menghantam nya.


"Akh............. " Teriakan Bongpal, saat tersetrum petir tersebut, dan terpental ke arah pintu masuk.


"Duargh...... " Suara tubuh Bongpal saat menghantam dinding di samping pintu masuk.


"Uhuk.... Uhuk..... Uhuk..... " Suara batuk Bongpal, lalu mengeluarkan darah.


"Suami ku." Teriak Tabib Syu, lalu berlari ke arah Bongpal dan memeluk nya berniat melindunginya dari serangan Ikan Koi Langit Surgawi tersebut.


"Hiks.... Hiks.... Hiks..... " Tangis Tabib Syu.


"Aurgh............ " Raungan Ikan Koi Langit Surgawi tersebut, lalu menerjang ke arah Bongpal.


"Bongpal, dia pasti lengah." Gumam Matriak, lalu melesatkan Tapak Pembunuh ke arah Ikan Koi Langit Surgawi tersebut.


Sebuah Pedang berelemen api melesat dari telapak tangan Matriak, dan menusuk tubuh Beast tersebut hingga terkapar.


"Brukkk............ " Suara tubuh Ikan Koi yang terjatuh ke lantai.


Kerumunan Ikan Koi di luar pun berniat menerobos masuk ke dalam, Matriak langsung melesat ke pinggiran dinding yang berlubang tersebut lalu melesat kan beberapa tembakkan bola api.


"Duarghhh........ Duargh..... Duargh..... " Suara ledakan akibat serangan Matriak.


"Tabib Syu tolong urus putri ku dan teman baik ku." Ucap Nyonya Vinic.


"Baik Matriak." Ucap Tabib Syu.


"Kau tidak apa-apa Bongpal?" Tanya Tabib Syu.


"Setelah kamu peluk tadi, luka ku pun pulih dengan sendirinya, Syu Yan." Jawab Bongpal, lalu memeluk Tabib Syu.


"Baguslah kalau begitu aku akan kembali merawat Xiao Mei Mei." Ucap Tabib Syu, lalu kembali ke ranjang Xiao Mei Mei.


"Lukaku ini sepadan dengan hasil yang kudapat kan yaitu melihat sedikit dada putih mulus orang kedua tercantik di Desa Tiger." Gumam Bongpal, lalu beranjak membantu Matriak.


Sesaat kemudian Bongpal pun tiba dan berdiri di samping Matriak, terlihat ada sedikit mimisan tersisa di hidung Bongpal.


"Sudah kuduga dia lengah karena melihat dada mulus Xiao Mei Mei, dasar mesum,"


"Tabib Syu terlalu polos sehingga menikahi Serigala Jadi-Jadian ini,"


"Kebiasaan Don Juan Arung pasti karena didikan Serigala Jadi-Jadian ini." Gumam Nyonya Vinic, lalu kembali melesat kan beberapa tembak kan bola api ke arah makhluk-makhluk tersebut.


"Duarghhh........ Duargh..... Duargh..... " Suara ledakan akibat serangan Matriak.


"Kenapa Matriak menatap ku seperti itu, mungkinkah dia sudah menyadari ketampanan ku saat ini?" Gumam Bongpal.


Sementara itu Tabib Syu kembali mengalirkan tenaga dalam nya ke dada Xiao Mei Mei, berniat menstabilkan aliran tenaga dalam nya yang kacau.


"Hah.............. " Suara hembusan nafas panjang Tabib Syu.


"Wajah Xiao Mei Mei ini begitu cantik dan mulus, kenapa dia bisa menyukai Jendral Es sampai segini nya." Gumam Tabib Syu.


Tabib Syu telah gagal paham terhadap Xiao Mei Mei dan mengira Xiao Mei Mei menyukai Jendral Es.


Kembali ke Pertarungan Para Jendral melawan Ikan Koi Langit Surgawi raksasa.


Jam 21.30 malam


"Aurghhhhhh.................. " Raungan Ikan Koi Langit Surgawi tersebut kembali memecah kan keheningan malam ini.


Tampak ke tiga Jendral dan Beast Kontrak nya sudah sangat kelelahan dan juga terluka parah.


"Aku seperti nya sudah tidak kuat lagi." Gumam Jendral Catherine.


Ikan Koi Langit Surgawi Raksasa tersebut kembali mengibaskan ekor nya ke arah para Jendral tersebut. Sebuah bilah pedang air ber petir raksasa melesat ke arah mereka.


"Whuss............. " Suara Pedang Air Berpetir Raksasa saat sedang melesat.


Ketiga Jendral pun menghindari nya dengan bersusah payah.


"Duarghhh......... " Suara ledakan akibat serangan tersebut.


"Hah..... Hah...... Hah...... " Suara nafas terengah-engah Jendral Catherine.


"Bernardo ayo kita lesatkan serangan terakhir kita, sepertinya aku sudah tidak kuat lagi." Perintah Jendral Catherine.


"Baik Catherine." Ucap Bernardo, lalu mulai mengepak-ngepak kan sayap nya berniat menyerang.


"Whuss...... Whus..... Whus..... " Suara Kepakkan Sayap Burung Elang Petir.


Aura elemen petir pun mulai berkumpul di sekitar tubuh Catherine dan Beast Kontrak nya, beberapa saat kemudian sebuah sambaran halilintar biru yang sangat dahsyat melesat ke arah Ikan Koi Langit Surgawi Raksasa tersebut.


"Sepertinya Catherine ingin bertarung habis-habisan, ia tidak menyukai kekalahan." Gumam Jendral Wilson.


"Yuko kita juga harus membantu Catherine." Perintah Jendral Wilson.


"Tentu saja Wilson." Ucap Yukata Yuko, lalu mulai mengumpulkan energi petir di sekujur tubuh nya.


Aura elemen petir ungu meluap-luap di sekitar tubuh makhluk tersebut dan Jendral Wilson, beberapa saat kemudian sebuah sambaran halilintar ungu yang dahsyat pun melesat ke luar dari dalam mulut Salamander Petir tersebut.


"Hah........ " Suara nafas panjang Jendral Karna.


"Bagaimana cara membujuk Madonna agar mau membantu Catherine dan Wilson, saat ini tubuh nya sudah terluka parah,"


"Biasanya ia akan segera kembali ke planet nya setelah terluka parah seperti ini,"


"Baiklah akan ku coba untuk merayu nya saja." Gumam Jendral Karna.


"Ratuku tinggal sedikit lagi kita bisa memenangkan pertarungan ini, ini semua berkat mu dan bola api hitam yang menggairahkan milik mu tersebut,"


"Ayo kita lesatkan kembali serangan panas yang membara itu My Queen Madonna." Ucap Jendral Karna.


"Oh my god.... So sweet, Karna." Gumam Madonna.


"Baiklah Jendral Tampan, tapi kau harus menikahi ku di Planet Jupiter setelah pertarungan ini,"


"Aku akan mensummon mu ke sana, setelah semua persiapan pernikahan selesai di siapkan." Ucap Madonna.


"Apa............. "


"Jika menikahinya aku pasti akan koma sepanjang tahun, menikahi nya berarti mati sama saja kalau begitu." Gumam Jendral Karna.


"Dia pasti trauma dengan kejadian beberapa tahun yang lalu, kasihan Jendral Tampan ini." Gumam Madonna.


"Tenang saja Karna aku hanya akan bersenang-senang dengan mu tiap tiga tahun sekali saja." Ucap Madonna.


"Hah............ " Suara hembusan nafas panjang Jendral Karna.


"Fiuh............ "


"Syukurlah demi Kekaisaran Dewi Es ini, aku rela menikahi Beast Psikopat tersebut." Gumam Jendral Karna.


"Baiklah Ratuku aku siap." Ucap Jendral Karna.


"Awas jika kau ingkar janji Karna." Gumam Madonna.


Aura api hitam yang sangat dahsyat pun mulai berkumpul di sekitar Duyung Api dan Jendral Karna, beberapa saat kemudian sebuah Bola Api Hitam raksasa melesat ke arah Ikan Koi Langit Surgawi Raksasa dari telapak tangan Duyung Api.


"Aurghhhh.................. "Raungan dahsyat Ikan Koi Langit Surgawi Raksasa, lalu melesatkan semburan air berpetir ke arah serangan para Jendral.


Ketiga serangan para Jendral pun bersatu membentuk sebuah serangan bola api hitam beraliran petir biru dan ungu.


"Duargh......." Suara ledakan yang dahsyat akibat benturan dua serangan tersebut.


Semburan air berpetir pun berhasil melahap serangan ketiga Jendral tersebut. Semburan air tersebut kemudian terbelah menjadi tiga jalur lalu mengenai ketiga Jendral beserta Beast Kontrak nya pada waktu yang bersamaan.


"Duargh......... " Suara ledakan akibat semburan air berpetir mengenai Jendral Catherine dan Burung Elang Petir nya.


"Duargh..........." Suara ledakan akibat semburan air berpetir mengenai Jendral Wilson dan Salamander Petir nya.


"Duargh............ " Suara ledakan akibat semburan air berpetir mengenai Jendral Karna dan Duyung Api nya.


Ketiga Jendral pun terpental ke arah Stadium dan tak sadar kan diri setelah nya, sementara itu Beast Kontrak mereka pun telah menghilang sejak tadi karena sudah kehabisan tenaga dalam nya lalu kembali tersummon ke Planet asal nya.


Saat ini Jendral Es telah berhasil mengumpulkan seluruh tenaga nya lalu bersiap melesatkan Jurus Tapak Salju.


"Catherine, Karna, Wilson, Terima kasih karena sudah mengulur waktu untukku." Gumam Jendral Es, lalu melesatkan Jurus Tapak Salju nya.


Enam buah telapak tangan raksasa muncul di enam sisi Ikan Koi Langit Surgawi Raksasa. Suhu udara di sekitar Ikan tersebut pun menurun drastis, tampak ikan tersebut kebingungan dengan perubahan cuaca ekstrem tersebut.


"Matilah Ikan Koi." Teriak Jendral Es, lalu meremas tangan nya.


Ke enam Tapak Salju pun melesat ke enam sisi Ikan Koi tersebut.


"Aurghhhh.......... " Raungan Ikan Koi kemudian melesatkan petir dari sekujur tubuhnya.


Jurus Tapak Salju begitu dahsyat sambaran-sambaran petir tersebut pun tidak mampu menahan Tapak tersebut.


"Duarghhh.................. " Suara ledakan yang sangat dahsyat akibat Jurus Tapak Salju Jendral Es.


"Aurghhhhh................ " Raungan kesakitan Ikan Koi Langit Surgawi.


"Groaghhhhh.............. " Suara getaran bangunan di sekitar ledakan.


"Whusss.................... " Suara hempasan angin akibat ledakan tersebut.


Naga Salju Api pun menghilang setelah mengeluarkan serangan dahsyat tersebut, Jendral Es pun kehabisan seluruh tenaga dalam nya. Bersamaan dengan ledakan tersebut tubuh Ikan Koi Langit Surgawi Raksasa pun terpental ke pinggiran kota.


"Hah.... Hah..... Hah...... " Suara terengah-engah Jendral Es.


"Bruakkk.......................... " Suara tubuh Ikan Koi Langit Surgawi yang jatuh di pinggiran kota.


Melihat pemimpin nya terpental dan tak sadar kan diri Ikan Koi Langit Surgawi lain nya pun mulai mengaum bersamaan.


"Aurghhhh....... Aurgh...... Aurghhh........ " Suara auman kompak makhluk-makhluk tersebut kompak.


"Apakah makhluk itu telah tewas?" Gumam jendral Es.


"Hah..... Hah.......Hah..... " Suara nafas terengah-engah Jendral Es.


Saat ini bulan sudah hampir penuh di atas langit Kota Awan Hitam, dan sesaat lagi fenomena Dragon Moon akan terjadi di seluruh Benua Es Api ini.


"Apa...... Serangan se dahsyat itu tidak mampu membunuh nya?" Ucap Jendral Es.


Beberapa saat kemudian beberapa sambaran petir melesat dari tubuh Ikan Koi Langit Surgawi Raksasa tersebut, ternyata makhluk tersebut hanya pingsan untuk sementara waktu dan mulai sadar kan diri kembali.

__ADS_1


"Habis sudah." Gumam Jendral Es, sambil memasang perisai kultivasi es dengan sisa-sisa tenaga dalam nya yang terakhir.


Sambaran petir itu pun menyambar ke arah perisai Jendral Es dan menembus nya dengan mudah.


"Duargh...... Duargh........ Duargh..... " Suara ledakan akibat sambaran petir yang acak.


Salah satu sambaran petir tersebut berhasil mengenai dada Jendral Es.


"Akh............. " Teriak kesakitan Jendral Es, lalu terpental ke arena di Stadium Kota Awan Hitam.


"Brukkk......... " Suara tubuh Jendral Es yang menghantam lantai arena.


Ikan Koi Langit Surgawi Raksasa tersebut pun mulai melayang kembali lalu mengaum. Jendral Es pun tergeletak di lantai arena tersebut lalu tak sadar kan diri dengan tubuh yang penuh luka dan darah.


"Aurghhhh............ " Suara auman Ikan Koi Langit Surgawi Raksasa tersebut, lalu kembali melesatkan serangan petir dari sekujur tubuh nya.


Melihat pemimpin nya kembali bangkit Ikan-Ikan Koi lain nya pun ikut melesatkan bola-bola petir ke arah Kota Awan Hitam secara acak. Para Komandan dan Prajurit serta Kultivator lain nya pun kembali melesatkan berbagai serangan ke arah bola-bola petir yang menerjang tersebut.


Kembali ke Koridor Stadium sesaat sebelum serangan Jurus Tapak Salju.


Tampak Arung masih terus merangkak dengan sisa-sisa kekuatan nya ke arah pintu keluar menuju arena.


"Ugh.... Tinggal sedikit lagi, aku harus bisa mencapai nya,"


"Paling tidak aku dapat melihat kecantikan Jendral Es untuk yang terakhir kalinya sebelum tubuh ku meledak." Gumam Arung.


Beberapa saat kemudian terdengar suara ledakan yang sangat dahsyat di atas langit Stadium akibat Jurus Tapak Salju.


"Duarghhh....................... " Suara ledakan akibat Jurus Tapak salju.


"Ugh...... Malapetaka apa yang sedang terjadi di atas sana, sebaik nya aku harus cepat sampai ke arena." Gumam Arung, lalu kembali merangkak.


Arena Stadium


Setelah merangkak dengan bersusah payah akhirnya ia pun tiba di depan pintu keluar menuju arena.


"Uhuk.... Uhuk.... Uhuk..... " Suara batuk Arung, lalu mengeluarkan darah hitam yang kental.


Terlihat arena dan stadium telah porak poranda serta kobaran api tampak dimana-mana, terlihat beberapa Prajurit dan Ikan Koi tengah bertarung di beberapa tempat. Di Sekitar juga terlihat banyak tubuh Prajurit dan Kultivator yang sudah tak bernyawa tergeletak. Tubuh Ikan-Ikan Koi pun banyak berserakan di sekitar arena, Arung pun menenggadah kan kepala nya ke atas berniat mengetahui kejadian apa yang sedang terjadi di atas sana. Arung pun melihat Jendral Es tengah melayang dengan anggun nya, namun terlihat sangat kelelahan.


"Jendral Es, syukur lah kau masih bertahan,"


Arung pun kemudian menoleh ke arah kawanan Beast Ikan-Ikan Koi yang berjibun di langit Kota Awan Hitam dengan beragam ukuran.


"Kenapa bisa ada banyak sekali Beast Ikan di langit saat ini?"


Arung pun melihat ke arah bulan dan kebingungan dengan warna yang di pancarkan oleh bulan tersebut.


"Kenapa bulan itu bisa berwarna merah darah?" Gumam Arung.


"Uhuk..... Uhuk..... Uhuk..... " Suara batuk Arung, lalu kembali mengeluarkan darah hitam yang kental.


Beberapa sambaran petir kembali melesat dari pinggiran kota ke arah pusat kota dan sekitar nya, salah satu serangan tersebut mengenai Jendral Es.


"Duargh........Duargh...... Duargh....... " Suara ledakan akibat sambaran petir tersebut


Jendral Es pun ikut terjatuh ke atas arena dengan kondisi tak sadar kan diri setelah nya.


"Brukkkk........... " Suara tubuh Jendral Es yang terjatuh ke atas arena.


Arung yang menyaksikan Jendral Es tercinta nya terjatuh pun mulai meneteskan air mata nya karena sedih.


"Jendral Es......... " Teriak Arung.


"Uhuk..... Uhuk..... Uhuk........ " Suara batuk Arung, lalu kembali mengeluarkan darah hitam yang kental.


Beberapa saat kemudian terdengar raungan besar dan raungan kecil berkali-kali di atas langit Kota Awan Hitam.


"Aurghhhh............... Aurgh........ Aurgh....... " Beberapa Suara raungan Ikan Koi Langit Surgawi.


"Ugh..... Telingaku rasanya mau pecah, Ikan-Ikan ini terlalu berisik,"


Arung pun kemudian marah melihat Jendral Es tergeletak tak sadar kan diri di lantai arena dengan luka menghitam di dada nya.


"Sialan.......makhluk-makhluk ini telah berani-beraninya melukai tunangan ku." Gumam Arung, dengan raut wajah yang sedih dan marah.


Beberapa saat kemudian Ikan Koi Langit Surgawi Raksasa kembali melayang di atas langit pinggiran kota, lalu kembali melesatkan sambaran petir dari sekujur tubuh nya. Begitu pula dengan Ikan-Ikan Koi lain nya pun ikut menembak kan bola-bola petir dari mulut nya.


"Apa...... Makhluk apa itu, kenapa bisa ada Beast sebesar itu di atas sini." Ucap Arung, saat melihat Ikan Koi Langit Surgawi Raksasa tersebut di langit pinggiran kota.


Terlihat juga berbagai macam serangan melesat dari Kota Awan Hitam ke arah langit berniat menahan serangan dari ikan-Ikan di langit tersebut.


"Mitha dia akan tewas jika terkena serangan tersebut, aku tidak akan membiarkan nya mati,"


"Tidak di depan ku,"


"Cukup aku saja yang tewas karena racun peledak ini." Gumam Arung, lalu memasang kuda-kuda Jurus teleportasi.


"Uhuk.... Uhuk..... Uhuk...... " Suara batuk Arung, lalu kembali mengeluarkan darah hitam yang kental.


"Duarghhh....... Duargh....... Duarghh...... " Suara ledakan yang sangat banyak terdengar dari langit dan dari daratan di sekitar.


Terlihat banyak bangunan-bangunan serta fasilitas umum lain nya yang rusak parah, kobaran api terlihat di mana-mana. Begitu pula dengan tubuh-tubuh tak bernyawa berserakan di mana-mana.


"Blitzzz................. " Suara Jurus Teleportasi Milik Arung.


Beberapa saat sebelum sebuah bola petir mengenai tubuh Jendral Es, Arung pun berteleport dengan sisa-sisa tenaga dalam nya yang terakhir ke atas tubuh Jendral Es.


"Duargh........... " Suara ledakan akibat bola petir di punggung Arung saat menahan serangan yang akan mengenai Jendral Es.


"Akh................. " Teriak kesakitan Arung.


Arung pun menyokong tubuh nya dengan kedua lengan nya di atas tubuh Jendral Es lalu memandangi wajah dinginnya untuk yang terakhir kali nya.


"Setidak nya sebelum aku mati, aku dapat memandangi wajah dingin mu Jendral Es." Ucap Arung, lalu tersungkur jatuh di atas tubuh Jendral Es.


Di saat yang sama fenomena Dragon Moon pun terjadi, malam gelap di wilayah Benua Es Api berubah menjadi merah darah, lalu terdengar raungan Naga-naga di seluruh penjuru Benua tersebut.


"Aunggrrrrg......... Wurggghh. . . . . . . . " Raungan Naga-Naga yang terdengar di sekitar Gurun Api Es dan di langit.


Untuk beberapa saat Ikan-Ikan Koi pun menghentikan serangan nya, terlihat malam di Kota Awan Hitam semakin mencekam dan berdarah.


Salah Satu Dunia di dalam Dantian Arung.


Arung pun perlahan membuka kedua matanya.


"Ugh....... Kepalaku pusing sekali." Ucap Arung.


Saat ini ia sedang berada di ruang angkasa di dalam Dantian nya. Ada sebuah Planet Besar berwarna hitam yang memiliki cincin berwarna putih di hadapan nya.


"Apakah aku sudah mati, atau aku terdampar ke dunia lain nya lagi?"


"Kenapa seluruh tubuh ku sudah bisa di gerak kan kembali, dan di mana aku saat ini,"


"Bukankah aku tadi sedang berada di arena bersama Jendral Es dan hampir mati?" Gumam Arung, lalu mengamati sekeliling nya kembali.


"Aurghhhh.............. " Suara raungan yang lebih dahsyat dari Ikan Koi Langit Surgawi terdengar.


"Suara apa itu, bulu kuduk ku sampai berdiri?" Ucap Arung.


"Dup.... Dup...... Dup...... " Suara detak jantung Arung.


Beberapa saat kemudian seekor Naga Hitam Raksasa mulai muncul dari dalam planet ber cincin tersebut lalu menghampiri Arung.


"Kenapa bisa ada makhluk seperti itu di sini?"


"Setelah Ikan Koi Raksasa sekarang seekor Beast Naga Raksasa." Gumam Arung.


"Dup..... Dup...... Dup..... Dup... " Suara detak jantung Arung yang semakin cepat.


Naga tersebut mulai mendekatkan wajah nya ke hadapan Arung lalu kembali mengaum.


"Aurghhh................... " Raungan Naga hitam tersebut di hadapan Arung.


"Arghhhhhh....... Telinga ku sakit sekali." Teriak Arung, lalu kembali menutup telinga nya.


Akibat raungan tersebut sebuah hembusan angin yang besar pun menghempas tubuh Arung hingga terpental.


"Akh......... " Teriak Arung, saat terhempas dan mengalami sedikit cedera.


"Kenapa bisa ada Naga Hitam Raksasa yang muncul di sini?" Gumam Arung.


Beberapa saat kemudian Suara Jendral Api terdengar di sekitar Ruang Angkasa tersebut.


"Itu adalah Black Hole Dragon, salah satu Beast Dewa,"


"Saat ini kau sedang berada di dalam dunia nya." Suara besar yang bergema di ruang angkasa tersebut.


Black Hole Dragon tersebut pun diam sejenak setelah mendengar kan suara tersebut, lalu berusaha mencari asal muasal dari suara tersebut.


"Kenapa Ingatan Jendral Api bisa terdengar sekeras itu di Ruang Angkasa ini, biasanya suara tersebut hanya akan terdengar di dalam kepala ku saja,"


"Bahkan Black Hole Dragon itu pun bisa mendengar kan nya,"


"Itu sungguh aneh, apa yang sebenarnya terjadi saat ini?" Gumam Arung.


Black Hole Dragon pun kembali mengaum setelah nya.


"Aurghhhh.............. " Suara Auman Black Hole Dragon kembali.


"Ugh...... Telingaku, sepertinya gendang telinga ku bisa pecah jika makhluk ini terus-menerus mengaum seperti itu." Gumam Arung, lalu kembali menutup telinga nya.


Makhluk raksasa itu pun mulai menerjang ke arah Arung berusaha untuk memangsa nya. Karena ia sedang lengah saat itu, Black Hole Dragon tersebut pun berhasil menelan Arung.


"Hah...... Di mana ini, kenapa gelap sekali disini?" Ucap Arung di dalam mulut Black Hole Dragon.


Black Hole Dragon tersebut pun mulai mengunyah Arung.


"Akhhhh.................. " Teriak Kesakitan Arung di dalam mulut Black Hole Dragon.


"Kretekkk.... Krakkkk.... Kretekkk...... " Suara tubuh Arung yang sedang di kunyah oleh Black Hole Dragon.


"Akhhhh................... " Teriakan terakhir Arung di dalam mulut Black Hole Dragon.


Kembali ke Arena.


Saat ini tubuh Arung sedang tersungkur jatuh di atas tubuh Jendral Es. Beberapa saat setelah tubuh nya di makan oleh Black Hole Dragon, tubuh Arung dan Jendral Es berubah menjadi seberkas cahaya hitam dan putih yang menghujam ke langit.


"Aurghhhh.................. " Raungan Ikan Koi Langit Surgawi Raksasa saat melihat seberkas sinar yang menghujam ke langit tersebut.


Fenomena Dragon Moon pun berakhir, tampak langit kembali menghitam perlahan.


"Byurrrr......................... " Suara Hujan Deras kembali turun.


Hujan pun kembali turun, terlihat banyak sekali luapan elemen petir di sekitar awan hitam tersebut.


"Dzzitt........ Dzzitt........ Dzzitt......... " Suara percikan elemen petir di langit.


Untuk sejenak Ikan Koi Langit Surgawi Raksasa menghentikan serangan nya ke Kota Awan Hitam, begitu pula dengan Ikan-Ikan Koi lain nya.


"Jderrrr......... Jderrrr........ Jderrrr...... " Suara sambaran petir sebanyak beberapa kali.


"Aurghhhh.............. Aurghhhh............ " Beberapa Suara Raungan Naga yang sangat dahsyat terdengar dari balik awan.


Mendengar suara raungan Naga yang sangat dahsyat tersebut, Ikan Koi Langit Surgawi Raksasa pun kembali melesatkan sebuah bola air berpetir ke angkasa.


"Whusss.................. " Suara Bola Air Berpetir melesat ke angkasa.


Beberapa menit kemudian,


"Duarghhh................ " Suara ledakan yang dahsyat terjadi di angkasa.


"Groaghhhhh............ " Suara Gemuruh di langit.


Beberapa saat kemudian langit kembali tenang, tampak Ikan Koi Langit Surgawi Raksasa tampak gelisah, begitu pula dengan makhluk-makhluk lain nya.


"Aurghhhh................. " Suara raungan Ikan Koi Langit Surgawi Raksasa.


Beberapa saat kemudian.


"Aurghhhhhh....... Aurghhhhhh......... " Beberapa Suara Raungan Naga yang sangat besar kembali terdengar dari balik awan.


Langit Gurun Api Es.


Tampak ada seratus ekor Naga yang memiliki ukuran panjang 100 meter hendak mengamuk di Kota Awan Hitam.


"Aurghhhh...... Aurghhhh....... " Suara Auman Kompak makhluk-makhluk tersebut.


Beberapa saat kemudian fenomena langit berpetir dan hujan deras di Kota Awan Hitam pun terjadi, tak lama berselang suara raungan beberapa ekor Naga yang sangat besar pun terdengar dari tempat tersebut.


"Aurghhh......... Aurghhh......... " Beberapa Suara Auman Naga dari langit di Kota Awan Hitam.


Mendengarkan suara raungan yang lebih dahsyat dari raungan mereka, makhluk-makhluk ini pun terlihat ketakutan dan tertekan lalu berbalik memutar kembali dan mengurungkan niat nya untuk mengamuk di Kota Awan Hitam tersebut.

__ADS_1


"Byurrrr................ " Suara Hujan deras turun di Gurun Api Es.


Saat ini cuaca di Gurun Api Es sedikit terpengaruhi dengan cuaca di Kota Awan Hitam.


__ADS_2