Pendekar Setengah Naga

Pendekar Setengah Naga
Final Ujian Tahap Dua Bagian Awal


__ADS_3

Stadium Awan Hitam.


"Byurrrr................. " Suara hujan deras, Ke esokkan harinya.


Tampak kerumunan penonton sudah memenuhi bangku-bangku di tribun penonton tersebut. Di hari ini tidak ada satu bangku pun yang terlihat kosong, semuanya penuh bahkan mereka tampak berdesak-desakan. Saat ini mereka tidak hanya ingin menyaksikan Pertandingan Final tersebut, tapi juga ingin melihat kecantikan wanita nomer satu di Kekaisaran Dewi Es ini yaitu sang Jendral Es.


"Popcorn..... popcorn.... es teh manis.... es teh manis... " Ucap seorang penjual makanan, lalu berjalan di sekitar tribun.


"Wah........ aku sudah tidak sabaran melihat Jendral Es, sudah 5 tahun dia menghilang." Ucap salah satu Penonton.


"Kya............. sejak dia menghilang 5 tahun yang lalu, hidupku serasa tidak berguna." Ucap Penonton lainnya.


"Jendral Es..... Jendral Es....... Jendral Es...... " Teriak beberapa Penonton kompak.


Para kameramen pun mulai mengarahkan kamera nya ke arena dan mulai menyetel pencahayaan dan persiapan lainnya, para panitia pun sedang memperkuat perisai kultivasi di sekitar arena.


Di Tribun VIP dan VVIP Stadium Awan Hitam.


Tampak di Tribun tersebut, Xiao Mei Mei, Shilla, dan Nyonya Vinic sudah hadir sejak pagi dan tengah mengobrol, di bangku lainnya terlihat tiga orang Penatua dari Keluarga Azura pun sudah hadir sejak pagi dan hanya duduk bermeditasi saja.


"Mei Mei, aku bingung?"


"Kenapa tadi pagi kau kembali seorang diri?"


"Kemana calon menantu ku, kenapa sampai saat ini ia belum kelihatan,?" Tanya Nyonya Vinic.


Shilla pun menatap ke arah Xiao Mei Mei, ia pun terlihat khawatir dengan keadaan calon suaminya tersebut.


"Ugh........ aku tidak mungkin menceritakan kejadian yang sebenarnya terhadap Vinic, aku khawatir dia akan terkena serangan jantung,"


"Mereka tidak tahu kalau saat ini Arung sedang terluka parah, sebaiknya aku mengarang sebuah cerita untuk menenangkan mereka." Gumam Xiao Mei Mei.


"Katanya dia pergi ke tempat Robert Vin, ada suatu urusan yang harus di selesai kan nya Vin,"


"Setelah urusan nya selesai dia akan kembali." Jawab Xiao Mei Mei.


Sebenarnya Arung masih tertidur di Tepian Danau Mematikan dan terluka parah, sementara itu Xiao Mei Mei kembali seorang diri tadi pagi ke Penginapan Stadium Awan Hitam agar Matriak dan lainnya tidak curiga.


"Oh..... Arung ternyata ke tempat Robert ya, mungkin saja dia mau mengambil bagiannya ke tempat Robert." Gumam Shilla.


"Ranah mu saja sudah turun satu tingkat, aku semakin curiga,"


"Shilla mungkin percaya padamu Mei Mei, tapi aku sudah sejak lama mengenalmu," Gumam Nyonya Vinic.


Beberapa saat kemudian Bongpal dan Tabib Syu pun tiba ke dalam tribun tersebut, lalu bergabung dengan Matriak dan lainnya.


"Tetua mesum sudah tiba...... " Gumam Shilla.


"Wah....... tidak kusangka istri nya Bongpal sangat cantik dan kelihatan baik." Gumam Xiao Mei Mei.


"Oh.... Matriak ternyata kau hadir juga menyaksikan pertandingan anak ku ya, ." Ucap Bongpal.


"Tentu saja Tetua Bongpal, anakmu sekarang kan calon menantu ku." Ucap Matriak.


Mendengar perkataan Matriak dan Tetua Bongpal, pipi Shilla pun memerah.


"Oh iya...... saat rapat aku tidak bisa hadir karena tengah menggombali Syu Ya, Shilla dan Arung kan sudah di jodohkan." Gumam Bongpal.


"Oh...... Bongpal kenapa tidak pernah menceritakan kepadaku kalau anaknya sudah di jodohkan?"


"Aku padahal ingin mengenalkan Arung dengan anak kakak ku di ibu kota kerajaan." Gumam Tabib Syu.


"Ya.... ya..... Matriak, aku sangat mendukung semua keputusan Matriak." Gumam Bongpal.


"Shilla kenalkan calon mama mertua mu, Mama Syu yan." Ucap Bongpal.


"Salam mama Syu yan, aku Shilla." Ucap Shilla.


"Wah......Shilla fasih banget memanggil Tabib Syu mama Syu Yan, aku tidak boleh kalah." Gumam Xiao Mei Mei.


"Salam juga Syu yan, aku Xiao Mei Mei." Ucap Xiao Mei Mei.


"Aku Syu Yan, salam kenal juga ya,"


"Iya Shilla." Ucap Syu Yan.


"Sudah.... sudah duduklah nona-nona, para Jendral sepertinya sudah mau memasuki arena." Ucap Nyonya Vinic.


"Wah...... Xiao Mei Mei, begitu cantik saat ini." Gumam Bongpal, lalu duduk di hadapan mereka begitu pula dengan Syu yan.


"Jendral Es..... I Love You." Gumam Bongpal, yang ternyata salah satu penggemar Jendral Es.


Ke tiga Penatua terlihat tetap tenang sambil bermeditasi di atas bangku tribun tersebut.


"Mereka sangat ribut." Gumam tetua Yaoyan.


****Di Pinggir**** Tribun Penonton


Tampak para kameramen dan reporter sedang menshooting acara pertandingan dari pinggir pagar pembatas tribun, beberapa saat kemudian Komandan Anya, Komandan Talia, dan Komandan Lala pun melesat ke atas arena menggunakan Jurus Langkah Petir.


"Cepat-cepat sorot ke arah para Komandan." Perintah salah satu reporter.


"Baik.... baik." Jawab salah satu kameramen.


Para kameramen pun mulai menyorot ke arah para Komandan.


"Baiklah para penonton sekalian, sesaat lagi perwakilan para Jendral Kekaisaran Dewi Es ini akan memasuki Stadium Awan Hitam, harap semuanya bisa tenang." Ucap Komandan Lala menggunakan Jurus Auman.


"Dasar Lala, mana mungkin para penonton akan tenang,"


"Seperti tidak pernah melihat sepak terjang Jendral Es saja, tiap acara yang di ha dirinya pasti akan ada keributan besar,"


"Kecantikan nya itu berkah sekaligus bencana bagi Kekaisaran ini." Gumam Komandan Talia.


Sementara itu Komandan Anya merasa sepi karena Wakil Komandan Luna tidak ada.


"Luna, semoga saja kau cepat baikan." Gumam Komandan Anya.


Di Tribun Penonton


Di Tribun tampak para penonton sangat antusias akan berita kedatangan Jendral Idolanya, yang juga merupakan Panglima Perang tertinggi Kekaisaran Dewi Es.


"Plok......... plok........ plok.......... "


"Plok......... plok........ plok.......... " Suara tepuk tangan penonton.


"Hidup Jendral Es....... "


"Hidup Jendral Es...... " Teriak kompak beberapa Penonton.


Jendral Es telah menghilang selama 5 tahun lamanya, dan pada hari ini telah ersiar kabar dia akan mulai menunjukkan dirinya di depan publik kembali. Pada hari ini juga hampir seluruh masyarakat, dan juga para kultivator menyaksikan pertandingan final tersebut melalui live streaming di TV mereka masing-masing.


"Wah....... berita besar nih, ternyata hari ini Jendral Es akan menunjukkan dirinya di depan publik." Ucap salah satu reporter.


"Benar berita ini pasti akan menggemparkan seisi Kekaisaran Dewi Es ini." Ucap reporter lainnya.


Beberapa saat kemudian Jendral Karna dan Jendral Berserker pun terbang di atas Tribun Penonton menuju ke Tribun Khusus Perwira Tinggi. Melihat kehadiran dua Jendral, para penonton pun semakin antusias menunggu kehadiran Jendral Es.


"Plok......... plok........ plok.......... "


"Plok......... plok........ plok.......... " Suara tepuk tangan penonton.


"Wah........... itu Jendral Karna, tampan nya." Teriak salah satu penonton.


"Jadikan aku yang ke sebelas Jendral Karna, aku ra po po." Teriak salah satu penonton lainnya.


"Adik Jendral Es tiba, sebentar lagi Jendral Es pasti muncul." Teriak Penonton lainnya.


Yel-yel Jendral Es pun kembali bergema di dalam Stadium Awan Hitam tersebut.


"Jendral Es...... Jendral Es...... "


"Jendral Es....... Jendral Es....... " Teriak beberapa penonton kompak.


"Ugh......Tiap acara yang di hadiri Jendral Es pasti Seribut ini." Gumam Berserker, lalu melesat terbang ke Tribun Khusus.


Jendral Karna pun tersenyum kepada para penonton yang berada di Tribun, sambil melambaikan tangannya ke arah penonton juga dan tanpa sengaja menoleh ke arah Xiao Mei Mei.


"Wah........ gadis berambut merah itu sangat cantik sekali, sepertinya aku tidak asing lagi dengan wajah cantik tersebut?"


"Di mana aku pernah melihatnya yach?"


"Mungkinkah dia seorang kultivator artis?" Gumam Jendral Karna, lalu duduk di Tribun Khusus Perwira Tinggi.


Jendral Karna tidak menyadari bahwa Gadis Cantik yang pernah di lihatnya itu adalah salah seorang wanita yang akan mengadakan pertandingan jodoh beberapa bulan kedepan. Jendral Karna pernah mengakses website Perjodohan Kekaisaran Dewi Es, dan tanpa sengaja melihat biodata Xiao Mei Mei dan foto profilnya.


"Sebaik nya aku segera ke Tribun saja, sebentar lagi rombongan Kakak ku akan tiba." Gumam Jendral Karna, lalu melesat terbang ke Tribun Khusus.


Tak lama berselang ketiga Jendral Wanita lainnya pun melesat terbang di atas Tribun Penonton menuju ke arah Tribun Khusus Perwira Tinggi.


"Whuss................... " Suara yang di keluar kan para Jendral saat terbang melintasi Tribun Penonton.


"Kya...................... itu benar-benar Jendral Es." Teriak histeris beberapa penonton.


"Jenderal Es.... I Love You.... " Teriak histeris beberapa penonton lainnya.


"Inilah yang membuatku jarang mau menghadiri suatu acara bersama dengan Nona Mitha, semua perhatian hanya tertuju kepada nya,"


"Aku juga kan cantik, walau tak secantik Mitha." Gumam Jenderal Catherine Thunder, sambil terbang di sisi Nona Mitha.


Ternyata Jendral Es adalah Nona Mitha, seorang Kultivator sedingin es yang si jumpai Arung saat di Dasar Jurang Bukit Siluman Air beberapa bulan yang lalu. Beberapa saat kemudian pun yel-yel Jendral Es pun kembali bergema di dalam Stadium Awan Hitam tersebut.


"Jendral Es...... Jendral Es...... "


"Jendral Es....... Jendral Es....... " Teriak beberapa penonton kompak.


"Mau bagaimana lagi, Nona Mitha memang sangat-sangat cantik."


"Bahkan Kaisar pun kalah dengan kecantikan nya." Gumam Jenderal Wilson Cherooke, sambil terbang di samping Nona Mitha.


"Mereka tidak pernah berubah sejak 5 tahun yang lalu, bahkan saat ini mereka lebih ribut." Ucap Nona Mitha.


Mitha Dragon Ice adalah seorang wanita tercantik di Benua Es Api ini. Bahkan sang Kaisar pun kalah dengan kecantikan nya tersebut. Beberapa saat kemudian ketiga Jenderal pun telah tiba di Tribun Khusus Perwira Tinggi, beberapa Komandan pun melesat ke belakang Jendral mereka masing-masing.


Arena


Melihat ke lima Jendral telah duduk di kursi Tribun Perwira Tinggi, Komandan Lala pun mulai membawakan acara kembali di dampingi oleh Komandan Anya dan Komandan Talia di kedua sisi nya.


"Baiklah kembang api keluarlah." Ucap Komandan Lala menggunakan Jurus Auman.


"Dup...... dup...... dup........ " Suara jantung Komandan Anya.


"Jendral Karna, tampannya." Gumam Komandan Anya, yang terpesona akan ketampanan Jendral Karna.


Beberapa saat kemudian, beberapa kembang api yang indah pun meluncur dari ke empat sisi stadium untuk beberapa menit.


"Duargh........ duargh......... duargh...... "


"Duargh........ duargh......... duargh...... "


"Duargh........ duargh......... duargh...... " Suara kembang api yang meledak di langit lalu membentuk sebuah formasi yang indah di langit yang hujan.


Beberapa saat kemudian Ayu pun masuk lalu menghampiri Shilla di Tribun VIP.


"Untung aku segera kemari, sepertinya acaranya sudah mau di mulai." Gumam Ayu, lalu duduk di samping Shilla.


Tribun VIP dan VVIP


Melihat kedatangan Ayu, Xiao Mei Mei dan Nyonya Vinic pun menatap ke arah nya.


"Siapa lagi gadis cantik ini, dia sedikit mirip dengan Gadis Berambut Pirang yang bersama Arung." Gumam Nyonya Vinic.


"Eh............ Ayu, mama mu mana, kok kamu sendirian?" Tanya Shilla.


"Oh..... jadi namanya Ayu." Gumam Nyonya Vinic.


"Oh.... iya kenalkan ini mama ku, dan di sebelah nya Kak Mei Mei." Ucap Shilla.


"Salam kenal Nyonya, Kak Mei Mei aku Ayu." Ucap Ayu.


"Iya duduklah Ayu." Ucap Nyonya Vinic.


"Wah kau sangat sopan Ayu." Ucap Kak Mei Mei.


"Saat ini Mama ku sedang berada di Rumah Sakit Awan Hitam Shilla, Joong woon terluka parah kemarin sore,"


"Oleh karena itu saat ini mama tidak bisa menonton pertandingan final Gisel, jadi aku yang pergi mewakili nya." Ucap Ayu.


"Jadi gadis cantik ini adalah saudara nya Gisel, wajahnya tak kalah cantik dari Gisel,"


"Dadanya juga sedikit agak besar." Gumam Nyonya Vinic.


Mengetahui bahwa sanya Ayu itu adalah Kakak Kandung Gisel, Xiao Mei Mei pun menatapnya dari ujung kaki ke ujung rambutnya.


"Cantik nya,"


"Adik Kecil, saat ini di sekeliling nya telah banyak berkumpul Gadis-gadis kuat dan juga cantik,"


"Untung saja kemarin malam aku sudah membuat Arung jatuh ke pelukan ku, saat ini aku dan Arung sudah berbagi essensi bersama." Gumam Xiao Mei Mei.


"Ha..... ha....... ha....... " Tawa kecil Xiao Mei Mei di dalam hati.


Saat ini ranah Xiao Mei Mei sudah turun ke ranah alam harimau puncak, karena kejadian tak terduga di tepian Danau Mematikan bersama Arung semalam.


"Ha....... ha...... ha........ " Tawa kecil Xiao Mei Mei di dalam hati.


"Ehm..... yang lagi pengantin baru sibuk bermesraan, seaakan-akan Tribun ini milik mereka dan yang lainnya ngontrak." Gumam Nyonya Vinic.


Sementara itu Bongpal dan Syu Yan saat ini sedang di mabuk kasmaran, bahkan mereka berdua saat duduk pun bergandengan tangan lalu bercanda berdua.


"Bongpal...... Bongpal..... sebenarnya kau mau menonton pertandingan Arung atau mau pacaran sih, padahal kalian kan sudah menikah,"


"Kalian bahkan bisa melakukan lebih dari gandengan tangan di dalam kamar berduaan." Gumam Nyonya Vinic, lalu menggeleng-geleng kan kepalanya.


Arena


"Baiklah kami persilahkan kepada Panglima Perang Kekaisaran ini untuk menyampaikan sebuah puisi pembukaan." Ucap Komandan Lala.


Nona Mitha pun melesat terbang ke atas arena, Komandan Anya pun memberikan sebuah mix kepadanya.


"Saat perang pertama kali di mulai, yang pertama kali maju adalah prajurit,"


"Dan yang terakhir kali jatuh adalah para Jendral,"


"Di dalam peperangan tidak ada yang namanya kalah, dan tidak ada yang namanya menang,"


"Yang ada hanya teriakan lalu darah, Jayalah Kekaisaran Dewi Es." Ucap Jendral Es.


Seisi Stadium pun mulai bergemuruh, saat selesai mendengarkan puisi perang Jendral Es. Tak lama berselang para penonton pun mulai bertepuk tangan.


"Plok......... plok........ plok.......... "


"Plok......... plok........ plok.......... " Suara tepuk tangan penonton.


"Jendral Es...... Jendral Es...... "


"Jendral Es....... Jendral Es....... " Teriak beberapa penonton kompak.


Jendral Es pun kembali terbang ke Tribun Khusus setelah membacakan puisi tersebut, begitu pula dengan ketiga Komandan pun kembali ke Tribun Penonton. Beberapa saat kemudian acara musik pun mulai di mainkan di atas arena, beberapa Kultivator Artis pun mulai membawakan beberapa buah lagu.


Kembali ke Arung, beberapa jam sebelumnya.


Setelah Xiao Mei Mei dan yang lainnya pergi ke Stadium, Arung pun kembali ke Penginapan Stadium Awan Hitam dengan cedera parah di tubuh nya. Arung tidak ingin menambahkan kekacauan lagi dengan tiga gadis kembar, ia pun langsung berteleport ke dalam kamarnya berniat memulihkan diri.


Di dalam kamar


"Blitz................. " Suara jurus teleportasi milik Arung.


"Ugh........... Mei Mei, seluruh tubuh ku remuk rasanya,"


"Uhuk...... uhuk...... uhuk.......... " Suara batuk darah Arung.


"Ini semua akibat kejadian semalam di tepian Danau Mematikan," Gumam Arung.


"Uhuk...... uhuk...... uhuk.......... " Suara batuk darah Arung.


"Sudahlah semua nya sudah terjadi, sebaiknya aku segera memulihkan diriku lalu berteleport ke arena setelah nya." Gumam Arung, lalu duduk bersimpuh di atas ranjang miliknya.


Arung pun langsung mengunyah Pil Naga berniat memulihkan dirinya, saat ini cedera Arung sangat parah. Aura berwarna biru tampak mulai keluar dari tubuhnya, ia pun mulai memulihkan dirinya.


Beberapa menit kemudian.


"Uhuk...... uhuk...... uhuk.......... " Suara batuk darah Arung.


"Hah................ " Suara hembusan nafas panjang Arung.


"Aku akan telat ke arena jika memulihkan diri dengan hanya mengandalkan Pil Naga saja." Gumam Arung.


Beberapa saat kemudian, Arung pun mendapat kan sebuah ide untuk memulihkan cederanya seketika.


"Iya....... cara itu kemungkinan pasti berhasil,"


"Aku tau............ saat Xiao Mei Mei mengkultivasi kan Pil Awet Muda di Pulau Makam Kuno,"


"Setelah cairan hitam keluar dari tubuh Xiao Mei Mei, beberapa saat kemudian cederanya pun sembuh dalam sekejap." Gumam Arung.


"Uhuk...... uhuk...... uhuk.......... " Suara batuk darah Arung.

__ADS_1


"Akan ku coba, jika tidak aku akan membuat kecewa Matriak dan yang lainnya." Ucap Arung.


Ia pun lalu mengeluarkan sebuah Pil Awet Muda dari dalam cincin ruang miliknya.


"Semoga berhasil." Gumam Arung, lalu mulai mengunyah Pil tersebut dan mengkultivasi kan nya.


Beberapa menit kemudian.


Aura berwarna-warni pun silih berganti keluar dari tubuh Arung, Aliran tenaga dalam yang hangat mengalir ke seluruh pembuluh-pembuluh darah milik nya hingga ia pun terlelap dalam meditasi nya.


Kembali ke arena pertandingan di Stadium Awan Hitam.


"Byurrrr..................... " Suara hujan deras."


Siang harinya, setelah acara musik selesai pertandingan pertama pun di mulai, Komandan Lala, Komandan Talia, dan Komandan Anya pun melesat ke arena dengan Jurus Langkah Petir nya.


"Baiklah, pada babak perempat final ini akan di mulai dengan pertarungan antara Gisel Alba VS Kayla Amara,"


"Kepada kedua peserta di harapkan maju ke atas arena." Ucap Komandan Lala, menggunakan jurus auman.


"Plok......... plok........ plok.......... "


"Plok......... plok........ plok.......... " Suara tepuk tangan penonton.


Beberapa saat kemudian Gisel pun melompat ke atas Arena, tak lama berselang Kayla pun melompat ke Arena. Ketiga Komandan pun kembali melesat ke pinggiran Tribun Penonton di dekat para reporter dan kameramen.


"Wah Gadis berambut ungu itu telah mengubah warna rambutnya, namun tetap cantik." Teriak salah satu Penonton.


"Cantiknya jadikan aku suami mu...........Gisel." Teriak Penonton lainnya.


Bagi wanita di Kota Awan Hitam penampilan adalah nomer satu, mendengar pujian dari beberapa penonton membuat Gisel senang.


"Syukurlah penampilan baru ku ini tidak buruk." Gumam Gisel.


"Hiks...... hiks..... hiks..... " Tangis kecil Gisel di dalam hati.


"Aku cinta Rambut Unguku." Gumam Gisel, lalu menoleh ke arah lawan tandingnya.


"Hah.............................. "


"Itu kan Kayla?"


"Gadis ini tidak pernah memberitahuku kalau dia masuk babak perempat final, padahal kami sudah minum bareng saat di kapal selam Robert." Gumam Gisel.


"Kayla, ternyata Kayla Amara adalah kamu Kayla." Ucap Gisel, ia tidak menyangka bahwa Kayla adalah lawan nya di perempat final tersebut.


"Padahal kita sudah mabuk bareng di dalam kapal selam milik Robert, tapi kau tidak pernah menanyakan nya." Gumam Kayla.


"Bukan tidak memberitahu mu Gisel, tapi kau tidak pernah menanyakan nya kepadaku." Ucap Kayla.


"Iya..... ia...... saat itu aku terlalu antusias melakukan penjelajahan dengan bebeb Arung, jadi lupa menanyakan nya." Ucap Gisel.


"Kau menang Gisel." Ucap Kayla


"Menang, apa maksud perkataan Kayla." Gumam Gisel.


Kayla lalu mengangkat sebelah tangannya.


"Kenapa dia mengangkat tangan nya, apa dia minta time out?" Gumam Gisel.


Komandan Lala, Komandan Talia dan Komandan Anya pun melesat kembali ke dalam arena, setelah melihat Kayla mengangkat sebelah tangannya.


"Mungkinkah gadis ini menyerah." Gumam Komandan Anya.


"Ada apa Kayla?" Tanya Komandan Lala.


"Aku menyerah Komandan." Ucap Kayla.


"Huh...... huh....... huh.......... " Teriak Penonton yang kecewa.


"Ternyata benar dia menyerah, Luna pasti akan marah dengan nya." Gumam Komandan Anya.


Komandan Anya, Komandan Lala, dan Komandan Talia merupakan teman dekat Komandan Luna dan Tuan Muda Quill. Mereka mengetahui bahwa Kayla dan Jupiter Fox merupakan anak didik Wakil Komandan Luna.


"Kenapa kamu menyerah Kayla, Luna pasti akan kecewa pada mu Kayla?" Tanya Komandan Lala.


"Tidak apa-apa Komandan, kalau aku melawan Gisel aku sudah pasti akan kalah,"


"Aku sudah siap menerima hukuman dari guru." Ucap Kayla.


"Kayla........ " Gumam Gisel.


"Selamat untuk mu Gisel, sudah dipastikan kau akan menjadi juara dua di kompetisi final ini." Ucap Kayla, lalu beranjak keluar dari arena.


"Tapi kenapa hatiku merasa tidak menang ya." Gumam Gisel.


"Sepertinya mereka berteman, ya sudah lah,"


"Ku kira aku bisa merayunya." Gumam Komandan Lala.


"Baiklah kalau begitu, karena Kayla sudah menyerah pemenang pertandingan ini adalah Gisel Alba."


"Pertandingan akan di lanjutkan satu jam kemudian." Ucap Komandan Lala, menggunakan Jurus Auman.


Ketiga Komandan pun kembali melesat meninggalkan arena pertandingan, begitu pula dengan Gisel.


"Plok......... plok........ plok.......... "


"Plok......... plok........ plok.......... " Suara tepuk tangan penonton.


Beberapa saat kemudian para Kultivator Artis pun kembali ke arena lalu membawakan beberapa tembang untuk menghibur para jendral dan penonton di Stadium Awan Hitam.


Tribun Khusus Perwira Tinggi


"Byurrrr................................ ":Suara hujan deras.


Tampak di Tribun, kelima Jendral tengah duduk bersama dan di belakang mereka berdiri beberapa Komandan kepercayaan mereka masing-masing.


"Ha..... ha..... ha..... " Tawa Berserker.


"Prajurit Magang itu menyerah sebelum bertanding, Jendral Es,"


"Ternyata Junior-junior di Kota Awan Hitam ini begitu lemah, bahkan mereka menyerah sebelum bertanding,"


"Bagaimana saat menghadapi perang nanti, lihatlah Dilla keponakan ku yang berasal dari Kota di bawah naungan ku,"


"Dia pasti akan menjadi juara satu pada Ujian Tahap Kedua ini." Ucap Berserker.


Mendengar perkataan Jenderal Berserker, Jendral Es pun merasa tersinggung.


"Berserker, bagaimana jika kita berdua bertaruh,"


"Aku akan mempertaruhkan Mansion ku dan Cabang Paviliun Obat Kota Awan Hitam dengan Hotel dan Paviliun Racun milik mu." Ucap Jendral Es.


"Wah...... seperti nya Kakak tersinggung, tapi benar yang di katakan oleh Jendral Berserker,"


"Kompetisi ini pasti akan di menangkan oleh Dilla, ranah nya adalah yang paling tinggi di antara para Prajurit Magang lainnya." Gumam Jendral Karna.


"Ha..... ha...... ha....... " Tawa Jendral Berserker.


"Kau sudah gila Jendral Es, baiklah aku setuju dengan usul mu,"


"Para Komandan ku cepat siapkan dokumen nya segera, lalu bawa kemari." Perintah Berserker.


"Mitha sudah gila, bertaruh pada bocah magang yang tidak di kenalnya tersebut." Gumam Jendral Catherine.


"Siap Jendral." Sahut kompak ke lima Komandan, lalu beranjak pergi dari Tribun.


"Mitha..... Mitha.... kau tidak berubah-ubah." Gumam Jendral Wilson.


"Nando, Mutia kalian juga segera siapkan dokumen Mansion milikku dan dokumen Cabang Paviliun Obat Kota Awan Hitam." Perintah Jendral Es.


"Siap Nona." Ucap kompak Nando dan Mutia, lalu pergi beranjak dari Tribun.


"Wilson, Catherine, dan Karna kalian akan menjadi saksi pertaruhan kali ini." Ucap Jendral Es.


"Baik Kakak Kedua." Ucap Jendral Karna.


"Tenang saja Mitha, jika Berserker berani menipumu dia juga akan berhadapan dengan ku." Ucap Jendral Catherine.


"Benar Mitha." Ucap Jendral Wilson.


"Dasar Brengsek ketiga Jendral lainnya memihak ke Jendral Es, tapi tidak apa-apa Dilla pasti akan memenangkan pertandingan tersebut." Gumam Berserker.


"Aku tidak mungkin mengingkari janji ku Jendral Es." Ucap Berserker, sambil menarik-narik janggutnya.


"Baiklah kalau begitu, kita lihat saja nanti." Ucap Jendral Es.


"Hah................ " Hembusan nafas panjang Jendral Karna.


"Ini karena Kak Mitha menolak lamaran Jendral Berserker lima tahun yang lalu." Gumam Jendral Karna.


"Arung sebagai pendamping ku, kau harus menang melawan keponakan Berserker." Gumam Jendral Es.


Tribun VIP dan VVIP


"Selamat Ayu, adik mu sudah bisa di pastikan menjadi juara dua Ujian Tahap Kedua ini." Ucap Shilla.


"Terima kasih Shilla." Ucap Ayu.


"Wah..... adikku sudah pasti akan di angkat menjadi sersan, bagus lah,"


"Aku tinggal menonton Pertandingan Arung saja sekarang." Gumam Ayu.


"Ha... ha.... ha... " Tawa kecil Bongpal di dalam hati.


"Syu Yan anakku lebih hebat dari anak mu." Gumam Bongpal.


"Kayla kenapa kau menyerah?" Gumam Tabib Syu.


Raut wajah Tabib Syu terlihat sedikit sedih karena Kayla menyerah sebelum bertanding.


"Mungkin kah Kayla sedang sakit?" Gumam Tabib Syu.


Kembali Ke Arena


"Byurrrr.......................... " Suara hujan deras.


Satu jam kemudian, Ketiga Komandan kembali melesat ke atas Arena.


"Baiklah, Pertandingan selanjutnya antara ArungBijak Tiger VS Dilla Azura, kepada kedua peserta di harap untuk naik ke atas arena." Ucap Komandan Lala, dengan Jurus Auman.


Dilla Azura langsung melesat ke atas arena sambil menggenggam Pedang Iblis Hitam di tangan nya.


"Cantik...... nya...... " Teriak beberapa penonton.


"Dilla.............I Love You, kau harus menang aku sudah mempertaruhkan seluruh uang ku kepadamu." Teriak Penonton lainnya.


Pada saat ini pasar taruhan hampir semua petaruh memasang Dilla Azura, Jika Dilla sampai menang Pihak Panitia Judi Stadium Awan Hitam akan bangkrut. Hanya satu orang yang bertaruh pada kemenangan Arung yaitu diri Arung sendiri, bahkan Gisel pun bertaruh pada Dilla Azura dan dia telah bersiap mengalah pada Dilla di babak final nanti.


Beberapa menit pun telah terlewati Arung tak kunjung datang.


Tribun Khusus Perwira Tinggi.


"Ha..... ha..... ha..... " Tawa Berserker, sambil menarik-narik janggutnya.


"Lihat Jendral Es, Junior dari kota mu bahkan tidak berani muncul ke Arena." Ucap Berserker.


"Kakak Bodoh, ketimbang Kakak pertaruhkan mansion dan Paviliun tersebut,"


"Lebih baik Kakak berikan pada ku saja atau ke Lily." Gumam Jendral Karna.


"Tenanglah Berserker, masih ada waktu 15 menit lagi." Ucap Jendral Es.


"Kemana si bodoh itu pergi, awas jika kau tidak datang Arung." Gumam Jendral Es.


Tribun VIP dan VVIP


Terlihat Xiao Mei Mei, Matriak, dan Bongpal sedikit gelisah karena Arung belum hadir-hadir juga ke arena.


"Mei Mei, sebenarnya apa yang kau lakukan bersama Arung semalam?"


"Hingga saat ini dia belum tiba juga di atas arena." Ucap Nyonya Vinic.


"Aku hanya menemani Arung untuk menenangkan pikiran nya di Tepian Danau Mematikan, mungkin dia ketiduran Vin." Ucap Xiao Mei Mei.


"Arung jangan mempermalukan aku di depan Syu Yan kumohon datanglah." Gumam Bongpal.


"Ugh....... maafkan aku Arung, soal yang semalam." Gumam Xiao Mei Mei.


Raut wajah Shilla dan Ayu pun terlihat sedikit khawatir, karena Arung tak kunjung tiba.


Kembali ke Arena.


"Byurrrr.......................... " Suara hujan deras.


Tampak di Arena ketiga Komandan masih menunggu Arung, begitu pula dengan Dilla Azura yang telah bersiap dengan Pedang Iblis Hitam di tangan nya.


"Ha..... ha..... ha......... " Tawa kecil Dilla di dalam hati.


"Sepertinya racun ku bereaksi lebih cepat dari dugaan ku, aku pasti akan menang tanpa bertanding." Gumam Dilla.


"Talia berapa menit lagi sisa waktunya?" Tanya Komandan Lala.


Komandan Talia pun melihat jam pada HP nya.


"1 menit lagi Lala." Ucap Komandan Talia.


"Sepertinya dia tidak akan datang, baiklah....... " Ucap Komandan Lala.


"Blitzzz.......................... " Suara Jurus teleportasi milik Arung.


Dalam sekejap mata Arung pun muncul di arena pertandingan, semua mata tertuju kepadanya.


"Plok......... plok........ plok.......... "


"Plok......... plok........ plok.......... " Suara tepuk tangan penonton.


"Untung saja tidak telat ini gara-gara ketiga cewek kembar tersebut." Gumam Arung.


Wajahnya tampak lebih muda dan lebih tampan dari sebelumnya di sebabkan telah mengkultivasi Pil Awet Muda.


Tribun VIP dan VVIP


Saat Arung muncul di atas arena Nyonya Vinic dan lain nya pun langsung berdiri karena terkejut.


"Sepertinya Arung makin tampan, atau hanya perasaan ku saja,"


"Syukurlah Arung, kau tiba di saat-saat terakhir." Ucap Shilla.


"Tampannya.......... "


"Arung benar-benar sangat cepat, aku tidak melihat dari mana asal kedatangan nya,"


"Dalam sekejap mata dia sudah ada di atas arena." Gumam Ayu.


"Kenapa bocah itu semakin Tampan,"


"Lho.........ranah nya juga sudah naik ke ranah alam langit puncak, bahkan saat ini dia lebih kuat di banding kan aku,"


"Lalu ranah Xiao Mei Mei turun satu tingkat, apa yang sebenarnya terjadi?" Gumam Nyonya Vinic.


"Bongpal anak mu benar-benar hebat ranah nya saat ini setara dengan Dilla." Ucap Tabib Syu.


"Siapa dulu donk Syu Yan, anak ku gitu." Ucap Bongpal.


Sebenarnya Bongpal bersedih karena kekuatan Arung saat ini lebih besar dari nya.


"Hiks....... hiks...... hiks........ " Tangis kecil Bongpal.


"Arung saat ini bahkan kau lebih kuat dariku, belum sampai setahun ranah mu sudah setinggi ini." Gumam Bongpal.


Tribun Khusus Perwira Tinggi.


"Byurrrr........................ " Suara hujan deras.


Kelima Jendral pun terkejut melihat kecepatan Arung serta kenaikan ranah nya yang begitu cepat dan tidak normal.


"Berserker sepertinya aku tidak gila, junior ku saat ini memiliki ranah yang sama dengan keponakan mu,"


"Siapa yang menang dan siapa yang kalah kita belum tahu." Ucap Jendral Es.


"Ugh...... bagaimana bisa, aku sudah terlanjur bertaruh,"


"Jika aku kalah Aliansi Paviliun Racun akan marah pada ku, aku hanya bisa berharap pada kemenangan Dilla saat ini." Gumam Berserker, lalu menarik-narik janggutnya.


"Kita lihat saja Jendral Es, keponakan ku masih lebih unggul dengan senjata suci alam Iblis di tangannya." Ucap Berserker.


"Tidak kuduga Arung setampan ini." Gumam Jendral Es.


Kembali ke arena.


Melihat Arung telah berada di arena, ketiga Komandan pun kembali ke pinggiran Tribun Penonton. Kedua peserta pun saling memberikan hormat.


"Arung, lebih baik jika kau tidak datang,"


"Walau ranah kita saat ini sama tapi aku memiliki senjata suci alam Iblis di tanganku." Ucap Dilla, kemudian menghunus kan Pedang Iblis Hitam nya ke arah Arung.

__ADS_1


Sejak menyatu dengan Teratai Kebijaksanaan, Arung lebih tenang dan bijaksana. Meskipun saat ini Dilla memprovokasi nya ia tetap tenang lalu mengeluarkan Pedang Taifun.


"Menang kalah itu hal biasa, bagaimana cara mencapainya itu yang lebih penting." Ucap Arung, kemudian menebaskan Pedang Taifun ke arah Dilla.


"Ternyata Arung ini merupakan seorang laki-laki yang tenang, tampaknya racun ku sama sekali tidak bekerja padanya." Gumam Dilla, lalu menebaskan Pedang Iblis Hitam nya.


Elemen angin yang membentuk sebuah pedang pun melesat ke arah Dilla, begitu pula dengan bilah pedang elemen kegelapan melesat ke arah Arung. Kedua elemen yang berbeda pun saling beradu.


"Duarrrr.................... " Ledakan akibat kedua elemen yang saling beradu.


"Blitz......................... " Suara Jurus Teleportasi milik Arung.


Dilla pun menyadari kehadiran Arung di belakangnya, ia pun berbalik menggunakan Jurus Langkah Petir. Arung pun mengayunkan Pedang Taifun nya, Dilla pun mengayunkan Pedang Iblis Hitam nya. Kedua pedang pun saling beradu.


"Tring....... tring........ tring........ "


"Tring....... tring........ tring........ "


"Tring....... tring........ tring........ " Suara pedang yang saling beradu.


"Ugh..... ternyata Arung ini kuat juga." Gumam Dilla, lalu terus mengayunkan pedangnya.


Para Jendral dan Penonton pun terpaku menyaksikan mereka berdua saling beradu pedang di atas arena, hingga beberapa saat kemudian Arung pun menghilang.


"Blitzzz......................... " Suara Jurus Teleportasi Milik Arung.


"Hah...... kemana dia pergi, kenapa dia bisa menghilang begitu cepat?" Gumam Dilla, lalu mengamati sekeliling.


"Rasakan ini Dilla." Gumam Arung, lalu melesatkan sebongkah es raksasa ke arah Dilla.


Dilla saat itu lengah dan tidak menyadari serangan mendadak Arung di belakang nya.


"Duargh.....,..................... " Suara ledakan akibat bongkahan es, Dilla pun terpental hingga beberapa meter.


"Ugh...... punggung ku," Gumam Dilla lalu bangkit kembali.


"Blitzzzz.......................... " Jurus Teleportasi milik Arung.


Dalam sekejap mata Arung pun tiba di hadapan Dilla lalu mulai mengayunkan Pedang Taifun nya kembali. Dilla pun kembali mengayunkan Pedang Iblis Hitamnya, kedua pedang mereka pun kembali saling beradu.


"Tring....... tring........ tring........ "


"Tring....... tring........ tring........ "


"Tring....... tring........ tring........ " Suara pedang yang saling beradu.


"Sepertinya dia sudah mulai kelelahan, aku hanya perlu menekannya saja sedikit lagi." Gumam Arung, sambil mengayunkan pedang nya kembali.


Dilla pun kemudian melesat kan beberapa bola petir berdiameter 2 meter ke arah Arung, lalu melesat ke belakang menggunakan Jurus Langkah Petir.


"Siasat apa ini?" Gumam Arung, lalu berteleport ke samping.


"Blitzzzz..................... " Suara jurus teleportasi milik Arung.


"Duarghhh......... duarghhh....... duarghhh........ " Suara ledakan bola petir yang mengenai dinding pelindung arena.


"Kau memang cepat tapi kau tidak akan bisa menghindari Pedang Iblis Hitam ku sebentar lagi." Dilla pun melesat kan petir ke langit dari telapak tangannya.


Seketika langit mengeluarkan luapan petir di sekitar nya, lalu beberapa saat kemudian beberapa halilintar ungu pun menyambar ke arah Arung.


"Jadi ini rencananya." Gumam Arung, lalu memasang perisai kultivasi api hitam di sekitar nya.


"Duarrrrrr........... duarrrrrr.......... duarrr....... " Suara petir menyambar perisai kultivasi Arung.


"Check mate." Gumam Dilla, lalu langsung melesat dan berniat menusuk Arung.


Sekelebat petir pun mulai menerobos perisai kultivasi api hitam, lalu menusuk bahu Arung.


"Akh..........." Teriak Arung, lalu berteleport ke sisi sebalik nya.


Malang bagi Arung ia pun terkena beberapa sambaran halilintar ungu, hingga bajunya hangus. Untung saja saat ini tubuh Arung telah mencapai ranah penempaan tubuh tahap ke lima sehingga cederanya tidak begitu parah.


"Duargh........ duarghhh......... duargh....... " Suara sambaran halilintar ungu mengenai Arung.


Asap pun mulaicmenutupi arena untuk sementara waktu, terlihat sosok Dilla Azura masih berdiri gagah di atas arena.


Tribun Khusus Perwira Tinggi


Kelima Komandan Berserker telah kembali begitu juga dengan Komandan Jenderal Es, sambil membawa dokumen kepemilikan yang sedang di pertaruhkan di pertandingan ini.


"Ha...... ha........ ha....... " Tawa Berserker, sambil menarik-narik janggutnya.


"Sepertinya Cabang Paviliun Obat Kota Awan Hitam akan segera menjadi milikku, Jendral Es." Ucap Berserker.


"Bertahanlah Arung." Gumam Jendral Es.


"Kasihan Kakak, akibat emosi sesaat malah mempertaruhkan Paviliun Obat lalu mansionnya." Gumam Jendral Karna.


"Ugh...... ketiga istriku hari ini diam saja, mungkin mereka takut sama Jendral-Jendral lainnya." Gumam Jendral Karna, sambil mencuri pandang ke belakang.


Saat ini Jendral Karna di dampingi oleh ketiga Komandan yang juga merupakan istri-istrinya.


"Tenanglah Berserker, pertandingan belum usai lihatlah Junior ku masih berdiri dengan gagah di balik asap tersebut." Ucap Jendral Es.


"Bagaimana mungkin dia masih bisa berdiri setelah terkena serangan se dahsyat itu." Gumam Jendral Wilson.


"Apa..... siapa Pemuda Berambut Merah tersebut, sebenarnya?" Gumam Berserker.


Kembali ke Arena


"Byurrrr....................... " Suara hujan deras.


Saat kabut asap mulai menghilang, terlihat Arung masih berdiri tanpa mengenakan baju lalu memegang sebuah Palu Emas Hitam Surgawi dan Pedang Taifun menancap di samping nya. Alangkah terkejutnya para Jendral dan penonton saat melihat hal tersebut.


"Plok......... plok........ plok.......... "


"Plok......... plok........ plok.......... " Suara tepuk tangan penonton.


"Itu senjata Dewa...... " Teriak Penonton.


"Kau sungguh Tampan Arung, jadikan aku yang ke dua." Teriak Penonton lainnya.


"Rambut merah..... aku pada mu." Teriak Penonton lainnya.


"Ugh........ aku sepertinya harus mencari sebuah cara untuk mengambil Pedang Iblis Hitam tersebut, pedang itu memiliki kemampuan menembus perisai kultivasi.


"Apa...... ternyata selama ini dia menyembunyikan senjata dewa tersebut." Gumam Dilla.


Tribun VIP dan VVIP


Bongpal dan Syu Yan tengah memakan popcorn, begitu pula dengan Matriak serta yang lainnya. Saat Arung mucul dari balik kabut asap dan memegang sebuah senjata dewa mereka pun menjatuhkan popcorn nya.


"Darimana anak itu memiliki sebuah senjata dewa." Ucap Bongpal.


"Apa........."


"Ternyata keputusan ku sudah sangat tepat menjodohkan Shilla dengan nya." Ucap Nyonya Vinic.


"Adik Kecil, rahasia apa lagi yang kau sembunyikan." Gumam Xiao Mei Mei.


"Wah....... tidak kusangka anak tiriku memiliki sebuah senjata dewa." Gumam Syu Yan.


Kembali ke Arena.


"Tidak kusangka kau memiliki sebuah senjata suci ranah alam dewa, bagaimana jika kau menyerah lalu menjadi pacarku saja." Ucap Dilla.


Sepertinya Dilla sudah terbius kemampuan Dragon Love milik Arung.


"Cinta itu tidak bisa di paksakan, seekor lebah tidak pernah memilih akan hinggap di bunga yang mana." Ucap Arung.


Merasa permintaannya di tolak oleh Arung, Dilla pun mulai marah. Ia pun menerjang ke arah Arung mengunakan jurus Langkah Petir nya.


"Dia terprovokasi, sekarang saat nya." Gumam Arung, lalu menyalurkan 20 persen tenaga dalam nya ke dalam Palu Dewa.


Beberapa detik sebelum terkena tebasan Pedang Iblis Hitam, Arung pun berteleport ke belakang Dilla sejauh beberapa meter lalu melemparkan Palu tersebut.


"Membesar." Ucap Arung, Palu tersebut pun membesar perlahan lalu menerjang ke arah Dilla.


"Apa...... dia menghilang lagi, ternyata dia lebih cepat dari ku." Gumam Dilla, lalu berbalik menggunakan Jurus Langkah Petir.


Dilla pun memasang Perisai Kultivasi Kegelapan, untuk melindungi dirinya terkena hantaman Palu Dewa tersebut.


"Duar.......................... " Suara ledakan akibat Palu Dewa.


"Blitzzz....................... " Suara Jurus teleportasi milik Arung.


Arung pun berdiri di pinggir Arena sambil memegang Pedang Iblis Hitam milik Dilla, ternyata saat Palu Dewa menghantam perisai kultivasi kegelapan. Arung berpindah tempat ke dalam perisai kultivasi Dilla lalu mengambil Pedang Iblis Hitam miliknya dan berteleport ke pinggir arena.


"Hah............................. " Suara hembusan nafas panjang Arung, setelah berhasil mengambil Pedang Iblis Hitam milik Dilla.


Tak lama berselang, Dilla pun mulai menyadari nya.


"Pedang Iblis Hitam ku, gawat Paman pasti kesal sekali." Gumam Dilla, lalu menoleh ke arah Arung.


"Sejak kapan dia mengambil Pedang Iblis Hitam milikku?" Gumam Dilla.


Melihat Pedang Iblis Hitam milik keponakannya di ambil oleh Arung, Berserker pun berang. Ia pun melesat terbang dari Tribun Khusus ke arena. Nona Mitha pun ikut melesat terbang ke arah Arung setelah melihat Berserker.


"Plok......... plok........ plok.......... "


"Plok......... plok........ plok.......... " Suara tepuk tangan penonton.


"Dasar curang." Teriak Berserker, lalu melesat kan sebuah bola berelemen kegelapan yang sangat padat berdiameter 5 meter dari atas.


Akibat serangan mendadak Berserker Arung pun tidak dapat menghindari nya lagi, ia menyadari serangan tersebut beberapa saat setelah bola hitam di tembakkan


"Ugh........ sial aku tidak dapat menghindari nya lagi." Gumam Arung, berniat memasang perisai kultivasi es.


Seorang wanita cantik berambut biru pun mendarat di hadapan Arung dan membelakangi nya. Gadis Cantik tersebut mulai mengayunkan tangannya, sebuah Perisai Kultivasi Es pun menyelimuti mereka berdua.


"Duarghhh......................... " Suara ledakan akibat bola hitam menghantam perisai kultivasi es.


Arung akhirnya menyadari kalau wanita cantik tersebut adalah Nona Mitha, saat ini Arung belum menyadari kalau Nona Mitha adalah Jendral Es.


Di dalam Perisai Kultivasi Es.


Arung terkejut menyaksikan kehadiran Nona Mitha di hadapan nya.


"Nona Mitha........... " Gumam Arung.


"Arung minumlah Pil Ginseng Seratus Tahun ini." Ucap Nona Mitha, lalu memberikan pil tersebut.


"Nona Mitha, bagaimana kau bisa ada disini?" Tanya Arung, lalu mengunyah Pil Gingseng tersebut.


"Nanti kau akan tahu." Ucap Nona Mitha, lalu mengayunkan kembali tangannya.


Perisai Kultivasi Es pun perlahan menghilang, tampak Jendral Berserker telah mendarat di samping keponakannya.


Arena


"Paman, dia pasti khawatir Segel Pelahap Iblis tersebut akan lepas disini." Gumam Dilla.


Keadaan di arena pun hening untuk sesaat, tampak para kameramen di pinggir arena mengarahkan kamera mereka ke arah Jendral Es.


"Plok......... plok........ plok.......... "


"Plok......... plok........ plok.......... " Suara tepuk tangan penonton.


"Wah.... Jendral Es memang hebat." Teriak Penonton.


"Hidup Jendral Es." Teriak Penonton Lainnya.


"Mungkinkah Nona Mitha adalah Jendral Es yang di ceritakan oleh Wakil Komandan Luna?" Gumam Arung.


"Jendral Es, Prajurit magang itu telah curang pada pertandingan final ini,"


"Kenapa Kau menolongnya?" Tanya Berserker.


"Pemuda yang kau bilang curang tersebut adalah Tunangan ku." Ucap Nona Mitha.


"Apa................. Nona Mitha ternyata adalah Jendral Es Kekaisaran Dewi Es ini, dan dia mengumumkan bahwa aku adalah tunangannya,"


"Firasatku tidak enak saat ini." Gumam Arung.


"Tunangan.............. " Gumam Berserker.


"Pantas saja dia menolak lamaran ku tadi." Gumam Dilla, kemudian menoleh ke arah Arung.


Tribun Penonton.


Keributan pun terjadi di Tribun Penonton, tampak Kultivator Laki-laki mulai mencoba menerobos perisai untuk membunuh Arung.


"Bunuh dia....... " Teriak salah satu Kultivator yang mencintai Jendral Es.


"Akan ku minum darah mu, rambut merah." Teriak salah satu Kultivator yang mencintai Jendral Es.


"Duarghhh........ duargh........ duargh............. " Suara ledakan akibat serangan berbagai elemen dari beberapa kultivator laki-laki yang mencintai Jendral Es.


Para Komandan dan Prajurit yang berjaga pun mulai menangkap para pelaku penyerangan tersebut, beberapa menit kemudian para pelaku berhasil di amankan. Di tribun tampak beberapa Kultivator laki-laki yang pingsan setelah mendengar pernyataan Nona Mitha. Para prajurit pun membawa Kultivator yang pingsan di tribun tersebut ke Rumah Sakit Kota Awan Hitam untuk mendapatkan pertolongan segera.


"Huft..................... " Suara hembusan nafas panjang Komandan Anya.


"Kemunculan perdana Jendral Es setelah lima tahun ternyata membuat kegaduhan seperti saat teror lubang hitam dua bulan yang lalu." Gumam Komandan Anya.


Di Pinggir Tribun Penonton.


"Tetap sorot Jendral Es, ini berita besar, "


"Seorang Pemuda Tampan menjadi Tunangan Jendral Idola Kekaisaran Dewi Es." Ucap salah satu reporter.


Para kameramen lain nya pun mulai menyorot ke arah Jendral Es dan Arung, dalam seketika Arung menjadi lebih terkenal dari sebelumnya di Kekaisaran Dewi Es ini.


Kembali ke Tribun VIP dan VVIP


Xiao Mei Mei dan yang lainnya pun terkejut saat mendengarkan pernyataan dari Jendral Es di atas arena, bahkan Shilla langsung pingsan setelah Jendral Es menyelesaikan pernyataan nya tersebut.


"Adik kecil, apa yang telah kau lakukan,"


"Tidak pernah kuduga kau telah menjalin cinta dengan Jendral tercantik di Kekaisaran Dewi Es ini." Gumam Xiao Mei Mei,


"Uhuk...... uhuk..... uhuk..... " Suara batuk darah Mei Mei, lalu tersungkur ke lantai.


"Mei Mei..... " Ucap Nyonya Vinic.


"Bongpal, ayo bawa mereka ke Rumah Sakit segera." Ucap Tabib Syu.


"Benar Syu Yan." Ucap Bongpal.


Nyonya Vinic dan lainnya pun membawa Xiao Mei Mei dan Shilla menuju Rumah Sakit Awan Hitam.


"Sepertinya aliran tenagan dalam milik Mei Mei terbalik mengalir karena syok,"


"Shilla pun pingsan karena syok juga." Gumam Nyonya Vinic.


Di Tribun VIP dan VVIP saat ini hanya tinggal Tetua Yaoyan dan dua Tetua lainnya mereka pun tetap duduk dengan tenang.


Tribun Khusus Perwira Tinggi.


Ketiga Jendral serta para Komandan yang mendampingi pun terkejut setelah mendengarkan pernyataan Jendral Es yang telah menggetarkan Tribun Penonton serta seluruh Kekaisaran Dewi Es saat ini.


"Aku ingat laki-laki itu Karna, dia adalah laki-laki yang kau bully saat berada di Ngarai Biru dua bulan yang lalu." Ucap Uranus, istri Jendral Karna.


Jendral Karna pun terdiam sejenak, lalu mencoba mengingat wajah Pemuda yang di bully nya saat di Ngarai Biru.


"Oh.............iya benar Uranus, aku sudah curiga kepadanya saat dia pertama kali menunjukkan elemen bangsawan nya kepadaku,"


"Elemen es Pemuda tersebut sangat mirip dengan milik Kakakku, aku sangat yakin kalau mereka berdua sudah saling berbagi essensi kultivasi." Ucap Jendral Karna, keceplosan.


"Ups..... aku lupa kalau di sini banyak orang, ini semua gara-gara kamu Uranus." Gumam Jendral Karna.


Kedua Jendral dan para Komandan pun terkejut setelah mendengarkan perkataan Jendral Karna.


"Aku tidak menduga nya sama sekali, ternyata Mitha menyukai laki-laki berondong,"


"Patut saja ia selalu menolak saat di lamar oleh para Jendral atau mentri-mentri." Gumam Jendral Catherine.


"Ternyata dia bertaruh untuk tunangannya, makanya Mitha ngotot sekali."


"Cinta memang membutakan mata, menghilangkan kewarasan." Gumam Jendral Wilson.


"Byurrrr..................... " Suara hujan deras.


"Wah............... aku tidak menyangka Nona Mitha telah bertunangan dengan seorang Prajurit Magang yang tidak jelas asal usul nya." Gumam Mutia.


"Pasti ada skandal yang terjadi di antara Nona Mitha dan Prajurit Magang tersebut.." Gumam Nando.


Tribun Dalam.


Saat mendengar pernyataan Jendral Es dari atas arena, batin Gisel pun langsung terguncang sehingga menyebabkan peredaran tenaga dalam di dalam tubuh nya menjadi terbalik lalu membuat nya cedera parah. beberapa saat kemudian ia pun memuntahkan darah hitam dari dalam mulut nya.


"Uek.............. "


"Uek..............." Suara muntah Gisel.


"Jendral Es dan Arung bertunangan......ughh....ughh......dada ku.........sakit........... " Ucap Gisel, lalu tersungkur dan tak sadar kan diri di lantai.


Kayla yang tengah berada di sekitar Tribun Dalam melihat Gisel yang sudah tidak sadar kan diri tergeletak di lantai, ia pun beranjak ke tempat tersebut berniat menolong nya.

__ADS_1


"Gisel, dia pasti syok mendengar pernyataan Jendral Es tersebut." Gumam Kayla, lalu membawanya ke Rumah Sakit Kota Awan Hitam.


__ADS_2