Pendekar Setengah Naga

Pendekar Setengah Naga
Terdampar Ke Masa Lalu Bagian Awal.


__ADS_3

Di Atap Penginapan Stadium Awan Hitam.


5 Tahun yang lalu.


"Byurrrr.......................... " Suara hujan deras.


Arung saat ini telah mengenakan jubah emas dan juga memakai sepasang Sepatu Bulu Phoenix di kaki nya. Pakaian tersebut di peroleh nya dari dalam cincin ruang pemberian Tuan Muda Quill, yang mana pakaian tersebut dapat beregenerasi dengan sendiri nya dan merupakan sebuah senjata suci di ranah alam dewa bertipe jubah.


"Wah...... Tidak kusangka pakaian di dalam cincin ruang pemberian Tuan Muda Quill sangat keren, Jika melihat ku seperti ini Mitha pasti akan langsung melepas pakaian nya lalu mulai memangsaku." Ucap Arung, sambil menoleh ke arah pakaian nya.


Sepatu Bulu Phoenix tersebut merupakan sebuah senjata suci alam Naga bertipe kendaraan, membuat pengguna nya dapat terbang dengan cara menyalurkan tenaga dalam nya ke dalam sepasang sepatu tersebut.


"Baiklah aku akan memakai Pipa Hisap Giok merah ini yang kutemukan di dalam cincin merah saat berada di dasar Ngarai Biru tersebut." Ucap Arung, lalu mulai menghisap tembakau ular.


"Whusss................. " Suara hembusan asap rokok Pendekar Don Juan.


Tampak di pinggang nya tergantung dua buah pedang di ranah alam malaikat puncak, yaitu Pedang Taifun dan Pedang Tornado Api.


"Hah....................... " Suara hembusan asap tembakau rokok membentuk Naga yang melesat ke langit.


Arung pun mulai merogoh-rogoh cincin es milik nya lalu menemukan dua buah bola merah di dalam nya, ia pun baru mengingat nya kalau kedua bola tersebut ia temukan di dalam cincin merah di dasar Ngarai Biru bersama pipa hisap giok tersebut.


"Aku masih belum mengetahui kegunaan kedua bola merah seukuran bola kasti ini?" Gumam Arung, sambil memperhatikan ke dalam bola tersebut.


"Whusss................... " Suara hembusan asap rokok.


Di dalam inti bola terdapat lima buah lambang elemen yang mewakili api, air, petir, cahaya, dan kegelapan membentuk bintang.


Tak lama berselang, samar-samar ingatan Jendral Api pun mulai mengidentifikasi kan bola-bola merah tersebut.


"Itu adalah sebuah senjata suci di ranah alam dewa puncak milik adik ku Raja Pencuri, namanya Mata Lima Elemen." Suara di kepala Arung.


"Ugh..... aku tidak menyangka Jendral Api memiliki adik seorang kriminal, Raja Pencuri dari namanya saja dia pasti orang besar di dunia kriminalitas saat itu." Gumam Arung.


"Untuk menggunakan nya kau harus memiliki ke lima elemen terlebih dahulu di dalam dirimu,"


"Lalu menyalurkan kelima elemen tersebut secara bersamaan ke dalam ke dua bola tersebut." Suara di kepala Arung.


"Untung aku sudah membangkitkan kelima elemen tersebut." Gumam Arung, ia sudah memprediksi kan kelima elemen tersebut saat melihat ke dalam inti bola tersebut.


"Elemen Air, Api, Petir, Kegelapan, dan Cahaya." Suara di kepala Arung.


"Fiuh........... "


"Jendral Api, jika kau memiliki seorang putri aku pasti akan menikahinya,"


"Kau selalu saja membantu ku di saat aku kebingungan dan kesulitan." Ucap Arung, lalu mulai memegang ke dua bola tersebut.


Arung tidak mengetahui nya jika salah satu dari Komandan Api merupakan anak angkat nya Jendral Api yaitu Komandan Delayla Jangbaek.


"Baik lah Jendral Api aku akan mencoba menggunakan senjata suci Mata Lima Elemen tersebut." Gumam Arung, lalu mulai menyalurkan kelima elemen tersebut secara bersamaan.


Aura berwarna-warni kembali membungkus tubuh nya, beberapa saat kemudian kedua bola merah seukuran kasti tersebut pun melayang lalu melesat ke dalam bola mata nya.


"Akh..............Mata ku..... " Teriak Arung.


"Mata ku..... Kenapa bisa panas begini.... " Ucap Arung.


Beberapa saat kemudian rasa panas di mata Arung pun perlahan mulai menghilang, dia pun mulai membuka kedua mata nya lalu mengamati ke sekeliling nya.


"Pusing sekali........,"


"Ugh...... Syukurlah mataku tidak buta, bagaimana cara nya menggunakan Mata Lima Elemen ini ya?" Gumam Arung.


Samar-samar ingatan Jendral Api pun mulai terngiang kembali di kepala Arung.


"Mata Lima Elemen memiliki lima macam kemampuan, yang pertama Mata Api memiliki kemampuan untuk dapat melihat tembus pandang." Suara di kepala Arung.


"Ugh.... Kemampuan yang sangat mesum, dengan mata ini aku dapat melihat daratan dan Bukit kultivasi milik pendekar-pendekar cantik di sekitar ku." Gumam Arung, sambil duduk bermeditasi.


"Mata Petir dapat melihat gerakan serangan musuh dengan slow motion." Suara di kepala Arung.


"Mantap jiwa, kemampuan yang sangat berguna di dalam pertarungan,"


"Bagus.... Bagus..... Bagus..." Gumam Arung.


"Mata Air, kemampuan untuk memikat lawan jenis serta membuat libido mereka naik." Suara di kepala Arung.


"Ughhh....... Kemampuan mata yang sangat mesum, melebihi kemampuan Mata Api," Gumam Arung.


"Mata Kegelapan, kemampuan mata untuk melihat di dalam kegelapan malam." Suara di kepala Arung.


"Ugh.... Night vision eye, mantap jiwa." Gumam Arung.


"Dan yang terakhir adalah Mata Cahaya memiliki kemampuan untuk memikat atau menjinakkan Beast atau Manusia Beast." Suara di kepala Arung.


"Untuk apa kemampuan seperti ini yach, oh iya wanita-wanita cantik di Benua Naga kan manusia Beast aku bisa menggunakan nya pada mereka?" Gumam Arung.


"Cara pengaktifan masing-masing mata tersebut dengan cara menyalurkan tenaga dalam berelemen air untuk Mata Air dan begitu seterus nya." Suara di kepala Arung.


"Waw....... Mantap sekali, baiklah aku akan mencoba nya sekarang,"


"Baiklah Mata Api, Bukit Kultivasi tunggu aku." Gumam Arung, lalu mulai mengalirkan tenaga dalam berelemen api ke dalam kedua mata nya.


"Semoga saja apa yang di katakan Jendral Api itu benar, jika tidak mata ku bisa buta terbakar oleh tenaga dalam berelemen api ini." Gumam Arung.


Tampak mata nya mulai berubah berwarna merah darah, ia pun mulai menatap ke lantai di bawah kaki nya tampak seorang Gadis Cantik sedang berganti pakaian di dalam nya.


"Berhasil, aku benar-benar bisa melihat tembus ke bawah,"


"Wah cantik sekali gadis itu, ugh..... tiba-tiba saja aku merasakan suhu tubuh ku sedikit naik saat melihat nya." Gumam Arung.


Di dalam sebuah kamar.


Tampak seorang gadis cantik yang tengah berganti pakaian, ternyata gadis cantik berambut ungu tersebut adalah Wakil Komandan Luna.


"Wakil Komandan Luna, aku tidak menyangka tubuh nya begitu panas seperti itu" Gumam Arung, setelah melihat nya untuk beberapa saat ia pun mulai menyadari identitas dari Gadis Berambut Ungu tersebut.


"Dasar Patriak selalu saja menjodoh kan ku dengan seenaknya saja, aku kan sudah memiliki Calon pendamping hidup ku sendiri,"


"Walaupun dia hanya muncul sekali lima belas tahun yang lalu tapi kami sudah melakukan nya berkali-kali pada saat itu." Ucap Luna.


Beberapa saat kemudian.


Sepertinya Luna telah merasakan kehadiran kekasih nya dari atas atap penginapan tersebut.


"Pendekar Naga mungkinkah dia selama ini diam-diam memperhatikan ku dari atas atap." Ucap Luna, lalu mulai melesatkan sebuah bola petir ke atas.


"Duargh............ " Suara ledakan langit-langit penginapan akibat serangan bola petir tersebut.


"Brukkkk........... " Suara tubuh Arung yang jatuh ke dalam kamar Luna bersama reruntuhan langit-langit.


"Ugh..... Punggung ku, bagaimana mungkin Wakil Komandan Luna bisa mengetahui kalau aku sedang mengintip nya dari atas atap,"


"Insting Wanita benar-benar tajam, makanya Kakek Bongpal selalu tertangkap saat mengintip Para Tetua dan Murid-murid dulu di Kediaman Tiger." Gumam Arung.


Luna yang melihat Arung mulai meneteskan air mata bahagia nya, lalu berlari ke arah nya dengan hanya mengenakan celana shot ungu transparan dan penutup dada ungu.


"Hiks...... hiks........ Hiks..... " Tangis harus Luna.


"Kenapa dia menangis, lalu memelukku,"


"Ugh...... Wakil Komandan Luna, celanaku jadi sempit nih, dada mu menyentuh dada ku,"


"Kenapa dengan Wakil Komandan Luna, apa dia sedang kesurupan setan di gedung ini?" Gumam Arung.


"Hiks....... Hiks....... Hiks...... " Tangis Haru Luna, setelah lima belas tahun berpisah.


"Pendekar Naga, kemana saja kau selama 15 tahun ini." Ucap Luna, sambil memeluk tubuh Arung.


"15 Tahun yang lalu aku masih lah seorang Balita Polos yang belum mengenal cinta Wakil Komandan Luna." Gumam Arung.


"Pendekar Naga, aku sangat merindukan mu." Ucap Luna, sambil menangis di bahu Arung.


"Hiks..... hiks...... hiks...... " Tangis Luna.


"Pendekar Naga???"


"Ugh..... Wakil Komandan Luna, celanaku terasa makin sempit." Gumam Arung.


Luna pun mulai menyeka air mata nya lalu mulai mencium bibir Arung dengan nafsu nya.


Apa yang saat ini terjadi dengan Wakil Komandan Luna adalah salah satu dari misteri alam semesta ini.


"Apa.... Yang di lakukan Wakil Komandan Luna, kenapa dia mulai mencium ku dengan nafsunya, mungkinkah dia baru saja meminum sebuah Pil pembangkit Libido,"


"Ugh..... Aku gak kuat lagi, Tuan Muda Quill maafkan aku.... " Gumam Arung, lalu mulai membalas ciuman panas Wakil Komandan Luna tersebut dengan lebih panas lagi.


Aura api hangat berwarna ungu pun mulai membungkus tubuh mereka berdua.


"Pendekar Naga aku sangat mencintaimu." Ucap Wakil Komandan Luna, lalu mulai mengayunkan lengan nya sebuah perisai kultivasi petir pun mulai membungkus tubuh mereka.


Pergulatan panas pun terjadi di dalam kamar hotel di dekat reruntuhan atap tersebut.


"Apa yang sebenarnya terjadi???" Gumam Arung, sambil membalas ciuman membara tersebut.


Lima jam kemudian, hari pun sudah tengah malam.


"Kwakkkkk.... kakkk..... kakkkk..... " Suara Beast Burung Hantu berkicau.


Setelah pergulatan yang panjang akal pikiran waras Arung pun kembali, ia mulai sadar akan tindakan sembrono nya.


"Hah....... hah........ hah...... " Suara nafas terengah-engah Arung.


"Kau baik-baik saja Sayang, maafkan aku ya aku sudah sangat merindukan mu selama lima belas tahun ini." Ucap Wakil Komandan Luna.


"Iya Aku baik-baik saja." Ucap Arung, dengan nada suara yang pelan.


"Kasian dia pasti kecapekkan, apa ku buatkan saja sup essensi dari cangkang kura-kura tersebut?" Gumam Wakil Komandan Luna.


Saat ini Arung tengah mengalami pergulatan yang sangat berat di dalam batin nya, antara cinta dan teman baik nya.


"Apa yang kulakukan aku telah tidur dengan calon istri teman baik ku sendiri, Ugh....Tuan Muda Quill maafkan aku,"


"Ini semua gara-gara Mata Api mesum ini,"


"Aku khilaf, Wakil Komandan Luna yang memaksaku tadi." Gumam Arung.


Beberapa menit kemudian,


Mereka berdua baru saja selesai berpakaian, tampak Wakil Komandan Luna terlihat sangat gembira dan puas lalu menoleh ke arah Kekasih Hati nya.


"Tampan nya, Pendekar Naga terlihat seperti seorang Jendral dengan pakaian dan kedua pedang di pinggang nya tersebut." Gumam Luna, sambil menoleh ke arah Kekasih nya.


"Kenapa Wakil Komandan Luna melihat ke arah ku, mungkinkah dia berpikiran akan memangsa ku lagi,"


"Dia pasti berpikiran memintaku menancapkan Pedang Kultivasi lagi, Ugh.... ayolah Wakil Komandan Luna aku lelah sekali." Gumam Arung.


Tampak wajah Arung saat ini sangat pucat, karena energi yan di dalam tubuh nya sudah hampir habis di mangsa oleh energi yin milik Wakil Komandan Luna.


"Pendekar Naga ayo kita makan malam dulu, lalu pindah ke kamar lain nya." Ucap Wakil Komandan Luna, sambil menggandeng lengan Pendekar Naga.


"Ugh..... Aku tidak mengira Wakil Komandan Luna bisa segenit dan se aktif ini." Gumam Arung.


"Ayo Wakil Komandan Luna." Ucap Arung.


"Hah................ " Suara nafas panjang Wakil Komandan Luna.


"Aku kan udah bilang dari dulu Sayang, untuk memanggilku dengan Luna atau istri ku saja." Ucap Luna.


"Hah.... aku makin bingung dengan kondisi saati ini, kenapa aku bisa dekat dengan Luna seperti ini,"


"Bagaimana perasaan Tuan Muda Quill jika sampai mengetahui hubungan terlarang kami." Gumam Arung.


"Ia Luna." Ucap Arung.


"Hah............. " Suara nafas panjang Arung.


Saat ini mode Mata Api Arung sudah kembali ke mata asal nya, setelah berfusion dengan Mitha raut wajah Arung menjadi semakin tampan dan lebih tinggi sedikit dari sebelum nya.


"Bagus lah........... Pendekar Naga muncul di saat-saat yang sangat tepat,"


"Besok aku akan mulai mengenalkan nya dengan Kakak ku, jadi dia tidak akan men jodoh kan ku lagi seenak nya dengan laki-laki lain nya lagi." Gumam Luna, lalu beranjak pergi dengan menggandeng lengan Pendekar Naga.


"Kacau-kacau bagaimana ini, kenapa Luna bisa mengira aku adalah Pendekar Naga,"


"Mungkinkah Pendekar Naga itu sangat mirip dengan ku saat ini." Gumam Arung, lalu ikut pergi bersama dengan Luna.


Mereka berdua pun turun ke lobi bawah berniat pergi makan malam ke Restaurant Awan.


Di dalam Lift.


Saat ini di dalam lift hanya ada sepasang kekasih yang baru selesai berbulan madu di reruntuhan kamar tersebut.


"Sebaik nya aku menghisap tembakau ular saja dulu." Gumam Arung, lalu mulai menghisap tembakau ular dengan pipa hisap giok merah nya.


"Whussss............... " Suara asap rokok Pendekar Naga.


"Dasar tukang ngerokok, setelah lima belas tahun berlalu kau tidak berubah-ubah Pendekar Naga,"


"Kemanapun kau pergi tembakau ular itu selalu saja kau hisap." Ucap Luna.


Luna tidak menyadari nya Tembakau Ular itu merupakan penawar racun Tapak Ular Beracun, saat ini Arung tengah di gerogoti oleh racun mematikan tersebut.


"Ugh.... ini semakin aneh, bahkan dia tahu tembakau apa yang ku hisap ini." Gumam Arung, lalu tersenyum ke arah Luna.


"Ting Tong....... " Suara bel tanda lift telah sampai di lobi bawah.


Mereka berdua pun mulai keluar dari dalam lift sambil bergandengan tangan ke arah resepsionis hotel.


"Whusss.............. " Suara asap rokok Pendekar Naga.


Ruang Resepsionis Hotel.


Tampak Meli, Meri, dan Moli tengah berada di dalam ruangan tersebut lalu tersenyum ke arah mereka, saat ini ketiga cewek kembar terlihat sedikit lebih muda.


"Ganteng nya, dimana Wakil Komandan Luna menemukan Pria Gagah Perkasa seperti itu?" Gumam Meri.


Beberapa saat kemudian Luna dan Arung pun menghampiri Resepsionis.


"Ada yang bisa kami bantu Wakil Komandan Luna?" Tanya Meri.


"Pucat sekali wajah nya, pasti semalam mereka habis bertarung di atas ranjang, tidak kusangka Wakil Komandan Luna ini benar-benar buas." Gumam Meri.


"Begini Meri, aku tadi tidak sengaja merusak langit-langit di atas kamar ku,"


"Jadi malam ini kalau bisa carikan kamar lain nya untuk ku dan kekasih ku Pendekar Naga ini, masalah kerusakan langit-langit atap tersebut nanti bisa kau masukkan saja ke dalam tagihan ku." Ucap Luna.


"Ugh...... mereka berdua melakukan hal tersebut pasti sambil berkultivasi, sehingga atap bangunan pun roboh karenanya." Gumam Meri.


"Baik lah Wakil Komandan Luna, nanti masuk lah ke dalam kamar 303 di lantai 30 tersebut." Ucap Meri, lalu memberikan kunci kamar tersebut kepada nya.


Tampak saat ini Luna tengah menggandeng Arung di hadapan ketiga cewek kembar tersebut.


"Ugh..... Tampan nya Pendekar Naga tersebut, mungkinkah dia adalah Kultivator Artis?" Gumam Moli.


"Ugh.... Kenapa tubuh ku terasa panas yach, aku sebaiknya mandi dulu." Gumam Meli, lalu kembali ke dalam berniat mandi.


"Aneh itu kan kunci kamar ku, lalu kenapa ke tiga cewek kembar ini tidak mengenaliku?"


"Padahal mereka bertiga kan telah menargetkan ku dan berniat memperkosa ku saat itu?"


"Apa lagi yang namanya Meri ini, bahkan ia mengenakan pakaian yang sangat sexi saat memintaku untuk menjadi pacarnya, sebaik nya aku mengamati keadaan di sekitar ku terlebih dahulu." Gumam Arung.


"Terima Kasih Meri, kalau begitu aku mau makan malam dulu dengan pacar ku ini yach." Ucap Luna.


"Ya Wakil Komandan Luna, siap makan malam dengan kekasih mu itu,"

__ADS_1


"Dia pasti akan memakan mu dan mengunyah-ngunyah mu setelah nya,"


"Kalau begitu bersenang-senang lah Wakil Komandan Luna." Ucap Meri.


"Ha.... ha..... ha...... " Tawa kecil Luna.


"Sudah menjadi tugasku untuk di kunyah-kunyah oleh Calon Suami ku ini." Ucap Luna, lalu mulai beranjak pergi.


"Ugh..... Luna sungguh sangat tidak tahu malu, bahkan dia berkata seperti itu di depan Meri,"


"Apa dia pikir masalah di ranjang itu adalah konsumsi publik apa?" Gumam Arung.


"Wah..... Gagah nya Pendekar Naga tersebut, apakah dia adalah seorang Jendral pakaian nya itu sangat berkelas dan mahal." Gumam Meri, lalu mulai mengedipkan sebelah mata nya ke arah Arung tanpa di sadari Luna.


"Ugh...... dasar Gadis Psikopat, sebaiknya aku jangan mencari masalah dengan nya terlebih dahulu." Gumam Arung, lalu tersenyum ke arah Meri dan yang lain nya.


Mereka berdua pun mulai beranjak ke Restaurant Awan naik Jeep Perang Milik Luna.


Di Restoran Awan.


Setengah jam kemudian.


"Byurrrr................ " Suara hujan deras.


Saat ini di lantai satu tampak seorang Jendral berjanggut hitam tengah berlutut di hadapan seorang Wanita cantik. Wanita cantik tersebut adalah Jendral Es dan laki-laki yang berlutut itu adalah Jendral Berserker.


"Mitha ku mohon terimalah cintaku ini, akan ku hangatkan tubuh dingin mu itu dengan elemen kegelapan milik ku." Ucap Jendral Berserker.


"Bukan nya menjadi hangat tubuh ku akan membusuk terkena elemen kegelapan tersebut Berserker." Gumam Jendral Es.


"Malam hari akan terasa panas saat bersamaku, jika kau mau menikahi ku." Ucap Jendral Berserker.


"Ia panas karena emosi melihat mu dengan selir-selir mu yang sangat banyak tersebut." Gumam Mitha.


"Aku akan menceraikan seluruh selir-selir ku." Ucap Jendral Berserker.


"Setelah kau ceraikan kau akan mencari selir-selir lain nya." Gumam Jendral Es, lalu mulai menggeleng-geleng kan kepalanya.


Ia pun lalu bangun dari kursi tersebut berniat keluar dari dalam Restoran Awan karena merasa terganggu dengan rayuan Jendral Berserker.


"Mutia, Nando ayo kita kembali, aku merasa sedikit panas malam ini." Ucap Jendral Es, lalu meninggal kan Jendral Berserker tanpa memberikan jawaban.


"Dia sangat dingin, dia pergi begitu saja,"


"Aku telah berlutut dan menggadaikan kehormatan ku untuk nya, kau benar-benar Love Killer." Gumam Jendral Berserker.


"Jendral Es......" Teriak Jendral Berserker di dalam hati, lalu duduk di kursi dan mulai meminum beer.


Tampak kelima Komandan nya menjaga beliau di sekeliling nya. Salah satu Komandan yang melihat tindakan Jendral Berserker, mulai menggeleng-geleng kan kepala nya.


"Kasian Jendral Berserker, entah udah berapa kali Jendral Es menolak lamaran nya." Gumam Salah Satu Komandan.


Beberapa saat kemudian Pendekar Naga dan Luna pun tiba di Restoran Awan tersebut dan berpapasan dengan Jendral Es.


"Jendral Es, sedang apa dia malam-malam begini?" Gumam Luna.


"Salam Jendral Es." Ucap Luna, lalu membungkuk dan memberi hormat.


Jendral Es pun berhenti, begitu pula kedua Pengawal setianya lalu menoleh ke arah Luna.


"Oh Luna ternyata, lalu siapa pemuda tampan yang tengah di gandeng nya tersebut?" Gumam Jendral Es.


"Mitha syukurlah aku bertemu dengan mu disini aku bingung sekali, kau pasti akan mengenaliku kan." Gumam Arung.


"Luna bukan nya kamu akan di jodoh kan oleh Catherine, lalu siapa pemuda berambut biru ini?" Tanya Jendral Es.


"Dia adalah Pendekar Naga, Jendral Es." Jawab Luna.


"Apa...... Bahkan Mitha pun tidak mengenali ku, sebenarnya apa yang terjadi,"


"Sebaik nya aku berpura-pura jadi Prajurit saja sampai aku paham betul dengan situasi ku saat ini?" Gumam Arung.


"Salam Jendral, aku hanyalah seorang Prajurit." Ucap Arung, lalu membungkuk dan memberi hormat.


"Oh ternyata Prajurit, tapi pemuda ini sangat gagah dan tampan, pasti mereka berdua memiliki sebuah hubungan yang spesial." Gumam Mitha.


"Luna, sampaikan salam ku dengan Catherine ya." Ucap Mitha, lalu beranjak pergi begitu pula dengan Nando dan Mutia yang mendampingi nya.


"Siap Jendral Es." Ucap Luna, sambil membungkuk.


"Kenapa Pendekar Naga bisa setenang itu saat berbicara dengan Jendral Es ya, sungguh aneh." Gumam Luna, lalu kembali menggandeng tangan Arung kemudian masuk ke dalam restoran.


"Ayo Prajurit Naga..." Ucap Luna.


"Dia pasti menggoda ku." Gumam Arung.


Tampak Jendral Berserker tengah mabuk-mabukan dan di jaga ketat oleh kelima Komandan di sekeliling nya.


"Itu kan paman nya Dilla, salah satu Jendral yang menyerang ku saat di atas arena?"


"Kenapa dia bisa sampai mabuk-mabukan seperti itu?" Gumam Arung, lalu beranjak menaiki tangga.


Beberapa saat kemudian mereka berdua pun tiba di lantai ke tiga. Pendekar Naga dan Luna pun duduk di pojokan teras restoran tersebut, tampak di sebelah mereka ada dua orang Wanita Cantik bersama dua orang Lutrinya dan seorang Bocah kecil tengah makan malam bersama.


Lantai Tiga.


Tampak Luna bangun dari kursinya berniat ke toilet.


"Pendekar Naga aku ke toilet dulu ya, sekalian aku akan memesankan makanan buat kita berdua, lalu membeli beberapa obat kuat dan pil stamina untuk kita berdua malam ini." Ucap Luna, lalu bangun dari kursi dan beranjak pergi.


"Ugh..... Malam ini lagi dia seperti tidak puas-puas saja baru saja tadi kami melakukan nya,"


"Apa mungkin Luna Hyper........." Gumam Arung, lalu mulai menghisap tembakau ular nya.


"Whusss........... " Suara hembusan asap rokok.


Ia pun menoleh ke arah kedua Wanita Cantik yang duduk di sebelah nya tersebut lalu mulai mengenali mereka berdua.


"Itu kan Nyonya Ya dan Nyonya Lang, siapa bocah dan kedua Gadis kecil yang di bawa nya itu?"


"Sebaiknya aku mengamati situasi nya terlebih dahulu." Gumam Arung, lalu mulai menguping pembicaraan di meja jamuan di sebelah nya tersebut.


Tampak Nyonya Ya dan Nyonya Lang tengah menyantap makanan, begitu pula dengan kedua Gadis Kecil dan Bocah laki-laki tersebut.


"Joong Woon pelan-pelan saja makan nya nak." Ucap Nyonya Lang.


"Ia ma, tapi makanan ini enak banget ma." Ucap Joong Woon.


"Apa..... Ternyata Bocah Laki-laki itu adalah Joong Woon, sepertinya aku terdampar ke masa lalu." Gumam Arung, lalu kembali menghisap tembakau ular milik nya.


"Whusssss.............. " Suara hembusan asap rokok.


"Ma... Ma, aku boleh memesan sekaleng beer." Ucap Gisel kecil.


"Ugh.... Gisel kau masih berusia tiga belas tahun, belum di perbolehkan untuk minum-minuman keras,"


"Minum saja Susu Kijang itu bagus untuk pertumbuhan tubuh mu." Ucap Nyonya Lang.


Nyonya Ya dan Ayu hanya menggeleng-geleng kan kepala mereka melihat tingkah nakal Gisel Kecil.


"Hah...... Dasar Gisel sejak kecil hobinya sudah minum-minuman keras, pantas saja saat sudah besar kerjaan nya mabuk-mabukan terus." Gumam Arung.


"Gisel jika kau minum-minuman keras terus, siapa nanti yang mau menjadi suami mu?" Tanya Ayu.


"Benar itu yang di katakan Kakak mu, Gisel,"


"Kau harus mencontoh nya." Ucap Nyonya Lang.


"Wah....... Ayu dari dulu sudah sangat dewasa." Gumam Arung.


"Iya Kak Ayu, kakak aja sampai saat ini belum memiliki satu teman cowok pun,"


"Bagaimana kakak bisa menasehati ku masalah laki-laki." Ucap Gisel Kecil.


"Ugh..... Benar yang di katakan nya." Gumam Ayu, lalu kembali menyantap hidangan di atas meja tersebut.


"Whuss............ " Suara hembusan asap rokok.


Beberapa saat kemudian Luna pun kembali.


Di Penginapan Stadium Awan Hitam


Dilantai 30 kamar 303


Jam 02.00 malam.


Tampak Arung dan Luna tengah tidur berduaan di ranjang yang sama. Saat ini Luna tengah mengenakan celana shot ungu yang transparan dan penutup dada ungu, terlihat ia saat ini sedang bersandar di pelukan Pendekar Naga.


"Ugh...... Apa yang harus kukatakan terhadap Tuan Muda Quill nanti nya, Luna terus menempel padaku dengan aksi nakal melebihi Xiao Mei Mei,"


"Bahkan dia memintaku mandi bersama dengan nya tadi, ugh.... Tubuhku terasa panas jadi nya." Gumam Arung.


"Pendekar Naga, besok kita akan bertemu dengan Patriak Keluarga ku,"


"Kau harus memberikan nya sebuah hadiah, aku akan mengumumkan nya besok,"


"Bahwa kita telah resmi bertunangan." Ucap Luna.


"Apa......... Hidupku makin kacau saat ini, apa yang harus kukatakan kepada Mitha dan yang lain nya,"


"Gisel dan Shilla pastilah sangat marah kepada ku, ini semua akibat diri ku yang tidak bisa menahan godaan saat itu." Gumam Arung.


Luna pun kembali mencium bibir Arung dengan lembut dan panas nya.


"Ugh...... Maafkan aku Tuan Muda Quill, tapi aku sungguh gak kuat banget." Gumam Arung, lalu membalas ciuman Luna.


Beberapa saat kemudian mereka pun menyudahi ciuman tersebut, Luna kemudian mengeluarkan lima buah Pil Obat Kuat.


"Sayang telan lah." Ucap Luna, lalu mulai memasukkan kelima pil tersebut ke dalam mulut Pendekar Naga.


"Ugh....... Gadis Petir ini ingin meledak-ledak kan ku malam ini, Tuan Muda Quill aku minta maaf sekali lagi." Gumam Arung.


"Sayang, mulai hari ini kau harus terus bersamaku, kita akan meledak bersama malam ini." Ucap Luna, lalu mulai kembali mencium bibir Arung.


Beberapa saat kemudian terjadi ledakan-ledakan cinta di atas ranjang kamar tersebut di antara Pendekar Naga dan Wakil Komandan Luna.


Keesokan paginya


"Byurrrr.................. " Suara hujan deras.


Sepasang kekasih yang bru mandi bersama itu pun pergi menuju kediaman Keluarga Thunder berniat menjumpai Patriak Keuarga Thunder yaitu Jendral Catherine Thunder, lalu mengumumkan pertunangan tersebut.


Gerbang Mansion Keluarga Thunder.


Mobil Jeep perang milik Luna telah terparkir di tepian jalan di dekat Gerbang masuk tersebut, mereka berdua pun turun lalu beranjak ke depan gerbang.


"Ayo kita masuk sayang." Ucap Luna, lalu kembali menggandeng tangan Arung.


"Luna lebih liar dari Gisel, ia selalu saja menggandeng tangan ku." Gumam Arung.


Tampak kedua penjaga langsung membungkuk dan memberi hormat kepada Luna dan Pendekar Naga.


"Selamat pagi Nona Luna." Ucap Kedua Pengawal Kompak.


"Iya selamat pagi juga." Ucap Luna, lalu masuk sambil bergandengan tangan dengan Pendekar Naga.


"Wah..... Pemuda berambut biru itu selain tampan juga sangat kuat, Nona Luna benar-benar beruntung." Gumam salah satu penjaga.


Halaman Mansion Keluarga Thunder.


Tampak di aula tamu seorang Jendral Tampan keluar dari dalam ruangan tersebut lalu berpapasan dengan mereka berdua.


"Adik nya Mitha, sedang apa dia disini?" Gumam Arung.


Ternyata Jendral tampan tersebut adalah Jendral Karna.


"Salam Jendral." Ucap Luna, lalu membungkuk dan memberi hormat.


"Wah..... Gadis kecil ini sudah besar dan menjadi cantik ya,"


"Kata Catherine kamu minggat dari rumah ya?" Tanya Jendral Karna.


"Tidak Jendral aku hanya keluar beberapa hari untuk menenangkan pikiran bersama tunangan ku ini, Pendekar Naga." Ucap Luna.


"Oh... Jadi ini tunangan mu ya, tampan sekali,"


"Ya sudah masuklah kakak mu sedang menunggumu di dalam." Ucap Jendral Karna.


Ia pun beranjak pergi meninggalkan Luna dan Pendekar Naga.


"Siapa Tunangan Luna tersebut, kenapa ia lebih gagah dan tampan dari ku,"


"Mungkinkah dia Tuan Muda dari sebuah sekte besar?" Gumam Jendral Karna, lalu beranjak pergi.


Aula tamu Kediaman Thunder.


Tampak Jendral Catherine tengah duduk bersimpuh di lantai seorang diri, sambil meneguk arak beberapa kali. Beberapa saat kemudian Luna dan Tunangan nya pun mulai memasuki aula tamu tersebut.


"Oh..... Adik nakal ku sudah kembali, siapa pemuda Tampan yang di gandeng nya tersebut?" Gumam Jendral Catherine, lalu meneguk arak tersebut.


"Salam Kakak Pertama." Ucap Luna, lalu membungkuk dan memberi hormat.


"Duduk lah Adik Nakal ku." Ucap Jendral Catherine.


Luna dan Pendekar Naga pun lalu duduk bersimpuh di samping Jendral Catherine, beberapa saat kemudian beberapa pelayan pun tiba dan menghidangkan arak ke depan meja jamuan mereka tersebut.


"Siapa Pemuda Berambut Biru tersebut, Luna?" Tanya Jendral Catherine.


"Namanya adalah Pendekar Naga, dia adalah tunangan ku, Kakak Pertama." Ucap Luna.


"Apa......... "


"Tunangan nya, yang benar saja,"


"Aku harus memastikan nya terlebih dahulu." Gumam Jendral Catherine.


"Apa benar yang di ucapkan oleh Adikku tersebut Pendekar Naga?" Tanya Jendral Catherine.


"Ugh...... Aku tidak mungkin mengatakan tidak kami sudah dua kali melakukan nya, bahkan dengan sangat panas nya." Gumam Arung.


"Benar Patriak." Ucap Arung, lalu berdiri kemudian merogoh-rogoh ke dalam cincin penyimpanan milik nya.


Saat ini ranah Jendral Catherine masih di ranah alam harimau puncak, Arung berniat memberikan sebuah Buah Pohon Raja Petir sebagai hadiah untuk nya.


"Patriak ini ada sedikit hadiah dariku mohon di terima, Buah Pohon Raja Petir ini dapat meningkatkan ranah mu satu tingkatan setelah menyantap nya." Ucap Arung, lalu memberikan buah tersebut kepada Jendral Catherine.


"Benarkah yang di katakan Tunangan Luna tersebut, sebaiknya aku menyantap nya saat ini juga,"


"Kalau dia berani berbohong kepada ku, aku akan menjebloskan nya ke dalam penjara." Gumam Jendral Catherine.


Arung pun kembali duduk di samping Luna.


"Wah.... Itu pasti buah ajaib, Kakak Pertama sangat beruntung,"


"Pasti Pendekar Naga hanya memiliki satu buah saja yang seperti itu dan dia memberikan nya hanya kepada Kakak ku,"


"Ini adalah bukti dari ketulusan cinta Pendekar Naga." Gumam Luna, lalu duduk mendekat ke arah Pendekar Naga dan menggandeng lengan nya kembali.


"Wah..... Bagaimana bisa Wakil Komandan Luna begitu mencintai ku." Gumam Arung, masih bingung dengan kondisi yang terjadi saat ini.


Jendral Catherine pun mulai menyantap Buah Pohon Raja Petir tersebut lalu mulai berkultivasi. Sementara itu Arung kembali menghisap tembakau ular nya.


"Whusss.............. " Suara asap rokok yang membentuk Naga dan melesat ke langit.


Beberapa saat kemudian seorang Gadis Kecil masuk ke dalam ruangan tersebut, ternyata itu adalah Nia Kecil.


"Kak Luna, kemana aja,"

__ADS_1


"Main dengan ku yuk." Ucap Nia, lalu menarik-narik lengan Kakak nya.


"Nia, gak lihat Kakak lagi duduk dengan Calon Kakak Ipar mu." Ucap Luna.


"Wah..... Nia kecil sangat imut, aku tidak menyangka dia begitu chubby seperti ini,"


"Tidak seperti Gisel yang dari kecil memiliki tabiat buruk." Gumam Arung.


"Kakak Ipar Tampan sekali aku juga mau punya calon suami seperti Kakak, Kakak menikahlah dengan ku juga." Ucap Nia Kecil, lalu mulai memeluk Arung.


"Ia Nia, nanti udah besar kamu pasti akan mendapat kan calon suami yang lebih gagah dari Kakak." Ucap Arung.


Beberapa saat kemudian aura petir pun mulai meluap-luap dari tubuh Jendral Catherine.


"Dzzitt........ Dzzitt.......... " Suara percikan petir di sekitar nya.


Cahaya ungu pun melesat dari dalam tubuh nya, beberapa saat kemudian Jendral Catherine pun menerobos ke ranah alam Naga puncak.


"Ternyata benar, siapa pemuda berambut biru tersebut,"


"Aku berhutang kali ini padanya." Ucap Jendral Catherine.


"Ha.... Ha..... Ha..... " Tawa kecil Jendral Catherine.


"Calon Adik Ipar, ternyata kau tidak membohongi ku,"


"Pelayan bawakan beberapa hidangan makanan yang lezat kemari." Ucap Jendral Catherine.


"Kya...... Syukurlah kakak menyukai Tunangan ku ini." Gumam Luna.


Mereka pun mulai sarapan pagi bersama di Aula tamu tersebut, setelah nya Arung pun pamit berniat mencari udara segar di Pusat Kota.


Di Trotoar Kota Awan Hitam.


"Byurrrr................ " Suara hujan deras.


Beberapa jam kemudian, setelah selesai berkeliling di pusat kota, ia pun duduk di salah satu bangku di trotoar tersebut sambil memasang perisai kultivasi air agar tidak kehujanan.


"Aku saat ini terdampar ke masa lalu, aku harus mencari cara kembali ke masa ku,"


"Oh.... Iya aku akan menanyakan nya kepada Putri Naga Kecil saja, mungkin waktu di sini tidak mempengaruhi waktu di Benua Naga." Gumam Arung, lalu mulai menyalurkan tenaga dalam nya ke Giwang Darah Naga yang ada di telinga nya.


Benua Naga, di dalam kamar Putri Naga Kecil.


Saat ini Putri Naga Kecil sedang tidur di atas ranjang giok nya, ia belum memejamkan mata nya dan hanya berbaring seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Ugh....... Dasar Ayah, kenapa ia tidak mengizinkan ku berlibur di Benua Naga Utara,"


"Padahal kan aku ingin bermain salju di sana, dasar ayah." Gumam Putri Naga Kecil.


Beberapa saat kemudian, seberkas pikiran Arung pun mulai masuk ke dalam pikiran Putri Naga Kecil.


"Putri Naga Kecil....... Putri Naga Kecil." Gumam Arung.


"Hah...... Siapa kau, kenapa aku bisa mendengarkan isi pikiran mu?" Telepati Putri Naga Kecil.


"Ini aku tunangan mu, aku ingin menanyakan mengenai White Hole,"


"Apa kau mengetahui nya Putri Naga Kecil?" Tanya Arung.


"Tunangan ku, bagaimana mungkin aku bisa menjadi tunangan mu sedang kan aku belum membagi essensi Naga ku." Telepati Putri Naga Kecil.


"Bagaimana caranya agar kau bisa percaya pada ku Putri Naga Kecil?" Gumam Arung.


"Coba bangkitkan essensi bangsawan mu." Telepati Putri Naga Kecil.


"Coba ajar kan padaku bagaimana cara membangkitkan nya." Gumam Arung.


"Kau hanya perlu merasakan essensi yang ada di dalam dantian mu, jika kau sudah bisa membangkitkan nya,"


"Kau dapat menghubungi ku kembali." Telepati Putri Naga Kecil.


Komunikasi antar bintang pun kembali terputus di karenakan kehabisan konsumsi energi.


"Dasar Prangker, suara tadi pasti orang yang mau nge prank aku menggunakan senjata suci tipe komunikasi,"


"Dasar Naga Usil, sebaik nya aku tidur saja." Gumam Putri Naga Kecil, lalu mulai memejamkan matanya.


Trotoar di Jalanan Kota Awan Hitam.


"Byurrrr................ " Suara hujan deras.


"Ugh...... Putus lagi, sebaiknya aku membangkitkan essensi bangsawan ku terlebih dahulu baru kemudian kembali menghubungi Putri Naga Kecil." Gumam Arung, lalu bangun berniat mencari tempat yang sepi untuk membangkitkan essensi bangsawan nya.


Paviliun Racun.


Ruang Rahasia Paviliun Racun.


Tampak Jendral Berserker tengah mengadakan pertemuan dengan Perdana Menteri Azura berniat melakukan suatu hal yang berbau konspirasi. Mereka berdua pun duduk bersebelahan, sambil menikmati arak tampak di hadapan mereka berdua Dilla kecil tengah duduk berkultivasi di pojokan ruangan.


"Adik kau harus membunuh seekor anak Naga Magnet yang akan melintasi langit di Kota Awan Hitam ini tiga hari lagi." Ucap Perdana Menteri Azura.


"Baik Kakak Pertama." Ucap Jendral Berserker.


"Seperti nya Kakak Pertama ingin memakan Sup Naga, aku tidak akan mengecewakan nya,"


"Aku pasti akan membunuh anak Naga Magnet tersebut." Gumam Jendral Berserker.


"Tapi kau harus membunuh nya mengenakan Topeng Siluman ini, lalu berubah lah menjadi Jendral Es saat membunuh Beast tersebut." Ucap Perdana Menteri Azura, lalu menyerahkan Topeng tersebut.


"Ugh..... Ternyata ini adalah sebuah konspirasi untuk mengkambing hitam kan pujaan hati ku, aku tidak bisa membiarkan kakak mencelakai nya." Gumam Jendral Berserker, sambil menerima Topeng tersebut.


"Tapi Kakak, saat ini aku tengah mengejar Jendral Es dan berniat menjadikan nya permaisuri ku." Ucap Jendral Berserker.


"Kau berani melawan keputusan ku Berserker." Ucap Perdana Menteri Azura, lalu menghentakkan meja.


"Bruak......... " Suara hentakan meja.


Dilla yang tengah bermeditasi pun ketakutan melihat ibu nya yang sedang marah tersebut.


"Ibu sangat mengerikan saat marah, sebaik nya aku keluar saja dari sini terlebih dahulu." Gumam Dilla, lalu keluar dari ruangan rahasia tersebut.


"Ugh..... Aku tidak berani melawan Kakak, maafkan aku Jendral Es." Gumam Jendral Berserker.


"Siap Kakak Pertama." Ucap Jendral Berserker, sambil menarik-narik janggutnya.


"Ha...... Ha...... Ha........ " Tawa kecil Perdana Menteri Azura.


"Kalau kau berhasil menjalankan tugas ini Paviliun Racun dan Hotel di Kota Awan Hitam ini menjadi milik mu Berserker." Ucap Perdana Menteri Azura, lalu mulai meneguk beberapa tegukan arak.


"Terima kasih Kakak Pertama." Ucap Jendral Berserker.


Tiga hari kemudian, di atas atap Penginapan Stadium Awan Hitam.


"Aku sudah beberapa hari ini mencoba membangkitkan essensi bangsawan Naga ku tapi tak kunjung bisa."


"Baiklah aku akan mencoba nya sekali lagi." Gumam Arung.


Aura berwarna-warni kembali muncul di sekujur tubuh nya, beberapa saat kemudian Jiwa Arung kembali tersedot ke dalam salah satu dunia di dalam dantian nya.


"Apa.... Ini.... Akhhh....... " Teriakan Jiwa Arung saat tersedot ke dalam salah satu dunia di dalam dantian nya.


Saat ini Luna tengah berdinas di Benteng Perbatasan Kota Awan Hitam, karena ada inspeksi mendadak dari Jendral Es.


Salah Satu Dunia di dalam Dantian Arung.


Dunia Naga Emas.


Tampak Arung tengah berdiri di sebongkah batuan yang melayang, tampak Seekor Naga Emas Raksasa di hadapan nya dan terdapat beberapa Pulau Melayang yang sangat besar di belakang makhluk raksasa tersebut lalu banyak batuan-batuan yang melayang di sekitar nya.


"Naga Muda, akhirnya kita berjumpa juga." Ucap Naga Emas tersebut.


"Siapa kau dan di mana aku." Tanya Arung.


"Ha..... Ha...... Ha........ " Tawa besar Naga Emas tersebut.


"Kau saat ini sedang berada di Dunia ku yang ada di dalam dantian mu, sepertinya kau ingin membangkitkan essensi bangsawan Naga mu." Ucap Naga Emas tersebut.


"Apa.... Dunia di dalam dantian ku, sepertinya aku harus segera pergi ke Benua Naga untuk mempelajari masalah Naga ini." Gumam Arung.


Naga emas tersebut pun mulai menyemburkan semburan api emas ke arah Arung.


"Whussss......... " Suara hempasan api emas saat Naga Emas tersebut menyemburkan nya.


"Akh................. " Teriakan kesakitan Arung.


"Panasnya apa yang kau lakukan, Naga Emas." Teriak Arung.


Beberapa saat kemudian.


"Ugh.... Naga yang terakhir kutemui mengunyah ku hidup-hidup, lalu Naga emas ini hendak memanggang ku hidup-hidup,"


"Kedua Jiwa Naga ini sungguh bar-bar dan tidak beradab." Ucap Arung.


"Tunggu dulu Naga Muda, aku tidak bermaksud memanggang mu,"


"Lihat lah punggung mu saat ini." Ucap Naga Emas tersebut.


"Punggung, sebaik nya aku melihat nya saja dulu." Gumam Arung, lalu mulai membuka pakaian nya dan menoleh ke arah punggung nya.


"Tato Naga Emas, jadi semburan api emas tadi untuk men tato punggung ku,"


"Dasar Naga yang bar-bar, dia men tato tubuhku tanpa seizin ku." Gumam Arung.


Kembali ke atap penginapan Stadium Awan Hitam.


Saat Naga Emas menyemburkan api emasnya ke arah Arung, seberkas tenaga dalam berbentuk Naga Emas Raksasa muncul di sekitar Arung lalu mulai mengaum.


"Aurghhhhhh.................. " Raungan Naga Emas yang menggetarkan seisi Kota Awan Hitam di hari tersebut.


Naga Emas pun perlahan menghilang.


Dunia Naga Emas di dalam Dantian Arung.


"Naga Muda, jika kau ingin membangkitkan essensi bangsawan mu,"


"Kau hanya perlu menyalurkan tenaga dalam mu ke dalam tato tersebut." Ucap Naga Emas tersebut.


"Ha..... Ha..... Ha....... " Tawa besar Naga Emas tersebut.


Jiwa Arung pun kembali tersedot kedalam tubuh nya.


"Akh.............. " Teriak Arung, terkejut.


Di langit di atas Gurun Api Es.


Tampak Naga Magnet sedang terbang bersama kawanan Naga Magnet lain nya.


"Whusss.............. " Suara hempasan angin saat kawanan Naga Magnet tersebut melesat.


Pemimpin dari makhluk tersebut kekuatan nya setara dengan seorang kultivator di ranah alam malaikat puncak namun kekuatan nya sangat besar dan merupakan keturunan bangsawan Naga.


"Itu di anak Naga yang menjadi target ku, sebaik nya aku bereskan sekarang juga." Gumam Jendral Berserker, lalu terbang melesat ke arah kumpulan Naga Magnet tersebut.


Ternyata saat ini Jendral Berserker tengah bersembunyi di balik dedaunan di salah satu pohon di Hutan Gurun Api Es. Saat ini Jendral Licik ini pun sedang menyamar sebagai Jendral Es mengenakan Topeng Siluman.


"Huft.......... " Suara nafas panjang Jendral Berserker.


Ia pun melesat terbang dengan cepat lalu berada diantara kawanan Naga-Naga Magnet tersebut. Saat ini Jendral Licik tersebut berada teat di atas Naga Magnet kecil.


Beberapa saat kemudian.


"Matilah kau Naga Kecil." Ucap Jendral Berserker, lalu melesatkan sebuah bola berelemen kegelapan ke arah Naga Kecil tersebut.


"Duarghhhh.............. " Suara ledakan akibat serangan Jendral Berserker yang mengenai Naga Magnet kecil tersebut.


"Brukkkkk................... " Suara Naga Magnet kecil yang terjatuh ke hutan di Gurun Api Es.


"Aurghhhhh................ " Raungan kesedihan para Naga.


"Sebaiknya aku segera kabur." Ucap Jendral Berserker, lalu mulai melesat terbang ke angkasa, berniat melarikan diri.


Beberapa Naga Magnet pun mulai mengejarnya dan terbang melesat ke angkasa dengan penuh amarah tampak aura magnet yang kuat di sekitar nya.


"Aurghhhhh................ " Raungan dari pemimpin Naga Magnet tersebut yang sedih karena anak nya telah tewas terbunuh.


Naga Magnet tersebut pun terbang ke arah jatuh nya anak nya tersebut, di ikuti beberapa Naga Magnet lainnya. Saat ini ada sekitar 100 Naga Magnet di ranah alam langit puncak yang tergabung di dalam kelompok tersebut.


Di atas Langit.


Beberapa menit kemudian, Jendral Berserker pun terbang sangat tinggi hingga menembus awan-awan hitam dan tiba di dekat Pulau Terlarang Awan Hitam.


"Oh my god..... apa itu???" Ucap Jendral Berserker, seakan tidak percaya dengan apa yang di lihat nya.


Dia pun sangat terkejut melihat sebuah Pulau Yang Melayang di atas langit awan hitam tersebut, yang mana tempat tersebut di kelilingi oleh sebuah Danau yang air nya jatuh secara terus menerus ke bawah.


"Ini.... Aku tidak menyangka kalau ada Pulau Melayang di atas sini, jika bukan karena di kejar oleh ke lima Naga Magnet tersebut aku tidak akan pernah menemukan Pulau ini seumur hidupku." Gumam Jendral Berserker.


Beberapa saat kemudian kelima Naga Magnet pun tiba di belakang Jendral Berserker.


"Aurghhhh....................... " Suara raungan Naga-naga Magnet tersebut.


Mendengar suara raungan Naga tersebut sepuluh ekor Burung Phoenix Surgawi yang berjaga di sekitar Pulau pun terbang ke arah makhluk-makhluk tersebut.


"Aurghhhh...... aurghhhh..... aurgh..... " Suara raungan Burung-Burung Phoenix Surgawi tersebut.


"Apa..... Burung Phoenix Surgawi Api dan Air, kenapa sampai bisa ada Beast Buas seperti ini di atas sini,"


"Akan ku ceritakan hal ini kepada Kakak Pertama,"


"Mungkinkah Pulau Melayang itu adalah sarang mereka." Gumam Jendral Berserker.


Seekor Burung Phoenix pun kembali terbang ke dalam Pulau Melayang tersebut, sementara itu kesembilan Burung Phoenix Surgawi tengah mengepak-ngepakkan sayap nya di hadapan Naga-Naga Magnet tersebut.


"Makhluk-makhluk ini sepertinya sudah bersiap saling memangsa satu sama lain nya,"


"Sebaik nya aku bersembunyi saja dulu di dalam Pulau Melayang tersebut." Gumam Jendral Berserker, lalu terbang mengekor di belakang Burung Phoenix Surgawi Api tersebut.


"Ugh.... benar dugaan ku, mereka sudah mulai saling menyerang satu sama lain nya." Gumam Jendral Berserker, lalu melepas Topeng Siluman nya.


"Duarghhh...... Duarghhh...... Duarghhh..... " Suara ledakan dari arah luar Perisai Kultivasi Phoenix Air.


Di dalam Pulau Terlarang Awan Hitam.


Setelah terbang mengekor di belakang salah satu Burung Phoenix Surgawi tersebut secara diam-diam, ia pun berniat beristirahat di tepian Danau Langit.


"Syukurlah aku bisa selamat, walaupun ranah Beast-Beast tersebut di ranah alam langit puncak namun mereka sangat banyak dan juga kuat,"


"Sebaik nya aku beristirahat di tepian danau tersebut saja dulu, untung saja aku mengekor Burung Phoenix Surgawi tersebut,"


"Jika tidak aku tidak akan mungkin bisa masuk ke dalam Pulau Melayang ini, ternyata di sekitar Pulau terdapat Perisai Kultivasi Phoenix Air di ranah alam dewa." Gumam Jendral Berserker.


"Dup........ " Suara Tapak kaki Jendral Berserker saat mendarat di tepian danau tersebut.


"Hah...... ternyata tempat ini sangat indah." Gumam Jendral Berserker.


Tampak di samping nya telah menancap sebuah Pedang Iblis Hitam di sebongkah batu hitam di tepian danau tersebut.


"Ini.... Adalah senjata suci di ranah alam Iblis puncak, aku sungguh sangat beruntung kali ini." Gumam Jendral Berserker.


"Ha..... Ha..... Ha...... " Tawa Jendral Berserker, lalu mulai mencabut Pedang Iblis Hitam tersebut.


Gurun Api Es.


Sementara itu di Gurun tersebut terdengar banyak sekali raungan-raungan Naga Magnet yang bersedih akibat kematian Naga Magnet Kecil.


"Aurghhhh.......... Aurghhhh.......... Aurghhhh.......... " Suara raungan-raungan Naga Magnet

__ADS_1


Makhluk-makhluk ini memiliki ukuran yang beragam yang paling besar memiliki ukuran sebesar Black Hole Dragon, memiliki panjang sekitar 10 km dan merupakan pemimpin dari para Naga tersebut.


__ADS_2