Pendekar Setengah Naga

Pendekar Setengah Naga
Kembali Ke Benua Ular Bagian Akhir.


__ADS_3

-[Di Dalam Kamar Penginapan]-


Beberapa jam kemudian, arak ular pun telah mulai bereaksi tampak Jeni sudah mulai kepanasan dan membuka sedikit pakaian nya.


"Ugh... Kok panas banget ya di sini, kalau ngeliat bos rasa nya tambah panas deh, seperti ada dorongan-dorongan gitu." Gumam Jeni.


Ramuan obat kuat milik Shilla pun sudah mulai bereaksi, tampak Arung sudah mulai gelisah dan mencuri pandang ke arah Jeni.


"Ugh.... Kenapa celana ku bisa sempit tiba-tiba yach, gawat hanya ada Jeni di sini,"


"Irish dan Sarah pun aku tidak tau kemana perginya, ugh aku gak kuat lagi." Gumam Arung kemudian beranjak ke tempat Jeni lalu mulai menciummnya dengan panas.


Jeni yang saat itu pun sedang terpengaruh reaksi dari arak ular, Gadis penurut itu pun membalas ciumman panas Bos nya tersebut.


"Bos.... Saranghae... " Gumam Jeni yang terpengaruh arak ular.


Pergulatan panas pun kembali terjadi di dalam kamar tersebut.


"Jeni.... " Gumam Arung sambil terus menccium Jeni.


-[Di Sebuah Goa di Hutan Ular Tropis]-


Tampak Irish dan Sarah tengah mengkultivasi kan Pil Ular Kuno tersebut, sesaat Sarah pun mulai teringat dengan arak ular yang di tinggalkan nya di atas meja kamar penginapan tersebut.


"Ugh..... Gawat kendi arak ular merah ku tertinggal, akan berbahaya jika ada yang meminum arak mesum itu." Gumam Sarah yang sudah kebal dengan efek dari arak ular merah tersebut.


Sarah pun kembali melanjutkan meditasi nya bersama dengan Irish.


-[Keesokan siangnya]-


Terlihat Jeni sudah bangun sejak tadi, ia saat ini sedang duduk di kursi tersebut menunggu Bos Arung bangun.


"Hoam....... " Suara menguap Arung, ia pun baru mengingat kejadian semalam.


"Sepertinya Kekasih ku nambah satu lagi deh." Gumam Arung kemudian mulai mengenakan pakaian nya kembali.


"Ugh.... Tato di tubuh bos benar-benar sangar." Gumam Jeni saat melihat tato ular dan tato naga yang ada pada tubuh Arung.


Arung pun duduk di kursi tersebut kemudian menatap ke arah gadis cantik yang baru saja di tiduri nya semalam.


"Ugh.... Gadis ini benar-benar penurut bahkan dia tidak berkomentar apa pun setelah kejadian semalam?" Gumam Arung.


"Bos apa yang sebenar nya terjadi kenapa kita bisa berada di sini, tempat apa ini Bos?" Tanya Jeni.


"Bahkan dia masih memanggilku bos setelah pergumulan panas semalam." Gumam Arung.


"Baiklah Jeni, begini ceritanya........ " Ucap Arung kemudian mulai menceritakan perihal dunia yang di datangi nya dan fenomena white hole tersebut.


Beberapa menit kemudian Arung pun selesai menjelaskan nya.


"Ugh... Jadi ini masa lalu, dan saat ini kita sedang berada di Benua Ular di Planet Kuno Jupiter,"


"Itu semua di sebabkan oleh white hole yang tiba-tiba muncul tersebut, ternyata Bos Arung memang cerdas." Gumam Jeni.


Arung pun lalu bangun dari kursi tersebut.


"Jeni, karena kita sudah berada di sini dan gak tau kapan white hole itu akan muncul kembali, bagaimana jika kita berjalan-jalan dulu." Ucap Arung.

__ADS_1


"Ugh...... Bos mengajak ku jalan-jalan, padahal aku capek banget setelah semalaman melakukan gitu-gituan dengan Bos, jika menolak nya aku pasti akan di penggal seperti Gadis di dalam kabin kapal tersebut." Gumam Jeni mengingat kejadian di kabin kemudi tempo lalu.


"Baik Bos." Ucap Jeni.


Mereka berdua pun mulai beranjak keluar dari dalam kamar tersebut dan mulai keluar dari penginapan tersebut. Di luar penginapan tampak sudah ramai sekali Manusia-Manusia Beast ular tersebut sedang berlalu lalang dan menjalankan aktivitas nya masing-masing.


"Tenang Jeni, mereka gak akan mengganggu kita asalkan kita tidak mengganggu mereka." Ucap Arung.


"Desa Ular Tropis ini rame banget ya Bos." Ucap Jeni sambil mengamati sekeliling.


"Jeni, disana ada kedai teh, ayo kita singgah di sana dan meminum secangkir teh ular." Ucap Arung.


"Wah.... Aku belum pernah meminum teh ular, rasanya pasti nikmat." Gumam Gadis Polos tersebut.


"Siap bos." Ucap Jeni.


"Akh... Senangnya punya pacar yang penurut seperti Jeni, dia tidak pernah membantah perkataan ku sekalipun." Gumam Arung kemudian mulai masuk ke dalam kedai teh tersebut.


-[Di Dalam Kedai Teh]-


Di dalam sudah ramai para pengunjung yang sedang minum teh di tempat nya masing-masing, suasana di dalam pun terdengar sedikit riuh. Arung dan Jeni pun duduk di kursi di dekat jendela tersebut, Komandan Don Juan itu sengaja duduk di tempat tersebut agar dapat melihat ke luar sekalian.


"Tuan mau pesan apa?" Tanya Pelayan di Kedai tersebut.


"Teh Ginseng Ular sekendi ya." Pesan Arung.


"Baik tuan." Ucap Pelayan tersebut kemudian kembali ke dapur.


"Ugh.... Kenapa aku tidak merasa di rugikan ya setelah semalam aku di rudu paksa oleh bos,"


Angin sepoi-sepoi pun mulai menerbangkan sedikit rambut Pemuda berambut biru tersebut, Jeni yang menatapnya sejak tadi pun kembali terpesona.


"Ugh.... Bos begitu tampan." Gumam Jeni kemudian pipinya mulai merah merona.


"Manusia-Manusia Beast Ular tersebut tidak lah bar-bar seperti Penduduk Beast Pribumi di Planet Merkurius sebelum nya." Gumam Arung.


Beberapa saat kemudian seorang pemuda dari ras beast ular pun mulai menghampiri kemudian menyapa nya.


"Wah.... Aku sudah mencarimu-cari mu semalaman, aku sudah mendengarkan nyanyian mu semalam,"


"Suara mu benar-benar merdu Tuan,"


"Kenalkan nama ku Gambit." Ucap Gambit kemudian menjulurkan tangan nya.


"Gak ada angin gak ada hujan, siapa pemuda ini main kenalan aja?" Gumam Jeni.


"Nama ku Arung, dan ini Jeni silahkan duduk Tuan Gambit." Ucap Arung sambil mempersilahkan pemuda tersebut untuk duduk bersamanya.


"Oh... Wanita lain nya lagi, dia benar-benar calon kultivator artis yang berbakat,"


"Bakatnya tidak hanya pada musik, dia juga berbakat memikat hati wanita-wanita cantik." Gumam Gambit.


"Arung, ini kartu nama ku." Ucap Gambit kemudian menyerahkan kartu nama nya.


"Kultivator Produser, Gambit White Snake, pemilik Errong Record." Gumam Arung saat membaca kartu nama yang di berikan oleh Gambit tersebut.


"Nyanyian mu malam itu sungguh sangat bagus, lagu nya pun sungguh sangat merdu,"

__ADS_1


"Rasanya gimana gitu,"


"Maukah kau tampil di konser kecil ku malam ini Arung,"


"Tentu saja aku akan memberi mu imbalan yang besar." Ucap Gambit.


"Wah.... Bos di tawari manggung, bukankah semalam kami lagi bergulat, mungkinkah bos bernyanyi kecil tanpa sepengetahuan ku, kemudian Bos Gambit lewat dan mendengar nyanyian merdu bos?"


"Pasti kayak gitu, aku tidak bisa mendengar nya karena tengah di rudu paksa oleh bos." Gumam Jeni yang kembali salah paham dengan perbincangan tersebut.


Sebenarnya Jeni semalam sangat menikmati belaian lembut Bos Berdarah Dingin tersebut, sampai-sampai ia lupa dengan keadaan di sekitar nya dan bersuara cukup keras.


"Maaf Gambit, aku tidak tertarik dengan uang." Jawab Pendekar Naga tersebut.


Beberapa saat kemudian pelayan tersebut pun mulai membawakan pesanan mereka, lalu mulai menghidang kan nya di atas meja tersebut.


"Ugh.... Ternyata dia tidak berfokus pada musik, dia ternyata seorang kultivator sejati, baiklah aku akan mencoba merayu nya dengan sebuah senjata pusaka milik ku." Gumam Gambit kemudian mulai mengeluarkan sebuah senjata suci dari dalam cincin ruang penyimpanan milik nya.


Sebuah Tongkat Emas pun di letakkan oleh Gambit di atas meja tersebut, tampak seluruh pengunjung menoleh ke arah tongkat yang berkilauan tersebut.


"Buset.... Itu Kan Tongkat Ular, itu senjata suci di ranah alam dewa puncak,"


"Bagaimana bisa dia memiliki nya, dia pasti salah seorang Bangsawan Ular dari ibu kota." Ucap Salah Seorang Pengunjung tersebut.


Raut wajah Jeni berubah menjadi sangat antusias saat melihat senjata tersebut, Arung pun dapat menangkap isi pikiran Jeni saat itu.


"Bagaimana jika aku memberi mu ini, kau hanya perlu membawakan sebuah lagu, dan aku akan merekamnya kemudian menjual nya?" Tanya Gambit mencoba bernegosiasi dengan Arung.


"Aku yakin sekali jika lagu yang di bawakan oleh pemuda ini pasti akan meledak penjualan nya, suara nya pun sangat merdu." Gumam Kultivator Produser tersebut.


"Sepertinya Jeni sangat menyukai senjata tersebut, lagi pun hanya satu buah lagu, baiklah aku akan menerimanya." Gumam Arung.


"Oke... Tapi satu buah lagu saja ya Tuan Gambit." Ucap Arung kemudian mengeluarkan HP nya.


"Sip... Deal." Ucap Gambit.


Arung pun mulai memperdengarkan lagu yang akan di bawakan nya kepada Gambit.


"Ugh.... Lagu ini pasti akan meledak, aku tidak rugi menukar senjata pusaka ku dengan sebuah lagu ini." Gumam Gambit kemudian mengcopy lagu tersebut.


Mereka pun berbincang ringan setelah nya, tak lama berselang Gambit pun pergi ke alun-alun desa untuk mempersiapkan konser tersebut yang akan di langsungkan malam ini. Saat ini hanya tinggal Jeni dan Arung yang duduk di tempat tersebut, lirikan mata Jeni selalu tertuju ke arah Tongkat Emas yang berkilauan tersebut.


"Ini simpan lah Jeni." Ucap Arung sambil memberikan senjata suci tersebut kepada Pacar nya.


"Tapi itu kan mahal Bos?" Ucap Arung.


"Sudah simpan lah, atau aku berubah pikiran dan mengambil nya lagi." Ucap Arung.


"Baik Bos." Ucap Jeni kemudian mulai menyimpan tongkat tersebut ke dalam cincin ruang penyimpanan miik nya.


"Ugh.... Apa mungkin Bos sudah mulai mencintaiku?" Gumam Jeni.


"Glekk... Gleek... Glek.... " Suara saat Arung meneguk Teh Ular tersebut.


TO BE CONTINUED.........


[MOHON VOTE DAN LIKE NYA AGAR NOVEL INI TETAP TERBIT ON TIME CC NOVELIS JALANAN].

__ADS_1


__ADS_2