
Di Dalam Kabin Kamar VIP.
Malam hari nya.
Tampak hanya ada sebuah ranjang besar bermotif tentara di dalam kamar tersebut yang mampu menampung tiga orang untuk tidur di atas nya, dan sebuah bilik kamar mandi kecil di pojokan kamar.
"Whussss............. " Suara hembusan asap rokok.
Di dalam ruangan tersebut juga terdapat dua buah sofa dan sebuah meja bermotif tentara, saat ini mereka bertiga tengah duduk di sofa tersebut.
"Whussss.............. " Suara hembusan asap rokok.
Gisel duduk tepat di sebelah Arung, sementara itu Luna duduk di sofa yang satu nya lagi. Tampak kedua Gadis cantik berdada besar ini terus menatap wajah Pemuda Berambut Biru itu.
"Sejak kapan Pendekar Don Juan ini menjadi seorang perokok, tembakau ular lagi?"
"Pasti ini akibat pergaulan nya dengan Jendral Love Killer tersebut, sehingga ia memiliki kebiasaan buruk seperti itu." Gumam Gisel, lalu mulai mengeluarkan beer dari dalam cincin ruang penyimpanan milik nya.
"Wah..... Kebetulan sekali Gisel, ada beer-beer lain nya?" Tanya Luna.
"Ternyata Kak Luna Doyan minum beer juga, baik lah sudah kuputuskan untuk mabuk-mabukan malam ini merayakan bersatu nya kembali aku dengan Pendekar Don Juan dan juga tanpa Shilla." Gumam Gisel.
Ia pun mulai mengeluarkan satu kardus beer dari dalam cincin ruang penyimpanan milik nya, kemudian meletakkan kan nya di atas meja.
"Dup....... " Suara Kardus beer saat di letakkan di atas meja.
"Mantap jiwa, kau memang Dewi Pemabuk Gisel." Gumam Luna.
"Sepertinya kedua gadis ini mau mabuk-mabukan, sebaik nya aku tidur terlebih dahulu saja." Gumam Arung, lalu mulai beranjak ke atas ranjang berniat untuk tidur.
"Brukkk....... " Suara saat Arung merebahkan tubuhnya ke atas kasur.
Luna pun kemudian duduk di samping Gisel, ia saat ini berusaha mengakrabkan diri dengan salah satu pacar Pendekar Naga nya.
"Kak Luna,..... " Gumam Gisel.
"Sepertinya Arung sangat lelah setelah kejadian di dalam bak air panas tersebut,"
"Baguslah jadi Pendekar Naga Genit tersebut tidak mengincar Komandan-komandan cantik yang ada di sini." Gumam Luna, lalu mulai meneguk beer bersama Gisel.
"Tosss..... Kak Luna." Ucap Gisel, sambil melakukan tos minuman bersama Kekasih Terlarang dari Kekasih Sah nya.
"Tos..... Gisel." Ucap Luna.
Sementara itu di atas ranjang Arung mulai membalikkan badan nya berniat untuk tidur, ia pun merasa khawatir setelah mereka mabuk akan mulai melecehkan diri nya.
"Gisel benar-benar sangat polos, kenapa ia tidak curiga sedikit pun dengan Luna,"
"Padahal kami bertiga saat ini berada di dalam kamar yang sama, tetapi Luna sama sekali tidak canggung pada situasi ini,"
"Seharusnya dia kan bisa menyadari kalau aku dan Luna memiliki suatu hubungan terlarang, dasar bodoh.... " Gumam Arung, lalu mulai memejamkan kedua mata nya.
Kedua Gadis Cantik itu pun mulai meminum beer demi beer, hingga akhirnya mereka berdua mulai mabuk lalu beranjak ke atas kasur dan tidur.
"Brukkk...... Brukkk....... " Suara tubuh Luna dan Gisel saat merebah kan diri nya di atas kasur.
Tampak Arung tidur di tengah lalu menghadap ke arah Gisel yang tidur di sebelah kiri nya, sementara itu Luna tidur di sebelah kanan nya sambil memeluk nya.
"Zzzttt...... Zzztttt........ " Suara tidur mereka bertiga saat tertidur.
Orbit di sekitar Planet Bumi.
Kapal Layar Langit mulai melesat terbang dari orbit di sekitar Planet Bumi menuju Planet Kuno Jupiter, tampak sebuah perisai kultivasi energi membungkus Kapal tersebut,.
"Whusss............... " Suara hempasan angin saat Kapal Layar tersebut melesat terbang.
Di Samping Kamar VIP.
Tampak di atas ranjang Jendral Karna sedang melakukan wrestling di bawah selimut bersama salah satu istri sah nya Komandan Uranus.
"Husss..... Uranus kita harus melakukan gulat ini sesenyap mungkin malam ini, aku gak mau kalau Amanda dan Riri sampai ikut terbangun,"
"Bisa remuk tubuh ku jika sampai mereka ikut bergabung." Bisik Jendral Karna.
"Ia........Sayang, makanya pelan-pelan saja." Bisik Komandan Uranus.
"Semoga mereka tidak marah saat aku menikahi Madonna di Planet Kuno Jupiter nanti nya, janji tetaplah janji." Gumam Jendral Karna.
Ternyata Jendral Karna memiliki agenda tersembunyi pergi ke Planet tersebut, ia ingin melangsungkan pernikahan dengan Duyung Api nya "Madonna".Tampak di ranjang di sebelah mereka Komandan Riri dan Komandan Amanda sedang tertidur lelap.
"Zzzttttttt........... Zzzzttttt....... " Suara tidur Komandan Riri dan Komandan Amanda.
"Apa lagi kalau sampai Abang Ipar ku sampai mendengar nya, Ugh.... Aku bisa sangat malu." Bisik Jendral Karna.
Komandan Uranus pun mulai mencium Jendral Karna, wrestling tanpa suara pun baru saja di mulai di bawah selimut tersebut antara Jendral Karna dan Komandan Uranus.
"Santai lah sayang, semua akan baik-baik saja." Bisik Komandan Uranus di telinga suami nya tersebut.
Ke esokan paginya.
Kota Seribu Obat.
Akademi Paviliun Alkemis (Akpavla)
Akademi ini terletak di puncak Gunung Seribu Obat tepat nya di samping Akperti, terdiri dari 50 buah mansion berlantai 30 yang tersebar di sekitar Hutan Seribu Obat tersebut. Gunung Seribu obat tersebut juga di kelilingi oleh Danau Siluman Raja Petir, yang merupakan habitatnya Beast Raja Siluman Petir.
Di salah satu Ruang Ujian, di dalam Mansion Ujian.
Tampak ke 50 calon Alkemis tengah mengikuti ujian tulis, raut wajah para calon alkemis ini tampak serius saat memandangi tumpukan lembaran-lembaran soal di atas meja ujian nya.
"Hah..... " Suara nafas panjang Shilla.
"Katanya pergi sebentar, sudah beberapa hari terlewati namun Pendekar Don Juan itu tidak kunjung memberi kan kabar,"
"Setelah selesai mengerjakan ujian ini sebaik nya aku menelpon nya saja, aku harus memastikan nya saat ini dia tengah berada dimana lalu dengan siapa." Gumam Shilla, lalu mulai mengerjakan ujian tulis tersebut.
Tampak tumpukan lembaran-lembaran soal-soal di atas meja ujian Shilla tersebut, lalu di kiri dan kanan nya para Guru sedang berpatroli.
"Gila banget ujian Alkemis ini, mau berapa hari baru kelar mengisi seluruh lembaran soal-soal ini." Gumam Shilla, kemudian mulai mengerjakan soal-soal yang berkaitan dengan racun dan pengobatan tersebut.
Di luar ruangan tampak beberapa anggota keluarga, atau teman para peserta ujian tengah menunggu sanak saudara atau pun teman mereka selesai mengikuti ujian tersebut. Tampak Xiao Mei Mei pun tengah duduk di salah satu kursi tersebut menunggu Shilla selesai ujian.
"Huft.......... " Suara nafas panjang Xiao Mei Mei.
"Baru beberapa hari menikahi ku, Adik kecil itu sudah pergi meninggalkan istri sah nya dan belum kembali sampai saat ini juga,"
"Pantang lengah sebentar dia pun sudah menghilang sesudah nya, aku khawatir saat ini dia sedang mengejar janda-janda lain nya,"
Xiao Mei Mei teringat akan bocah wanita yang bernama Akira yang memanggil suaminya tersebut dengan sebutan Papa Arung.
"Sebaiknya setelah ujian Shilla berakhir aku akan menghubungi Pendekar Don Juan itu, bisa bahaya janda-janda di luar sana jika dia berkeliaran tanpa pemilik nya." Gumam Xiao Mei Mei, saat ini perasaan cemas tengah melanda hati nya.
Salah satu Ruangan Ujian lain nya di dalam Mansion Ujian tersebut.
Tampak Ayu duduk di bangku paling depan tengah mengerjakan ujian tulis tersebut.
"Ugh..... Siapa yang membuat lembaran soal-soal begini banyak nya, belum sempat menjawab satu soal nya saja aku sudah mau pingsan dengan melihat tumpukan kertas-kertas ini," Gumam Ayu, lalu mulai mengerjakan lembaran soal-soal tersebut.
Di bangku ujian di sebelah Ayu tampak Tante Milea sedang mengerjakan ujian tulis tersebut. Wanita yang bertengkar dengan Shilla saat di Pasar Kota Awan Hitam ini tampak tenang karena sudah beberapa kali mengikuti ujian tulis tersebut.
"Fiuh........ "
"Kali ini aku harus lulus, aku sudah mengikuti ujian ini berkali-kali,"
"Ganbatte Milea." Gumam Milea, lalu mulai mengerjakan soal-soal tersebut.
"Aku tidak boleh kalah dengan Gisel yang telah menjadi Wakil Komandan, aku juga harus segera menjadi Alkemis." Gumam Ayu, kembali bergulat dengan soal-soal tersebut.
Salah satu Ruangan Ujian lain nya di dalam Mansion Ujian tersebut.
Ternyata Dilla tengah mengambil cuti libur prajurit untuk mengikuti ujian tulis tersebut juga, mama nya tidak mengetahui perihal cuti tersebut.
"Ugh.... kenapa aku masih mengingat tonjolan tersebut ya,"
"Awas kau Arung, aku akan meracuni mu suatu saat nanti." Gumam Dilla, lalu mulai mengerjakan lembaran-lembaran soal tersebut.
Dilla kembali teringat adegan saat ia di kalahkan Arung di atas Arena Stadium Kota Awan Hitam. Saat itu Arung memeluknya, sebuah tonjolan terasa menekan bokong Dilla saat itu. Oleh sebab itu pula ia merasa di lecehkan oleh Pendekar Don Juan tersebut. Tampak para guru-guru sedang berpatroli di sekitar para peserta ujian tersebut.
"Dosen yang membuat soal-soal ini sungguh tidak berkeprimanusiaan, akan butuh waktu berapa hari untuk menyelesaikan seluruh lembaran-lembaran soal ini." Gumam Dilla, lalu kembali mengerjakan soal-soal tersebut.
Hotel Paviliun Racun, cabang Kota Seribu Obat.
Tampak Komandan Black Rock baru saja selesai mandi dan hendak berpakaian. Saat ini ia hanya mengenakan sehelai handuk saja dan kembali lupa mengunci pintu kamar nya. Ketiga Pasukan Black Rock saat ini berdiri di depan pintu kamar tersebut, lalu hendak membuka pintu tersebut.
"Krakkkkk......... " Suara pintu kamar mulai terbuka.
Ketiga Pasukan Black Rock tersebut pun mulai memasuki kamar pemimpin mereka tersebut lalu mulai membungkuk dan memberi hormat.
"Ugh..... Aku lupa mengunci pintu kembali, mereka pasti akan berpikir mesum kembali saat melihat ku seperti ini." Gumam Komandan Black Rock.
"Ugh..... Sexi nya, Komandan sungguh cantik dan hot saat mengenakan sehelai handuk itu." Gumam salah satu Pasukan Black Rock, pipinya pun mulai memerah.
"Saranghae Komandan Black Rock.... " Gumam Pasukan Black Rock lain nya, pipinya pun mulai memerah.
Notes: Saranghae adalah bahasa Korea yang artinya aku mencintai mu.
"Lapor Komandan, target kita saat ini ternyata sudah meninggalkan Planet Bumi,"
"Saat ini target kita tersebut sedang menuju Planet Kuno Jupiter, Komandan Black Rock." Ucap salah satu Pasukan Black Rock tersebut.
"Ugh..... Target yang bernilai bounty 10 milyar koin emas memang menyusahkan." Gumam Komandan Black Rock.
"Baiklah kita akan pergi ke Planet Kuno Jupiter tersebut, dan mengambil kepala nya di sana,"
"Pesan kan tiket Kapal Layar Langit yang menuju ke sana sekarang juga." Perintah Komandan Black Rock.
Tanpa di sengaja handuk milik Komandan Black Rock pun terjatuh tanpa di sadari nya, sehingga kedua Bukit pembunuh nya terlihat begitu pula dengan lembah pembunuh nya.
__ADS_1
"Ugh.... Bukit kembar pembunuh tersebut sungguh indah." Gumam salah satu Pasukan Black Rock, kemudian memuncratkan darah dari dalam hidung nya.
"******......... " Suara muncratan darah dari hidung salah satu Pasukan Black Rock tersebut, lalu mulai tak sadar kan diri.
"Brukkkkk.......... " Suara tubuh pasukan tersebut saat jatuh ke lantai kamar.
"Kenapa dengan nya, kenapa dia bisa pingsan tiba-tiba seperti ini,"
"Apa ada yang berani meracuni Pasukan Black Rock ku di dalam Hotel Paviliun Racun ini." Ucap Komandan Black Rock.
Sementara itu kedua pasukan lain nya hanya senyam-senyum dengan pipi yang memerah saat menatap ke arah tubuh tak berbusana Komandan Assasin Black Rock tersebut.
"Bukan karena racun Komandan, kau menjatuhkan handuk mu." Ucap salah satu Pasukan Black Rock tersebut.
"Apa...... " Gumam Komandan Black Rock, lalu cepat-cepat mengenakan handuk nya kembali.
Setelah puas menyaksikan keindahan tubuh pemimpin nya tersebut, mereka pun berniat pergi.
"Kalau begitu kami pamit dulu Komandan." Ucap salah satu Pasukan Black Rock tersebut, lalu beranjak pergi sambil memapah teman nya yang sudah tak sadar kan diri tersebut.
Komandan Black Rock pun mengunci pintu kamar tersebut setelah nya, lalu mulai berpakaian kembali.
"Dasar pasukan-pasukan mesum itu, mereka memelototi ku dulu baru memberitahukan ku kalau handuk ku telah terlepas,"
"Dasar assasin mesum." Gumam Komandan Black Rock, sambil mulai berpakaian.
Kembali Ke Kamar VIP
Tiba-tiba saja sebuah alarm berbunyi, sontak saja Komandan beserta kedua Wakil nya pun terbangun. Situasi canggung pun terjadi saat Luna memeluk Arung dari belakang, Gisel yang melihat nya hanya bisa membeku dan bingung dan juga curiga akan hubungan terlarang yang mungkin sedang mereka jalani.
"Maaf Gisel, aku pasti mabuk semalam dan mengira Pacar mu ini bantal guling,"
"Jadi tanpa sengaja aku memeluk nya,"
"Kalau begitu aku mandi dulu ya." Ucap Luna, lalu langsung beranjak ke masuk dalam Kamar Mandi.
"Dup.............. " Suara pintu kamar mandi tertutup.
"Byurrrr.......... " Suara Shower Air mulai di hidupkan dari dalam Kamar Mandi.
Gisel pun menatap penuh kecurigaan ke arah Pendekar Don Juan tersebut, karena pelukan mesra Kak Luna terhadap nya.
"Apa mungkin Pendekar Don Juan ini telah mengembat Kak Luna Juga?" Gumam Gisel, lalu menatap Arung dengan tatapan yang sinis.
"Seperti nya dia mulai curiga, aku harus pura-pura bodoh saja lah." Gumam Arung.
"Dasar Luna, aku segini tampan nya dikira bantal guling,"
"Pantas saja ia bisa terkena racun yang memusnahkan kultivasi nya." Ucap Arung.
Beberapa saat kemudian dari arah pengeras suara yang berada di Koridor Kapal terdengar sebuah pengumuman yang di keluarkan oleh Dosen Akperti.
"Di harapkan kepada seluruh Komandan-komandan dan wakil-wakil nya untuk bisa berkumpul di Kabin Aula, guna mendapatkan pengarahan mengenai misi ke Planet Kuno Jupiter kali ini,"
"Sekian, diharapkan untuk bisa berkumpul satu jam lagi,"
"Bawa juga snack dan minuman sendiri karena kami tidak menyediakan nya, Terima Kasih." Ucap Dosen tersebut melalui pengeras suara.
Mendengar himbauan tersebut, Arung pun langsung mengalihkan topik pembicaraan tersebut.
"Gisel sebaiknya kita harus cepat pergi ke Kabin Aula tersebut, aku khawatir kita akan ketinggalan informasi jika terlambat." Ucap Arung.
Tatapan Gisel makin sinis, raut wajah nya pun tampak semakin jengkel saat menatap Pendekar Don Juan tersebut.
"Ya sudah mandi saja sana bersama Kak Luna, biar cepat." Ucap Luna.
"Ugh..... Dia mulai cemburu, akhirnya otak nya mulai bekerja,"
"Gisel sudah mulai mencium sesuatu yang berbau terlarang antara hubungan ku dan Luna, sebaiknya aku diam saja,"
"Di saat-saat begini apa pun yang kukatakan tetap saja salah, kembali lagi ke pasal satu Wanita selalu benar dan Laki-laki selalu salah." Gumam Arung.
Gisel pun mulai bangun dari ranjang bermotif militer tersebut, lalu mulai membereskan ranjang tersebut dengan wajah yang jengkel. Tampak Arung tengah duduk di sofa menunggu Luna selesai mandi berniat menghindari pertengkaran dengan Gisel.
Beberapa menit kemudian
"Krakkkkk........... " Suara pintu Kamar Mandi mulai terbuka, tampak Luna telah selesai mandi lalu berganti pakaian.
"Kak Luna udah selesai mandi, saat nya aku menunjukkan siapa yang berkuasa di dalam kamar ini." Gumam Gisel.
Ia pun mulai beranjak menghampiri Arung, lalu memegang lengan nya.
"Ayo kita mandi, kau takut terlambat kan." Ucap Gisel, lalu menarik Arung masuk ke dalam Kamar Mandi bersama nya.
Luna pun berniat yang menghentikan mereka berdua untuk mandi bersama namun tidak jadi.
"Dup............ " Suara pintu kamar mandi tertutup.
Luna yang menyaksikan momen mesum itu hanya bisa membatu setelah nya, lalu duduk di sofa dengan perasaan kentang dan sedikit menyesakkan.
"Ugh..... Kenapa aku merasa dada ku sesak ya, padahal aku tahu kalau mereka berdua memang berpacaran,"
Beberapa menit kemudian, Arung dan Gisel pun selesai mandi dan berpakaian. Mereka bertiga pun mulai keluar dari dalam kamar tersebut, lalu menuju Kabin Aula untuk mendapatkan informasi mengenai misi kali ini.
Kabin Aula.
Tampak para Komandan dan Wakil Komandan lain nya tengah duduk di kursi di dalam aula tersebut, tampak di atas podium aula masih kosong belum ada seorang dosen pun yang berdiri di atas nya sejak tadi.
"Ugh.... Baguslah kita belum terlambat Luna, Gisel." Ucap Arung, lalu mereka bertiga pun mulai duduk di kursi paling belakang.
"Ia Arung, para Komandan lain nya sudah pada datang tuch,"
"Mungkin hanya kita yang datang paling akhir." Ucap Gisel.
"Sudah-sudah sebaiknya kita diam saja sesaat lagi Dosen dari Akperti akan segera berbicara." Ucap Luna.
"Benar yang di katakan oleh Luna, tidak enak jika aku membuat keributan di hari pertama ku masuk ke dalam Akperti ini." Gumam Arung.
Tampak di bangku sebelah Luna, Lily salah satu lawan tanding nya di Ujian ke dua duduk di sana di temani oleh Shangguan dan juga Yuan Lang. Shanggua Quill pun mulai menyadari kehadiran Wakil Komandan Luna, ia pun menyapa nya kemudian.
"Kak Luna, seperti nya dia sudah baikan." Gumam Shangguan, sambil menoleh ke arah Luna.
"Kak Luna...... Kakak sudah baikan ya Syukurlah." Ucap Shangguan.
Suara yang menyapa nya itu sangat akrab di telinganya, tak lama berselang Luna pun mulai menyadari Pemuda yang menyapanya tersebut adalah adik kandung dari Tunangan nya yang telah terbunuh.
"Lho...........Shangguan, kamu kok bisa ada di sini?" Tanya Luna.
Lily pun mulai memotong pembicaraan mereka, tampak nya Adik Jendral Es ini mengenal Luna.
"Wah..... Itu semua karena aku Kak Luna, aku yang merekomendasikan Shangguan dan juga Yuan Lang menjadi Wakil Komandan ku." Jawab Lily.
"Lily,.... Pantas saja, kau kan adik nya Jendral Es,"
"Aku pulih karena suatu peristiwa yang tak terduga Shangguan." Ucap Luna.
"Oh... Jadi Lily adalah adik nya Tunangan ku Mitha, berarti dia juga adalah adik dari Jendral Karna." Gumam Arung.
Lily lalu mulai menoleh ke arah Arung, dia pun menyadari sosok Abang Ipar nya tersebut.
"Abang Ipar... Senang bisa satu Kapal dengan mu, aku sudah mendengar tentang mu dari Kakak ku." Ucap Lily.
"Dasar Jendral Es Pelakor..... " Gumam Gisel, kembali merasa jengkel saat mendengar dua patah kata tersebut.
"Ya.......Lily, jika kau perlu bantuan ku saat di Planet Kuno tersebut katakan saja." Ucap Arung.
"Iya Abang Ipar, Kakak ku tidak salah menjadikan mu Tunangan nya,"
"Matanya benar-benar jeli." Ucap Lily, mulai memuji sosok Abang Ipar nya tersebut.
"Untung saja tidak ada yang mengetahui akar masalah sebenarnya kenapa aku sampai bisa bertunangan dengan Jendral Es." Gumam Arung.
Mereka pun mulai mengobrol di pojokan tersebut, beberapa menit kemudian Dosen Elemen Air Akperti pun mulai memasuki ruangan Aula tersebut lalu mulai berjalan ke arah podium.
"Tap....... Tap.......... Tap.......... " Suara langkah kaki Dosen dan Asisten nya tersebut.
Pemuda berjubah perang biru itu bernama Thio Buki dia seorang Wakil Jendral Divisi Khusus yang membidangi pengajaran, kultivasi nya berada di ranah alam Naga puncak.
"Test.... Test.... Test..... " Suara Pak Thio saat mengetes microphone kecil tersebut.
Di samping nya adalah Janet Storm yang merupakan Asisten Dosen yang juga berangkat Wakil Jendral Divisi Khusus yang sama, kultivasi nya saat ini berada di ranah alam Naga puncak.
"Baiklah Komandan-Komandan Muda semuanya, perkenalkan nama saya Thio Buki, kalian bisa memanggilku Pak Thio dan di samping ku adalah Janet Storm,"
"Kalian bisa manggilnya Bu Janet." Ucap Pak Thio.
"Oh jadi nama Wanita berdada besar itu adalah Janet, sungguh nama yang sexi." Gumam Arung.
"Jadi tujuan kita pergi ke Planet Kuno Jupiter ini agar kalian dapat melakukan Kontrak dengan Beast Kuno yang ada di sana, Baiklah aku akan mulai mengajarkan caranya pada kalian." Ucap Pak Thio.
Thio Buki lalu mulai mengeluarkan sebuah gulungan kontrak Kuno dari dalam cincin ruang penyimpanan milik nya.
"Apa yang di keluarkan nya itu?" Gumam Gisel.
"Ini adalah sebuah Gulungan Kontrak, yang merupakan sebuah senjata suci di ranah alam dewa untuk melakukan Kontrak dengan salah satu Beast Kuno yang ada di Planet Kuno Jupiter." Ucap Pak Thio, lalu memberikan gulungan tersebut kepada Bu Janet.
Janet Storm merupakan seorang Gadis yang memiliki tubuh yang sangat bohai dan memiliki dada yang besar, ia pun mulai berjalan ke depan berniat menjelaskan tata cara melakukan kontrak tersebut.
"Komandan-komandan perhatikan ke dalam gulungan ini, kalian lihat kolom dua tanda tangan kosong ini,"
"Kalian hanya perlu membubuhkan tanda tangan kalian disini begitu pula dengan Beast Kontrak tersebut." Ucap Bu Janet, sambil membuka gulungan kontrak tersebut kemudian menggulung nya kembali.
"Ini sangat aneh, mungkinkah Beast-beast yang hidup di Planet Kuno Jupiter itu merupakan Manusia Beast yang memiliki peradaban canggih?" Gumam Arung, masih bingung dengan statement yang di keluarkan oleh Bu Janet.
Janet Storm pun kembali ke sisi Dosen Elemen Air Akperti tersebut.
"Kalian pasti bingung kan bagaimana seekor Beast bisa menandatangani perjanjian tersebut?"
__ADS_1
"Jika ada yang tahu aku akan membiarkan nya makan malam bersama asisten cantik ku ini,"
"Siapa saja yang mengetahui jawaban nya silahkan mengangkat tangan nya." Ucap Pak Thio.
Kericuhan pun mulai terjadi diantara Para Komandan Laki-laki dan Wakil Komandan Laki-laki, sementara Komandan dan Wakil Komandan Wanita tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh ucapan Pak Thio tersebut.
"Dasar tua bangka, selalu saja menggoda para Komandan baru dengan iming-iming yang sama." Gumam Janet Storm.
Ternyata tiap misi ke Planet Kuno Jupiter, Thio Buki selalu saja memberikan pertanyaan yang sama, namun belum pernah ada yang berhasil menjawab pertanyaan tersebut sampai saat ini.
"Ayo Komandan-Komandan Muda dimana semangat muda kalian, lihat dada asisten ku ini." Ucap Pak Thio.
"Ugh..... Dasar Dosen Mesum." Gumam Arung.
"Untung saja pangkat mu lebih tinggi dari ku sedikit jika tidak kau pasti akan ku tenggelamkan." Gumam Bu Janet, merasa jengkel di jadikan bahan olok-olokan Pak Thio.
Salah satu Komandan muda pun mengangkat tangan nya, ia pun bangun setelah nya.
"Pasti ada sebuah senjata suci bertipe alat tulis yang bisa di gerakkan menggunakan pikiran oleh Beast Kuno tersebut saat menandatangani kontrak tersebut." Ucap Komandan tersebut.
"Salah..... Yang lain nya." Ucap Pak Thio.
Para Komandan lainnya mulai memikirkan jawaban untuk pertanyaan yang tidak masuk akal tersebut. Seorang Komandan pun kembali mengangkat tangan nya.
"Mereka pasti menggunakan mulut nya untuk memegang pena lalu mulai menandatangani nya Pak Thio, Bu Janet Saranghae....... " Ucap Komandan Laki-laki lain nya.
"Saranghae kepala mu... Salah." Ucap Pak Thio.
Setelah itu hampir semua Komandan Laki-laki memberikan jawaban kepada Pak Thio, namun semua jawaban nya salah. Akhirnya si pengguna senjata suci Teratai Kebijaksanaan pun bangun, saat ini seluruh Komandan menatap ke arah nya.
"Komandan Berambut Biru yang Tampan, baiklah coba kita dengar apakah wajah dan pikiran mu sebanding." Ucap Pak Thio, ia menyepelekan wawasan Pendekar Naga tersebut.
"Jawaban nya sangat mudah, untuk menandatangani Kontrak tersebut memerlukan kecerdasan dan sebuah lengan layaknya lengan kita saat ini." Ucap Arung, lalu memperagakan nya dengan tangannya kemudian menoleh ke arah Pak Thio.
"Huft........... " Suara nafas panjang Pak Thio.
"Mungkinkah Komandan berambut biru ini mengetahui jawaban nya, ugh... Jika sampai ada yang mengetahui jawaban nya aku akan bertukar posisi dengan Janet,"
"Sesuai dengan perjanjian kami." Gumam Pak Thio.
"Bagus Komandan berambut biru, jawaban mu sudah hampir tepat." Gumam Bu Janet.
Tampak raut wajah Pak Thio sedikit gelisah dan Bu Janet tampak gembira, dari ekpres wajah mereka berdua Arung yakin jawaban yang di pikir kan nya pasti benar.
"Ternyata tepat seperti yang aku fikirkan." Gumam Arung.
"Beast-Beast di Planet Kuno Jupiter pasti memiliki kemampuan menjelma menjadi Manusia Beast untuk meneken gulungan tersebut." Ucap Arung.
"Akh.... Kacau aku kalah gara-gara Komandan berambut biru itu." Gumam Pak Thio, lalu turun dari podium.
Bu Janet pun berdiri di atas podium menggantikan Pak Thio yang telah turun pangkat karena jawaban dari Komandan Arung.
"Benar Jawaban Komandan berambut biru itu benar, saat ini aku menjadi dosen dan Pak Thio menjadi asisten ku,"
"Dan kau siapa nama mu Anak Muda?" Tanya Bu Janet.
"Namaku ArungBijak Tiger Bu." Jawab Arung.
Sementara itu Luna dan Gisel berpikiran sama, lalu mulai mengurut-ngurut kepala nya.
"Ugh.... Dasar bodoh kenapa kau memberitahu namamu, saat ini tingkat kepopuleran nama mu sebanding dengan kepopuleran sosok Jendral Es." Gumam Luna dan Gisel kompak.
Beberapa Komandan Laki-laki dan Wanita pun berdiri untuk melihat Tunangan dari Jendral Es dengan mata kepala nya sendiri.
"Wah...... Itu tunangan nya Jendral Es, gila dia berani mencium Panglima Perang kita di atas arena Stadium tersebut." Ucap Salah Satu Komandan.
"Abang Ipar ku sangat berani, ia bahkan tidak gentar menyebutkan nama nya di dalam ruangan ini." Gumam Lili, kagum dengan sosok Abang Opar nya.
"Dasar Jigrak." Ucap Shangguan.
"Jigrak?" Gumam Yuan Lang.
"Ugh.... Dasar bodoh wajar saja Komandan itu mengetahui jawaban pertanyaan ini, dia pasti di beritahu oleh kekasih nya." Gumam Pak Thio.
"Hah............... " Suara Nafas Panjang Bu Janet.
"Ternyata dia kekasih Mitha, wajar saja Mitha sampai melakukan hal bodoh tersebut,"
"Pemuda itu sungguh sangat tampan." Gumam Bu Janet.
Sepertinya Bu Janet mulai terbius Kemampuan Dragon Love milik Arung.
"Ugh.... Tampan nya, Jendral Es dan Komandan Arung sangat serasi." Ucap Salah Satu Komandan Wanita.
Bu Janet pun mulai berusaha menenangkan kericuhan di dalam aula tersebut, yang di akibat kan oleh sosok Pendekar Don Juan tersebut.
"Tenang.... Tenang semua nya." Ucap Bu Janet menggunakan Jurus Auman.
Keadaan pun kembali tenang, tampak para Komandan kembali duduk dan menatap ke arah Bu Janet.
"Baiklah, Pak Thio bagikan gulungan-gulungan kontrak tersebut." Ucap Bu Janet.
"Siap Bu Janet." Ucap Pak Thio, lalu mulai membagikan gulungan-gulungan tersebut.
"Nasib-nasib, harus turun pangkat gara-gara Tunangan Jendral Es itu." Gumam Pak Thio, sambil membagikan gulungan-gulungan tersebut.
Setelah membagikan gulungan-gulungan tersebut, Bu Janet kembali berbicara dan mengajarkan teori-teori yang di butuhkan saat melakukan kontrak terhadap makhluk tersebut.
"Sungguh sangat membosankan kan, ini lah hal yang paling ku benci saat sekolah dulu." Gumam Gisel.
"Ugh.... Dada Bu Janet benar-benar sexi." Gumam Arung.
Sementara itu Luna menyadari apa yang di tatap oleh Pendekar Naga tersebut saat ini.
"Dasar Komandan Don Juan, apa dia tidak puas-puas saat ini, selain aku dia memiliki Gisel dan Juga Jendral Es,"
"Tapi saat ini dia masih melirik Bu Janet, awas saja nanti malam akan kubuat Gisel mabuk,"
"Dan kau akan kubuat lemas dengan jepitan kepiting ku." Gumam Luna, lalu menatap wajah Arung dengan tatapan jengkel.
Beberapa saat kemudian terdengar suara ledakan dari arah perisai kultivasi di sekitar Kapal Layar Langit.
"Duarghhh............... " Suara ledakan terdengar dari arah luar.
"Groaghhhhh........... " Suara Kapal Layar Langit saat bergoncang hebat.
Bu Janet beserta yang lain nya pun beranjak ke atas dek kapal, berniat mengetahui kondisi apa yang sedang di hadapi saat ini.
"Duarghhh............... " Suara ledakan kembali terdengar dari luar, pada tempat yang sama.
"Groaghhhhh........... " Suara Kapal Layar Langit saat bergoncang setelah nya.
Beberapa menit kemudian, Arung dan yang lainnya pun tiba di dek atas kapal, tampak seekor Beast sebesar Kapal yang mereka tumpangi tengah menghadang mereka.
"Itu kan Hantu Galaxi, cepat bangun kan Jendral Karna kita tidak akan mampu menghadapinya." Ucap Komandan Riri.
Ternyata yang mengendarai Kapal ini adalah Komandan Riri dan Komandan Amanda, seperti nya Jendral Karna dan Komandan Uranus masih tertidur di dalam kamar setelah wrestling di bawah selimut semalam tersebut.
"Duargh hhhh............. " Suara ledakan akibat serangan Bola berelemen hantu milik Beast tersebut di tempat yang sama kembali.
Hantu Galaxi, Beast yang hanya hidup di dalam ruang hampa dan memiliki ukuran sebesar Kapal Layar Langit. Perawakan nya seperti sebuah kerangka Iblis berwarna merah bertanduk dan berada di ranah alam Naga puncak berelemen hantu.
"Tidak usah memanggil Jendral Karna biar aku saja yang membereskan nya, sekalian aku akan mengajari mereka kehebatan dari elemen air jika di gabungkan dengan elemen lain nya." Ucap Bu Janet, lalu mulai berjalan ke depan Komandan Riri dan Komandan Amanda.
"Kehebatan elemen air, bukankah air itu merupakan elemen yang paling lemah." Gumam Arung.
"Sepertinya Dada Besar ini ingin memperlihatkan kemampuan nya, semoga saja dia cedera oleh Hantu Galaxi itu,"
"Sehingga posisi ku bisa kembali." Gumam Pak Thio.
Aura berwarna-warni mulai berkumpul di tubuh Janet Storm, sebuah semburan air bertekanan tinggi beraliran petir melesat ke arak kepala Hantu Galaxi tersebut.
"Jleb.......... " Suara saat kepala Hantu Galaxi tersebut berlubang.
"Drrrrttttttt............. " Suara tubuh nya yang tersetrum.
"Kalian lihat kan itu tadi kombinasi dari tiga elemen." Ucap Bu Janet, lalu berbalik badan ke arah para Komandan Baru tersebut.
Ternyata makhluk tersebut masih memiliki sisa-sisa tenaga ia pun menyemburkan elemen hantu nya ke arah Bu Janet. Akibat lengah ia pun tidak sempat memasang perisai kultivasi, Arung pun mulai mengayunkan lengan nya.
"Duargh hhhh................ " Suara ledakan akibat semburan elemen hantu mengenai perisai kultivasi perak.
Perisai kultivasi Kapal sudah berlubang di sebabkan serangan Beast tersebut beberapa kali sejak tadi, sehingga serangan yang terakhir kali nya berhasil memasuki perisai tersebut. Beberapa saat kemudian Beast itu pun tewas lalu mulai mengambang di sekitar Kapal Layar Langit, para Komandan pun terkejut saat menyaksikan muncul nya elemen legenda "Perak" tersebut.
"Itu kan elemen legenda, sejak kapan dia membangkitkan nya." Ucap Gisel.
"Wah... Tunangan Jendral Es memang berbeda, setelah bola api hitam saat ini elemen perak." Ucap salah satu Komandan Wanita.
"Abang Ipar ku memang keren." Ucap Lily.
Perisai Kultivasi Perak pun perlahan mulai menghilang, sementara itu Perisai Kultivasi Kapal kembali menutup.
"Huft............ " Suara nafas panjang Bu Janet.
"Tunangan Jendral Es ini sudah dua kali membantuku, sebaik nya aku memberikan tubuh Beast langka ini untuk nya." Gumam Bu Janet, lalu mulai menghampiri Arung.
"Terima Kasih Komandan Arung, kau sudah menolongku,"
"Ambillah tubuh Beast tersebut untuk mu, anggap saja itu sebagai hadiah dari ku." Ucap Bu Janet.
"Terima Kasih Bu." Ucap Arung.
Setelah itu Arung pun mulai menyimpan tubuh Beast tersebut ke dalam cincin ruang penyimpanan miliknya, tak lama berselang setelah kejadian tersebut para Komandan pun kembali pada rutinitas nya masing-masing. Sementara itu Arung bersama Luna dan Gisel duduk di atas dek kapal tersebut sambil menikmati pemandangan di ruang angkasa tersebut.
"Jadi elemen-elemen tersebut dapat di kombinasikan satu dengan yang lain nya sehingga memiliki daya penghancur yang sangat besar,"
"Aku harus mencoba nya nanti, saat ini aku lebih baik menikmati pemandangan ini terlebih dahulu." Gumam Arung.
__ADS_1
Tampak Kapal Layar Langit sedang melesat perlahan melewati badai asteroid kecil, tampak bintang-bintang bertaburan di ruang hampa tersebut. Berkat perisai kultivasi tersebut Kapal Layar pun di penuhi dengan oksigen yang membuat para Kultivator dapat bernafas seperti biasa nya saat berada di ruang hampa tersebut.