Pendekar Setengah Naga

Pendekar Setengah Naga
Black Hole terrors bagian awal


__ADS_3

Mansion Nona Mitha


Di kediaman Nona Mitha di waktu yang sama saat Arung mulai membangkitkan elemen dewa Black Hole tanpa di sadari nya saat di lorong jebakan perpustakaan kuno di Ngarai Biru. Kemudian tiga buah Black Hole berukuran raksasa pun mulai muncul di halaman mansion milik Nona Mitha.


"Warpppp........ warppppp........ warpppp..... " Suara yang diakibatkan munculnya Black Hole.


Di depan pintu Kamar milik Nona Mitha selalu dijaga oleh dua orang pengawal setia nya, yaitu Nando dan Mutia. Mereka berdua pun terkejut dengan kemunculan Black Hole tersebut.


"Lubang hitam apa itu, Nando?" Tanya Mutia.


"Baru kali ini aku melihat lubang aneh seperti itu." Ucap Mutia (Pengawal setia Nona Mitha, kultivasi nya berada di ranah alam bumi puncak).


"Benar-benar aneh di tengah malam begini muncul lubang hitam seperti itu." Ucap Mutia.


"Sebaiknya kau melaporkan nya segera kepada Nona Mitha, biar aku saja yang berjaga di sini." Ucap Nando (Pengawal setia Nona Mitha, Kultivasi nya berada di ranah alam bumi puncak).


Tiga beast Raja Siluman Air pun keluar dari dalam Black Hole tersebut.


"Aurghhhhh.................. " Suara raungan Beast tersebut.


"Brukkk......... " Suara Tapak kaki mereka saat jatuh ke lantai.


"Pakek acara meraung pulak nih beast." Gumam Nando.


Nando pun telah bersiap dengan menghunus kan tombak es kembar di tangan kanan nya dan perisai giok biru di tangan kirinya untuk pertahanan.


"Padahal sudah tengah malam begini, mana aku baru saja selesai mandi lagi,"


"Sudah muncul masalah pula, ukuran tubuh mereka juga besar-besar lagi" Gumam Nando, sambil bersiap bertarung.


Raja Siluman Air ini memiliki tinggi sekitar enam meteran, cukup besar untuk ukuran beast. Ketiga beast tersebut pun mulai menerjang dengan mengarah kan cakar nya ke arah Nando, dengan lincah ia pun menghadang cakar-cakar tersebut dengan perisai giok biru milik nya.


"Tring.......tring........ " Suara perisai giok yang tengah beradu dengan cakar ketiga beast tersebut.


Beast-beast itu terus menghantam perisai giok dengan cakarnya berkali-kali.


"Tring.......tring........ " Suara perisai giok yang tengah beradu dengan cakar ketiga beast tersebut kembali.


Salah satu beast kemudian menembak kan sebuah bongkahan es raksasa dari mulutnya ke arah Nando.


"Whusss.................. " Suara hempasan angin saat bongkahan es melesat.


Setelah menahan serangan cakar dari beast tersebut, Nando pun kembali melompat ke belakang lalu melesatkan tombak kembar es nya ke arah bongkahan es yang tengah melesat tersebut.


"Rasakan tombak es raksasa milik ku ini, monster jelek." Teriak Nando.


"Whusss................ " Suara hempasan angin saat tombak es melesat.


Tombak es milik Nando pun perlahan-lahan di selimuti oleh energi berelemen es, dan seketika itu juga membentuk sebuah tombak es raksasa. Beberapa saat kemudian kedua elemen yang sama pun saling beradu.


"Duargh................. " Suara ledakan akibat kedua elemen saling berbenturan, tombak kembar es milik Nando pun terpental hingga menancap ke depan pintu kamar Nona Mitha.


"Jleebbbbb........... " Suara saat tombak es menancap.


Bongkahan es kecil-kecil pun merusak sekitar mansion kediaman milik Nona Mitha.


"Duargh.... duargh..... duargh.... " Suara ledakan saat serpihan bongkahan es menghantam sekitar nya.


Dua ekor beast lainnya berinisiatif untuk melesat memutar kemudian menyerang dari arah belakang Nando. Beberapa saat kemudian, kedua Raja Siluman Air ini pun berhasil mencabik punggung Nando yang tengah lengah.


"Arghhhh............... " Suara Teriakan Nando.


"Sejak kapan mereka ada di belakangku." Gumam Nando.


Seketika Nando pun roboh terkena cakaran di punggung nya tersebut dan mengeluarkan darah dari mulut nya.


"Brukkkk................ " Suara tubuh Nando yang tersungkur ke depan.


"Uhuk....... uhuk...... uhuk...... " Suara Batuk Nando, lalu mengeluarkan darah hitam yang kental.


Tak lama berselang Nona Mitha pun keluar dari dalam kamarnya bersama dengan Mutia.


"Krakkk................ " Suara pintu yang terbuka.


Nona Mitha pun dengan anggun serta tenang mengamati keadaan di sekeliling nya.


"Ternyata beast Raja Siluman Air, kenapa makhluk-makhluk ini bisa berada disini?"


"Tengah malam begini,"


"Beast ini kan habitat asli nya di sekitaran sungai atau di danau, sedangkan kediaman ku ini sangat jauh dari kedua nya,"


Beberapa saat kemudian.


"Byurrrr................" Suara hujan deras.


"Duargh........ duargh........... " Suara ledakan dari arah luar.


"Fenomena yang sungguh aneh, sepertinya tidak hanya di kediaman ku yang sedang kacau,"


"Di luar kediaman ku juga telah terjadi banyak kekacauan seperti nya." Gumam Nona Mitha, sambil menoleh ke arah pengawal setia nya yang tengah terluka.


Melihat Nona Mitha keluar, ketiga beast tersebut pun merasa tertekan dengan kekuatan yang dimiliki oleh nya. Ketiga Beast tersebut merasakan ranah kultivasi Nona Mitha yang berada di ranah alam harimau puncak, jauh di atas mereka yang hanya berada di ranah alam langit puncak.


"Erghhhhh............ " Suara raungan kecil makhluk-makhluk tersebut.


"Mutia, Berikan pil gingseng seratus tahun ini kepada Nando segera, biar aku yang menghadapi ketiga beast tersebut." Ucap Nona Mitha, sambil memberikan pil ke tangan Mutia.


"Siap.... " Ucap Mutia.


Ia pun segera beranjak ke arah Nando yang tengah muntah darah tersebut.


"Uek...... " Suara muntah darah Nando.


Kedua beast Raja Siluman Air pun mulai melesat kan bongkahan es raksasa dari dalam mulut nya ke arah Nona Mitha.


"Whusss........... " Suara hempasan angin akibat serangan tersebut.


Beast yang lain nya pun mulai bergegas melesat dan memutar ke belakang, berniat ingin menyerang dengan cakarnya dari arah belakang seperti yang mereka lakukan terhadap Nando.


"Serangan es setingkat ini tidak terlalu berefek kepadaku." Gumam Nona Mitha, sambil mengayunkan kedua sisi selendang emas nya.


Selendang emas itu mulai memanjang serta mengeluarkan energi yang berelemen es yang meluap-luap, kemudian menepis dengan mudah kedua bongkahan es itu.


"Duargh...... duarghhh..... " Suara yang di timbulkan saat selendang emas menepis kedua bongkahan es tersebut.


Bongkahan es pun berbalik arah dan menyerang kembali pemilik nya.


"Duarghhhhh........ duarghhhhh....... " Suara ledakan akibat bongkahan es yang menghantam dinding pagar mansion.


Kedua beast itu pun berhasil melompat ke belakang dan menghindari nya dengan lincah. Suasana hening pun kembali tercipta untuk sementara.


"Awas Nona Mitha, di belakang mu." Teriak Mutia, mencoba memperingati adanya serangan beast dari arah belakang.


Sebuah perisai kultivasi es pun mulai muncul secara mendadak, dan mencegah cakar beast itu mencabik-cabik punggung Nona Mitha.


"Mencoba menyerang ku, dari sudut matiku ya." Gumam Nona Mitha.


"Tring........ tring......tring. " Suara cakar raksasa mengenai perisai kultivasi es.


Nona Mitha pun kemudian berbalik dengan tenang, ia pun mengayunkan lengan nya dengan anggun. Seberkas energi elemen angin berbentuk sabit sepanjang dua meter memenggal kepala beast tersebut.


"******......... " Suara darah yang muncrat saat leher Beast tersebut kehilangan kepala nya.


"Brukkkk....... " Suara saat tubuh makhluk tersebut tersungkur ke depan.


"Satu telah mati, tinggal dua lagi." Gumam Nona Mitha, sambil perlahan melayang ke atas.


Melihat teman nya telah tewas kedua beast itu pun berang.


"Aurgggghhhh............. " Raungan kemarahan kedua Beast Raja Siluman Air tersebut.


Beast tersebut pun kemudian melesatkan bongkahan es raksasa kembali ke arah Nona Mitha yang tengah melayang.


"Whussss................... " Suara hempasan angin akibat serangan tersebut.


"Serangan elemen es lagi, apa makhluk-makhluk tersebut tidak pernah belajar dari serangan sebelum nya,"


"Sebaiknya aku cepat menyelesaikan pertarungan ini, aku sudah sangat mengantuk." Gumam Nona Mitha.


"Hoam............. " Suara menguap Nona Mitha.


Sebuah energi angin berbentuk bola berdiameter tiga meter melesat dari telapak tangan Nona Mitha. Mutia dan Nando yang ada disekitar ikut merasakan hempasan angin dingin dari bola angin raksasa tersebut.


"Whussss..... whusss....... whusss....... " Suara hempasan angin dari bola angin raksasa.


"Sungguh elemen angin yang begitu dahsyat, Nona Mitha benar-benar kuat walaupun ranah nya telah turun beberapa tingkat pada saat kejayaan nya dulu,"


Lima tahun yang lalu merupakan puncak kejayaan nya Nona Mitha, ia tinggal selangkah lagi menerobos ke ranah alam dewa tingkat awal. Namun akibat misi terakhir yang di lakukannya lima tahun yang lalu, ranah kultivasi nya tiba-tiba saja menurun ke ranah alam harimau puncak.


"Benar-benar wanita yang mengerikan." Gumam Mutia, sementara itu Nando tengah mengkultivasi pil gingseng seratus tahun tersebut.


"Duargh........... " Suara ledakan akibat dua elemen yang berbeda saling beradu.


Elemen angin pun ******* habis bongkahan es raksasa tersebut menjadi serpihan-serpihan kecil, beberapa saat kemudian dari balik asap ledakan selendang emas pun mulai melesat lalu membalut tubuh kedua Raja Siluman Air yang tengah lengah tersebut.


"Tertangkap, sekarang kalian akan ku jadikan hidangan yang lezat di atas meja nanti nya." Ucap Nona Mitha, sambil menyalurkan energi berelemen es ke selendang emas nya.


Seketika tubuh kedua Raja Siluman Air pun membeku dan membentuk dua buah bongkahan es. Nona Mitha pun perlahan turun kembali.


"Brukkk......... " Suara kaki Nona Mitha saat menginjak kan kaki nya kembali di lantai.


"Mutia, Nando mendekat lah." Perintah Nona Mitha.


"Siap Nona." Sahut kompak kedua pengawal tersebut, sambil beranjak ke tempat Nona Mitha.


"Tolong kalian bawa ketiga tubuh Raja Siluman Air ini ke Warung Makan Daging Panggang Siluman Air di pusat Kota Awan Hitam,"


"Katakan pada pemiliknya, untuk memasak ketiga beast ini dengan masakan terenak," Ucap Nona Mitha.


"Apa...... ada yang aneh saat ini,"


"Jarang-jarang Nona berpikir tentang makanan," Gumam Nando, sambil menoleh ke arah Mutia.


"Sepertinya semenjak kembali Nona menjadi sedikit aneh, bahkan beberapa malam sebelumnya aku sempat mendengar Nona berbicara sendiri di dalam kamar." Gumam Mutia, sambil menoleh ke arah Nando.


Saat itu adalah ketika Jiwa Arung mengunjungi Nona Mitha untuk pertama kali nya, hanya Nona Mitha saja yang dapat melihat dan mendengar nya.


"Katakan Nona Mitha yang menyuruh nya, dan berikan 1000 uang koin emas ini untuk pemilik nya." Ucap Nona Mitha, Sambil memberikan tiga kantong uang yang besar dan sebuah cincin ruang.


Masing-masing kantong berisi 1000 uang koin emas.


"Siap Nona, besok kami akan segera ke Warung Daging Panggang Siluman Air di pusat kota." Sahut Kompak Nando dan Mutia, sambil mengambil ketiga kantong uang dan sebuah cincin ruang.


"Dua kantong lagi, ambillah untuk kalian itu hadiah dariku." Ucap Nona Mita, sambil beranjak kembali ke dalam kamar nya.


"Dup................ " Suara Pintu Kamar tertutup.


Di dalam Kamar Nona Mitha.


"Akan kuberikan hidangan lezat berbahan daging beast Raja Siluman Air untuk Arung, sebagai hadiah dari ku." Gumam Nona Mitha, dengan pipi yang memerah.


"Akan kukatakan itu adalah masakan ku sendiri, gimana reaksinya ya." Gumam Nona Mitha.


Sejak kejadian di Kaki Bukit Siluman, tunas-tunas cinta sudah mulai muncul di lubuk hati Nona sedingin es tersebut kepada Pendekar Muda Keluarga Tiger tersebut.


Mansion Putri Naga Kecil


Setelah membaringkan Gisel dan Ayu di ranjang kamar, Arung pun duduk bersantai di kursi giok sambil meminum segelas susu phoenix.

__ADS_1


"Ah lelah sekali saat ini, selama tiga hari ini aku harus memutar sirkulasi tenaga dalam di dua tubuh nona-nona itu."


"Aku sangat sulit berkonsentrasi, memutar tenaga dalam sambil melihat punggung mulus Shilla dan Gisel." Ucap Arung.


"Pemandangan indah malam ini, mengingatkan ku kembali pemandangan indah saat aku dan Nona Mitha menghabiskan waktu bersama di Kaki Bukit Siluman." Gumam Arung, sambil mengalirkan air mata kebahagian.


"Hiks..... hiks.... hiks...... " Tangisan kebahagian Arung di dalam hati.


"Nona Mitha.... kau tetap yang terbaik." Gumam Arung.


Beberapa saat kemudian.


"Hatsyimmmm.......... " Suara bersin Arung.


"Siapa yang membicarakan aku, tengah malam begini." Ucap Arung.


"Mungkinkah Nona Mitha, apa aku mengunjungi Nona Mitha aja malam ini dengan jiwaku?" Gumam Arung.


"Hatsyimmmm.......... " Suara bersin Arung.


Arung pun kemudian mengganti pakaiannya dengan hanya mengenakan celana boxer saja. Arung pun kemudian tidur di tilam bawah di kamar yang sama dengan Shilla dan Gisel.


"Wah cantik sekali mereka berdua, aku tidak menyangka setelah sampai ke dunia kultivasi ini peruntungan ku soal percintaan bagus sekali,"


"Bahkan sekarang pacarku saja ada dua, amazing." Gumam Arung di dalam hati, sambil memejamkan matanya.


Kembali ke kediaman Tiger di saat Arung membangkitkan elemen dewa Black Hole.


Nyonya Vinic tengah duduk di pondok tepian Danau Obat, malam ini ia tidak dapat tidur karena tengah gelisah memikirkan anak semata wayang nya.


"Shilla, semoga kau bisa akur dengan calon suami mu di Kota Awan Hitam,"


"Hiks.... hiks.... hiks..... " Tangis haru Matriak karena melepas anak satu-satunya kepada seorang pemuda.


Matriak tidak menyangka anak semata wayang nya telah di madu oleh Arung.


"Aku tidak ingin kau menembakkan Arung dengan bola api seperti saat Arung masih berada di sini." Ucap Nyonya Vinic sambil memegang pancing.


"Hiks..... hiks.... hiks...." Suara tangis haru Matriak.


"Dari tadi aku menelpon Shilla, kemudian Arung tapi kenapa tidak aktif-aktif ya?" Gumam Nyonya Vinic, sambil memegang pancing.


Beberapa saat kemudian kail pancing milik Nyonya Vinic seperti ada yang menarik-narik.


"Sepertinya ada beast yang memakan umpanku." Ucap Nyonya Vinic, kemudian menarik pancing dan menggulung nya.


Sungguh keberuntungan memancing yang kecil, bukan beast yang terpancing malahan pembalut wanita yang tersangkut di kail pancing.


"Akh...... aku selalu saja apes kalau memancing disini, kemarin dalaman wanita sekarang pembalut wanita,"


"Jika aku memancing esok, entah apa lagi yang kudapat." Gumam Nyonya Vinic.


Ia pun kemudian teringat tentang Xiao Mei Mei yang sangat ahli memancing.


"Xiao Mei Mei selalu saja mendapatkan banyak Beast Ikan ketika memancing di sini, bahkan karena sangat beruntung ia mendapat kan pil awet muda,"


"Bahkan karena pil dewa api saat ini ranah nya sudah menembus alam naga,"


"Padahal aku sangat menginginkan pil awet muda tersebut." Ucap Nyonya Vinic.


Ia pun berdiri berniat kembali ke dalam mansion nya, Tiba-tiba saja cuaca malam yang penuh dengan hamparan bintang di langit berubah seketika. Langit di Puncak Gunung Obat ini pun mulai di tutupi oleh awan hitam yang beraliran petir.


"Dzzitt......... dzzitt........ dzzitt...... " Suara percikan petir di langit.


Sesaat kemudian hujan pun mulai turun dengan deras nya.


"Byurrr............... " Suara hujan deras.


"Ada apa kah gerangan ini?" Ucap Nyonya Vinic.


"Kenapa cuaca bisa berubah secara mendadak seperti ini?" Ucap Nyonya Vinic.


Beberapa saat kemudian dua buah Black Hole berukuran raksasa pun muncul tepat di atas Danau Obat, hujan deras pun berhenti setelah nya.


"Warpppp....... warpppp........ " Suara yang di akibatkan karena munculnya Black Hole.


Dari dalam salah satu Black Hole tersebut muncul seekor beast raksasa, dan langsung tercebur ke dalam Danau Obat.


"Bruar.......... " Suara seekor beast raksasa yang tercebur ke dalam danau tersebut.


"Blurpppppppppp.............. " Suara tubuh beast yang tenggelam.


Hempasan air yang di sebabkan oleh tercebur nya seekor beast besar tersebut sampai membasahi sekujur tubuh Nyonya Vinic yang tengah membeku menatap raksasa yang muncul sesaat di hadapan nya tersebut.


"Itu.............bukan kah beast langka Kura-kura seribu tahun, kenapa bisa ada disini seharus nya Beast ini sudah punah ribuan tahun lalu." Ucap Nyonya Vinic.


Beast kura-kura tersebut memiliki tempurung berdiameter sekitar dua puluh meter, bentuk nya hampir sama dengan kura-kura pada umum nya. Di kepala nya memiliki dua buah tanduk yang beraliran petir, hidup sekitar 10 ribu tahun yang lalu. Beast ini dianggap sudah punah karena terakhir muncul sekitar 3000 tahun yang lalu, serta berelemen petir. Gerakan nya lambat, namun memiliki kekuatan yang besar, kekuatannya setara dengan kultivator di ranah alam langit puncak.


"Sebaiknya aku menembak kan peringatan darurat kepada para tetua dan murid-murid di Kediaman Tiger sekarang." Gumam Nyona Vinic, sambil melesatkan sebuah bola api berdiameter tiga meter ke atas langit di mansion Keluarga Tiger tersebut.


"Duarghhh........................ " Suara ledakan akibat bola api milik Matriak.


Setelah bola api itu meledak, di langit tampak api yang telah berbentuk seekor harimau raksasa yang menyala selama beberapa menit. Dari dalam Black Hole yang satu nya lagi keluar kura-kura petir berjumlah 100 ekor, dan langsung tercebur ke dalam Danau Obat.


"Blurpppppppppp...... blurpppppppppp..... blurpppppppppp......... "Suara kura-kura yang tercebur dan perlahan tenggelam ke dalam Danau Obat.


"Kali ini sepertinya berkah telah datang ke Kediaman Keluarga Tiger,"


"Aku harus membunuh kura-kura seribu tahun itu, dan menangkap kura-kura petir lain nya." Gumam Nyonya Vinic.


Beberapa saat kemudian ke delapan Tetua dan para murid pun tiba di tepian danau, alangkah terkejut nya Nyonya Vinic melihat mereka semua.


"Apa... apa... an mereka, apa mereka mau membuat Party Nakal disini." Gumam Nyonya Vinic.


"Kalian kenapa datang kesini dengan pakaian seperti itu?" Tanya Matriak, kepada salah satu murid.


"Mohon maaf Matriak kami buru-buru hingga tidak sempat berpakaian yang layak, dan hanya memakai piyama tidur saja." Ucap salah seorang murid cantik tersebut, sambil membungkuk dan memberi hormat.


"Piyama tidur kalian ini telah membuat cedera beberapa murid lelaki berambut merah yang ada di sebelah sana." Ucap Matriak, sambil menunjuk kecarah rombongan murid laki-laki.


Beberapa murid laki-laki terlihat pingsan karena kehabisan darah, dan beberapa lain nya terlihat panik dan membeku melihat para gadis cantik yang tengah ber piyama tersebut.


"Tolong tetua, Cheng Er pingsan dan terus mengeluarkan banyak darah dari hidung nya." Ucap salah satu murid lelaki tersebut.


"Bing an, juga pingsan Tetua." Ucap salah satu murid lain nya.


Suasana riuh pun terjadi di sisi rombongan murid laki-laki.


"Kya... para lelaki melihat dengan tatapan mesum..... kya." Teriak salah satu murid wanita tersebut.


"Tetua Shiyu, berikan beberapa pil penambah darah ini kepada mereka,"


"Dan perintahkan beberapa murid laki-laki dan wanita untuk memindahkan panel-panel listrik di tepian danau ke halaman belakang segera." Perintah Matriak, sambil memberikan pil penambah darah.


"Matriak, pil ini kan untuk wanita apa tidak apa-apa?" Tanya Tetua Shiyu.


Pil penambah darah adalah pil tingkat alam kesatria untuk menambah darah para wanita di saat mereka sedang haid. Tetua Shiyu khawatir akan efect pil tersebut terhadap Laki-laki, karena ia mengetahui kegunaan nya.


"Tenang lah Tetua Shiyu, aku telah mencobanya beberapa kali pada Arung saat dia mimisan dan pingsan seperti mereka sekarang." Ucap Matriak.


"Murid si raja mesum, kalau begitu pil ini pasti aman di konsumsi oleh murid laki-laki tersebut." Gumam Tetua Shiyu.


"Baik Matriak," Ucap Tetua Shiyu, lalu beranjak ke arah kumpulan murid laki-laki tersebut.


Tetua Shiyu berjalan dengan lemah gemulai dan super sexi, ia pun hanya mengenakan celana shot pendek ketat berwarna putih dan penutup dada berwarna putih. Melihat bidadari berjalan mengarah kepada mereka, beberapa murid laki-laki pun kembali muncrat darah pada hidung nya lalu pingsan.


"Akhhh......... " Teriak beberapa Murid Laki-laki lalu jatuh pingsan.


"Aku rela walau kehabisan darah malam ini," Ucap salah seorang murid laki-laki, sambil memuncratkan darah dari hidungnya dan mengalirkan air mata kebahagiaan kemudian pingsan.


"******...... croottt........ ******..... " Suara muncratan darah bergiliran.


"Hah........... " Suara hembusan nafas panjang Tetua Shiyu saat melihat tingkah mesum dari murid laki-laki tersebut.


"Ini akibat penyakit Bongpal dan murid nya Arung, para murid laki-laki ini pun tertular tingkah mesum mereka." Gumam Tetua Shiyu sambil meminumkan pil kepada murid laki-laki yang pingsan.


Beberapa saat kemudian Kura-kura petir mulai keluar perlahan dari pinggiran danau dan melesatkan bola petir berdiameter 1 meter ke arah para murid dan Tetua.


"Semuanya tangkap hidup-hidup kura-kura petir ini dengan jurus rantai api pengikat iblis, jangan ada yang membunuhnya." Perintah Matriak.


Kura-kura petir ini ukuran tempurung nya sekitaran tiga meteran dan memilik sebuah tanduk yang beraliran petir. Kekuatannya setara dengan kultivator di ranah alam kesatria puncak, serta berelemen petir. Kura-kura ini sangat langka karena tubuh nya dapat di jadikan pil kecantikan, para tetua dan para murid wanita pun mengetahuinya kegunaan Beast tersebut.


"Baik Matriak," Sahut kompak para murid, kemudian mulai melesat kan bola api ke arah bola petir.


"Duarghhh........ duarghhhh........ duarghhh......... " Suara ledakan yang di akibat kan oleh dua elemen yang saling beradu.


Beberapa saat kemudian sosok raja dari para kura-kura petir mulai berjalan ke tepian danau. Para Tetua dan murid serta Matriak pun membeku menyaksikan seekor raksasa keluar dari danau tersebut.


"Itu kan kura-kura seribu tahun." Gumam Tetua Shiyu, ketujuh tetua lain nya pun ikut terkejut.


"Aurghhhh............................... " Raungan sang raja kura-kura memecah keheningan malam di Puncak Gunung Obat tersebut.


"Tetua Shiyu dan Tetua Ami iku denganku menghadapi kura-kura raksasa ini, tetua lain nya bantu para murid." Perintah Matriak, sambil melesat ke arah beast yang tengah berjalan perlahan menuju tepian danau.


"Baik Matriak." Sahut kompak para Tetua, Tetua Shiyu dan Ami pun beranjak mengikuti Matriak.


Tampak para gadis cantik berpakaian piyama tidur tengah mengeluarkan jurus rantai jiwa.


"Terima ini kura-kura, jurus rantai jiwa." Teriak Yuni salah seorang murid, seberkas energi berbentuk rantai api melesat dari tangan nya.


Kura-kura petir itu pun mulai menembak kan bola petir ke arah rantai jiwa tersebut, rantai jiwa pun menghilang sesaat setelah terkena bola petir.


"Ah... lenyap kontrol ku masih kurang, sebaiknya aku mencobanya lagi." Ucap Yuni, sambil kembali melesat kan rantai jiwa.


Beberapa murid lainnya kembali melesatkan jurus rantai jiwa pengikat iblis ke arah Kura-kura tersebut.


Kembali ke pertarungan Matriak dan dua Tetua.


"Beast ini memang lambat, namun tenaga nya sanga besar Matriak." Ucap Tetua Ami.


Beast itu pun mulai menembak kan bola petir raksasa dari mulut nya ke arah Matriak dan yang lain nya. Matriak dan kedua Tetua pun melesatkan Jurus Tapak Pembunuh. Energi api berbentuk pedang pun mulai beradu dengan bola petir.


"Duargh................. " Suara ledakan akibat dua elemen yang beradu, sisa-sisa energi bola petir pun menghancurkan beberapa titik di mansion Kediaman Tiger.


"Jangan lengah Tetua Ami, Tetua Shiyu segel pergerakan kura-kura tersebut,"


"Aku akan menyerang nya dengan kekuatan penuh ku." Teriak Matriak, sambil mengumpulkan energi berelemen api di telapak tangan nya.


Tetua Dara dan Tetua Rita melihat Matriak tengah mengumpulkan tenaga untuk serangan terakhir, mereka berdua pun berniat membantu. Kedua Tetua tersebut langsung melesat ke arah Matriak, sementara itu Beast tersebut kembali menembak kan dua buah bola petir berukuran raksasa.


"Whusss............... " Suara hempasan angin saat serangan tersebut melesat.


Tetua Shiyu dan Tetua Ami pun kembali melesatkan Jurus Tapak Pembunuh, berniat menahan kedua buah bola petir tersebut.


"Duargh........................ " Dua buah elemen yang berbeda kembali beradu.


Namun karena tenaga dalam milik Kura-kura Seribu Tahun lebih besar, bola petir pun menghempas pedang api dan melesat ke arah Tetua Shiyu dan Tetua Ami.


"Akhhh.............. " Teriak kesakitan kedua Tetua lalu tak sadar kan diri.


"Duargh........... " Suara serangan bola petir mengenai kedua Tetua tersebut.


"Guru...... " Teriak beberapa murid wanita dan laki-laki.


Beberapa murid pun segera menghampiri kedua Tetua yang telah cedera parah dan tak sadar kan diri tersebut, kemudian segera menyelimuti tubuh polos guru nya dengan selimut.


"Shiyu, Ami bertahanlah." Gumam Matriak.


"Terima ini Kura-kura sialan, Jurus Harimau Api." Teriak Matriak, seberkas energi api berbentuk harimau pun melesat keluar dari telapak tangan nya ke arah Beast tersebut.

__ADS_1


"Groaghhh......... groaghhh........ " Suara getaran bangunan dan pepohonan di sekitar akibat lesatan Jurus tersebut.


Kura-kura Seribu Tahun pun kembali melesatkan serangan bola petir raksasa, berniat menangkis serangan Matriak.


"Duarghhh........... " Suara ledakan saat Harimau api ******* bola petir.


Harimau api pun ******* bola petir lalu menerjang ganas ke arah Kura-kura Seribu Tahun.


"Matriak benar-benar jenius, ternyata dia telah menguasai jurus bagian ke empat yaitu Jurus Harimau Api." Gumam Tetua Ami dan Tetua Rita.


"Duarghhh........... " Suara ledakan akibat jurus Harimau Api.


Tubuh Kura-kura Seribu tahun pun terpental hingga tercebur kembali ke dalam Danau Obat.


"Blurpppppppppp...................... " Suara tubuh Beast yang tenggelam perlahan kedalam Danau Obat.


"Hah....... hah........ hah........ " Suara nafas terengah-engah milik Matriak yang tengah kehabisan tenaga.


"Matriak kau tidak apa-apa." Ucap Tetua Dara.


"Tetap waspada Tetua, aku belum yakin makhluk itu telah kalah." Ucap Matriak, lalu bermeditasi.


"Mei Mei cepatlah datang kenapa kau belum bangun juga, tolong bantu kami." Gumam Matriak.


Xiao Mei Mei ternyata tengah mengunjungi Matriak, saat ini dia tengah tidur di ruang tamu Kediaman Keluarga Tiger setelah jamuan makan malam sebelum nya.


"Jika makhluk itu muncul kembali setelah menerima serangan se dahsyat itu maka kami bukanlah tandingan nya,"


"Matriak pun tengah memulih kan tenaga nya,"


"Tetapi kenapa Matriak terlihat begitu tenang." Gumam Tetua Rita.


"Tetua Rita, tenanglah Matriak pasti memiliki suatu siasat." Ucap Tetua Dara, melihat raut wajah Tetua Rita yang gelisah.


Beberapa saat kemudian, Kura-kura Seribu Tahun pun kembali muncul dari dalam Danau Obat.


"Lindungi Matriak." Ucap Tetua Dara, sambil melesatkan Tapak Pembunuh ke arah Beast tersebut begitu pula dengan Tetua Rita.


Dua buah pedang api raksasa kembali melesat ke arah Beast tersebut, kali ini makhluk tersebut mengeluarkan sambaran petir dari kedua tanduk nya. Sambaran petir itu ******* pedang api kemudian menerjang ke arah kedua Tetua.


"Drrtttt.......................... " Suara kedua Tetua yang tersetrum petir, pakaian mereka pun ikut hangus hingga tubuh polos mereka pun terlihat.


"Guru............. " Teriak beberapa murid, kemudian bergegas menghampiri kedua Tetua dan menyelimuti tubuh polos mereka dengan selimut.


Bing An yang baru sadar kan diri melihat pemandangan saat pakaian kedua tetua hangus.


"Apa............ " Gumam Bing An.


Lalu melihat tubuh polos mereka tergeletak di tepian danau.


"Cantik nya, goresan alam dan dua Bukit kembar yang sangat indah,"


"Aku rela walau harus mati malam ini." Gumam Bing An, sambil memuncrat kan darah yang banyak dari hidungnya.


"Crotttt........... " Suara muncratan darah dari hidung Bing An.


Air mata kebahagian pun keluar dari mata Bing An, sejak saat itu ia pun jatuh hati kepada Tetua Dara yang cantik.


"Tetua Dara I Love You Fulll." Gumam Bing An dengan wajah tersenyum.


Tak lama berselang Bing An pun mulai tak sadar kan diri.


Bandara Udara Pulau Balighe.


Tampak Bongpal bersama Tabib Syu tengah menunggu panggilan keberangkatan mereka di Gate 10.


"Wah.... Ternyata di sini dingin banget ya Syu Yan, jadi pengen ni." Ucap Bongpal.


"Pengen karena dingin apa pengen karena habis ngeliatin cewek cantik di sana, dasar nakal." Ucap Tabib Syu sedikit kesal.


Tampak di hadapan mereka seorang Gadis Berambut Jitam yang sangat cantik tengah duduk seorang diri memakai penutup kepala dan kaca mata hitam.


"Gak lah sayang, kan gara-gara kamu." Ucap Bongpal.


"Wanita berambut hitam itu pasti sedikit gila, lagian ngapain dia memakai kacamata malam-malam begini." Gumam Tabib Syu.


"Gombal...Baru tadi mandi bareng ini udah pengen lagi." Ucap Tabib Syu.


"Jangan benar-benar ngomong nya malu tuh di liatin orang-orang." Bisik Bongpal.


Beberapa saat kemudian terjadi fenomena cuaca yang aneh di sekitar bandara tersebut, tampak langit mulai menghitam lalu hujan pun turun.


"Byurrrr................... " Suara hujan deras.


Sebuah Black Hole pun muncul di dalam gate 10 lalu seekor Ular Bertanduk Sembilan Janta pun keluar dari dalam Black Hole tersebut.


"Warrppp....... Warppp....... Warppp....... " Suara Black Hole saat muncul.


"Ergghh..................... " Raungan Beast tersebut, lalu menatap sekeliling nya.


"Kya.... Bongpal aku takut, ular itu sangat menakutkan." Teriak Tabib Syu lalu memeluk Bongpal.


Tampak yang lain nya pada berlarian keluar dari Gate 10 tersebut, hanya wanita cantik berambut hitam itu yang tidak keluar. Ternyata ia tidak dapat bergerak karena ketakutan dan Beast tersebut pun berada tepat di hadapan nya.


"Gawat gadis cantik itu akan di serang." Gumam Bongpal, lalu mengayunkan lengan nya.


Dua buah perisai kultivasi api pun mulai muncul di dekat nya lalu di tempat gadis berambut hitam tersebut.


"Syu Yan aku akan menolong gadis cantik itu dulu, kasian dia." Ucap Bongpal.


"Bongpal hati-hati." Ucap Syu Yan.


"Dasar Nakal, itu sebenarnya ingin menolong apa ingin kenalan." Gumam Tabib Syu.


Beast Ular Bertanduk Sembilan Jantan ini hanya berada di ranah alam kesatria puncak, jadi sangat mudah bagi Bongpal untuk mengalahkan nya.


"Akh... tidak aku takut sekali." Gumam Gadis Cantik tersebut.


Beast tersebut pun mulai menerjang ke arah wanita cantik tersebut.


"Akhh........ " Teriak gadis cantik tersebut, ketakutan.


"Duaghh..... " Suara tubuh Beast saat mengenai perisai kultivasi api tersebut.


"Ergh hhhh......... " Suara erangan makhluk tersebut marah karena perisai yang di pasang oleh Bongpal telah menghalangi nya.


Ular Bertanduk Sembilan Jantan pun kemudian menembak kan sebuah bola api beracun ke arah Bongpal.


"Serangan yang lemah." Gumam Bongpal.


Dengan lincah ia pun menghindari nya dengan mudah, lalu melesatkan dua buah tangan api ke arah Beast tersebut.


"Akh....... " Teriak Beast tersebut saat salah satu lengan api milik Bongpal mencengkram leher dan ekor makhluk tersebut.


"Siapa pemuda berambut merah itu?"


"Untung saja dia menyelamat kan ku, jika tidak aku pasti sudah tewas,"


"Dan besok berita tentang kematian ku akan ada di semua surat kabar di Benua Es Api ini." Gumam Gadis Cantik tersebut.


Ternyata Gadis cantik tersebut adalah seorang Kultivator Artis tercantik nomer dua setelah Jendral Es di Benua Es Api ini. Kultivator ini bernama Cinta Claudia dan ia saat ini berada di ranah alam kesatria puncak dan hanya berkultivasi seni bela diri kecantikan dan pertunjukan.


"Ergghh Hhhhh............. " Suara yang di keluarkan oleh Ular Bertanduk Sembilan Jantan tersebut.


"Ugh.......... Aku tidak kuat lagi, sebaik nya aku membunuh nya sekarang." Gumam Bongpal, lalu melesatkan jurus Tapak Pembunuh.


Sebuah Pedang Api muncul dari telapak tangan nya lalu melesat ke arah Beast tersebut.


"Jleebbbbb.......... " Suara saat pedang Api tersebut menembus kepala Ular Bertanduk Sembilan Jantan tersebut.


"Brukkk............. " Suara tubuh Beast tersebut saat jatuh ke lantai Gate 10.


Keadaan pun mulai menjadi hening untuk sesaat setelah tewas nya Beast ular tersebut.


"Fiuh...... "


"Walaupun lemah Beast Ular ini sangat lah beracun." Gumam Bongpal.


Cinta pun lalu beranjak menghampiri Bongpal begitu pula dengan Tabib Syu langsung memeluk erat suami nya.


"Bongpal......suamiku."


"Syukurlah kau selamat, aku sangat khawatir tadi." Gumam Tabib Syu, lalu menggandeng tangan Bongpal.


"Tenang Syu Yan, makhluk itu bukan lah lawan ku." Ucap Bongpal.


"Oh..... Ternyata mereka sepasang suami istri." Gumam Cinta.


"Terima kasih Tuan dan Nyonya, telah menyelamatkan aku tadi,"


"Aku Cinta, ini kartu namaku." Ucap Cinta, sambil membungkuk lalu memberikan kartu nama nya.


Tabib Syu pun mengambil kartu nama tersebut lalu menyadari siapa sosok wanita cantik tersebut.


"Ternyata dia adalah seorang artis, aku tidak mengenalinya karena penutup kepala dan kaca mata hitam tersebut." Gumam Tabib Syu.


"Kya..... Cinta aku penggemar berat mu, bisakah kita photo bersama." Ucap Tabib Syu lalu mengeluarkan HP nya.


"Bisa tentu saja bisa Nyonya." Ucap Cinta.


"Dasar Syu Yan tadi dia cemburu buta dengan wanita cantik ini, begitu dia tahu wanita cantik ini adalah seorang artis dia cepat-cepat minta photo bareng." Gumam Bongpal.


Mereka bertiga pun photo bareng untuk beberapa saat.


"Cekrek..... cekrek...... cekrek...... " Suara jepretan kamera HP Tabib Syu.


Setelah itu cinta memberikan uang sejumlah 1000 koin emas kepada Bongpal karena telah menyelamatkan nya dan beranjak pergi setelah pesawat nya tiba.


"Daaghhh.......... " Ucap Cinta, lalu melambaikan tangan nya.


Beberapa saat kemudian setelah Cinta berangkat kembali ke Pulau Koreas.


"Syu Yan, sebaik nya kita tunda saja kepulangan kita,"


"Bagaimana jika kita kembali berbulan madu, ayolah sayang." Ucap Bongpal.


"Dasar nakal, ayolah kalau begitu." Ucap Tabib Syu.


"Ugh..... dasar Harimau tua." Gumam Syu Yan.


Mereka berdua pun tidak jadi kembali, dan melanjutkan bulan madunya untuk season kedua di Pulau Balighe tersebut.


"Pastikan kau membeli oobat yang paling kuat Bongpal." Ucap Tabib Syu.


"Tidak perlu Syu Yan, kita akan makan Sup Ular yang penuh vitalitas ini." Ucap Bongpal, lalu menyimpan tubuh Beast tersebut ke dalam cincin ruang milik nya.


"Oh ia ya..... Ular Bertanduk Sembilan Jantan itu merupakan suplemen yang sangat bagus untuk vitalitas pria maupun wanita." Gumam Tabib Syu.


"Kukuruyuk....... " Teriak Bongpal, lalu menggandeng tangan Syu Yan.


"Dasar Nakal." Ucap Syu Yan.


"Setelah aku menyantap Sup Ular Bertanduk Sembilan ini kau akan menyadari keperkasaan ku Syu Yan." Gumam Bongpal.


Sementara itu di dalam pesawat Balighe Air Lines.


Tampak Cinta sedang duduk di dalam kabin VIP dan sedang meminum segelas anggur.


"Sepasang suami istri tersebut sangat baik, aku akan mengundang mereka pada acara konser malam internasional ku nanti saat di Pulau Koreas,"

__ADS_1


"Jika melihat mereka berdua aku jadi teringat akan orang tua ku." Gumam Cinta.


__ADS_2