Perjalanan Cinta Shofia

Perjalanan Cinta Shofia
Pada Titik Anti Gravitasi


__ADS_3

Elin, Edi dan Udin telah berada di kafe favorit mereka. Mereka sedang menunggu Shofia disana. Kemarin Shofia berkata bahwa dia punya kejutan untuk ketiga temannya itu.


"Assalaamu'alaikum semua." salam Shofia saat sudah sampai di depan teman-temannya.


"Wa'alaikum salam bu guru cantik." sapa ketiga temannya menirukan murid-murid Shofia.


"Ih jail deh." kata Shofia sambil mendudukkan diri di kursi sebelah Elin.


"Apa surprise nya Shof?"


"Emm sebentar lagi." kata Shofia sambil melihat arloji di tangannya.


"Apa sih? Jangan bikin penasaran dong!" Elin sudah bosan dari tadi menunggu. Shofia Ngejak ketentuan jam dua siang, tapi Shofia datang dua puluh lima menit setelahnya. Dan sekarang masih harus menunggu. Kesel. Kesel. Kesel.


"Sebentar. Aku angkat telfon dulu."


📞Ah ya. Masuk saja. Semua sudah kumpul.


📞....


📞 Oke. Cepat masuk sebelum aku dihabisi sama mereka.


📞....


Shofia tersenyum lebar kepada teman-teman nya.


"Kalian bakal seneng banget. Tutup mata!" perintahnya. Ketiga temannya menutup mata sesuai permintaan Shofia.


Shofia menoleh pada seseorang yang sudah berdiri di sampingnya. Dia ikut berdiri sambil tersenyum.


"Jangan senyum seperti itu. Aku jadi pengen nyium kamu Shof." suara bass pria seketika melebarkan mata ketiga teman Shofia. Ketiganya terpusat pada sosok pria yang ada di depan mereka.


Elin dan Edi saling berpandangan. Sedangkan Udin menunjuk sosok yang baru datang. Shofia sendiri memukul lengan Jo yang mencoba menggodanya.


"See! I got him." kata Shofia sambil tersenyum lebar.


"Jo." kata ketiganya kompak.


"Yes I'm"


Jo melebarkan tangannya. Berharap pelukan hangat dari sahabatnya yang telah lama ia rindukan. Ketiga orang itu segera menghambur pada Jo. Memeluk sahabat mereka erat. Penuh kerinduan.

__ADS_1


Shofia memandang teman-temannya, tanpa terasa ia meneteskan air matanya. Ia tak mengangka keadaan seperti ini akan terjadi lagi. Walaupun Kalia tidak ada bersama mereka, namun Kalia tetap berhubungan baik dengan mereka.


Jo melambaikan tangannya mengajak Shofia ikut dalam pelukan hangat yang menguapkan segala rasa rindu yang selama sepuluh tahun ini melekat di hati.


Bolehkah Shofia melewati batas dan memeluk sahabatnya sekarang? Ah dia juga rindu. Akhirnya Shofia ikut dalam pelukan hangat itu di samping Jo dan Elin.


Shofia semakin terisak dalam pelukan itu. Tangan Jo mengusap pelan punggung Shofia hingga Shofia tersadar dan menoleh pada Jo. Jo mengulas senyum terbaiknya kepada Shofia. Beberapa saat pandangan keduanya kembali terkunci.


Ketiga sahabatnya sudah mendongakkan wajah. Mereka menangkap basah Jo dan Shofia yang masih saling terkunci pandangannya.


"Ehem" deheman Edi menyadarkan keduanya.


"Sudah pandang-pandangannya. Bukan muhrim Bro. Kalau mau diterusin dihalalin dulu Shofianya." kata Udin membuat pipi Shofia merona. Malu.


"Dia belum mau di halalin Bro." Jawab Jo sembari melihat lekat Shofia yang ada di sampingnya. See! pipi Shofia semakin merah.


"Sudah-sudah! ayo cepat duduk. Aku sudah lapar." Shofia mencoba mengalihkan perhatian teman-teman nya. Bisa habis kali ini kalau dia tidak menghindar.


Kelima orang itu duduk di bangku yang telah mereka pesan sebelumnya. Makanan dan minuman sudah tersedia di atas meja.


Mereka mulai makan dengan senyum menghiasi setiap wajah mereka.


"Terima kasih Jo." Shofia tersenyum senang menghadap Jo. Pasalnya sudah lama sekali dia tidak makan makanan bakar tersebut. Ya itu tadi, dia tidak mau repot. Dulu Zakaria juga selalu melakukan hal yang sama untuknya.


"kalian ini masih saja bikin baper tau nggak." kata Elin melihat interaksi antara Jo dan Shofia. "Ed kapan kamu melakukan hal romantis seperti Jo?"


Edi menggaruk pucuk hidungnya yang tak gatal. dia sadar dia bukanlah pria yang romantis yang bisa melakukan hal Sweet untuk pasangannya.


"El aku jadi penasaran bagaimana lamaran Edi kepadamu? Katanya kalau tidak romantis tidak kamu terima?" tanya Udin.


"Tentu saja lebih romantis dari caramu Din." kata Edi jengkel.


"Untuk satu itu aku membenarkan Edi Din. Aku nggak nyangka waktu itu Edi begitu romantis."


Flash back on...


Elin dan Edi sedang melakukan pendakian bersama rekan sesama pecinta Traveling mereka. Mereka mendaki gunung Kelud.


Sepanjang perjalanan Edi selalu memperhatikan Elin. Kesulitan apapun tak akan Edi biarkan menyulitkan pacarnya. Setelah perjuangan yang cukup berat kelompok mereka sampai di salah titik anti gravitasi di bumi yang berada dekat dengan puncak gunung Kelud.


Edi meminta rekan-rekannya untuk melancarkan aksinya. Dia sudah memberitahukan rencananya pada teman-teman lainnya.

__ADS_1


Semua teman Edi tiba-tiba mengelilingi Elin dan Edi. Edi jongkok di hadapan Elin. Menyambut tangan Elin. Si empunya sendiri masih terlihat linglung dengan keadaan ini. Beberapa detik Elin seperti kehilangan kesadaran. Dia hanya memperhatikan kedua tangannya yang digenggam erat oleh Edi.


"Elin. Seperti tempat ini yang tidak punya gravitasi. Seperti itulah diriku jika tanpa kehadiranmu. Karena tanpa kehadiranmu aku tidak akan bisa berpijak di bumi ini."


Elin tertegun. Dia masih belum menyangka keadaan ini.


"Elin. Aku memang bukan pria romantis. Aku juga tidak pandai merangkai kata manis. Tapi sekarang pria apa adanya ini memintamu menjadi pasangannya di pelaminan. Will you marry me?" kata Edi sambil mengeluarkan kotak kecil berwarna merah beludru dari dalam saku jaketnya. Membuka kotak itu hingga sebuah cincin indah terlihat di dalamnya. Memang bukan cincin bertahtakan berlian, Namun cincin itu khusus Edi pesan dengan desainnya sendiri, ada dua huruf e yang terukir indah disana dikelilingi mata cincin berwarna biru savier.


"El?" Edi menatap Elin dengan penuh cinta. mencerminkan kesungguhannya.


"Yes I will Ed." jawab Elin. Edi langsung memakaikan cincin itu pada jari manis tangan kiri Elin mengecupnya sekilas. Kemudian berdiri dan memeluk kekasihnya itu di iringi suara riuh tepuk tangan kelompok mendaki itu.


Mereka tentu saja ikut bahagia. Mereka pun menjadi saksi perjuangan Edi mendapatkan Elin dengan susah payah hingga sampai pada tahap ini.


Flash back off....


Elin tersenyum saat mengingat kisah itu. Kini dia dan Edi telah resmi bertunangan dan dua bulan lagi mereka akan meresmikan hubungan mereka dalam ikatan suci pernikahan.


"Aku nggak nyangka Ed kamu bisa seromantis itu" kata Shofia yang dibalas senyum oleh Edi.


"Dalam cinta apapun bisa dilakukan Shof." kata Edi sambil memandang calon istrinya


"kau benar Ed."


"Kalau kamu mau, aku bisa membuatmu merasakan lamaran yang romantis juga Shof." kata Jo pada gadis di sampingnya itu.


"Jangan bercanda."


" Berapa kali aku harus bilang aku serius Shof."


"Maaf Jo. Tapi aku masih trauma Jo. Aku takut." Shofia menunduk. Kenangan kegagalan pernikahannya terngiang di fikirannya. Dia tak akan sanggup merasakan kehilangan lagi.


"Aku akan menunggumu sampai kapanpun Shof" Jo tahu kisah Shofia dari Ema. Dia juga tahu ketakutan Shofia. Dia tak akan memaksa gadis itu.


Shofia menatap mata Jo dalam. Mencari kebenaran dalam tatapan matanya. Dia merasakan kesungguhan dan ketulusan Jo.


"Kita berdoa semoga kita berjodoh Jo."


"Aamiin. Aku harap itu lampu hijau Shof."


Shofia tersenyum sambil meminum air mineral di gelasnya.

__ADS_1


__ADS_2