Perjalanan Cinta Shofia

Perjalanan Cinta Shofia
Penguntit


__ADS_3

Sore ini mobil biru metalic Shofia melaju dengan kecepatan sedang di jalanan kota Kediri. Hari ini adalah hari selamatan tiga bulanan jabang bayi yang telah di kandung oleh Sundari.


Teman-teman Shofia akan menghadiri acara ini. Setelah selesai mengajar Shofia segera pergi ke butiknya untuk berganti pakaian dan juga bersiap-siap disana. Jika dia pulang lebih dulu akan membutuhkan waktu yang lebih banyak.


'Aku nggak nyangka akan punya ponakan lagi. Apa kabar putrinya Kalia? Ah... aku belum sempat berkunjung. Sekarang sudah mau ada lagi nih. Senangnya... ' batin Shofia.


๐Ÿ“ฒ Elin is caling...


๐Ÿ“ž Assalamualaikum El..


๐Ÿ“žWa'alaikum salam... Sudah sampai mana Shof?


๐Ÿ“žAh ini aku baru berangkat. Masih penempatan dekat butikku. Apa sudah mulai? Katanya acaranya mulai setelah Maghrib...


๐Ÿ“žBelum mulai sih. Tapi aku sudah kangen. Akhir-akhir ini kan kamu sibuk terus. Nggak di sekolah maupun butik kerjamu banyak.


"๐Ÿ“žMaaf-maaf. Oke. Ini sudah lampu hijau. Aku lanjut jalan. Kita ketemu disana. Oke?


๐Ÿ“žOke. Assalaamu'alaikum. Hati-hati


๐Ÿ“žWa'alaikum salam. Siap bos


Sambungan tertutup. Shofia menambah kecepatan laju mobilnya. Saat berhenti di perempatan tadi. Dia tidak menyadari ada seseorang yang memperhatikannya.


Bahkan sekarang mobil orang yang memperhatikannya ada di belakang mobil Shofia setelah mobil itu berbalik arah. Awalnya mobil itu melaju dengan arah yang berlawanan.


"I got you." kata orang itu pelan saat berhasil mengikuti Shofia. Dia mengatur jarak mobil mereka setelah perjalanan memasuki area perkampungan. Jangan sampai Shofia sadar jika diikuti.


Sang penguntit kini tahu kemana tujuan Shofia setelah dia mengenali jalan desa yang dilewati. Dia segera memarkirkan mobilnya agak jauh dari tempat tujuan Shofia. Dia segera memakai topi dan maskernya sebelum turun dari mobil hitam itu.


Benar perkiraan orang itu. Ternyata Shofia ada di tempat ini. Dia sedang berpelukan dengan Elin yang sudah menunggunya dari tadi.


"Hai Shof. Aku kangen banget tau."


"Emang berapa lama sih nggak ketemu?"


"Lama tau. Be-be-ra-pa Ming-gu." Elin mencebik. Dia sudah sangat kangen dengan temannya itu malah digodain.


"Makanya kalau Edi lagi ada jam ngajarin di sekolah sekali-kali ikut. Kita kan bisa ketemu disana."

__ADS_1


"Iya-iya. Ya sudah ayo masuk. Sundari sudah nunggu kamu dari tadi."


Dia memperhatikan Shofia berinteraksi dengan orang di sekitarnya hingga Shofia hilang dari pandangannya karna masuk ke dalam rumah.


Penguntit itu memutuskan untuk menunggu Shofia dengan duduk di teras salah satu rumah warga. Dia disana sambil trus mengawasi rumah Udin jika sewaktu-waktu Shofia menampakkan diri.


Nihil. Shofia tidak keluar rumah lagi hingga acara selesai. Bahkan sampai para tamu yang tadi berkumpul di depan rumah Udin pulang Shofia juga belum menampakkan batang hidungnya lagi. Setelah lama menunggu akhirnya Shofia keluar bersama Elin, Sundari, Edi dan juga Udin. Mereka terlihat duduk berkumpul di atas tikar yang tadi dipakai oleh para tamu undangan.


"Sundari Udin aku pagi pulang dulu ya. Udah malam." pamit Shofia.


"Ini Sudah malam loh. Nggak sebaiknya ngineb sini saja." tawar Udin. Rumah Udin adalah rumah besar yang memiliki banyak kamar.


"Ah nggak lah Din. Aku pulang saja." Shofia melihat jam di tangannya. Memang benar sudah malam sih untuk ukuran desa. Kalau dulu masih di Surabaya dia biasa masih di luar rumah jam segini. Kalau disini adalah lingkungan pedesaan. Jam delapan pun dianggap malam.


"Tenang saja Din. Nanti aku sama Elin bakal Nganterin Shofia sampai depan rumah. Oke Shof?" Edi menawarkan bantuan.


"Oke. Ya sudah ayo pulang. Ayah bundaku mesti kepikiran anak gadisnya jam segini belum pulang." Shofia bangun dari duduknya dan menghampiri Sundari dan Udin.


"Baik-baik di dalem ya masakannya aunty. Jangan sungkan kalau pingin apa-apa. Jangan sungkan buat ayahmu ini kerepotan ya... hehehe" kata shofia sambil mengelus perut Sundari yang masih agak rata.


"Hei Shof! Ngajarinnya yang bener dong! Masak diajarain nakal sih!" Udin meradang. Selama ini memang anak yang dikandung sang istri banyak keinginan yang kadang memang merepotkan.


"Ah ya ya. Ponakannya Aunty. Disini baik-baik ya. Jangan nakal lagi sama ayah." Shofia kembali mengelus perut Sundari.


"Iya Aunty. Terima kasih sudah datang." Sundari berbicara menirukan suara anak kec seperti anaknya menjawab pesan dari Shofia.


"Oke. Aku pulang dulu ya. Semoga lancar sampai lahiran." kata Shofia saat memeluk Sundari sebelum dia pergi.


"Shof. Kamu di depan ya. Nanti aku ikuti dari belakang." kata Edi saat sudah berada di depan mobilnya sebelum masuk.


"Oke ๐Ÿ‘" Shofia segera masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya pelan. Disusul mobil Edi dan tentu si penguntit masih terus mengikuti dengan jarak aman.


Sampai di depan rumah Shofia, Edi membuka kaca mobil dan melambaikan tangan saat Shofia sudah memasuki halaman rumahnya.


Shofia segera memarkirkan mobilnya di samping mobil sangat ayah. Setelah mobil berhasil terparkir dengan apik, Shofia segera keluar dari dalam mobilnya.


Sang penguntit itu masih berada di dalam mobilnya dan terus mengawasi shofia. Shofia segera mengucapkan salam disertai mengetuk pintu rumahnya.


"Kok sampai malam sih mbak.. " kata Ayah saat membukakan pintu untuk Shofia. Shofia segera meraih tangan kanan sang ayah lalu menciumnya.

__ADS_1


"Maaf ayah. Tadi keasyikan ngobrol sama teman-teman."


"Iya. Tapi ayah jadi khawatir kamu pulang malam. Anak gadis jam segini baru pulang." Sang ayah menengok jam dinding di rumahnya yang menunjukkan pukul sebelas malam. Shofia nyengir.


"Maaf ayah. Tapi tadi dianterin Edi sama Elin kok."


Mirza menghela nafas. Ditepuknya pelan pundak sang anak. "Ayo masuk."


Mirza menutup pintu lalu menguncinya. Dia memperhatikan sang anak yang berjalan menuju kamar mandi setelah meletakkan tasnya di meja makan.


"Andai saja kamu sudah menikah nak. Pasti kemana-mana ada yang Nganterin." gumam Mirza.


*****


Sang penguntit tersenyum puas saat Shofia masih tinggal di rumah orang tuanya. Itu berarti Shofia masih lajang.


"Aku akan terus mengejarmu Shof. Kali ini aku tak akan menyerah lagi. Mau tak mau kamu harus jadi milikku." Sang penguntit tersenyum devil sebelum melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi.


๐Ÿ•ตโ€โ™‚๐Ÿ•ตโ€โ™‚๐Ÿ•ตโ€โ™‚๐Ÿ•ตโ€โ™‚


Shofia : Thor kok ada penguntit segala sih ๐Ÿ˜ก


Author : Emang kenapa? Kamu takut ๐Ÿ˜


Shofia : Gimana kalau itu orang jahat? ๐Ÿคจ


Author : Makanya jangan Cantik-cantik jadi orang. Kan banyak yang kecewa karna ditolak ๐Ÿ˜‰


Shofia : Nggak lucu ah ๐Ÿ™„


Author : Beneran Shof. Itu orang yang pernah kamu tolak dulu ๐Ÿ˜


Shofia : Tapi siapa? ๐Ÿค”


Author : Makanya jangan Cantik-cantik jadi orang. Jadi bingung sendiri kan sekarang. ๐Ÿ˜…


Shofia : Ini serius Thor! ๐Ÿ˜ jangan bercanda teris dong ๐Ÿ˜Ÿ


Author : Maap-maap ๐Ÿ˜Ž

__ADS_1


__ADS_2