
Siang ini Shofia sudah rapi. Kaos lengan panjang berwarna ungu muda dengan bawahan rok berwarna biru dengan garis-garis pink serta dipadukan dengan kerudung berwarna biru bermotif bunga ungu. Terlihat segar dan manis untuk Shofia siang itu.
Sebelum beranjak dari kamar dia mematut dirinya di cermin. Meratakan bedak taburnya tak ketinggalan celak andalannya. Kemudian dia Sedikit memoles bibirnya dengan lipbalm agar tidak kering. Mungkin dari siang sampai sore dia akan berada di ruangan ber-AC. Dia tidak mau merasa tidak nyaman dengan bibir yang kaku.
Setelah siap dia melingkarkan jam tangan di pergelangan tangan kirinya. Kebiasaan yang tidak pernah dia lakukan selama di pondok. Ya. Penampilannya di pondok sangat berbeda dengan penampilannya di rumah. Shofia segera memasukkan dompet dan handphone nya ke dalam tas kecil berwarna biru toshca.
"Wah mbak. Penampilanmu udah kembali aja! Baru kemaren pulang dari pondok pakai pakaian alim banget. Sekarang lihatlah dirimu mbak! Wow!!! Shofia is back!" goda Zakia menyadari perubahan penampilan kakaknya ketika kakaknya keluar dari kamar.
"Iya mbak. Kok sudah berubah gitu sih." bunda menimpali.
"Dek, Bund apa salahnya penampilan seperti ini?" Shofia memutar tubuhnya. "Aurat tertutup. Bajunya juga longgar. Ini juga sopan kok. Sudah nggak kayak dulu juga kan?" Shofia menaik turunkan alisnya.
"Emang mbak mau kemana? Tumben penampilannya rapi gitu?" tanya Zakia.
"Bund hari ini Kalia mengajak Shofia untuk bertemu. Kan sudah lama aku tidak ketemu teman-temanku bunda. Kami janjiannya di kafe, ya kali aku pakai sarung ke kafe. Yang ada malah jadi pusat perhatian. Boleh ya Bund? " bukannya menjawab pertanyaan Zakia, Shofia malah izin kepada bundanya.
__ADS_1
"Iya mbak. Tidak apa-apa kok. Asal jangan kesorean pulangnya." pesan bunda.
"Siap bund!" Shofia segera berpamitan dengan mencium tangan bundanya. Tak lupa mencium pipi kanan sang bunda.
"Assalaamu'alaikum" pamitnya.
"Wa'alaikum Salam. Hati-hati mbak."
****
Ketika di dalam kafe, Shofia terlihat celingak-celinguk mencari keberadaan Kalia. Seorang gadis terlihat melambai pada Shofia. Dialah Kalia. Teman SMP Shofia. Dia tidak sendiri. Di sampingnya seorang gadis juga tersenyum mnyambut Shofia. Dia juga teman SMP Shofia, namanya Elin.
"Itu mereka! Mereka bahkan tidak berubah." batin Shofia melihat Kalia dan Elin.
"Shofia... Lama tak jumpa sayang." kata Kalia sambil memeluk Shofia.
__ADS_1
"Kamu semakin cantik aja Shof." Kata Elin saat dia memeluk sahabat yang sudah 1 tahun tidak ditemuinya.
"Aku kangen banget sama kalian." mata Shofia berkaca-kaca karena haru.
"Ciee Shofi yang mau jadi ustadzah penampilannya udah berubah aja. Aura ustadzahnya terlihat memancar. Berwibawa gitu." Kalia menilai perubahan pada penampilan Shofia.
Walaupun dari dulu Shofia sudah memakai hijab. Tapi setelah pulang dari pondok penampilannya terlihat berbeda. Secara umum memang tidak ada yang berubah. Kaos lengan panjang, rok dan juga hijabnyapun style nya sama. Tapi entah mengapa seperti ada yang berubah dari diri sahabatnya.
Elin pun ikut mengamati Shofia. Karena diapun menyadari ada yang berubah.
"Ow aku tahu Li yang bikin Shofia berubah adalah celaknya ini lo!" ungkap Elin.
"Ah iya. Dulu kan kamu nggak pakek celak Shof. Belajar dari mana kamu?"
"Ya semenjak aku di pondok aku belajar pakai celak. Lagipula memakai celak kan memang sunnah. Ah udahlah jangan menilai penampilanku terus. Kalian udah pada pesen belum?" Shofia berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Dia sangat risih ada yang memperhatikannya secara intens.
__ADS_1
Akhirnya siang itu mereka ngobrol sampai puas. Saling menceritakan pengalaman masing-masing selama mereka berspisah. Kalia dan Elin juga sekolah di sekolah yang berbeda walaupun mereka tetap bisa bertemu. Berbeda dengan Shofia yang jauh dari mereka. Selama ini mereka saling tukar kabar melalui handphone.