Perjalanan Cinta Shofia

Perjalanan Cinta Shofia
Kadar Ketampanannya Bertambah


__ADS_3

Setelah prosesi adat yang dilakukan oelh kedua pengantin di atas panggung, acara walimatul ursy pun dimulai.


Seorang pembaca acara maju ke podium yang telah disiapkan di depan sebelah kanan panggung. Acara dimulai dengan pembacaan susunan acara yang akan berlangsung pada siang hari ini.


Setelah pembukaan acara, kini giliran Shofia menjalankan tugasnya. Setelah namanya dipanggil, dia segera maju ke depan dan berdiri di podium.


Saat Shofia mulai melantunkan ayat suci Al-Qur'an, semua orang terkagum-kagum mendengarnya. Suara Shofia yang merdu terdengar di penjuru tempat acara.


Seketika Suasana hening. Hanya suara Shofia yang terdengar. Semua orang menikmati lantunan ayat suci Al-Qur'an. Walaupun waktu di pondok dulu Shofia tidak pernah mau maju ke depan untuk Qiro'at, tapi dia sering mempelajarinya diam-diam ketika sedang sendirian.


Setelah menyelesaikan tugasnya, Shofia segera kembali ke tempat duduknya. Bisik-bisik mulai terdengar dari para tamu undangan.


Mereka bertanya-tanya siapa Shofia itu. Bahkan ada yang berniat menjadikannya menantu jika Shofia masih single.


Acara dilanjutkan dengan penyerahan pengantin putra kepada keluarga pengantin putri. Dalam acara ini anggota keluarga mempelai pria akan menyerahkan pengantin putra untuk diterima di keluarga pengantin putri. Berharap keluarga pengantin putri menerima kelebihan dan kekurangan pengantin pria.


Dan penyerahan pengantin putra dijawab dengan acara selanjutnya. Yaitu, penerimaan pengantin putra. Dalam acara ini perwakilan keluarga pengantin putri akan menerima pengantin putra.


Setelah itu acara dilanjutkan dengan acara istirahat. Makanan sudah disiapkan di atas beberapa meja yang ditata rapi di pinggir ruangan. Para tamu dipersilahkan mengambil makanan yang diinginkan.


"Mbak. Makannya sedikit sekali." Ziana mengamati makanan di piring Shofia.


"Ini saja sudah cukup Zi. Aku sedang tidak berselera."


Ya. Hari ini Shofia sedang tidak mood untuk makan. Hatinya sedang gelisah. Entah apa yang terjadi pada dirinya. Shofia pun tidak tahu.


"Tapi mbak bukannya sedang diet kan?" Rumi ikut berbicara.


"Tidak. Aku tidak sedang diet. Aku hanya tidak berselera saja. Mungkin aku kurang enak badan."


"Baiklah mbak. Nanti setelah selesai kita langsung ke penginapan dan istirahat disana.." kata Rumi yang disetujui Shofia dan juga Rumi.


Acara demi acara telah dilaksanakan dengan khidmat. Shofia memandang Rizwan dengan haru. Dia tak menyangka jika Rizwan akan lebih dulu menikah. Tapi meskipun begitu, dia turut bahagia atas pernikahan sahabatnya itu.


"Mbak kenapa? Dari tadi mandangin Mas Rizwan terus.. "Rumi mengikuti arah pandangan Shofia.


"Rizwan terlihat berbeda ya... " kata Shofia.


"Beda gimana mbak?" tanya Ziana.


"Kelihatan auranya gimana gitu. Beda dengan biasanya."

__ADS_1


"Benar mbak. Sepertinya kadar ketampanannya juga bertambah." kata Rumi yang dibenarkan Ziana.


"Rizwan hari ini terlihat sangat dewasa. Senyumnya juga tak pernah luntur dari bibirnya."


"Benar mbak. Mas Rizwan sangat bahagia"


"Benar. Sudah lama dia menantikan pernikahan ini. Semenjak perjodohannya ditentukan banyak rintangan yang mengganggu hubungan mereka." Kedua gadis disampingnya memandang Shofia dengan penuh tanda tanya.


"Mbak juga kenal istrinya mas Rizwan?"


"Mbak sudah beberapa kali berkomunikasi dengannya. Kami sering vidio call an. Kalau mereka waktu telfonan pas ada aku ya aku ikut nimbrung"


"Mas Rizwan koq nggak pernah ajakin aku sih?" Rumi mendadak jengkel pada kakak satu-satunya itu. Dia iri pada Shofia. Padahal dia adiknya, tapi tidak pernah diajak vidio call an dengan kakak iparnya.


"Rizwan kan sama aku sahabatan sejak waktu di kampus. Seringnya jalan sama mbak. Kalau aku nggak dekat sama calon istrinya, nanti dia salah faham. Jadinya kita harus sama-sama mengerti hubungan di antara kami." jelas Shofia yang menyadari perubahan wajah adik dari sahabatnya itu.


"Mbak Zahra baik nggak mbak?"


"Zahra orangnya baik. Dia asyik diajak ngobrol Rum. Aku yakin kalian nggak akan sulit buat akrab."


"Bisa seakrab aku sama mbak?"


"Tentu. Mungkin lebih. Bisa jadi kalau kamu sudah punya kakak ipar. Kamu lupa sama mbak."


"Mbak Shofia juga mbak ku tahu." Ziana tidak mau kalah. Dia juga ikut memeluk Shofia.


"Yayayaya kalian memang adik yang manja dan cemburuan." Shofia terkekeh melihat tingkah kedua gadis yang memperebutkannya.


"Ayo kita pamit pulang. Antriannya sudah berkurang." kata Shofia menarik tangan kedua gadis disampingnya setelah melihat antrean tamu yang berada di dekat panggung tinggal sedikit. Lagi pula para tamu lain juga juga sudah pulang.


"Riz, selamat ya atas pernikahanmu." Shofia menyalami Rizwan sambil tersenyum manis.


"Aku harap kau segera nyusul Shof."


"Aamiin. Zahra selamat ya. Semoga rumah tangga kalian menjadi rumah tangga yang sakinah mawaddah Warohmah."


"Aamiin. Kamu yang namanya Shofia ya."


"Iya." Shofia tersenyum senang. Mereka memang belum pernah bertemu secara langsung.


"Ternyata kamu lebih cantik Kalau bertemu langsung seperti ini. Dalam hape sudah cantik. Melihat langsung ternyata jauh lebih cantik." kata Zahra. Dia tidak bohong. Saat melihat foto Shofia di handphone Rizwan dia sempat cemburu. Makanya Rizwan mengenalkan mereka agar tidak ada kesalahah fahaman.

__ADS_1


"Kamu bisa aja. Padahal kamu juga cantik. Ya kan Riz." Shofia melirik Rizwan.


"Tentu saja. Yang paling penting dia tidak secerewet atau menyebalkan sepertimu." kata Rizwan tersenyum mengejek ke arah Shofia.


"Yayayaya kamu benar. Aku adalah sahabatmu yang paling cerewet. Baiklah. Karena Rizwan sudah memilikimu Zahra. Aku hanya berpesan semoga kamu tahan dengan kejahilannya." Shofia mengerlingkan matanya sebelum memeluk Zahra.


Sebelum dia meninggalkan pasangan suami istri itu dia berbalik menatap Rizwan. Mengangkat tangan kanannya menempelkannya di pelipis seperti memberi hormat.


"Happy wedding my Friends. Good job!" Shofia membalik tubuhnya dan melenggang pergi diikuti Ziana dan Rumi.


Rizwan menatap punggung sahabatnya sampai Shofia tidak kelihatan. Zahra yang melihat suaminya memperhatikan Shofia pun penasaran.


"Kenapa kamu memperhatikan Shofia sampai seperti itu mas?" Zahra memegang lengan Rizwan.


"Seharusnya dia sudah bergandengan tangan dengan Zakaria ketika datang ke pernikahanku Zahra. Aku tidak menyangka bahwa sahabatku meninggalkan Shofia sendiri lagi." Rizwan menoleh pada Zahra sambil menghembuskan nafas pelan.


"Aku juga sedih saat mengetahui berita itu. Kita Do'akan dia supaya segera mendapatkan pengganti gus Zaka."


"Rencananya aku akan mengenalkannya pada Har kemarin. Tapi Har sedang ada tugas mendadak di Jakarta. Jadi dia tidak bisa datang."


"Har juga orang yang baik Mas. Gus Zaka dan Har itu hampir sama. Aku yakin Shofia juga akan cocok dengannya."


๐Ÿฃ๐Ÿฃ๐Ÿฃ๐Ÿฃ๐Ÿฃ


Shofia : Thor suka banget ya bikin aku kesusahan?๐Ÿ˜ก


Author : Kesusahan apa sih Shof? ngomong tu yang jelas... ๐Ÿ˜•


Shofia : Kamu itu bikin jomblo aku nggak ketulungan tau nggak!๐Ÿ˜’


Author : Nikmatin dulu aja Shof๐Ÿ™„


Shofia : Apanya yang mau dinikmati? ๐Ÿค”


Author : Ya kejombloanmu lah. Apalagi emang? ๐Ÿคญ


Shofia : Wah wah emang nih Author minta digecek-gecek ya! Udah tau orang lagi marah malah digodain!๐Ÿ˜ค


Author : Ampyun Shof! Nggak lagi-lagi deh gangguin kalo lagi keluar tanduknya.๐Ÿ˜ฒ


Shofia : Awas aja kalo masih lama aku jomblonya!๐Ÿ˜ 

__ADS_1


Author : Jangan marah-marah Shof. Ingat pemeran yang sabar di sayang Pacar. Eh maaf Shof... kamu kan jomblo ya. Belum ada yang sayang deh. hehehehe. KABUUUURRR ๐Ÿƒโ€โ™€๐Ÿƒโ€โ™€๐Ÿƒโ€โ™€๐Ÿƒโ€โ™€๐Ÿƒโ€โ™€๐Ÿƒโ€โ™€


__ADS_2