Perjalanan Cinta Shofia

Perjalanan Cinta Shofia
Gosip Panas


__ADS_3

Pagi ini Shofia sudah berada di ruang guru. Dia sedang sibuk menyiapkan laporan penilaian semester satu untuk anak didiknya. Sebenarnya Sejak semalam dia sudah menyiapkannya. Kini tinggal menatanya.


Namun entah mengapa hari ini sepertinya dia merasa tidak nyaman berada di ruang guru itu. Bahkan teman-teman yang biasanya Menegurnya kini hanya mendiamkannya.


Hanya Bu Ema yang tidak berubah padanya. Akhirnya Shofia memberanikan diri bertanya pada Ema setelah mereka keluar kantor dengan membawa tumpukan raport yang akan mereka bagikan.


"Bu Ema, sebenarnya ada apa sih?"


"Kenapa Shof?"


"Sepertinya ada yang aneh di kantor."


"Shof. Lain kali kalau bermesraan dengan Jo ingat tempat dong."


"Hah?"


"Video mu menyebar di kalangan guru."


"Video apa bu?"


"Apa yang kalian lakukan di koridor sekolah saat class meeting kemarin?"


Shofia mengingat-ngingat kejadian tiga hari yang lalu. Akhirnya dia ingat apa yang terjadi.


"Memangnya siapa yang menyebarkan bu?"


"Nomor baru. Tidak dikenal. Ibu rasa salah satu guru sini."


"Huft. Jo sih nggak bisa dibilangin."


"Sudah sejauh apa langkah Jo sekarang?"


"Hehehehe" Shofia menggerakkan jati manisnya berharap Ema faham.


"Kalian tunangan? Kapan? Kok ibu tidak diundang? Kalian ini benar-benar ya. Kalian anggap ibu ini apa? Tunangan tidak memberi tahu ibu hah?!"


"Byuh... Pertanyaan berondongan dari bu Ema keluar dah... "


"Ibu nggak lagi bercanda Shof."


"Huft. Baiklah bu. Sebenarnya kami sudah menikah"


"hah?! Jangan bercanda Shof! Nggak baik bercandain orang tua."


"Emang ibu sekarang sudah mengakui kalau ibu ini sudah tua? Biasanya kan ibu anti tua."


"Shof jangan bercanda deh."


"Benar bu. Kami sudah menikah. Ya malam sebelum class meeting. Jo datang ke rumah bu."


"Jangan-jangan kalian ketangkep hansip terus dinikahkan paksa. Tidak seperti itu kan?"

__ADS_1


"Ibu ini apa sih? Ya tidak lah bu. Kami menikah baik-baik kok. Lengkap pake pak naib dan saksi."


"Kenapa kalian tidak bilang ibu?"


"Aku dinikahinya aja aku ditodong pakai penghulu di hadapanku kok bu. Mana tahu aku kalau malam itu statusku ganti jadi nyonya Jauhar."


"Sudah ibu duga. Pasti Jo melakukan hal aneh biar bn isa nikah sama kamu."


"Ibu memang mengenalnya"


"Hahahaha" keduanya tertawa.


"Ini jadi rahasia di antara kita ya bu."


"Kalau kamu hanya diam, dengan apa kamu membungkam semua mulut orang yang menggosipkanmu?"


"Biarkan saja bu. Aku cuma punya dua tangan. Tidak akan bisa menutup mulut banyak orang. Tapi dengan kedua tangan itu, aku bisa menutup kedua telingaku."


"Kau bisa membungkam mereka dengan satu mulutmu Shof."


"Bu, yang lebih aku takutkan adalah kemarahan teman-teman ku. Bagaimana reaksi mereka jika bukan merekalah yang tshunlebih dulu mengetahui kabar ini."


"Baiklah. Hari ini tulikanlah telingamu dan dinginkanlah hatimu."


"Oke. Untuk semua itu akulah jagonya."


Keduanya berhenti bicara saat sudah sampai di depan aula yang akan dijadikan tempat rapat walimurid.


Toh jika mereka merasa bersahabat dengan Shofia, mereka akan lebih dulu bertanya pada Shofia. Bukan malah seperti ini yang ikut menudingnya.


Jika mereka mengenal Shofia, tentu mereka bn isa berfikir bahwa Shofia tidak mungkin melakukan hal yang melanggar agama.


'Mereka ternyata belum mengenalmu sepenuhnya.' batin Shofia.


****


Setelah pulang sekolah Shofia melajukan mobilnya menuju butiknya. Dia mendapat kabar dari Dina bahwa ada klien yang ingin bertemu dengannya.


Shofia sudah meminta izin pada Jo. Sekarang Shofia sudah punya suami, jadi dia tidak bisa kemanapun dengan bebas tanpa izin sang suami.


Shofia melajukan mobilnya dengan santai. Masih ada cukup waktu untuk sampai di butiknya.


"Mbak. Tamunya sudah menunggu di galeri" kata Mega saat menyambut sang Bos.


"Mbak Dina sidah disana kan?"


"Sudah mbak."


"Baiklah kalau begitu. Aku ke ruanganku sebentar." Shofia segera memasuki ruang kerjanya. Membersihkan badannya yang terasa lengket serta mengganti pakaian di sana. Setelah bersiap, Shofia segera menemui kliennya.


"Lelahnya.... "Shofia menenggangkan ototnya saat kliennya sudah pulang. Karyawan nya tersenyum melihat tingkah busnya.

__ADS_1


Mereka semua tahu bahwa Shofia memang benar-benar lelah. Selain bekerja di butik shofia juga bekerja menjdai guru. Walaupun pekerjaan di butik sudah di handle oleh Dina. Taoi Shofia tidak pernah melepas sepenuhnya Dia masih mengontrol dan mengunjungi langsung butiknya itu.


"Kalau lelah istirahat dulu disini mbak." kata Mega.


"Iya Mega. aku sangat lelah. Hari ini di sekolah ada acara rapotan. Jadi sangat sibuk. Kalian tahulah rasanya dikerubungi mak-mak rempong"


"Oh ya. Tadi Java's Boutiqe telfon." kata Dina. Shofia yang semula meletakkan kepalanya di kepala sofa, kini mengangkat kepalanya dari sana. Mencoba fokus pada apa yang akan dikatakan Dina.


"Mereka minta tolong mbak membuatkan berberapa desain baju muslimah yang cocok untuk wanita kekinian."


"Oke. Kalau telfon lagi katakan aku sudah punya beberapa desain yang mungkin cocok."


"Baiklah."


"Oke aku pulang dulu ya"


Shofia segera bangun dari duduknya. Meraih kunci dan tas yang ada di meja kasir.


"Jadi pulang sekarang?"


"Heem. rasanya pengen cepat berbaring cantik Hahahaha."


"Yayayaya sepertinya memang berbaring akan berhasil membuat nyawamu kembali utuh."


"Hahaha. Baiklah. Jangan kangen Oke?"


Shofia kembali menjalankan mobilnya di jalanan. Kamu sialnya, jalan yang dia lalui ada perbaikan jembatan. Dan sayangnya mobil tidak bisa lewat.


Gerutuan keluar dari bibir Shofia demi menyadari jalan yang biasanya membawanya lebih cepat pulang malah membuatnya lebih lama.


"Salah apa aku hari ini sih? Di sekolah ada gosip yang bikin kuping merah karena kepanasan. Sekarang malah seperti diketawain jalan karena semakin lamanya waktu yang harus aku tempuh."


Akibat jalan yang memutar, Shofia akan menjadi terlambat pulangnya. Diapun mengabari Jo tentang keadaannya dan kemungkinan akan telat pulang.


Perjalanannya terhenti untuk kedua kalinya. Kali ini bukan karena jalan yang tidak bisa dilewati. Tapi adanya mobil lain yang tadi memotong jalan mobilnya. Untung saja reflek Shofia cepat sehingga kecelakaan dapat terhindar.


Dari dalam mobil. Shofia melihat lima orang berbadan besar keluar dari dalam mobil. Kemudian menuju ke arah shofia. Shofia yang menyadari akan adanya bahaya segera mengambil handphone dan berniat menelfon suaminya.


Namun sayang, karena gugup. Benda pipih itu malah jatuh di luar jangkauannya. Shofia semakin panik saat dia orang pria mengetuk mobilnya dari dua belah jendela depan. Ia tak bisa lari.


"Keluar! Atau kamu pecahkan kaca mobilnya?!!"


Shofia merinding mendengar suara mengerikan yang mengintimidasi dari pria itu. Dibukanya pintu mobil itu perlahan.


"Turun!" Suara sentakan kembali terdengar. Kaki shofia lemas demi menyadari apa uang mungkin akan terjadi padanya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2