
Flash Back on...
Seorang siswa sedang dihukum memberi hormat kepada bendera di tengah lapangan. Dia adalah Jo. Hari ini dia dihukum lagi karena ketahuan merokok di lingkungan sekolah.
Dulu Jo tidaklah seperti itu. Walaupun dia termasuk siswa yang bandel, Jo tidak pernah menyentuh benda kecil berbahaya itu.
Tapi setelah penolakan Shofia, Jo mulai melampiaskan kemarahannya dengan menghisap benda mamatikan itu.
Semua orang sudah melarangnya. Namun tak seorangpun didengarnya. Bahkan, ucapan dan ancaman pak Seno sebagai BP tidak pernah diindahkan.
Shofia sedang berdiri di pinggir lapangan di belakang Jo. Dia menatap nanar sahabatnya yang sudah dua bulan terakhir menjauhinya.
Setelah Shofia menolak Jo, Jo menjauhi Shofia. Jo banyak berubah setelah kejadian itu. Dulu, Ku tidak pernah melihat Siswi-siswi yang mendekatinya.
Namun setelah kejadian itu. Siapapun yang mendekatinya akan dijadikan Jo pacar. Hal itu dilakukan Jo untuk membuat Shofia cemburu. Namun Shofia hanya diam saja dan itu membuat Jo semakin frustasi. Yang terakhir adalah Sundari, yang sekarang menjadi istri Udin.
"Shofia, sepertinya kamu harus bertindak sekarang." Ema menepuk pundak Shofia. Shofia memandang gurunya itu.
"Bertindak?"
"Nasihati dia."
"Semua orang sudah menasehatinya bu."
"Semua orang itu tidak penting bagi Jo. Yang dibutuhkan Jo itu kamu."
"Jika dia tidak punya kemauan untuk berubah, saya juga tidak bisa merubahnya Bu."
"Hufh. Shof, ibu tahu kamu pasti tahu yang terbaik." Ema meninggalkan Shofia. Ema membiarkan Shofis sendiri. Dia tahu bahwa Shofia bisa diandalkan untuk masalah yang berkaitan dengan Jo. Kedua anak itu selalu berkaitan satu sama lain.
Benar apa yang dipikirkan Ema. Setelah kepergian Ema, Shofia memikirkan perkataan gurunya itu. Ema bukan hanya sekedar guri bagi Shofia dan teman-temannya. Beliau lebih dari sekedar guru, beliau seperti ibu mereka di sekolah.
Ema bahkan mengerti perasaan cinta yang tumbuh di hati Jo dan aslinya sudsh mulai tum,buh di hati Shofia. Sayang Shofia terlalu naif untuk mengakuinya.
"Aku akan coba Jo. Semoga Jo ku yang dulu kembali." kata Shofia sebelum berjalan mendekati temannya itu.
"Mau sampai kapan kamu seperti itu?" Jo menoleh ke arah suara itu. Dia tersenyum meremehkan.
"....."
"Apa kamu tidak punya telinga?"
"...."
"Siapa kamu sebenarnya? Dimana Jo ku kau sembunyikan? Jawab aku!!!" teriak Shofia sampai dia kehabisan tenaga untuk berteriak.
"...."
"Jo kenapa kamu jadi seperti ini? Aku tidak mengenalimu sekarang."
"...."
"Kenapa kamu seperti ini Jo?"
"Aku ingin kamu datang."
"Untuk apa?"
"Agar kamu mau melihatku Shof."
"Aku selalu melihatmu Jo."
__ADS_1
"Kalau kamu melihat ku. Tentu kamu dapat melihat perasaan ku."
"Jo. Kita masih terlalu kecil untuk mengerti hal seperti ini."
"Tapi aku merasakannya Shof."
"Jo, jika benar perasaan yang kau ucapkan itu ada, aku ingin kau kembali. Aku ingin kau berubah Jo. Tapi bukan menjadi seperti ini."
"Apakah jika aku berubah kamu akan menerimaku Shof?"
"Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Kita tidak tahu dijodohkan dengan siapa. Jika di masa depan kamu adalah jodoh yang dipilih Allah untukku. Sampai kapanpun dan kemanapun kita pergi, kita akan tetap bersatu."
"Baiklah Shof. Aku akan berubah menjadi seperti yang kamu mau."
"Itu baru Jo ku." Shofia tersenyum hangat sambil memukul pelan lengan Jo. Kemudian dia meninggalkan kembali temanya itu.
Shofia tidak menyangka jika kejadian itulah yang menjadi titik balik kehidupan Jo. Dia tidak sadar telah merubah hidup seseorang.
Flash back off....
Setelah dia mengingat kejadian itu, Shofia jadi tahu alasan Jo pergi waktu itu.
Kini dia mengerti, mengapa Jo yakin bahwa ketika bertemu dengannya, dirinya masih single. Kini dia merasa bersalah pada Jo karena pernah membuka hati untuk Zakaria.
"Jo. Maafkan aku." Shofia memeluk Jo dari belakang. Jo yang mendapat perlakuan itu menjadi kaget. Tak biasanya Shofia seberang itu.
"Kenapa sayang?" Jo membalik tubuhnya dan membalas pelukan Shofia. Jo menelangkupkan kedua tangannya pada pipi Shofia. Menatap lekat sorot mata teduh milik istrinya.
"Maafkan aku dulu membuatmu pergi." Jo tersenyum. Kini Jo tahu. Pasti ibunya yang menceritakan alasan kepergiannya dulu.
"Maaf aku dulu meragukanmu."
"Tidak Shof. Langkah yang dulu kamu ambil sudah benar. Andai saja dulu kamu tidak melakukan itu padaku. Aku tidak akan menjadi seperti sekarang. Mungkin sampai kapanpun aku tidak akan pernah yakin untuk menjadi layak bersanding denganmu."
"Hei sayang, kenapa kamu menangis?" Jo menghapus air mata Shofia dengan ibu jarinya.
"Maafkan aku... "
"Jangan meminta maaf terus sayang. Kamu tidak salah. Percayalah, semua ini adalah rencana Allah. Allah telah memisahkan kita untuk membuat kita benar-benar siap untuk hidup bersama." Jo membelai lembut kepala Shofia.
"Sekarang Allah telah menyatukan kita. Aku sangat bersyukur untuk itu sayang. Jika bersatu denganmu adalah hadiah untuk pengorbananku selama ini, aku rela melakukannya."
"Aku mencintaimu Jo."
"Aku juga mencintaimu sayang."
Memilikimu adalah anugerah dari sang Kholiq yang akan selalu aku syukuri. Aku berjanji akan selalu mencintaimu, menyayangimu, melindungimu dan membahagiakanmu selalu.
Bersamamu, ingin kujalani indahnya sisa hidupku. Senyummu adalah bahagiaku. Tawamu adalah semangatku. Nyamanmu adalah prioritasku.
Tak akan ku biarkan derita menghampirimu. Tak akan ku biarkan kerikil menghalangi jalanmu. Tak kan kubiarkan duri melukai tubuhmu.
Aku mencintaimu istriku, Shofia Lathifunnisa.
*****
"Sayang, besok aku harus ke sekolah. Ada pertemuan dengan walimurid untuk pembagian rapot." Kata Shofia kepada Jo. Saat ini mereka berdua sedang bersantai di gazebo.
"Baiklah sayang. Tapi maaf aku tidak bisa mengantarmu. Ada jadwal praktek pagi. "
"Tidak apa-apa. Selama ini aku kan juga terbiasa sendiri."
__ADS_1
"Tapi aku merasa bersalah sayang."
"Percayalah aku bisa sendiri. Kau kan tahu aku ini Shofia yang kuat." Jo mengelus puncak kepala Shofia.
"Sayang, apa masih belum selesai?"
"Apanya?"
"Tamumu."
"Oh Ayolah pak Dokter. Sejak kapan pak Dokter tidak mengerti masalah sepele seperti ini?"
"Ini bukan masalah sepele sayang."
"Jangan mulai Jo."
Jo segera mendekatkan wajahnya ke wajah Shofia. Shofia menahan nafasnya. Biasa ya Jo akan langsung menyerangnya. Tapi kali ini Jo dengan sengaja memelankan gerakan kepalanya. Dan itu sukses membuat jantung Shofia berdetak lebih kencang.
"Bernafaslah sayang." Jo berbisik di telinga Shofia sebelum mendaratkan bibirnya pafa pipi mulus Shofia.
Seketika Shofia gelagapan akibat tingkah Jo. Jo tersenyum puas berhasil menggoda istrinya. Istrinya dirasa sangat menggemaskan. Pipinya masih saja semerah tomat saat dia melakukan hal-hal yang lebih vulgar.
"Jangan malu sayang."
"Kau selalu sengaja membuatku malu Jo."
Kini Jo benar-benar tidak bisa menahan hasratnya untuk merasakan manisnya bibir sang istri. Cukup lama mereka berciuman. Mereka menyatukan kening mereka setelah mereka kehabisan nafas.
"I love you, Shof."
"I love you too My Hubby."
.
๐ฆ๐ฆ๐ฆ๐ฆ
Jo : Seneng bener Lu Thor ๐
Author : Apaan sih Jo? ๐คจ
Jo : Jangan pura-pura nggak ngerti deh! ๐ค
Author : Sudah malam Jo. Cepat tidur. Pengantin baru malah gangguin bini orang. ๐ฏ
Jo : Ini kan gara-gara Lu Thor. Kenapa coba Lu buat tamu bulanan Shofia datangnya sekarang? ๐
Author : Oh itu ๐ค
Jo : Gitu doang? ๐
Author : Emang maunya gimana?๐
Jo : Lu sengaja ya Thor? ๐ก
Author : Emang. ๐
Jo : Awas Lu! ๐
Author : KABUUUURRR ๐ฑ๐โโ๐โโ๐โโ๐โโ๐โโ
.
__ADS_1
.
.