Perjalanan Cinta Shofia

Perjalanan Cinta Shofia
Menepati Janji


__ADS_3

Sandy telah sampai di kafe C di kota Kediri. Dia sudah datang sepuluh menit lebih awal dari jam janjiannya bersama Shofia.


Beberapa kali dia mengecek handphone nya apabila sewaktu-waktu ada kabar dari Shofia. Beberapa kali pula dia melihat jam tangannya. Berharap jarum jam berpitar lebih cepat agar Shofia segera datang.


Tak lama kemudian Shofia telah sampai di kafe itu. Dia sudah berganti baju saat di butik tadi. Dia segera berjalan ke arah Sandy setelah dia telah berhasil menemukan sosok pria yang telah membuat janji dengannya.


Dilihatnya Sandy juga sudah memakai pkaian santainya. Dia memakai kaos lengan pendek berwarna hitam dengan celana jeans yang membalut kaki panjangnya.


"Assalaamu'alaikum pak Sandy." suara Shofia berhasil membuat Sandy mengangkat wajahnya dan menghadap ke arah Shofia. Dari tadi dia fokus pada handphone nya sehingga tidak menyadari kedatangan Shofia.


"Wa'alaikum salam. Silahkan duduk bu Shofi." Shofia segera duduk di kursi berhadapan dengan Sandy.


"Maaf pak Sandy saya telat datang."


"Ah tidak apa-apa bu Shofi. Jangan terlalu formal. Saya juga baru sampai." bohong! Sandy sudah setengah jam berada di kafe itu dengan perasaan harap-harap cemas dari tadi. Shofia tersenyum menanggapi.


"Oh ya bu Shofi mau pesan apa?" tanya Sandy setelah seorang pelayan datang di hadapan mereka berdua.


"Emm Gado-gado saja mbak. Sama jus wortel ya." kata Shofia pada pelayan.


"Saya samakan saja mbak."


"Baik. Mohon tunggu sebentar" pelayan itu segera berlalu masuk ke dapur.


'Kenapa sih mesti sama pesaennya. Nggak kreatif banget.' batin Shofia.


Sandy terus saja memandangi Shofia. Membuat Shofia risih. Dari dulu Shofia tidak suka jika dia terlalu diperhatikan oleh seorang laki-laki. Bahkan duku saja Shofia selalu saja marah saat Zakaria diam-diam memperhatikannya sebelum mereke mempunyai hubungan serius.


'Kenapa sih dia? Sampai segitunya mandanginnya. Pengen dicongkel apa tuh mata.' batin Shofia.


"Ada apa Pak Sandy?"


"Tidak apa-apa. Bu Shofi terlihat cantik hari ini."


"Terima kasih Pak. Anda terlalu memuji."


"Tidak bu. Saya bersungguh-sungguh."


Tak lama berselang pelayan datang dengan membawa pesanan mereka. Meletakkannya di atas meja dengan Hati-hati. Tak lupa mempersilahkan tamu mereka untuk menikmati hidangan yang telah tersedia.


"Mari makan pak Sandy." kata Shofia sambil mengambil sendok miliknya.


Shofia segera menyantap makanannya. Dia sangat suka gado-gado di kafe ini. Kebetulan kafe ini adalah tempat favoritnya dan teman-temannya.


Tak ada perbincangan antara mereka berdua. Sebenarnya Shofia memang kurang nyaman jika harus berdua dengan Sandy seperti ini. Namun dia tidak enak jika menolak ajakan Sandy.

__ADS_1


"Terima kasih pak Sandy. Anda sudah melakukan permintaan saya." kata Shofia setelah makanan di piringnya habis.


"Tidak masalah bu. Semua ini jiga demi sekolah. Saya yakin dengan ini akan banyak siswa yang berminat bersekolah di sekolah kita."


"Aamiin."


"Hai Shof." seseorang menepuk pundak Shofia pelan. Shofia segera berbalik.


"Ah mbak Dina." Shofia segera berdiri dan memeluk wanita di depannya itu.


"Sama siapa Shof? "


"Oh mbak. Ini temanku sesama guru di SMP. Perkenalkan mbak Namanya pak Sandy." Shofia memperkenalkan Sandy pada Dina.


Sandy segera mengulurkan tangannya sambil menyebutkan nama. Dina pun menyambut tangan Sandy sambil menyebutkan nama juga.


"Oh jadi ini yang tadi kamu bilang penting." kata Dina sedikit membuat Shofia kaget. Dia tadi memang pamit pada Dina untuk segera pulang karena ada hal penting. Sandy pun merasa senang karena secara tidak langsung sudah dianggap penting oleh Shofia.


"Ah iya mbak. Tadi aku sudah janjian dengan pak Sandy untuk makan siang. Itu memang hal penting juga kan menepati janji. Mbak Dina sendiri kenapa kesini?"


"Itu anak-anak pengen ayam gerek disini. Sekalian aku belikan tadi habis dari minimarket."


"Sudah pesan mbak?"


"Tentu saja tidak lah mbak. Mari duduk." Dina segera duduk di samping Shofia. Kini satu-satunya cowok disana diabaikan oleh kedua wanita itu. Keduanya malah asyik ngobrol sendiri membahas masalah butik yang benar-benar membuat Sandy tidak mengerti dengan perbincangan mereka berdua.


"Shof nanti aku kirim File nya ke email mu. Tadi sudah catat semua secara lengkap. Kamu tinggal bikin sesuai detail yang diminta mbak Zoya."


"Oke. Terus gimana yang punya ibu Tia?"


"Dia bilang sudah cocok. Tadi langsung aku konfirmasi."


"Bagus. Jadi sekarang tinggal punya Zoya?"


"Jangan lupa punya Bu Erna Shof. Beliau masih kurang cocok dengan bahannya. Kira-kira pantasnya apa? Dia sih nggak tahu jenis bahannya apa tapi minta yang aneh-aneh. Kan kita jadi yang ribet."


"Namanya klien tu ya gitu mbak. Ingat kan saat di Surabaya kita malah dapat yang lebih ribet daripada bu Erna?"


"Ah iya. Aku jadi ingat sama orang sombong itu."


"Sudahlah mbak. Nanti mbak kirim nomornya aja, biar aku yang hubungi dia."


"Nah gitu dong dari kemarin. Kan aku sama anak-anak nggak ribet terus di desak sama tuh ibu-ibu."


"Oke mbak. Semoga berhasil."

__ADS_1


"Emang pernah gagal kalau kamu udah turun tangan?"


"Aku tidak akan pernah membiarkan kegagalan."


"Heem. Shofia is perfect."


"You are right mbak!" tawa kedua perempuan itu membuat Sandy semakin bingung. Daritadi dia berusaha mencerna arah pembicaraan kedua perempuan itu. Tapi dia tidak pernah tahu sebenarnya apa yang mereka perbincangkan.


Dia tidak tahu harus bicara apa sekarang. Dia benar-benar tidak dianggap ada oleh mereka berdua. Bahkan Shofia seperti melupakan keberadaan dirinya disana.


Syukurlah seorang pelayan datang dengan membawa pesanan Dina. Membuat perbincangan antara kedua perempuan itu berakhir.


"Kamu nanti mau mampir apa mau langsung pulang Shof?"


"Pulang mbak. Nanti langsung kirim aja nomornya biar nanti cepat ambil tindakan sehingga nggak akan berlarut-latut."


"Ok!" Dina segera pergi setelah berpamitan. Shofia baru sadar jika telah mengabaikan Sandy daritadi.


"Emm maaf pak Sandy. Saya jadi mengabaikan pak Sandy."


"Itu siapa Bu?"


"Itu teman saya pak. Kami bekerja sama dan tadi sebelum kesini saya mampir kesana dulu untuk membahas pekerjaan. Karena terburu-buru tadi kami belum sempat bicara banyak."


"Maaf bu Shofi. Saya jadi menyita waktu anda."


"Tidak apa-apa pak Sandy. Lagipula ini sebagai ucapan terima kasih karena bapak sudah membantu saya. Anak didik saya sekarang juga sudah "jinak" Shofia menggerakkan dua jarinya membentuk tanda petik saat mengucapkan kata jinak.


"Sama-sama bu. Saya senang bisa membantu bu Shofi. Saya juga mengucapkan kan selamat untuk ibu karena sudah berhasil "menjinakkan" mereka." Sandy mengikuti Shofia menggerakkan jarinya sebagai tanda petik saat mengucapkan kata menjinakkan. Kemudian mereka tertawa bersama.


Shofia segera pamit pulang karena sudah cukup lama mereka disana. Dia ingin segera pulang dan istirahat. Baru kemarin Sore dia pulang dari Malang dan merasa tidurnya masih kurang.


"Terima kasih bu Shofi sudah mau memenuhi undangan saya. Saya harap bu Shofi mau jika ada makan bareng lain kali." kata Sandy saat mengantar Shofia sampai masuk ke dalam mobil Shofia.


"Sama-sama pak. Saya juga mengucapkan terima kasih karena sudah mentraktir saya makanan. Jangan kapok ya pak."


"Tidak bu Shofi."


"Ya sudah saya pamit. Assalaamu'alaikum"


"Wa'alaikum salam. Hati-hati bu Shofi."


Shofia hanya menganggukkan kepalanya sebelum dia menutup kaca mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan Sandy yang masih berdiri memandangi mobil berwarna biru metalik milik Shofia hilang tak terlihat karena menjauh.


"Kapan aku bisa membuka hatimu Bu Shofi. Kau suda membuatku tertarik sejak pertama aku melihatmu." hujan Sandy sambil melenggang pergi menuju mobil hitam miliknya.

__ADS_1


__ADS_2