Perjalanan Cinta Shofia

Perjalanan Cinta Shofia
Karena Aku Sudah Berjanji


__ADS_3

Semua orang memandang pilu seorang gadis yang tengah duduk di sudut ruangan. Gadis itu adalah Shofia. Kini dia sudah berada di ndalem abah. Shofia dan para wanita berkumpul di ruang tamu ndalem. Jenazah Zakaria sedang disholatkan di masjid yang berada tepat di depan ndalem.


Suara isak tangis terdengar bersahutan disana. Tapi Shofia hanya diam. Tak setetes air matapun jatuh dari matanya.Tatapan mata Shofia kosong.


Beberapa orang menemui Shofia. Mereka mengucapkan bela sungkawa mereka. Apalagi mereka tahu bahwa seminggu lagi Shofia seharusnya menikah dengan Zakaria.


Khusnul menggenggam erat tangan Shofia. Mengalirkan kekuatan. Dia sendiri terpukul atas kepergian calon menantunya untuk selama-lamanya. Dia sangat sedih melihat anaknya.


Shofia memang tidak menangis sedikitpun. Tapi Khusnul dapat melihat kesedihan di mata sang putri.


"Shofia yang sabar ya." kata Salwa yang baru datang dan langsung memeluk sahabatnya itu. Shofia hanya diam. Tanpa membalas pelukan itu. Sungguh bukan seperti Shofia yang biasa.


Banyak pelayat yang membicarakan dirinya. Mungkin mereka kasihan padanya. Memang ada yang tidak kasihan kepada seorang gadis yag ditinggal mati calon suaminya ketika seminggu lagi mereka akan menikah?


"Yang mana calonnya?" bisik si A


"Itu yang duduk di pojok" bisik si B


"Yang memakai kerudung hijau itu?"bisik si A


"Iya." bisik si B

__ADS_1


"Cantik ya. Sebenarnya sangat cocok sama gus Zakaria. Namun sayang takdirnya berubah." bisik si A


"Apa dia tidak bersedih?" bisik si C


"Padahal Calonnya meninggal. Tapi dia tidak menangis sedikitpun. Apa dia tidak menyukai gus Zakaria ya?"bisik si D


"Mungkin mereka dijodohkan. Jadi belum ada perasaan."bisik si E


Shofia sedikit mendengar bisik-bisik mereka. Sebenarnya dari semua orang disini hatinyalah yang paling hancur. Sebenarnya jika dia mau air matanyalah yang akan paling banyak keluar. Serta Isak tangisnyalah yang akan paling pilu. Tapi semua dia tahan.


"Mbak. Mau istirahat di kamar?" tanya Ziana menghampiri Shofia.


"Mbak. Ikhlaskan mas Zaka."


"Aku sudah ikhlas Zi."


"Istirahat dulu ya mbak."


"Kenapa Zi? Aku tidak lelah. Aku kan sudah bilang aku mau menemaninya. Setelah ini aku tidak bisa menemaninya lagi. Jadi izinkan aku disini. Jangan memaksaku pergi."


Ziana memandang Shofia cemas. Dari keluar ruang ICU semalam, Shofia belum istirahat sedikitpun. Sejak jenazah sang kakak dibawa pulang Shofia pun hanya diam disini sambil membaca Qur'an dan juga berdzikir. Shofia hanya beranjak dari tempat itu ketika Sholat dan setelahnya dia akan kembali dengan aktifitasnya. Shofia juga tidak mau makan.

__ADS_1


Shofia terlihat menyedihkan di matanya. Pandangan matanya sayu. Hidungnya memerah. Walau matanya kering dari air mata. Namun Ziana tahu jika Shofia juga sangat sedih. Tidak seperti apa yang dia dengar dari para pelayat itu.


"Mbak menangislah jika mbak ingin menangis. Itu akan membuat mbak lega." kata Ziana.


"Benar shof. Jangan ditahan. Hatimu akan terluka." kata Fatimah.


"Tidak. Aku tidak mau menangis. Gus Zakaria tidak akan suka melihatku menangis. Jika aku menangis dia akan bersedih. Jika Allah membawabya pergi iti berarti Rasa cintaku tidak lebih besar dari cinta Allah pada gus Zakaria. Aku mencintainya karena Allah. Jika Allah mengambilnya berarti rasa cintaku tidak begitu besar. Guz Zakaria memang orang yang baik. Maka dari itu Allah menyayanginya. dan mengajak Gis Zakaria untuk berada di sisinya"


Perkataan Shofia membungkam semua orang. Ketika Shofia berbicara tadi semua orang terdiam dan mendengarkan apa yang diungkapkan oleh Shofia.


"Kamu memang gadis yang kuat Shof." kata Nur.


"jika kamu tidak kuat. Pelukan sahabat-sahabatmu ini akan siap menerimamu Shof." kata Fatimah.


"Sudah aku bilang aku tidak akan menangis. Kenapa kalian memaksaku menangis? Aku sudah berjanji padanya jika aku tidak akan menangis karenanya. Karena hanya senyum yang boleh hadir karenanya. Apa kalian tidak mengerti juga? Gus Zakaria tidak mau aku menangis karenanya. Apa kalian ingin aku mengecewakannya? Kalian teris saja menginginkanku menangis. Apa kalian memang suka aku menangis? " kata Shofia membuat semu orang tertegun.


Kini mereka menyadari betapa hebat cinta mereka berdua. Walaupun maut memisahkan mereka tetap bisa saling menguatkan. Mereka takjub mendengar pernyataan Shofia.


Bahkan Umi memandang calon menantunya iti dengan dalam. Sedari tadi dia menangisi kepergian anaknya. Sehingga melupakan bahwa semakin dia terisak maka semakin sakit pula Zakaria disana. Umi menghentika tangisnya. Kemudian menghampiri Shofia dan memeluknya.


"Kamu benar Shofia. Zaka tidak akan suka melihat kita menangis. Zaka memang tidak salah telah memilihmu. Kamu membuat Umi sadar bahwa Allah lebih sayang kepada Zakaria. Kita harus mengikhlaskan Zaka. Dia sudah berada di sisinya."

__ADS_1


__ADS_2