
🤒🤧😷
Hari ini Shofia tidak masuk sekolah, dia merasakan tubuhnya meriang, badannya terasa lemas, kepalanya pusing, sesekali tangannya menyeka hidung dengan tisu saat merasa ada cairan yang mengalir lewat hidungnya itu. Belum lagi bersin yang membuat kepalanya semakin terasa pening.
"Shof udah makan obat?" tanya Fatimah.
"Enggak ah! Ntar juga sembuh sendiri." kilah Shofia. Dari kecil dia memang tidak suka makan obat. Makanya ia selalu menjaga tubuhnya agar selalu sehat dan tidak mudah sakit. Tapi kalau memang sudah ditakdirkan sakit usaha sekeras apapun juga tidak ada gunanya.
"Ntar tambah parah lo! Lusa udah ujian tengah semester abis itu ada class meeting. Emang kamu mau g bisa nikmatin." Nur ikut menceramahi Shofia.
"Aku tuh nggak suka makan obat tauk!" dengus Shofia sambil menarik selimut hingga menutupi semua Tubuhnya. Teman-temannya hanya menggelengkan kepala menghadapi teman mereka yang keras kepala seperti Shofia itu.
"Ya udah. Kami berangkat ya..."Kata Fatimah.
"Tenang aja ntar aku izinin ke bu Anjar." kata Salwa yang memang satu kelas dengan Shofia. Setelah semua teman-temannya pergi Shofia segera melanjutkan istirahatnya.
🐛🐛🐛🐛🐛🐛🐛🐛🐛🐛🐛🐛🐛🐛🐛🐛
Di kantin sekolah
__ADS_1
"Salwa bisa bicara sebentar?" tanya Hadi saat melihat Salwa dan teman-temannya tapi tanpa Shofia. Gadis incarannya. Ia pun penasaran karena tak biasanya mereka terpisah saat di kantin. Padahal setiap hari mereka udah sepaket aja kecuali di kelas karena kelasnya beda.
"Ia kak. Ada apa ya?" tanya Salwa setelah keluar dari kantin.
"Em Shofia kok nggak kelihatan kemana ya?" padahal hari ini dirinya ingin memberi sesuatu untuk Shofia. Tapi yang dicari malah tidak ada.
"Shofia sakit kak. Badannya demam sama flu." Salwa memberitahu yang diderita temannya. "Emang ada apa kak cari Shofia?"jiwa kepo Salwa kembali hidup.
"Aku pengen kasih sesuatu sama Shofia. Tapi dia nggak ada." Hadi menghela nafas panjang."Tapi sakitnya nggak parah kan? Apa perlu aku panggilkan dokter?"lanjutnya.
"Eh nggak usah kak. Cuma sakit ringan doang. Setelah makan obat dan istirahat yang cukup pasti juga segera sembuh." Salwa jadi tidak enak. Dalam hati dia iri pada keperdulian Hadi pada Shofia. Jika dia yang jadi Shofia, dia tidak akan melepaskan kesempatan untuk dapat menjadi kekasih dari sang ketua OSIS. Cewek mana sih yang nolak diperhatiin sama cowok terpopuler di sekolah ini. Udah tampan, pinter, baik, perhatian lagi. Tapi sayang semua pesona itu hanya dianggap angin lalu oleh Shofia.
"Ada apa kok dipanggil kak Hadi tadi?"tanya Nur penasaran.
"Nanyain Shofia kok nggak kelihatan ngumpul bareng kita. Terus katanya dia mau kasih sesuatu sama Shofia. Tapi nggak jadi karena Shofia nggak ada." dan mendengar itu kedua temannya cuma oh-ria.
Memang bukanlah rahasia lagi tentang rasa suka Hadi pada Shofia. Kabar ini bahkan sudah menjadi gosip panas setengah tahun terakhir. Shofia bukannya tidak tahu tentang gosip tentang dirinya yang menyebar di lingkungan sekolah. Tapi dia hanya berusaha tetap berfikir positif berita itu lambat laun akan menghilang dengan sendirinya karena memang Shofia tak pernah membalas maupun menanggapi perasaan Hadi terhadapnya.
💌💌💌💌💌💌💌💌💌💌💌💌💌💌
__ADS_1
Hadi berniat menemui Salwa kembali saat jam pelajaran telah usai dan waktunya untuk pulang. Dia menunggu di dekat toilet depan yang berada di sebelah kelas Salwa.
"Salwa!" panggilnya. Salwa yang merasa dipanggil segera menoleh dan menemukan sosok yang telah memanggilnya.
"Ada apak kak?" tanya Salwa ketika sudah sampai di depan Hadi.
Salwa terlonjak kaget saat tiba-tiba tangannya diraih Hadi untuk menyelipkan kertas yang diyakini adalah surat untuk Shofia. Salwa yang sadar akan hal iti tidak ingin sampai ada yang mengetahuinya. Karena bisa-bisa dia kena hukuman segera memasukkan surat itu ke dalam buku yang dia bawa. Iapun segera berlalu.
*
*
*
Jangan lupa Like 👍
VOTE 😎
Rate 🌟 lima
__ADS_1
dan juga Komentar okeh? 😘