Perjalanan Cinta Shofia

Perjalanan Cinta Shofia
Zakaria Pov


__ADS_3

Sejak pertama aku mendengar suaranya. Hatiku merasa tersentuh. Ada yang berbeda dari suaranya. Suaranya memang merdu. Tapi bukan iti yang membuatku tertarik.


Dia begitu menghayati lagu yang dia nyanyikan. Bahkan sudah dua kali aku mengiringinya sambil memainkan gitarku dia sepertinya tidak sadar.


Apakah mungkin dia bernyanyi sesuai dengan apa yang ada di dalam hatinya saat itu. Lagu nya menyiratkan kerinduan yang mendalam. Apakah dia mempunyai kekasih yang begiti dia rindukan?


Saat dia melihat ke arahku. Aku terpesona melihat wajahnya. Bibirnya tipis, hidungnya mancung, dagunya lancip dan matanya yNg begitu indah dibalut dengan bulu mata yang lentik. Namun ada ketegasan yang tercipta lewat sorot matanya yang tajam saat memandangku saat itu.


Saat pandangan mata kami terkunci, aku betah berlama-lama menatap mata itu. Mencoba mengetahui isi hatinya melalui sorot matanya yang tajam. Sorot matanya membuatku merasa tersihir untuk tidak berpaling dari binar matanya.


Dan saat temannya memanggilnya dia segera memutuskan pandangan mata kami. Aku sedikit kecewa dengan itu. Ingin segera kuhampiri dan memintanya menatapku seperti tadi. Tapi itu tidak mungkin aku lakukan.


"SHOf" itulah namanya. Nama yang aku ketahuo dari temannya.Tapi tidak mungkin kan hanya Shof saja. Aku akan segera menemukan nama lengkapnya.

__ADS_1


Setelah aku mendengar pembicaraannya dengan temannya. Kino aku tahu. Kerinduan yanga mendalam iti adalah rindu untuk seorang pria. Mungkin mantannya karena dia bilang semua itu adalah masalalunya.


Apa yang baru kudengar? Dia bicara menggunakan bahasa inggris dan juga mengumpat. Siapa sebernarnya dia. Setahuku anak pondok ini tidak biasa bicara menggunakan bahasa Inggris walaupun ada jurusan bahasa disini.


Aku begitu lega saat dia akan melupakan masalalu dan ingin membuat masadepan yang indah. Seketika aku berniat untuk ikut mewarnai lukisan kehidupannya. Entah apa yang aku fikirkan. Biasanya aku tak pernah seperti ini pada para gadis di sekitarku.


Dia seperti magnet yang selalu bisa menarikku hingga aku sulit bertindak seperti aku yang biasa. Entahlah! Sekarang aku akan menyelidikinya. Daripada aku penasaran.


****


"Shof? Yang panggilannya Shof itu banyak mas." jawab Ziana.


"Yang suaranya bagus."

__ADS_1


"Kayaknya nggak ada deh."


"Kalau yang menurutmu aneh tidak seperti santri pada umumnya?"


"Kenapa sih mas tiba-tiba kepo masalah mbak-mbak pondok?" tanya Ziana penasaran.


"Jawab kalau kenal dan diam kalau nggak kenal."


"Aku ada sih mas kenal sama satu santri yang nama panggilannya Shof. Namanya Mbak Shofia. Dilihat dari penampilannya dia agak beda dengan gaya dan kesukaannya dengan santri lain. Dan mas tahu? Saat pertama aku jumpa dia. Rambutnya pernah di semir lo. Ujung rambutnya berwarna biru dan merah. Mungkin sebelum dia mondok warna rambutnya separuh sudah diganti warna." Ziana mengingat-ngingat pertemuannya dengan Shofia. Dia kelihatan cantik dengan rambut yang digerai setelah dia keramas. Warna biru dan merah rambutnya kelihatan berkilau. "Tapi kalau soal suaranya aku nggak tahu mas. Bahkan selama aku bersamanya dia tidak pernah bernyanyi. Dan saat sorogan bareng. Dia cuma ikut bergeming saja. Jadi aku nggak belum pernah mendengar suaranya saat bernyanyi."


"Kamu dekat dengan dia?" Ziana mengangguk.


"Dia kelas 1 MA. Tapi aku sangat dekat dengannya. Oh ya aku juga punya nomornya. Mungkin ada foto di profil Whatsapp nya." zianan mengeluarkan Hpnya dan segera membuka nomor kontak Shofia di pondok.

__ADS_1


"Yah mas. Bukan fotonya mas gambar profilnya." Ziana menunjukkan pada Zakaria bahwa gambar kucing yang menjadi profil dari Shofia.


"Nanti aku akan minta dikirimi foto mas. Mungkin sekarang dia baru sampai. Rumahnya di Jawa Timur mas. Daerah Kediri." Ziana lalu pergi dari depan kakaknya.


__ADS_2