Perjalanan Cinta Shofia

Perjalanan Cinta Shofia
Sungguh Tidak Romantis


__ADS_3

Shofia, Zakaria dan Rizwan kini berada di sebiah kafe. Shofia duduk di depan kedua laki-laki itu. Mereka duduk dalam diam. Shofia dan Zakaria melepaskan rindu mereka melalui tatapan mata. Sedangkan Rizwan memandang heran kedua sahabatnya.


Awalnya dia berencana mendekatkan kedua sahabatnya. Menurutnya mereka sangat cocok. Zakaria yang dia kenal dari dulu menutup diri dari para wanita. Sedangkan Shofia juga menutup diri dari laki-laki. Membayangkannya saja Rizwan tahu kalau mereka berdua akan cocok.


Tapi sekarang dialah yang bingung. Reaksi dari kedua orang yang akan dia jodohkan ternyata diluar perkiraannya. Dia fikir akan sulit mendekatkan keduanya. Melihat sifat kedua orang itu sama-sama menutup diri.


Nyatanya lihat sekarang. Mereka hanya duduk diam saling memandang tanpa memperdulikan ada orang lain disana. Rizwan merasa dengan tatapan keduanya itulah mereka berbicara satu sama lain.


"Sekarang siapa yang bisa menjelaskannya padaku?" tanya Rizwan karena dia sudah bosan jadi nyamuk diantara keduanya.


"Kau ingat aku dulu pernah menolak kuliah di Kairo?" tanya Zakaria.


"Iya aku ingat. Tapi jangan menjelaskan tentang itu sekarang. Sekarang aku ingin penjelasan tentang bagaimana kalian bisa kenal."


"Justru mulai dari hal itulah aku mengenal Shofia."


"Baiklah. Lanjutkan! Jangan sampai membuatku kecewa mendengar ceritamu."


"Aku menolak pergi ke Kairo karena Shofia. Shofia adalah santri di pondok Abah. Aku sangat penasaran dan ingin mengenalnya. Akupun memutuskan untuk tidak pergi ke Kairo."


"Apa?" tanya Shofia tidak percaya. Dia tidak percaya jika Zakaria sampai melakukan itu hanya untuk mengenalnya.


"Kenapa? kamu tidak percaya? Sekarang bisakah aku meminta hadiahku karena sudah banyak berkorban untukmu?"


"Sebentar-sebentar kau masih punya hutang cerita. Selesaikan ceritamu. Setelah itu aku tidak akan mengganggu kalian bernostalgia." Rizwan tidak terima cerita itu hanya dia dengar sebagian.

__ADS_1


"Apalagi? Tentu saja aku terus mengejarnya. Dan kau juga pasti sudah tahu apa yang aku dapatkan. Dia memang gadis yang istimewa." Zakaria melirik ke arah Shofia yang tersedak mendengar ucapannya.


"Kau juga ditolak olehnya? Ck ck ck Shofi sebenarnya hatimu itu terbuat dari apa hah?"


"Tentu saja sama dengan hatimu Riz."


"Tidak-tidak! Hatiku selembut kapas. Sedangkan hatimu itu seperti udara yang cuma bisa dirasa tanpa bisa disentuh. Kau begitu baik. Tapi tidak ada yang bisa memilikimu." kata Rizwan. Zakaria dan shofia tersenyum mendengar perkataan Rizwan.


"Tuh kan! kalian benar-benar cocok. Bahkan tersenyum mengejekku pun kalian kompak."


Ketiganya kembali terdiam. Membiarkan rindu menguap karena kehangatan kebersamaan.


"Aku merindukanmu Shof." kata Zakaria akhirnya.


"Aku tahu." jawab Shofia singkat.


"Bukankah kamu yang selalu menyebalkan?"


"Ayolah Shof. Jangan bercanda terus. Aku sedah menuruti kemauanmu. Sekarang aku menagih janjiku."


"Janji apa?"


"Jangan pura-pura lupa Shof. Sekarang jawab pertanyaanku dengan jujur. Jangan menghindar lagi. Sudah tidak ada alasan lagi untuk menyembunyikan nya lagi sekarang."


"Baiklah. Sekarang aku minta ulangi pertanyaanmu. Aku sudah lupa. Bahkan sudah tiga tahun berlalu."

__ADS_1


"Biarpun sudah tiga tahun berlalu. Perasaanku masih tetap seperti dulu Shof. Aku mencintaimu setengah hatiku. Karena sesuai permintaanmu, setengah dari cintaku adalah milik Allah. Jadi apakah kamu juga punya perasaan padaku?"


"Gus. Apa ada gunanya aku menjawab pertanyaan itu?"


"Tentu saja."


"Baiklah. Aku... sebenarnya juga menyukaimu Gus." lirih Shofia membuat Zakaria sngat bahagia.


"Benarkah?"


"Heem... Sudah sejak dulu rasa cinta itu hadir. tapi aku selalu mengelaknya waktu itu. Siapa aku yang berani menyukaimu Gus. Kamu berhak mendapatkan yang lebih baik untuk menjadi pendampingmu."


"Kamulah yang terbaik Shof. Bahkan sejak pertama mengenalmu Umi dan Abah sudah memilihmu. Sampai sekarang mereka masih menantimu untuk menjadi menantu mereka Shof. Apa kamu bersedia menjadi menantu Umi?"


"Aku masih kuliah Gus. Bisakah memberiku sedikit waktu?"


"Kita bisa ta'aruf dulu Shof sampai kamu lulus. Aku sungguh tidak ingin kehilanganmu lagi."


"Baiklah aku setuju." keduanya tersenyum.


"Halo-halo inikah ungkapan "will you marry me?" ck sungguh Tidak romantis. Kau tidak modal." kata Rizwan.


"Yang penting niat dan maknanya Riz." kata Shofia.


"Jangan lupakan hasilnya Riz" timpal Zakaria.

__ADS_1


"Baiklah. Pasangan yang saling mencintai mah bebas."


__ADS_2