
Prok prok prok prok suara tepuk tangan menggema dari luar ruangan itu. Dulu Shofia menerima tepuk tangan itu bersama para personil band nya. Kini tepuk tangan itu ditujukan hanya padanya.
Shofia berdiri dan mengangkat tangannya. Kemudia melipat tangannya di depan dada sambil membungkukkan setengah badannya.
"Terima kasih-terima kasih."
"Ibu hebat sekali. Ajarin kami dong bu."
"Kalian kan sudah ada pelajaran kesenian. Dan ibu rasa sudah ada materi tentang bagaimana memainkan peralatan disini. Kenapa kalian tidak mencobanya?
Semua hening. Memang benar apa yang dikatakan Guru cantiknya itu. Di kelas mereka sudah diajarkan materi itu. Namun mereka selalu menganggap pelajaran itu tidak penting dan menarik. Tapi setelah mendengar permainan langsung tadi, kini sepertinya mereka berubah fikiran. Kini mereka merasa jika materi itu penting untuk dipelajari.
"Ibu mau mengajarkan kalian memainkan alat musik yang ada disini. Tapi dengan syarat kalian harus memahami dasar-dasarnya. Jadi nanti akan lebih mudah untuk menerima penjelasan ibu tentang alat musik disini. Bagaimana? Apa kalian sanggup?"
"Tapi itu sulit bu. Jika kami hanya Membayangkannya saja." jawab salah seorang dari mereka.
"Itu karena tekad kalian masih kurang kuat. Baiklah. Silahkan kalian istirahat. Dan jika diantara kalian ada yang telah memenuhi syarat yang ibu ucapkan tadi, boleh langsung menemui saya." kata Shofia yang membuat para murid itu berhamburan melanjutkan waktu istirahat mereka.
Setelah semua siswa pergi, Shofia menghampiri gitar Jo lagi. Memasangnya ditubuhnya, duduk di kursi kebanggaan Jo. Perlahan Shofia memetik senar gitar itu. Terdengar suara merdu menggema.
Wajah Zakaria dan Jo perlahan bergantian muncul di hatinya. Shofia tidak tahu mengapa itu terjadi padanya. lalu dia mulai bernyanyi. Saat ini Shofia sedang menyanyikan lagu dari Drive yang berjudul Bersama Bintang
Bersama Bintang
Senja kini berganti malam
Menutup hari yang lelah
Dinamakah engkau berada
Aku tak tahu dimana
__ADS_1
Pernah kita lalui semua
Jerit tangis canda tawa
Kini hanya untaian kata
Hanya itulah yang aku punya
Reff....
Tidurlah selamat malam
Lupakan sajalah aku
Mempilah tidurmu
Bersama bintang
Jalani waktu tanpamu
Perpisahan bukanlah duka
Meski harus menyisakan luka
back to Reff...
Lupakan diriku
Lupakan Aku
M*impilah dalam tidurmu
__ADS_1
Bersama bintang
Bu Ema memperhatikan ekspresi wajah Shofia saat bernyanyi. Di wajahnya tersimpan kerinduan yang mendalam. Shofia memang tidak berubah dari dulu. Dia sangat pandai menghidupkan sebuah lagu. Dia bernyanyi dengan sangat menghayati lagu yang dibawakan.
Tapi bukan itu yang menjadi perhatian Bu Ema dari tadi. Sepertinya Bu Ema menangkap ada yang lain di lagu itu saat Shofia menyanyikannya tadi. Seperti lagu itu memang ditujukan untuk seseorang.
"Kamu sedang mengingat seseorang Shof?" tanya Ema. Dia memberanikan diri untuk bertanya. Apalagi pertanyaannya itu bersifat pribadi.
"Ya Bu. Saya memang tidak bisa menyembunyikan apapun dari ibu." Shofia tersenyum kecut. Dari dulu Guru di depannya itu selalu bisa membaca hatinya. "Bu Ema seorang cenayan ya?" lanjutnya.
"Mana ada yang seperti itu? Kamu bisa menyembunyikan semua perasaanmu dari siapapun. Tapi tidak dari ibu. Ibu sudah mengenal kamu dari kamu mulai terbentuk jadi gadis." Memang benar apa yang dikatakan bu Ema. Bu Ema memang sudah seperti ibunya dari dulu. Dia bahkan lebih mengenal Shofia dari pada Shofia sendiri.
"Kamu masih ingat? Dulu ibu yang lebih dulu tahi perasaanmu terhadap Jo. Bahkan saat itu kau mati-matian menolak perasaanmu. Bahkan sampai membuat Jo seperti orang gila. berlabuh pada banyak gadis. Dan yang terakhir kali berlabuh pada Sundari." Ema menghela nafas. "Kamu itu Sungguh kejam Shof. sampai bisa melakukan itu pada Jo."
"Ibu masih saja membelanya. Dari dulu ibu hanya melihat dari sisinya. Tidak Bisakah ibu melihat dari sudut pandang juga?"
"Baiklah-baiklah. Mungkin kali ini waktunya ibu mendengar alasan kekejamanmu." Shofia mencebik. Belum juga menjelaskan, tapi tuduhan sudah dia dapatkan.
"Dulu aku belum siap bu. Lagipula kami masih terlalu muda untuk memikirkan hal semacam itu. Aku berfikir Jo hanyalah terobsesi padaku. Aku fikir dia hanya ingin melindungiku dari para laki-laki yang selalu menggodaku. Aku tidak tahu jika perasaan Jo begitu dalam. Siapa yang berfikir jika anak seumur Jo waktu itu bisa mempunyai rasa cinta yang dalam. Yah walau waktu itu aku mungkin juga merasakan hal yang sama." Shofia menggaruk tengkuknya.
"Tapi ibu melihatnya dengan jelas waktu itu Shof."
"Itu kan ibu. Bukan aku. Aku yang masih polos mana bisa merasa yang seperti itu
"Tapi perasaan Jo padamu itu sungguh besar Shof." ujar Bu Ema menggebu.
"Sudahlah bu. Itu hanya masa lalu. Sekarang sudah tidak ada lagi Jo di sekitar kita. Jadi buat apa lagi diributkan. Bahkan mungkin Jo sudah punya istri. Bahkan anak!" keduanya terdiam. Memikirkan apa yang baru saja diucapkan oleh Shofia.
'Tapi aku yakin jika Jo tidak akan melupakan Shofia begitu saja. Mengingat bagaimana perasaan dan perjuangan Jo waktu itu. Aku yakin Shofia masih ada di hati Jo sampai saat ini... ' batin bu Ema.
'Bagaimana jika Jo ternyata memang sudah menikah? Kenapa hatiku jadi sakit saat memikirkan hal itu. Kenapa dengan hatiku...?' batin Shofia.
__ADS_1