Perjalanan Cinta Shofia

Perjalanan Cinta Shofia
Kembali Ke Pondok


__ADS_3

Keesokan harinya, setelah sarapan teman-teman Shofia pulang. Hanya tinggal Rizwan yang masih ada. Keluarga Shofia juga sudah pulang.


"Riz. Aku ingin ke pondok." kata Shofia saat mereka berdua duduk di teras.


"Tapi bukan untuk menetap di pondok lagi kan?" Rizwan melirik Shofia yang sedang meminum tehnya.


"Tidak Riz. Aku hanya kangen. Aku ingin liburan di sana."


"Tapi seminggu lagi hari pernikahanku Shof. Kamu datang kan?" Rizwan khawatir jika sahabatnya itu tidak hadir dalam pernikahannya.


"Tentu, Insya Allah aku datang. Kan aku sudah bilang aku tidak menetap lagi disana. Aku cuma kangen Ziana."


"Kamu bukan lagi menghindari pak Sandy kan?"


"Hah! Kau memang selalu tahu apa yang aku fikirkan."


"Kenapa? Aku rasa dia orang baik."


"Aku tidak tahu Riz. Aku belum siap saja."


"Tapi kamu akan tetap menemui temanku kan? Aku tidak mau kau menghindar lagi Shof. Entah kamu bahagia bersama Pak Sandy atau temanku aku akan senang Shof. Aku berharap kamu akan segera bahagia."


"Aku juga ingin bahagia Riz. Do'akan saja."


"Aku selalu mendoakan kebahagiaanmu Shof. Bukalah hatimu. Maka kamu akan bahagia."


"Sudah aku bilang kan aku sudah membuka hati Riz. Tapi perasaan itu tidak dapat dipaksa."


Rizwan menatap sahabatnya itu. Dari dulu Shofia memang sangat susah didekati. Dia ingat bagaimana usaha Zakaria dulu.


Dalam lubuk hatinya yang paling dalam dia sangat ingin melihat sahabatnya bahagia. Selama ini yang dia lihat hanya kesendirian Shofia.


****

__ADS_1


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Shofia sudah melajukan mobilnya menuju pondok pesantren Miftahul Huda. Dia sangat bersemangat karena dia sudah lama tidak pergi kesana. Dia sudah sangat kangen dengan keadaan pondok.


Siang harinya, Shofia sudah sampai di depan gerbang pondok. Shofia menghentikan mobilnya dan keluar. Dia merasakan angin sepoi-sepoi yang dia rindukan. Memandang panorama alam yang terlihat indah siang itu.


"Sudah lama sekali. Aku merindukan kedamaian ini... " Shofia menarik nafas dalam dan menghembuskan perlahan.


Setelah selesai melepaskan kerinduan pada alam. Shofia kembali masuk ke dalam mobilnya dan masuk area pondok. Mobilnya berhenti tepat di sebelah ndalem.


Saat Shofia turun, dia menoleh ke sekitar. Melihat ke arah bangunan pondok yang pernah menjadi tempat tinggalnya.


"Mbak Shofiaaa..." Teriak Ziana dari dalam ndalem saat dia mengetahui kedatangan Shofia. Dia segera berlari dan memeluk Shofia dengan erat. Air matanya pu. menetes karena haru. Sudah lama dia merindukan Shofia. Tapi dia ragu untuk meminta Shofia datang. Dia takut akan membuat Shofia sedih jika mengingat kakaknya.


"Mbak kenapa lama sekali tidak kesini? Aku sangat merindukan mbak."


"Mbak juga kangen sama kamu Zi. Ayo masuk. Malu dilihatin santri." Ziana tersadar denga perkataan Shofia Di segera melepaskan pelukannya dan menarik Shofia masuk ke Ndalem untuk menemui keluarganya.


"Mbak duduk sini dulu ya. Aku panggilkan Umi sama Abah." Shofia mengangguk mengiyakan. Ziana pun pergi mencari kedua orangtua nya.


"Assalaamu'alaikum Abah Umi." sapa Shofia saat melihat kedua orang yang pernah menjadi calon mertuanya itu. Umi langsung memeluk Shofia. Dia menangis di pelukan gadis itu. Dia selalu ingat anaknya jika melihat Shofia.


"Umi, apa boleh Shofia tinggal disini beberapa hari?" tanya Shofia.


"Tentu saja nak. Umi sangat senang kamu tinggal disini walaupun hanya beberapa hari." Umi tersenyum tulus.


"Bagaimana kabarmu nak?" tanya Abah setelah semua orang sudah duduk.


"Alhamdulillah baik Abah. Maaf sudah lama Shofia tidak datang berkunjung. Sekarang Shofia sudah menjadi guru di sekolah Shofia dulu. Jadi kalau tidak sedang liburan Shofia tidak bisa pergi jauh." kata Shofia.


"Nak, kamu nanti tidur di kamar Ziana ya. Di kamar Zakaria ada temannya yang menginap. Kami juga sudah menganggap temannya Zaka itu anak kami. Sebentar lagi Rizwan menikah. Dia berencana berangkat bersama kami. Tidak apa-apa kan nak?"


"Tidak apa-apa Umi. Shofia juga masih belum bisa jika harus masuk kesana." kata Shofia sendu. Umi kembali memeluknya.


"Zia, bawa Shofia istirahat di kamarmu. Dia pasti lelah setelah perjalanan jauh."

__ADS_1


****


Shofia menoleh ke arah kamar Zakaria yang tertutup. Kamar Zakaria berada tepat di sebelah kamar Ziana. Dia ingat dulu dari kamar itulah Zakaria sering mengiringinya bernyanyi. Dia menghirup nafas dalam untuk menghilangkan rasa sesak yang mengganjal di hatinya.


Ziana mengerti apa yang dirasakan oleh Shofia. Dia menepuk pelan bahu Shofia untum menyadarkan Shofia dari lamunannya. Ya. Shofia tidak sadar jika dia melamun beberapa saat tadi.


"Ayo mbak. Istirahat dulu. Pasti mbak lelah." Shofia mengangguk dan mengikuti Ziana masuk kamarnya. Dia memang butuh istirahat. Dia sudah lelah.


Baru saja Shofia merebahkan dirinya, dia sudah masuk ke dalam alam mimpinya. Setelah Shofia tidur, Ziana keluar dari kamarnya.


Menjelang sore hari Shofia terbangun karena mendengar suara gitar. Shofia duduk bersandar pada kepala ranjang. Dia menikmati alunan merdu suara gitar.


Dia tahu yang memainkannya pasti teman Zakaria yang sedang berada di kamar sebelahnya. Permainan gitarnya sangat indah.


Dia jadi berfikir bahwa antara Zakaria, Rizan dan satu temannya itu, hanya Rizwan yang tidak bisa bermain gitar. Rizwan pernah bercerita pada Shofia bahwa saat dia mondok di Malang, dia, Zakaria dan satu temannya lagi berteman akrab. Asal daerah mereka berbeda. Teman Rizwan dan Zakaria berasal dari Kediri. Sama seperti Shofia. Makanya Rizwan ingin memperkenalkan keduanya.


"Zi yang di sebelah itu sahabat Gus Zakaria saat di Malang ya?" tanya Shofia saat Ziana masuk ke dalam kamar.


"Iya mbak. Namanya maa Har. Dia yang mengajari mas Zaka main gitar."


"Ow. Pantas saja permainannya sangat indah."


"Benar mbak. Mbak mau aku kenalkan sama dia?"


"Tidak ah Zi. Itu pasti orang yang akan dikenalkan padaku sama Rizwan."


"Jadi mas Rizwan mau menganalkan mbak sama mas Har?" tanya Ziana.


"Mungkin. Rizwan hanya bilang mau memperkenalkan aku pada temannya yang juga merupakan teman Gus Zaka. Apa dia dari Kediri Zi? "


"Iya mbak."


"Berarti benar."

__ADS_1


"Ya sudah. Ayo kita jalan-jalan." kata Shofia menarik lengan Ziana untuk pergi jalan-jalan di sekitar pondok.


__ADS_2