Perjalanan Cinta Shofia

Perjalanan Cinta Shofia
Pesona Pak Sandy


__ADS_3

Seseorang berjalan dengan gagah di koridor SMP Merpati, sekolah tempat Shofia mengabdikan diri sebagai guru. Seorang pria dewasa berumur 27 tahun. Dia adalah Sandy Erian Wiratama. Dia adalah guru baru yang datang pagi tadi yang tanpa sengaja hampir bertabrakan dengan Shofia.


Sandy memiliki wajah yang tampan. Tubuhnya bagus. Dia gagah dan memang cocok sebagai guru olahraga. Sandy adalah anak dari pemilik yayasan sekolah ini. Dia baru pulang dari kuliah di Inggris. Sebenarnya dia bisa saja mendapatkan pekerjaan lain dengan gelar S 2 Management itu. Namun dia ingin menjadi guru di SMP milik keluarganya itu.


Sandy ingin melihat-lihat sekolah yang akan menjadi tempat mengabdinya itu. Sebenarnya tadi pak Budi menawarkan diri untuk menjadi kekasihnya untuk melihat-lihat sekolah itu. Namun Sandy menolak karena tak ingin merepotkan dan ingin lebih leluasa.


Semua mata siswa tertuju padanya. Guru tampan itu menjadi pusat perhatian. Anak jaman now memang sudah berada beberapa level di atas umur sebenarnya. Jika Shofia dulu saat berusia seperti itu dia akan lati jika didekati laki-laki, lihatlah anak zaman now ini. Mereka bahkan tidak malu menggoda orang yang lebih tua.


"Bapak guru baru ya?" tanya seorang siswi yang sudah kelas 9.


"Iya. Perkenalkan nama saya pak Sandy." Sandy memperkenalkan dirinya dengan tersenyum.


"Wah pak senyumanmu menggodaku..." dengarlah reaksi anak zaman now ini. Ckckck


"Kita jadi nggak rela pak mesti lulus tahun ini. Kenapa bapak munculnya baru sekarang sih." kata seorang siswi lain.

__ADS_1


"Tapi aku rela kok pak sekolah terus disini. Tidak lulus-lulus. Asalkan bapak mau jadi pacar saya... "


Sandy mengernyitkan dahinya. Dia tidak habis fikir jika anak-anak seusia mereka bisa berkata tanpa berfikir dulu. Sandy mengamati gerombolan siswi yang menggodanya tadi. Mereka bahkan masih terlalu imut untuk menggoda laki-laki.


"Kalian ini masih terlalu kecil untuk berfikir yang tidak layak untuk otak kalian. Belajar yang rajin dulu. Lagian bapak juga terlalu tua untuk kalian."


"Bapak bukan tua. Tapi matang." jawab seorang siswi membuat Sandy menggelengkan kepalanya heran.


Tak mau menghabiskan waktu dengan para remaja labil itu, dia segera melanjutkan perjalanannya untuk menuju kantor agar dapat berkenalan dengan para dewan guru yang ada disana. Sekarang waktu istirahat, jadi pasti guru-guru akan berkumpul disana.


****


"Selamat siang semua. Saya Sandy Erian Wiratama. Saya guru baru yang akan menggantikan pak Eko. Jadi saya mohon kerjasama kedepannya." kata Sandy setelah pak Budi mempersilahkannya memperkenalkan diri.


"Selamat siang pak Sandy." jawab semua orang kompak. Kemudian dariku persatu memperkenalkan dirinya.

__ADS_1


Merekapun menjelaskan beberapa hal mengenai sekolah mereka. Mereka juga menjelaskan bahwa ada satu kelas istimewa yang perku diwaspadai saat mengajar disana.


"Assalaamu'alaikum." salam seseorang menghentikan pembicaraan mereka dan menoleh ke arah suara. Semu membalas salam itu.


"Kok baru keluar bu?" tanya Inun.


"Biasalah mereka masih sayang jika aku terlalu cepat keluar dari kelas mereka." jawab Shofia santai. Semua orang disana sudah faham. Kecuali sang guru baru, Sandy.


"Mereka kenapa lagi?" tanya Indah penasaran.


"Hari ini mereka mau membuatku mandi dua kali pagi ini. Lalu ingin membuatku menempel di kursi sepanjang hari. Jadi karena mereka menghabiskan setengah jam untuk lelucon mereka, aku harus menggantinya bukan?" jawab Shofia.


Setelah drama pagi tadi, akhirnya dia bisa mengajar dengan tenang. Pada dasarnya siswa di kelasnya itu adalah siswa yang cerdas. Tapi mereka salah menggunakan kecerdasan mereka untuk sifat jail mereka.


Shofia kemudian duduk di kursi kebesarannya. Namun matanya tertuju pada seorang yang duduk di kursi di hadapannya. Dia menatap heran pria di depannya itu.

__ADS_1


"Ehm. Perkenalkan, Saya Sandy. Guru yang menggantikan pak Eko." kata Sandy sambil mengulurkan tangan kanannya.


"Saya Shofi. Salam kenal." Shofia menjabat tangan itu sebentar. Lalu dia mengeluarkan laptop dari laci mejanya. Sandypun melanjutkan pekerjaannya.


__ADS_2