Perjalanan Cinta Shofia

Perjalanan Cinta Shofia
Mengerti


__ADS_3

Hari ini Jo mengajak Shofia pergi ke pondok. Pagi-pagi sekali mereka berangkat. Shofia sudah diperbolehkan pulang kemarin siang. Karena kejadian yang menimpa Shofia membuat acara resepsi pernikahan mereka diundur satu minggu.


Setelah berpamitan pada kedua belah keluarga mereka, Jo segera melajukan mobilnya menuju luar kota. Selama perjalanan, keduanya tak hentinya berbicara dan bercanda. Jika ada lagu yang mereka sukai, keduanya bersama-sama menyanyikan lagu tersebut.


"Sayang, kita berhenti dulu ya. Kita cari makan dan istirahat sebentar."


"Baiklah sayang. Aku juga sudah lapar." Jo mengusap kepala Shofia.


"Mau makan apa?"


"Hemm. Apa saja deh. Yang penting enak."


"Baiklah. Aku tahu tempat makan enak sekitar sini. Kamu pasti suka." Shofia tersenyum menanggapi perkataan Jo.


Sebentar kemudian Jo membelokkan mobilnya ke pelataran sebuah rumah makan sederhana. Dari dalam mobil, Shofia mengamati rumah makan itu.


Dinding rumah makan itu terbuat dari bambu yang dipoles dan di cat berwarna coklat tua. Di halamannya terdapat sebuah pohon rambutan yang rindang. Di sekitarnya terdapat banyak tanaman hias yang ditata rapi menambah keasrian tempat itu.


Jo keluar terlebih dahulu, lalu dia berlari kecil mengitari mobil untuk membukakan pintu untuk Shofia. Setelah keluar, Shofia menghirup udara yang terasa segar.


"Disini suasananya nyaman. Kamu akan lebih suka bagian dalamnya." Jo mengulurkan tangannya dan disambut oleh Shofia. Mereka berjalan berdampingan masuk ke rumah makan itu.


Jo mengajak Shofia masuk lebih dalam setelah melewati meja dan kursi yang dipenuhi para pelanggan. Sesampainya di dalam Shofia begitu takjub dengan apa yang berada di dalam.


Terdapat beberapa gubuk kecil yang berada di atas sebuah kolam ikan hias yang berisi banyak sekali ikan. Banyak bunga yang berwarna-warni berada di sekeliling kolam itu.


"Duduk sini sayang." Jo mengajak Shofia duduk di sampingnya. Shofia terlihat begitu kagum dengan suasana disana. Belum lagi pada setiap gubuk itu terdapat sepasang burung yang terus berkicau dengan merdu.


Setelah mereka sudah duduk, seorang pelayan yang menggunakan pakaian adat jawa menghampiri mereka.


"Silahkan tuan, nyonya " kata pelayan laki-laki itu sambil menyerahkan buku menu pada Shofia dan juga Jo.


"Mas, saya pesan ayam panggang dan urap ya. Trus minumnya teh lemon saja." kata Shofia sambil tersenyum.


"Kalau saya Sate ayamnya dua porsi. Minumnya es dawet ya."


"Baik. Tunggu sebentar."


Setelah pelayan itu pergi. Jo meluruskan kakinya. menyandarkan tubuhnya di dinding gubuk itu.


"Kau suka sayang?" tanya Jo sambil melirik Shofia yang ada di depannya.


"Ya. Aku sangat menyukainya. Kamu pernah kesini sebelumya?"


"Aku kesini beberapa kali. Jika aku ke pondok pasti mampir kesini."


"Oo. Tempatnya nyaman. Pas untuk istirahat setelah perjalanan jauh."


"Ya. Kamu benar sayang."

__ADS_1


Shofia meluruskan kakinya, kemudian menyenderkan kepalanya di dada bidang Jo. Kakinya sakit setelah ditekuk sepanjang perjalanan.


Jo sengaja memesan tempat di gubuk kecil karena tempatnya lebih privasi. Jadi apa yang dilakukan di dalam tidak terlihat dari jauh.


"Capek?" tanya Jo sambil membelai kepala Shofia.


"Hem. Rasanya ingin tidur."


"Apa kita ke hotel dulu?"


"Tidak perlu. Dibuat istirahat sebentar disini juga sudah hilang Capeknya."


"Baiklah kalau begitu. Perjalanan kita masih dua jam lagi."


"O iya sayang, apa kamu sudah memberitahu pada Umi kalau kita kesana?"


"Sudah. Tapi aku nggak bilang kalau aku datangnya sama kamu." Jo menatap Shofia yang berada di dadanya. Shofia juga mendongakkan kepalanya saat mendengar jawaban Jo. Mata keduanya terkunci. Beberapa saat mereka sama-sama diam.


Jo perlahan mendekatkan wajahnya pada wajah Shofia. Shofia segera tersadar. Dan segera menutup mulut Jo dengan tangannya saat menyadari hal yang akan dilakukan Jo terhadap bibirnya.


"Suut. Ini tempat umum Jo. Jangan diteruskan. Malu dilihat orang."


"Huft. Baiklah. Tapi aku nanti minta dobel." Jo memasang wajah cemberutnya yang membuat Shofia terkekeh.


"Apaan sih Jo. Malu tau." Shofia segera mengangkat kepalanya dari dada Jo.


"Sayang, disini tempat umum. Tidak baik mengumbar kemesaraan disini."


"Baiklah."


"Katakan padaku sayang, kenapa kamu tidak bilang kalau ke pondok bareng aku?"


"Aku pengen memberi kejutan sayang. Bayangkan wajah terkejut mereka."


"hem. Kau masih jail saja Jo."


"Tentu saja. Aku menikah dengan Queen of jail. Jadi akulah raja jahilnya... "


"Hahahaha" keduanya tertawa.


Taka lama kemudian datanglah dua orang pelayan yang membawa pesanan mereka. Shofia dan Jo segera menghentikan tawa mereka. Para pelayan itu segera menata pesanan Jo dan Shofia di atas meja. Setelah selesai mereka mempersilahkan tamunya untuk menikmati makanannya.


Jo dan Shofia sudah mengambil nasi mereka masing-masing. Dengan telaten Jo memisahkan daging sate ayam dari tusuknya. Kemudian meletakkan daging ayam itu ke dalam piring Shofia.


"Terima kasih."


"Kau ini masih dendam saja dengan tusuk sate."


"Ya bagaimana lagi."

__ADS_1


"Akulah yang akan melakukannya untukmu sayang."


"Ya ya ya. Aku memang selalu bergantung padamu jika berurusan dengan daging tusuk ini. Kau tahukan mereka menyebalkan."


"Menyebalkan, tapi kau suka memakannya."


"Itu juga benar." kata Shofia sebelum memasukkan makanannya ke dalam mulutnya."


Jo memperhatikan urap Shofia yang masih utuh. Dia merasa heran. Biasanya Shofia sangat menyukai sayuran yang dibumbui dengan kelapa muda itu.


"Kenapa urapnya dianggurin sayang?"


"Hemm. Ada tauge mentahnya." kata Shofia cemberut sambil melirik sebal ke arah piring berisi urap itu. Dia paling tidak suka dengan tauge mentah. Dia bisa muntah jika benda kecil itu sampai masuk ke mulutnya.


Jo menggeser piring berisi urap itu. Kemudian dia dengan teliti memisahkan tauge dari urap itu. Jo tahu betul apa yang akan terjadi jika sampai seujung taugepun masuk ke mulut Shofia. Shofia tertegun melihat usaha Jo memberi kenyamanan padanya.


"Sayang. Kau tak perlu melakukan nya. Itu sangat merepotkan." Shofia merasa tak enak. Hanya gara-gara tauge, Jo sampai repot.


"Tidak apa-apa sayang. Aku senang melakukannya. Ini, sudah hilang taugenya. Kamu sangat suka urap. Dan urap disini sangat enak. Sayang kalau kamu tidak mencicipinya." kata Jo sambil mengangsurkan piring urap itu kembali.


"Cup. Terima kasih Jo." Shofia mencium pipi Jo. Jo memegang pipinya yang baru dicium Shofia. Dia sangat senang mendapat hadiah sebuah ciuman dari istrinya itu.


Keduanya melanjutkan makan mereka. Mereka makan dengan saling menyuapi. Saling merasakan apa yang mereka makan.


Setelah makan, keduanya masih ingin bersantai disana. Shofia dan Jo memasukkan kaki mereka ke dalam kolam ikan. Sesekali Shofia melemparkan makanan ikan ke dalam kolam itu. Jo beberapa kali mengambil gambar keduanya.


Setelah dirasa puas dan Capeknya telah hilang, mereka berdua segera meninggalkan rumah makan itu dan melanjutkan perjalanan mereka.


Mobil mereka mulai naik gunung. Shofia tersenyum saat melihat pemandangan Khas pegunungan. Dari dulu dia sangat menyukai gunung. Shofia membuka kaca mobilnya, membiarkan udara segar pegunungan masuk ke dalam mobil.


Pondok Miftahul Huda berada di lereng gunung. Itulah sebabnya Shofia betah berada di pondok walaupun berada jauh dari orang tuanya.


Jo melirik pada Shofia. Dia tersenyum melihat tingkah Shofia. Sejak dulu Shofia sangat menyukai gunung. Jo menghentikan mobilnya ketika ada sebuah tempat yang biasa digunakan untuk beristirahat.


Tanpa berkata, Jo mengajak Shofia keluar. Dia menuntun istrinya untuk pergi ke pagar pembatas tempat itu. Jo dan shofia berdiri berdampingan disana. Shofia memejamkan matanya. Merentangkan kedua tangannya. Merasakan hembusan angin yang menerpa wajahnya.


"Terima kasih Jo." Shofia menyandarkan kepalanya pada bahu Jo.


"Untuk apa?"


"Mengerti aku." Keduanya tersenyum. Saling memberi kedamaian lewat senyuman. Membiarkan mata mereka saling bicara tanpa suara. Membiarkan waktu berhenti memberi waktu mereka saling memahami.


*


*


*


Jangan Lupa Like 👍, VOTE dan Komentarnya Reader yang Budiman 😍

__ADS_1


__ADS_2