Perjalanan Cinta Shofia

Perjalanan Cinta Shofia
Memulai Hidup Tanpa Dirimu


__ADS_3

Setahun sudah berlalu sejak kepergian Zakaria. Sesuai janjinya Shofia sudah melanjutkan hidupnya. Dia memilih menjadi guru di SMP tempatnya dulu menimba ilmu.


Awalnya dia hanya berkunjung ke tempat kenangannya itu. Namun kepala sekolah menawarkan pekerjaan sebagai guru ekonomi disana. Sesuai dengan jurusan yang diambilnya. SMP iti adalah sekolah biasa. Jadi mereka bebas mengangkat seorang guru yang kompeten.


Sempat dia ragu. Namun kemudian dia berfikir akan menyenangkan jika ilmunya bermanfaat. Apalagi dia dapat mengabdikan diri di sekolah yang telah turut andil memberikan ilmu padanya.


Mobil Shofia terparkir apik diparkiran khusus guru. Biasanya Shofia menggunakan motor saat mengajar. Namun hari ini setelah mengajar dia berniat pergi ke butiknya.


Ya, kini Shofia juga berhasil mendirikan butik di kota kelahirannya. Butik impiannya. Namun tidak semua mimpi tentang butiknya tercapai. Dulu ia ingin mengembangkan bitiknya bersama santri. Namun dia sudah merasa bersyukur.


"Selamat pagi Bu Guru cantik." sapa segerombol siswa laki-laki yang berpapasan dengan Shofia ketika dia menuju kantor. Bu guru cantik adalah panggilan para siswa untuknya.


"Pagi juga anak-anakku yang tampan." kata Shofia sambil tersenyum. Diapun memasuki ruang guru.


"Assalaamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam. Bu Shofi mari sini. Tadi saya membuat bronis dengan resep baru. Mari dicoba." kata bu Indah sambil menunjukkan bronis coklat padanya.


Shofia segera menghampiri rekan sesama guru di ruangan itu. Kemudian dia mendudukkan diri disampingnya dsn segera menyomot bronis yang tadi ditawarkan.


"Hari ini kita akan kedatangan guru baru bu Shofi." kata bu Inun.


"Oh ya? Jadi guru pengganti untuk pak Eko?" pak Eko adalah guru olahraga yang beberapa waktu lalu pindah karena beliau diangkat menjadi pegawai negeri sipil.

__ADS_1


"Iya bu."


"Alhamdulillah kalau begitu."


"Iya bu alhamdulillahnya lagi. Guru baru itu kabarnya masih single dan juga tampan." kata bu Indah. Beberapa guru disana masih muda dan single. Kadang guru disana memilih menjadi PNS. Padahal gaji yang diterima disana lebih tinggi daripada gaji menjadi PNS. Walaupun swasta, sekolah ini termasuk sekolah favorit. Namun kadang seorang guru ingin gaji yang menjamin sampai tua. Di dunia ini uang memang penting.


"Benar bu. Dia adalah anak dari pemilik yayasan ini." imbuh bu Inun.


"Ooo" dan Shofia hanya ber-o ria. Begitulah dia. masih sama seperti dulu. Masih cuek kepada para laki-laki.


Selama satu tahun ini sebenarnya sudah banyak laki-laki yang mendekatinya. Namun hatinya masih tertutup rapat. Dan kali ini sepertinya kuncinya juga dia buang entah kemana.


Bundanya kadang khawatir terhadap nasib sang anak. Umurnya sudah cukup matabg untuk menikah. Namun sepertinya sang anak masih betah dengan kesendiriannya.


"Lah terus aku harus bagaimana?"


"Yah nggak tahu." jawab bu Inun.


teeetttttt bunyi bel tanda masuk pun menggema. Pembicaraan para guru muda itupun berhenti.


"Mari kita masuk kelas." ajak Shofia sambil mempersiapkan peralatan mengajarnya.


"Mari... " jawab kedua rekannya itu.

__ADS_1


Saat Shofia hendak keluar ruang guru, tanpa disangka dari luar ada seorang laki-laki muda yang hendak masuk. Alhasil merekapun hampir bertabrakan. Untung saja kecelakaan ringan itu dapat terhindarkan.


"Maaf-maaf saya buru-buru tadi." kata Shofia.


Bebrapa detik pria itu terdiam. Dia memperhatikan Shofia yang merasa bersalah.


"Ehm... Saya juga minta maaf. Saya juga terburu-buru. Oh ya sepertinya anda guru disini?" tanya pria itu sopan.


"Benar. Ada yang bisa saya bantu?"


"Saya mencari ruang kepala sekolah."


"owh. Mari saya antar. Kebetulan kelas Say searah dengan ruangan beliau." Shofia menawarkan bantuannya.


Selama perjalanan mereka hanya diam. Laki-laki itu berjalan di samping Shofia walau agak berjauhan. Ruangan kepala sekolah masih berderet dengan ruang kantor tadi. Sebenarnya bisa saja Shofia memberi tahu tanpa mengantarnya. Namun yerlihat tidak sopan karena mereka searah. Jadi walaupun Shofia agak merasa tidak nyaman berjalan di samping laki-laki itu. Dia berusaha sopan.


tot tok tok. Pintu kayu itu diketuk oleh Shofia.


"Assalaamu'alaikum. Permisi pak. Ada tamu yang mencari bapak."kata Shofia ketika dia berhasil membuka pintu setelah mendengar jawaban salam dari sang empunya ruang.


"Owh pak Sandy. Mari silahkan duduk pak. Selamat datang di sekolah ini." kata pak Budi, kepala Sekolah.


Laki-laki itupun segera masuk dan duduk di kursi. Setelah selesai melaksanakan tugasnya Shofia pamit undur diri.

__ADS_1


__ADS_2