
"Shof ayo kamu temui tamu ayah dulu." kata Khusnul setelah kembali dari ruang tamu. Dia menggandeng lengan anaknya. Sedangkan Zakia mengikuti mereka dari belakang.
'Ada apa ini? Kenapa aneh sekali. Tamu-tamu ini nampak asing. Siapa mereka?' berbagai macam pertanyaan muncul di benak Shofia.
deg.. deg.. deg.. jantung Shofia berdetak lebih kencang saat mengenali satu wajah yang sama sekali tidak asing di matanya. Waktu seperti berhenti berputar. Pandangan keduanya terkunci.
Flash back on...
Dua hari yang lalu saat Mirza sedang minum kopi di teras rumahnya. Dia disana sedang menunggu Shofia yang lembur di sekolah. Kemudian datang seorang pria muda menemuinya. Kemudian Mirza mempersilahkan pria itu untuk masuk.
"Ada keperlun apa kamu kesini?" tanya Mirza.
"Kedatangan saya kesini, saya ingin melamar Shofia Lathifunnisa, anak bapak untuk dijadikan istri saya pak." kata pria itu menatap yakin laki-laki paruh baya yang menjadi ayah dari gadis yang dilamarnya.
"Owh begitu. Apa kamu sudah yakin dengan keinginanmu nak?" tanya Mirza penuh selidik. Dia tidak mau mengambil keputusan yang salah untuk anaknya.
'Anak ini sungguh percaya diri sekali. Dia berani minta anak gadis orang seorang diri. Apa dia takut jika dia mengajak temannya aku akan lebih menyukai temannya? Mengingatkanku pada diriku saja.' Mirza mengamati Pria muda yang tampak grogi dipandang seperti itu.
"Hahahaha jangan gugup seperti itu nak. Aku masih suka makan nasi. Aku tidak mau makan orang kok. Kamu tenang saja."
"Sebenarnya yang saya takutkan bukan itu pak."
"Lalu?"
"Yang saya takutkan bapak menolak lamaran saya."
"Hahahaha." Mirza tertawa lepas sambil memukul bahu kokoh pria muda di depannya itu. Pria itu tersenyum walaupun merasa sedikit ngilu akibat pukulan Mirza yang cukup keras itu.
"Apa kamu kesini sudah izin pada orang tuamu?"
"Sudah pak."
"Mereka sudah tahu tujuanmu datang kesini?"
"Sudah pak."
"Kalau kamu memang berniat sungguh-sungguh untuk menjadikan anak gadisku sebagai istrimu. Lusa datanglah kesini. Bawa orang tuamu. Aku akan menikahkanmu dengan anak gadisku. Kamu bersedia?"
"Iya pak. Saya akan datang dengan membawa orang tua saya." jawab pria muda itu mantab.
__ADS_1
"Hahahaha aku suka dengan semangatmu anak muda. Kamu Mengingatkanku pada masa mudaku."
"Terima kasih pak."
"Aku tidak butuh ucapan terima kasih darimu. Dengan kamu membahagiakan anakku saja itu sudah cukup untukku. Dan mulai sekarang panggil aku ayah."
"Baik ayah. Saya akan membahagiakan Shofia."
"Oh ya. Aku ada satu permintaan kecil."
"Permintaan apa ayah?"
"Jangan sampai Shofia tahu hal ini. Dia sangat sibuk Akhir-akhir ini. Aku tidak mau konsentrasinya buyar dan mengganggu tanggung jawabnya."
"Iya yah."
"Kamu sudah tahu kan kalau Shofia pernah ditinggal mati calon suaminya seminggu sebelum pernikahannya." Mirza berkata dengan berat. Dia masih sangat ingat bagaimana penderitaan yang dialami anaknya itu.
"Saya sudah tahu."
"Aku takut jika Shofia tahu dia akan ragu. Aku yakin Shofia masih trauma."
"Duduk sini nak." Mirza menepuk sofa disampingnya yang kosong. Mengisyaratkan agar Shofia duduk disana.
Shofia duduk di samping sang ayah. Sedangkan Khusnul dan Zakia berdiri disampingnya.
"Nak. Kemarin nak Jo datang melamarmu pada ayah. Dan ayah sudah menerimanya. Sekarang ayah tinggal meminta persetujuan darimu. Maukah kamu menikah dengan nak Jo?" Mirza menatap anaknya.
Shofia tampak kaget dengan apa yang dia dengar dari ayah. Beberapa detik dia terdiam. Dia masih belum memahami yang terjadi.
"Ayah, apa maksud ayah?"
"Ayah tidak akan memaksamu. Jika kamu tidak mau, ayah akan menghentikan acara ini. Jadi apakah kamu mau menikah dengan nak Jo?"
"Jika menurut ayah ini baik untuk Shofia, Shofia bersedia ayah."
"Alhamdulillah." semua yang ada di ruangan itu mengucapkan syukur bersama.
"Baiklah. Kita bisa mulai acara ini. Pak penghulu tolong catat pernikahan anak saya. Semua syaratnya sudah lengkap." kata Mirza
__ADS_1
"Baik pak Mirza. Silahkan nak Shofia duduk di samping nak Jauhar."
Shofia dibantu Khusnul untuk duduk di samping Jo. Khusnul juga memasangkan kain putih di atas kepala Jo dan Shofia. Kemudian Khusnul berdiri di samping Shofia.
Mirza mengulurkan tangannya pada Jo. Jo membalas mantap uluran tangan ayah dari gadis disampingnya itu. Keduanya menarik nafas dan menghembuskan pelan.
"Nak Ahmad Jauhar Musthofa. Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak kandung saya Shofia Lathifunnisa binti mirza Hasanudin dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Shofia Lathifunnisa binti Mirza Hasanudin dengan maskawin tersebut dibayar tunai!" jawab Jo mantap dalam sekali tarikan.
"Bagaimana saksi?" tanya penghulu.
Sah Sah Sah jawab para saksi.
"Alhamdulillah." kemudian pak Ustadz membacakan do'a untuk kedua pengantin. Ada tangis bahagia dari beberapa orang yang hadir dalam acara tersebut.
Jo segera meraih tangan kiri Shofia dan menyematkan cincin indah di jari manis istrinya itu. Shofia mencium punggung tangan Jo. Shofia tersenyum memandang pria yang telah sah menjadi suaminya itu. Jo menggamit dagu luar Shofia menariknya dan meninggalkan ciuman singkat di kening istrinya. Karena Shofia memejamkan mata. Jo malah menambah mencium bibir Shofia singkat.
Shofia terbelalak karena aksi Jo. Wajahnya merah padam karena malu. Dan Jo yang jadi tersangka malah menyunggingkan senyum kemenangan dan tak merasa bersalah telah membuat Shofia malu.
"Ehem. Tak usah malu begitu mbak. Sudah sah kok." goda Zakia yang mengetahui sang kakak merasa malu dapat ciuman pertama dari sang suami di depan umum. Semua orang yang hadir tertawa bahagia karenanya.
"Sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri. Sayangi dan cintai pasangan kalian dengan tulus. Semoga rumah tangga kalian diridloi oleh Allah SWT."
"Aamiin."
"Ini buku nikah kalian." Shofia dan Jo bergantian menandatangani buku kecil berwarna merah dan hijau itu secara bergantian.
Ibu Jo mengangsurkan mas kawin yang dibungkus rapi kepada Jo untuk diserahkan pada Shofia. Jo memberikan Mas Kawin itu kepada Shofia dengan tersenyum devil.
"Sudah kubayar lunas lo." Bisik Jo tepat ditelinga Shofia yang membuat Shofia merinding. Pipinya kembali merona.
"Saya rasa urusan saya sudah selesai. Saya pamit undur diri."kata Penghulu dan segera bangkit meninggalkan ruang tamu tempat acara itu. Kini para keluarga yang ada disana berkumpul untuk menikmati hidangan yang telah disiapkan oleh keluarga Shofia.
"Nak Jo. Sekarang tanggung jawab untuk menjaga Shofia aku serahkan padamu. Aku harap kamu bisa menjalankan amanah ini dengan baik. Sayangi dia, lindungi dia dan bahagiakan dia. Jangan sekali-kali kamu berani menyakiti fisik maupun hatinya."
Jo menoleh pada Shofia yang ada di sampingnya. Semakin mengeratkan genggaman tanganya saat mendengar wejangan dari ayah mertuanya.
"Saya menerima tanggung jawab ini ayah. Saya berjanji saya akan selalu berusaha untuk melindungi dan membahagiakan Shofia. Saya akan selalu menyayangi dan mencintainya. Saya berjanji tidak akan menyakitinya." mendengar itu Mirza dan Khusnul tersenyum. Mereka kini lega telah menyerahkan Shofia pada laki-laki yang tepat. Mereka berharap bisa memegang janji yang diucapkan Jo.
__ADS_1