
πAku mengenalmu dengan senyum. Dan aku akan melepasmu dengan senyum pulaπ
Malam harinya keadaan Zakaria drop. Dokter menyarankan agar Zakaria segera dipindahkan ke ruang ICU untuk penanganan lebih lanjut.
Semua orang menunggu di luar ruang ICU. Di dalam hanya ada beberapa dokter dan juga suster yang menangani Zakaria. Wajah cemas terlihat kembali pada wajah orang-orang yang meyanyangi Zakaria.
Ceklek! suara pintu mengagetkan mereka semua. Kini pandangan mereka tertuju pada seorang suster yang kepalanya menyembul dari balim pintu ruang ICU.
"Ada saudara Shofia? Pasien ingin bertemu." kata suster itu. Merasa namanya dipanggil Shofia segera menghampiri suster dan mengikuti suster itu masuk ke dalam ruang setelah melakukan prosedur untum masuk ruang ICU.
Shofia begitu kaget melihat tubuh Zakaria yang banyak dipasang berbagai alat. Wajahnya terlihat pucat. Saat menyadari kehadiran Shofia, Zakaria menoleh kearahnya. Dia berusaha melepas selang oksigen yang menutup hidung dan mulutnya.
Tangan Shofia terulur menggenggam tangan Zakaria. Tangan itu begitu dingin. Tak ada kehangatan yang biasa Shofia rasakan saat memegang tangan itu. Dia tertegun beberapa saat.
"Shof.. "lirih Zakaria. Shofia segera mendekatkan wajahnya. Semua yang ada di ruangan itu hanya melihat mereka tanpa melakukan apa-apa.
"A-ku men-cin-ta-i-mu Shof" kata Zakaria berat. Air matanya mengalir.
__ADS_1
"Aku tahu. Dan kau melarangki untuk menangis. tapi kau sendiri menangis sekarang." Shofia ikut terisak.
"Stt... su-dah ku-bi-lang ja-ngan me-na-ngis la-gi. A-ku ti-dak su-ka."
"Aku janji tidak akan menangis. Tapi kamu juga harus janji kamu harus segera sembuh. Seminggu lagi kita akan menikah. Aku tidak mau menikah di rumah sakit. Aku mau pernikahan kita menjadi pernikahan yang paling indah." isak Shofia. Para suster disana ikut menangis.
"Ma-af-kan A-ku Shof... "
"Kamu tidak boleh seperti ini. Jangan tinggalkan aku.huhuhu" Shofia memandang dokter. "Lakukan sesuatu dokter. Jangan diam saja seperti itu. Dia tidak akan sembuh jika dokter hanya diam." lanjutnya.
"Wak-tu-ku ti-dak ba-nyak Shof."
"A-ku men-cin-ta-i-mu Shof"
"Jika kau mencintaiku jangan tinggalkan aku. Aku berjanji akan memberi cinta yang lebih banyak padamu. Jika perlu sampai kau merasa muak. Tolong jangan tinggalkan aku." Shofia semakin terisak. "Dokter.... tolong lakukan sesuatu."
"Maaf mbak. Tapi tubuh Zakaria tidak merespon apak yang kami lakukan. Kami tidak bisa melakukan apa-apa." terang dokter.
__ADS_1
"Ja-ngan ce-ngeng Shof... "
Hening....
Hanya isakan tangis yang terdengar.
Tiba-tiba tubuh Zakaria kejang. Dokter segera mendekat dan melakukan tindakan yang Shofia tidak mengerti. Dia hanya berdiri memandangi tubuh yang baru saja dipeluknya itu.
"Laailaahaillallah muhammadurrosulullah."
Hembus terakhir Zakaria terdengar seperti sambaran petir bagi Shofia. Dilihatnya mata Zakaria mulai tertutup. Bibirnya tersenyum. Dilihatnya dokter menggelengkan kepala saat beberapa kali mencoba mengejutkan jantung Zakaria. Shofia menutup matanya.
Menguatkan diri agar tak ada satu tetes air matapun yang jatub dari kedua matanya. Hatinya begitu sakit. Tapi dia tidak dapat berbuat apa-apa. Dia sadar jika yang bernyawa pasti akan mati. Tapi dia tidak menyangka jika dia begitu cepat dipisahkan dari Zakaria.
"Sabar ya mbak" kata suster yang menepuk bahunya menyadarkannya.
"Terima kasih sus." Shofia memandang Zakaria lagi sebelum dia keluar ruangan.
__ADS_1
"Aku janji tidak akan menangis karenamu Zakaria Husain Fuadi. Aku hanya akan tersenyum karenamu." janji Shofia dalam hati.