Perjalanan Cinta Shofia

Perjalanan Cinta Shofia
Kenyataan Pahit


__ADS_3

"Jadi kau dan Shofia sudah menikah?" tanya Edi. Mereka kini sedang duduk menunggu Shofia yang sedang di tangani oleh dokter.


"Ya. Maaf belum sempat memberi tahu kalian. Waktu itu acaranya mendadak dan setelah itu kita semua sibuk."


"Jadi kapan kau menikahinya?"


"Malam sebelum acara class meeting."


"Wah Jo. Kau mendahuluiku. Curang kau! Yang lebih dulu membuat rencana kan aku." Edi memukul lengan Jo pelan.


"Rencanamu tidak lebih baik dari rencana yang dibuat oleh Allah kau tau?"


"Yayayaya pak Ustadz."


"Bagaimanapun, Selamat Jo. Akhirnya kalian bisa bersatu." kata Edi memeluk Jo singkat


"Benar Jo. Selamat untuk pernikahan kalian. Kami semua salut atas usahamu." Udin memeluk singkat Jo.


"Terima kasih teman-teman."


"Setelah ini, Jagalah dia dengan baik Jo. Kau tahu sendiri kan dia itu sangat berharga." kata Edi serius.


"Tentu saja. Aku akan menjaganya dengan baik. Aku sangat mencintainya."


"Bahagiakan dia Jo. Aku sudah lama tidak melihatnya tersenyum bahagia." Udin memang sering melihat Shofia tersenyum, tapi yang dia lihat adalah senyuman yang terasa hambar. Berbeda dengan senyuman Shofia ketika mereka masih remaja. Dia ingin Shofia yang dulu bisa kembali.


"Aku janji akan selalu membuatnya bahagia."


"Ed. Gimana keadaan Shofia?" Elin yang baru datang segera menghampiri Edi.


"Dia masih ditangani di dalam."


"Jo apakah benar yang dikatakan Edi tadi?"


"Ya. aku dan Shofia sudah menikah."


"Sayang, nanti aku jelaskan. Sekarang temani bunda dulu." kata Edi. Elin segera menghampiri Khusnul yang duduk bersama Rizwan.


"Keluarga Ibu Shofia." teriak Suster yang baru keluar dari UGD.


"Saya suaminya sus." Jo berdiri menghampiri suster itu.


"Ah dokter Jo. Benarkah dia istri anda?" suster itu tak menyangka pasien yang dirawat adalah istri dari Jo. Jo adalah salah satu dokter di rumah sakit ini. Belum ada yang tahu jika Jo sudah menikah.


"Tentu saja."


"Emm. Dokter ingin berbicara dengan anda."

__ADS_1


"baiklah" Jo mengikuti suster itu


"Dokter Jo. Istri anda hanya syok dan kelelahan. Kami sudah memberikan obat. Sebentar lagi, pasien akan dipindahkan ke ruang rawat inap." kata Dokter saat Jo berada sudah berada di ruang dokter itu.


"Baik dokter Ismail. Terima kasih."


"Sama-sama dokter Jo. Saya rasa hari ini akan terjadi patah hati massal di rumah sakit."


"Maksud dokter?"


"Saya rasa para suster dan dokter yang masih single akan menangisi status baru anda. Hahahaha." Jo adalah dokter idola di rumah sakit itu. Selama satu bulan ini dia sudah mempunyai banyak fans dari kalangan suster, dokter, pasien maupun keluarga pasien. Banyak yang secara terang-terangan menyatakan perasaannya pada Jo.


"Ah dokter bisa saja. Ya sudah dokter. Saya permisi dulu."


"Ya dokter. Semoga istri anda lekas sembuh."


*****


"Ayah dan bunda sebaiknya pulang dulu. Lebih baik kalian istirahat. Biar Jo yang menjaga Shofia." kata Jo setelah sampai di ruang inap istrinya.


"Baiklah. Titip Shofia ya nak Jo. Besok pagi-pagi bunda akan kesini lagi." kata Khusnul.


Jo memandangi wajah istrinya. Terlihat sekali guratan fikiran di wajah Shofia. Walaupun Jo tahu jika Shofia tidur, tapi Jo dapat melihat dengan jelas pada wajah cemas Istrinya.


"Maafkan aku sayang. Aku lalai dalam menjagamu." diciumnya wajah sang istri.


"Maafkan aku belum bisa menepati janjiku untuk melindungimu." Jo membelai lembut kepala Shofia. Kemudian dia mencium lama kening Shofia.


Semalaman Jo menunggu Shofia. Dia tertidur di kursi sebelah brangkar istrinya. Tangannya terus menggenggam erat tangan itu. Jo membuka matanya ketika merasakan tangan Shofia bergerak.


"Sayang kau sudah sadar?" tanya Jo melihat Shofia mengerjapkan matanya. Tiba-tiba mata Shofia terbuka lebar. Di matanya tersirat ketakutan. Saat melihat Jo, ia segera memeluk suaminya itu.


"Aku takut Jo." Shofia kembali menangis.


"Jangan takut sayang. Aku ada disini. Aku akan melindungimu."


"Aku benci mata itu Jo."


"Tenang saja sayang. Sudah kupastikan mata itu tak akan pernah melihatmu."


"Aku benci tangan itu Jo."


"Tangan itu sudah ku beri pelajaran sayang. Dia tak akan menguranginya lagi. Tenang ya." Jo membelai lembut kepala shofia.


"Aku mau mandi Jo. Aku tak mau bekas laki-laki itu menempel di tubuhku."


"Aku sudah membersihkannya dengan cintaku sayang."

__ADS_1


"Tidak Jo. Dia menyentuh tanganku."


Shofia mengusap-ngusap tangannya seperti ada kotoran disana. Dia juga mengusap-ngusap pipinya dengan kasar.


"Jangan seperti itu sayang. Itu bisa menyakitimu" kemudian Jo mencium bagian tubuh Shofia yang tadi dibersihkan paksa oleh Shofia.


"Sudah. Sekarang tidak ada lagi bekas si berengs*k itu lagi kan."


"Heem. Terima kasih Jo." Shofia mengangguk pelan sebelum kembali masuk ke dalam pelukan suaminya.


Keduanya tak menyadari ada yang masuk ke dalam ruang inap itu. Jo Berkali-kali menghujani kepala Shofia dengan ciumanya. Ia merasa bersalah pada istrinya itu. Dia merasa gagal tidak bisa melindungi wanita yang baru saja dinikahinya.


"Ehem. Maaf bunda ganggu kalian sebentar." kedua orang yang saling berpelukan itu menoleh ke arah Khusnul.


Pagi ini Khusnul menepati kata-kata nya. Saat di pintu masuk rumah sakit, dia tidak sengaja bertemu dengan Sandy. Sandy pun tahu dari Khusnul jika Shofia sakit.


Dan akhirnya disinilah dia sekarang, menjadi penonton live drama romantis dari pasangan yang sama-sama di mabuk asmara. Dan demi apapun, pemeran wanita nya adalah wanita yang disukainya. Miris sekali.


'Apakah mereka sudah menikah? Kenapa mereka bisa seperti itu? Tapi kapan menikahnya? Sebelumnya mereka hanya teman. Sebenarnya apa yang terjadi pada Bu Shofi? Kenapa dia seperti itu? ' batin Sandy.


"Oh ya Shof. Ini tadi ibu tidak sengaja bertemu dengan nak Sandy di depan. Jadi dia sekalian jenguk kamu."


Shofia baru sadar jika ada orang di samping bundanya. Jo yang dari tadi menilai Sandy tersenyum simpul. Dia menunjukkan bahwa dialah pemenang disini. Dia tahu bahwa pria di samping mertuanya itu menyukai istrinya.


"Maaf merepotkan pak Sandy." kata Shofia. Kini dia merasa tidak enak karena mungkin dari tadi Sandy melihat adegan-adegannya dengan Jo.


"Tidak apa-apa bu Shofi. Saya dengar Bu Shofi sakit. Jadi saya ingin melihat keadaan anda." Sandy tersenyum getir.


"Terima kasih pak Sandy sudah menjenguk saya. Alhamdulillah saya sudah baikan."


"Sebenarnya ibu sakit apa? Sepertinya saat pulang kemarin siang ibu masih baik-baik saja."


"Ah itu... " Shofia kembali ketakutan. Dia masih mengingat kejadian kemarin. Dia tidak bisa menceritakan kejadian itu. Melihat itu Jo segera memeluk Shofia lagi.


"Maaf pak Sandy. Sepertinya istri saya masih syok dengan kejadian kemarin. Jadi harap maklum." Jo memandang Sandy. Berharap dia tak menanyakan lebih banyak tentang kejadian yang membuat Shofia takut.


'Ternyata mereka sudah menikah. Rasanya sangat menyakitkan. Aku akan menikah dengan orang yang tidak aku cintai. Dan aku akan melihat orang yang aku cintai bahagia bersama orang lain' batin Sandy.


"Maafkan saya dokter Jo. Baiklah kalau begitu. Saya permisi."


"Terima kasih sudah mampir pak Sandy."


"Ah ya. Sama-sama. Semoga cepat sembuh bu Shofi." Shofia hanya tersenyum menanggapi ucapan Sandy.


.


.

__ADS_1


__ADS_2