
"Jangan senyum-senyum!" bentak Shofia.
"Aku ketahuan." kata Jo sambil tertawa pelan. "Jangan marah-marah Shof. Nanti cepat tua lo!"
"Bodo." tuh kan keluar lagi ngambeknya. Tapi bagi Jo ini adalah pemandangan yang paling menarik. Menggemaskan.
"Shof. Sudah ya ngambeknya. Semakin gemas tau. Pengen aku masukin ke dompet."
"huh! Kamu jahat Jo."
"iya aku jahat. Maafin aku ya Shof."
"Nggak."
"Aku tahu aku salah. Aku jahat sama kamu. Aku udah menghakimi kamu. Tapi aku punya alasan untuk itu Shof... "
"Apapun alasannya. Seharusnya kamu bilang Jo. Pamit sama aku."
"Maaf."
"Iya. Emang seharusnya kamu minta maaf. Bukan cuma sama aku. Sama Edi sama Udin sama elin sama Kalia juga."
"Iya-iya princes. Aku akan minta maaf sama mereka juga. Aku bakal... "
"Jangan sok manis." kata Shofia membuat Jo tidak jadi meneruskan kalimatnya."
"Nak Jo ini pesanannya." kata bu Minah sambil membawa nampan berisi dua piring nasi goreng beserta sepiring tempe mendoan dan dua gelas es teh.
Bu Minah dari tadi tersenyum mendengar perdebatan dua orang dewasa yang ada di depannya itu. Dari dulu mereka itu memang seperti itu. Jika Shofia ngambek pasti Jo akan bersusah payah membujuknya karena Jika Shofia ngambek pasti semua orang dapat susahnya.
"Shof kamu masih suka kan masakan Bu Minah?"
"Nggak perlu nyogok."
"Ini spesial lo Shof. Hemm. Harumnya... enak nih. hap." Jo memasukkan sesendok nasi goreng ke mulutnya. Menikmatinya dengan ekspresi yang dibuat-buat agar Shofia memperhatikannya.
"Jahat! Sini makananku." Jo segera mengangsurkan piring Shofia dengan setelah diberi dua iris mendoan dan juga acar. Sebelum itu dia meraih krupuk yang ada di meja sebelahnya. Membukanya dan menaruhnya di sebelah piring Shofia. dia tahu jika Shofia sangat menyukai makan ditemani krupuk.
Jo tersenyum melihat Shofia menyantap makannya. Jo mengangsurkan tangan kananya membelai lembut kepala Shofia yang dibalut jilbab hijau itu.
"Kamu kemana saja Jo selama ini?" tanya Shofia setelah menghabiskan makanan di piringnya.
"Aku ke Malang. Aku berusaha menjadi seperti yang kamu mau."
"Maksudnya?" Jo tersenyum.
"Kamu kan dulu bilang kalau kamu membenci ku Shof."
"Ya itu karena kamu memang parah waktu itu. Kamu nggak mau Dengerin nasihat semua orang."
"Iya aku tahu. Makanya aku harus pergi. Aku harus berubah kan. Aku ingin menjadi lebih baik. "
"Sekarang kamu berhasil Jo."
"Yah aku rasa Shof. Apakah selama ini kamu masih berhubungan sama yang lain?"
"Heem. Kau tau Jo, Edi dan Elin akan ssgera menikah Jo. Dan Udin kau tak akan menyangka." Shofia bercerita dengan antusias. Jo mendengarkan Shofia. Dia bahagia Shofia yang cerewet telah kembali.
"Kau dengar aku Jo." Shofia menarik-narik lengan Jo.
"Iya Shof aku dengar... "
__ADS_1
"Kau ingat Sundari kan? Udin dan Sundari telah menikah dan mereka akan memiliki anak Jo. Dan Kalia... dia juga sudah punya bayi Jo." kata Shofia semangat.
"Jo... Kau dengar aku kan?" Shofia jengkel karena dari tadi Jo hanya diam.
"Aku dengar Shof. Terus kamu punya bayinya kapan?" tanya Jo sambil menopang dagunya dengan kedua tangannya sambil memandangi Shofia. Shofia langsung terdiam.
"Ha emm itu... "
"Kapan Shof?"
"...."
"Nikah yuk Shof."
"Apa!?"
"Ayo nikah sama aku."
"Jangan bercanda kamu Jo."
"Aku serius Shof."
"Jo, sebenarnya aku sempat mau nikah." Shofia menghela nafas pelan. Air muka Jo terlihat terkejut.
"Lalu?"
"Calon suamiku meninggal Jo. Seminggu sebelum sebelum pernikahan kami." Shofia menjadi sendu.
"Maafkan aku Shof."
"tak apa Jo. Ini sudah takdir ku."
"Tapi aku masih punya kesempatan kan Shof?"
"Tentu saja kesempatan untuk mencuri lagi hatimu Shofia Lathifunnisa."
Blush... pipi Shofia merona. dia? Tentu saja malu.
"Hei Shof kenapa dengan pipimu?"
Shofia segera menepuk pipinya pelan berharap warna pipinya segera hilang.
"Hentikan Shof. Yang ada pipimu sakit."
"Ah Jo jangan suka gombal."
"Aku nggak gombal Shof. Beneran. Aku ingin mencuri hatimu lagi." Jo mengerlingkan sebelah matanya.
"Kalau gitu. Berusahalah Jo. Aku masih seperti dulu yang sulit ditaklukkan."
"Aku terima tantanganmu Sweety." Keduanya tersenyum.
****
Shofia kembali ke kantor dengan wajah berseri-seri. Jo sudah pulang karena dia juga harus kembali ke rumah sakit.
Teman-teman Shofia menghampiri Shofia. Mereka ingin menanyakan tentang dokter yang tadi bersama Shofia.
"Dokter tadi siapa bu Shofi?" tanya Inun.
"Dokter?"
__ADS_1
"Ya. Yang tadi sama Bu Shofi di kantin." tambah Indah.
"Oh dia Jo. Dia temanku. Dulu dia juga alumni sini."
"Kenalin dong bu." pinta Indah.
"Hei anak muda. Hati Jo itu sudah terikat kontrak sehidup semati dengan seseorang." bukan Shofia yang bicara. Tapi Ema yang tanpa sengaja mendengar pembicaraan mereka. Dia sangat mengenal Jo dan shofia.
"Ah bu Ema. Tapi katanya dia masih single kok. " kata Nindi. Dia tadi mendampingi para anggota PMR pada saat pelatihan.
"Iya masih single. Tapi hatinya sudah ada yang mempunyai hak paten."
"Kok ibu bilang seperti itu? Bu Ema tahu dari mana?"
"Tahu lah. Apa yang tidak aku tahu dari anak bandel seperti Jo. Aku ini tahu luar dalam" kata Ema bangga.
"Emang ibu tahu selama ini Jo kemana?" tanya Shofia.
"Emm aku belum sempat tanya sih. hehehe."
"Huh! Katanya kenal luar dalam."
"Kalau hatinya milik siapa aku juga tahu walaupun dia pergi kemanapun Shof." Ema melirik Shofia. Yang dilirik hanya tersenyum.
"Ayolah cerita bu Ema. Hatinya dokter Jo itu punya siapa?" tanya Indah penasaran.
"Tuh... " jawab Ema menuju Shofia dengan dagunya. Ketiga gadis yang penasaran itu langsung menoleh ke arah Shofia.
'Kenapa sih selalu saja bu Shofi. Pak Sandy juga sukanya bu Shofi. Ini dokter Jo juga sama bu Shofi.' gerutu Nindi dalam hati.
"Kenapa?" Shofia berusaha menghindar.
"Apa kamu masih ragu Shof?"
"Entahlah."
"Apa dia tidak bilang?"
"Dia tadi bilang bu. Tapi aku masih ragu dengan Perasaanku bu Ema." Shofia memutar cincin Zakaria di jari tengahnya. Kebiasaan yang selalu dia lakukan jika dia merasa bingung.
"Jadi Bu Shofi dan dokter Jo punya hubungan serius?" tanya Nindi.
"Tidak. Kami hanya berteman." kata Shofia.
"Benarkah Shof?" tanya Ema. Nindi, Inun dan juga Indah menunggu jawaban Shofia. Sementara Shofia hanya diam.
🍧🍧🍧🍧
Author : Jo datang kok kamu cuekin sih Shof.
Shofia : Aku nggak cuek kok. Biar dia usaha aja Thor.
Author : Jangan jual mahal kamu. Ntar Jo pergi baru tau rasa kamu!
Shofia : Aku nggak jual mahal.
Author : Aku udah peringatkan lo ya... Kalau dia pergi jangan nyalahin aku.
Shofia : Jangan nyumpahin gitu lah Thor...
Nindi : Kalau Shofia jual mahal kasih ke aku aja Thor. Aku akan dengan senang hati menerima.
__ADS_1
Shofia : Ngarep!