Perjalanan Cinta Shofia

Perjalanan Cinta Shofia
Bakat yang Disembunyikan


__ADS_3

🐾🐾 Salahkah jika aku menyembunyikan sesuatu dari dunia? Aku hanya merasa tidak yakin dapat menghadapi hari-hariku yang mungkin akan rumit karenanya... 🐾🐾


Di tempat lain Ziana duduk sambil memperhatikan penampilan Shofia dari benda pipih kotak miliknya. Dia duduk di pinggir ranjang kamarnya yang ada di ndalem.


Ketika melihat sang kakak melewati depan kamarnya. Tangannya dilambaikan untuk memanggil kakaknya namun segera memberi isyarat menempelkan telunjuknya di depan bibir agar kakaknya tidak mengeluarkan suara.


Paham dengan isyarat sang adik, Zakaria segera mendekat dengan tetap diam. Dia berusaha melihat apa yang ada di layar handphone adiknya itu. Samar-samar dia mulai mendengar suara musik yang mengalun indah. Tak lama berselang dia mendengar suara wanita yang dia kenali.


Zakaria semakin mendekat. Kini dia bisa melihat penampilan Shofia dan bandnya. Dia begitu kagum dengan penampilannya. Dia tak menyangka jika gadis yang biasa dia iringi dengan gitarnya ternyata bisa bermain gitar dengan sangat baik. Bahkan gadis iti terlihat sudah biasa bermain gitar dengan mata tertupup menikmati lagu yang dibawakan.


"Mas kamu harus membayar mahal untuk melihat ini." Ziana berbicara pelan agar suaranya tidak sampai didengar Shofia yang berada di seberang sana.


*Benar-benar gadis yang penuh misteri. Kini aku melihat satu kemampuanmu. Entah berapa bakat yang kau sembunyikan gadis cantik? Batin Zakaria


Wah mbak Shofia ini sungguh gadis dengan sejuta pesona. Aku jadi semakin mengolidolakanmu. Kau bisa menjadi apa saja demi sahabatmu. Kau bisa menyesuaikan diri dengan apa yang ada di sekitarmu. Apakah suatu saat nanti aku bisa menjadi seperti dirimu? Mempunyai kelebihan tapi malah merendah*. Batin Ziana.


Zakaria segera menjauh ketika Shofia menyelesaikan lagunya. Dia terlihat tersenyum sambil memandang ke arah layar handphone nya. Terlihat Ziana juga tersenyum padanya.

__ADS_1


Shofia beranjak dan pamit keluar pada teman-teman nya. Dia memngambil handphone nya dan membawanya keluar ruangan.


"Sudah puas Zi?" tanya Shofia ketika dia mendudukkan diri di kursi di depan studio.


"Mbak hebat banget! nggak nyangka aku mbak punya suara emas?"


"Lebay deh."


"Sejak kapan mbak bisa main gitar?"


"Sejak SMP. Aku dan teman-teman ku mendirikan Band ketika awal kelas dua. Awalnya kami cuma iseng-iseng aja karena punya hobi yang sama. Tapi akhirnya kami didukung para guru untuj mengambangkan bakat. Dan bisa kamu lihat sendiri. "Sejuk Band" dapat kamu nikmati penampilannya. Yah walaupun masih jauh dari kata sempurna."


"Terima kasih." Shofia tersenyum tulus. "Zi kamu masih ingat kan janjimu?"


"Iya-iya mbak.Tenang aku nggak bakal ember. Emang kenapa sih mbak mesti disembunyiin? "


"Zi emang ada gunanya kalau semua orang tahu?"

__ADS_1


"Ya kan mbak bisa manfaatin suara emas mbak untuk belajar qiro'at."


"Dan menjadi pusat perhatian gitu? Aku nggak mau yang seperti itu Zi. Aku ingin hidupku tenang."


"Benar juga mbak."


"Lagian Zi. Kemampuan ku tidak ada gunanya jika diterapkan di pondok. Jadi biarlak sisi dalam diriku yang seperti ini hanya bisa dilihat di luar pondok. Dan jika di dalam pondok aku akan menjadi santri pada umumnya."


"Mbak kapan balik ke pondok? Katanya mau ada Ziarah ya?"


"Besok Zi. Ziarahnya lusa. Besok pagi aku akan berangkat agar sore sudah sampai di pondok, jadi besok aku masih bisa istirahat."


"Horeee! jadi besok sudah bisa ketemu. Aku kangen tau mbak!" Ziana semangat.


"Emang kamu nggak pulang?" Ziana langsung terdiam. Dia keceplosan. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Besok aku ada yang ingin aku bicarakan mbak."

__ADS_1


****


__ADS_2