
"Mbak Shofia nanti aku di kasih bagian ya masakannya... " kata Ziana sebelum Shofia menuju tempat memasak yang disediakan panitia.
"Oke!" Shofia melipat telunjuknya pada ibu jarinya 👌sambil mengedipkan sebelah matanya. 😉
Shofia dan Salwa segera menyiapkan diri. Dalam lomba memasak dibagi menjadi 3 tahap. Tahap pertama pemilihan bahan, tahap kedua memasak dan tahap ketiga adalah penyajian.
Pada tahap pertama adalah pemilihan bahan masakan. Salwa yang bertugas dalam tahap ini. Sebelumnya dia dan Shofia sudah berdiskusi bahan masakan yang akan mereka butuhkan.
Dengan cekatan Salwa memilih bahan karena dalam pemilihan bahan diberi batasan waktu. Salwa dengan teliti memilih bahan agar tidak ada yang terlupakan. Jika memasak ada bahan yang kurang maka rasa masakannya akan kurang mantab.
"Sal jangan ada yang ketinggalan" teriak Shofia dari tempatnya. Dia menyebutkan beberapa bahan yang belum diambil Salwa.
Setelah semua bahan dirasa cukup Salwa kembali ke tempatnya. Shofia memperhatikan bahan masakan yang diambil Salwa. Barangkali ada yang terlupakan.
"Sal kecapnya kayaknya kurang deh!" kata Shofia. Dan seketika Salwa beranjak dan mengambil kecap karena waktu mengambil bahan masih ada. Dan tepat saat bel tanda waktu habis saat Salwa kembali ke tempatnya.
__ADS_1
Sekarang memasuki tahap memasak. Semua peserta memulai aksinya. Mereka terlihat terampil memasak. Shofia dan Salwa juga sibuk memasak. mereka membagi pekerjaan mereka agar cepat selesai.
Para juri berkeliling melihat proses dan cara masak para peserta. Mereka menanyakan bahan masakan apa saja yang mereka masukkan serta cara membuatnya.
"Shof udah terampil aja! Benar-benar sudah cocok jadi istri." Tiba-tiba Hadi menghampiri Shofia dan Salwa yang sedang sibuk masak. Dia juga menjadi juri acara tersebut.
Shofia hanya diam. Dia berusaha tidak terganggu dengan kedatangan Hadi. Dia masih mengingat bagaimana isi surat dari ketua OSISnya itu. Dia bersikap dingin untuk menjawab pertanyaan dalam surat Hadi.
Salwa yang berada di samping Shofia memandang Shofia. Dia sadar akan sikap dingin yang dilakukan Shofia.
"Kak, jika kakak merasa, itu berarti kakak sudah tahu jawaban dari surat yang kakak berikan kemarin bukan. Jadi tolong mulai sekarang aku harap kakak dapat menjaga sikap." jawab Shofia dengan tidak memandang Hadi. Dia tetap fokus menggoreng kentang untuk masakannya.
"Ya sudah Shof aku mengerti. Terima kasih dan Maaf jika selama ini aku mengganggumu." kata Hadi seraya meninggalkan tempat Shofia.
Tempat memasak memiliki jarak yang lumayan jauh. Jadi pembicaraan mereka tidak dapat didengar oleh orang lain selain mereka.
__ADS_1
"Shof, yang kuat ya." kata Salwa menguatkan sahabatnya.
"Iya. Aku nggak apa-apa kok. Tenang aja." Shofia tersenyum.
"Aku merasa canggung Sal. Biasanya aku tidak tahu siapa yang memberiku surat. Jika aku tahupun aku tidak mengetahui isinya. Kalau surat dari Kak Hadi benar-benar beda. Aku tahu betul pengirim dan juga isinya. Apalagi dia meminta jawaban melalui sikap. Bukankan itu sulit untukku Sal. Dia jahat sama aku. Membuatku menjadi orang yang bersikap buruk pada orang lain." lanjut Shofia sambil menghela nafas.
"Jangan difikirin Shof. Itu juga yang terbaik untuk kak Hadi. Dia jadi tahu bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan. sekarang aku yakin dia akan mulai berusaha melupakanmu. Daripada kamu tidak memberi jawaban yang mungkin membuatnya terus berharap sama kamu." Salwa membenarkan sikap Shofia.
"Kamu benar Sal. Nah sekarang kita fokus masak. Jangan mikirin Cowok saat ngasih garamnya Sal. Nanti keasinan. hehehe" canda Shofia berusaha menghilangkan kecanggungan diantara mereka. Pembahasan mereka juga tidak ada gunanya untuk masakan mereka.
Setelah masakan siap, kini waktunya penyajian. Salwa menyiapkan piring untuk wadahnya. Sedangkan Shofia mencuci tomat, cabai merah, wortel, kubis dan juga selada yang akan digunakan untuk menghias.
Dengan terampil Shofia menghias masakannya. Masakannya terlihat cantik dan menggugah selera.
Setelah siap masakan dibawa ke depan para juri untuk dinilai. Dan masakan Shofia dan Salwalah yang mendapat juara satu.
__ADS_1