
βοΈMembuka hati itu tidak mudah. Namun percayalah jika menutup hati yang telah tebuka itu lebih sulit. βοΈ
Ternyata memang benar kata Ziana bahwa perjuangan Zakaria masih panjang. Bahkan ini sudah 1 tahun lebih Zakaria berusaha mendekati Shofia. Namun sampai saat ini belum ada kemajuan.
Zakaria dan Shofia memang sudah semakin akrab. Namun sangat terlihat jika Shofia selalu menghindar jika mereka membahas tentang perasaan mereka.
Jika bukan karena Ziana, Shofia bahkan tidak mau diajak berbicara dengan Zakaria. Dia masih setia menutup rapat hatinya.
Saat ini Shofia sudah kelas 3 dan itu membuat Zakaria hampir putus asa. Dia sudah kehabisan cara bagaimana membuat hubungannya dengan Shofia berubah menjadi lebih baik.
Sebernarnya Zakaria tidak meminta Shofia menjadi kekasihnya. Dia juga tahu jika pacaran itu dilarang. Namun dia hanya ingin Shofia tidak menghindar darinya.
****
Di ponpes kedekatan antara Shofia dan Zakaria sudah lama tercium. Sudah lama mereka menjadi bahan pembicaraan diantara santriwan maupun santriwati.
Jika bukan karena telinga Shofia tebal. Dia pasti sudah menyerah dan tidak betah berada di pondok itu. Namun Shofia bertekad bahwa dia harus kuat.
__ADS_1
Sebenarnya Shofia sendiri sudah mulai memcintai Zakaria. Namun dia berusaha menekan perasaannya. Dia pernah bertekad akan serius belajar di pondok. Dia tidak mau pendidikannya terganggu. Shofia berusaha keras agar rasa cintanya terhadap Zakaria tidak sampai terlihat.
Selain itu Ziana merasa tidak pantas jika dia bersama Zakaria. Zakaria adalah seorang putra dari seorang Kiyai. Sudah sepantasnya dia mendapatkan yang lebih baik dari Shofia.
Shofia berfikir jika yang menjadi pendamping untuk Zakaria haruslah seorang gadis yang pandai dalam ilmu agama. Yang bisa ikut mendampingi Zakaria di masa mendatang. Karena di kemudian hari Zakaria akan menggantikan Abah mengasuh pondok. Kedua kakak laki-laki Zakaria sudah memiliki rumah bahkan pondok sendiri di sekitar pondok abah.
Memikirkan itu membuat Shofia berfikir ulang untuk membuka hatinya lebih lebar lagi untuk Zakaria. Sebenarnya dia juga tersiksa karena berusaha menutupi perasaannya di hadapan semua orang.
Tapi inilah yang menurut Shofia langkah terbaik yang harus diambilnya. Zakaria berhak mendapat yang lebih baik. Hatinya juga tidak akan terluka jika suatu saat mereka tidak dapat bersatu.
πππππ
Hari ini Shofia memberanikan diri menemui Zakaria. Dia meminta bantuan Ziana agar dia bisa berbicara dengan Zakaria.
"Gus ada yang mau saya bicarakan." kata Shofia. Mereka kini berada di ruang makan ndalem. Disana aman dari pandangan para santri. Kebetulan Abah dan Umi sedang ada acara di luar pondok.
"Ada apa Shof? Apa kamu sudah mulai membuka hatimu?" Shofia tersenyum.
__ADS_1
"Saya mau pamit Gus." Zakaria terkesiap. Rasanya dia tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Apa maksudmu Shof?"
"Saya mau keluar pondok. Saya ingin kuliah di luar pondok ini."
"Jangan bercanda kamu Shof. Aku tidak suka." Ziana meneteskan air matanya. Awalnya dia merasa senang saat Shofia meminta bantuan untuk bertemu dengan kakaknya. Dia kira ini adalah kemajuan dari hubungan mereka. Sungguh dia sangat kecewa.
"Maaf Gus saya tidak bercanda. Lusa saya akan pulang. Jadi hari ini saya mau berterimakasih dan juga meminta maaf kepada kalian berdua." kini airmata Shofia yang sedari tadi ditahan akhirnya tumpah juga. Diapun merasa sakit berpisah dengan kedua orang yang sangat penting di hidupnya.
"Shof, sebelum kamu pergi, bolehkah aku mengetahui perasaanmu padaku?"
Shofia berfikir serius. Haruskah dia mengungkapkan perasaannya sekarang?
"Maaf Gus. Apapun perasaan saya sekarang itu tidaklah penting. Sebaiknya kita menjalani hidup kita masing-masing dengan sungguh-sungguh."
"Shof... " lirih Zakaria. "Aku ingin menjalani hidup ini bersamamu."
__ADS_1
"Percayalah Gus. Jika kita berjodoh kita akan dipertemukan kembali. Kita masih terlalu muda untuk memikirkan hal yang lebih jauh. Assalamualaikum Gus." Shofia meninggalkan kedua orang itu. Mereka semua dalam keadaan yang sama. Menangis. Bahkan air mata Zakaria pun dengan nakalnya keluar.