Perjalanan Cinta Shofia

Perjalanan Cinta Shofia
Hentikan Jo


__ADS_3

🕊Aku akan berusaha membuatmu tersenyum. Tak akan kubiarkan seseorang menghancurkan kebahagiaanmu🕊


"kenapa kamu Shof?" tanya Elin saat Shofia mendudukkan diri dengan kasar di sofa sebelahnya. Shofia dengan penampilannya hari ini sungguh bukan Shofia sekali.


Shofia selama ini akan datang dengan wajah ceria secerah mentari yang bisa menyalurkan semangat pada orang sekitarnya.


Tapi penampilan Shofia hari ini. Uh! Dia terlihat kesal. Jangan lupakan bibirnya yang mengerucut. Juga tiga lipatan hitam di dahinya. Alis yang saling menyatu.


Keempat orang yang berada disana dengan Shofia hafal jika teman gadisnya sudah berwajah seperti itu, semua orang akan terimbas jadi pelampiasan.


"Huh!" Shofia membuang nafas secara kasar. Semua orang faham betul jika hati gadis itu sedang kesal.


"Kau kenapa Shof?" Jo mendekati Shofia. Shofia masih tetap diam dengan tangan yang disedekapkan di depan dada.


Jo menghela nafas pelan. Sepertinya akan sulit menghadapi Shofia jika level kekesalannya sudah sampai di pucuk ubun-ubun seperti ini. Jo membisikkan sesuatu pada Edi. Edi segera pergi meninggalkan studio yang sebenarnya akan mereka pakai untuk latihan.


Semua hanya diam menunggu kekesalan sang princes mereda. Shofia memang gampang kesal. Tapi biasanya kesalnya Masih ada pada batas wajar. Tapi level kesalnya Shofia saat ini sangat jauh melampaui batas kebiasaan.


Mereka saling pandang mencari titik terang permasalahan yang membuat Shofia begitu kesal. Namun tidak ada diantara mereka yang tahu. Mereka tidak tahu apa yang membuat seorang Shofia sampai kehilangan pengendalian dirinya sampai seperti ini.


"Nih." Edi menyerahkan sebatang coklat dengan bungkus berwarna orange dengan gambar mede itu pada Jo.


Jo menerimanya dan kembali duduk di samping Shofia. Yang lainnya ikut duduk di tempatnya dalam diam. Mereka tak ada yang berani mengeluarkan kata-kata. Mereka takut jika mendapat semburan kemarahan dari Shofia. Mereka hanya duduk diam memperhatikan apa yang akan Jo lakukan untuk menghilangkan kekesalan dari hati Shofia.


Jo membuka pelan bungkus coklat itu. Mematahkan satu potong dan mengarahkannya ke mulut Shofia.


"Ini makan dulu coklatnya."


Shofia masih diam. Tangan Jo masih setia di depan mulut Shofia sambil memegang sepotong coklat.


"Kata orang, coklat bisa meredakan kemarahan lo." bujuknya.


"aku nggak marah kok. Cuma kesal." Jo tersenyum mendengar jawaban Shofia. Hanya kesal saja seperti ini. Bagaimana marahnya? pikir semua temannya.


"Ya sudah. Ini makan dulu coklatnya.Tapi kalau kamu nggak mau biar dibawa Udin deh, biar diberikan Pada Sundari." Shofia masih diam "Nih Din coklat gratis. Berikan.. "


hap... Shofia memakan coklat dari tangan Jo. Dia juga mengambil coklat yang ada di tangan kiri Jo. Jo tersenyum melihat tingkah Shofia.


Setelah Shofia memakan dua potong coklat, dia menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Aku kesal sama seseorang." kata Shofia akhirnya.


"siapa?" tanya Jo.


"Pak Sandy." Jo mengernyit bingung. Dia memang sama sekali tidak mengenal Sandy.


"Sandy itu guru yang selalu ngejar-ngejar Shofia Jo." Elin menjelaskan siapa Sandy pada Jo.


"Kalian tahu. Kita semua dibohongi sama dia."


"Maksudnya?" tanya Edi.


"Ternyata dia sudah punya tunangan."


"Jadi karena itu kamu kesal?" tanya Jo kecewa.


"Bukan karena itu! Nggak mungkin gara-gara itulah. Aku kan nggak ada apa-apa sama dia."


nada bicara Shofia kembali tinggi.


"Terus kenapa kamu sampai sekesal ini Shof?" tanya Elin.


"Huh."Shofia mendengus sebelum bercerita.


"Aku nggak habis fikir sama pola fikir tuh orang. Ada ya yang seperti itu. Udah aku bentak-bentak. Aku Tolak-tolak tetep aja ngeyel. Yang paling bikin aku kesel aku mau dijadiin istri ke dua. Coba kalian bayangin aja. Huh! Sebel! sebel! sebel!" Shofia memukul lengan Jo bertubi-tubi di akhir ceritanya. Jo membiarkan saja tindakan Shofia. Dia tahu Shofia butuh pelampiasan untuk meredakan amarahnya. Jo sedikit meringis karena ulah Shofia. Shofia Memukulnya dengan sekuat tenaga.


"Sudah lega sekarang?" tanya Jo setelah Shofia selesai memukulinya.


"Sudah. hehehe. Maaf ya Jo" Akhirnya Jo dapat imbalan sebuah senyuman manis plus usapan lembut di lengannya yang tadi jadi korban keganasan Shofia.


Semua temannya menghela nafas lega. Syukurlah sekarang sudah ada Jo di sisi Shofia. Jika tidak ada entah bagaimana cara mereka meredakan erupsi gunung berapi yang sudah pada puncaknya siap menyembur kan lava. (Hahaha lebay...)


Kini Shofia sudah tersenyum sembari meneruskan makan coklat setelah membagikan potongan coklat itu pada semua temannya.


"Makan Jo!" mata Shofia memicing mengancam Jo menggunakan matanya. Dia tahu Jo tidak suka coklat.


"Cepat makan Jo A.... hap." Sepotong coklat yang berada di tangan Jo kini berada di mulut Shofia.


"Ih Jo. Itu tadi bagianmu tau"

__ADS_1


"Iya aku tahu. Tapi kau kan juga tahu aku nggak suka coklat. Makanya aku Ikhlaskan bagianku untuk kamu yang suka coklat. Enak kan coklat yang aku suapin?" Jo mengerlingkan matanya.


"Selain enak suapanmu juga ajaib Jo. Tak ada yang bisa meredakan amarah Shofia secepat ini." kata Udin.


"Benar Din. Aku rasa suami shofia nanti akan kerepotan jika Shofia ngambek."


"Tenang Shof. Jika aku sudah jadi suamimu aku akan dengan senang hati meredakan amarahmu itu." kata Jo.


Blush... untuk kesekian kalinya, Jo berhasil membuat semburat merah di pipi putih Shofia.


"Benar Shof. Yang kuat jadi suamimu cuma Jo." kata Edi.


"Aku setuju." kata Elin.


"Ayo Shof kita menikah..." kata Jo dengan nada yang manja.


"Hentikan Jo!"


"Apanya? aku bahkan hanya diam disini."


"Berhenti menggodaku Jo."


"Aku akan berhenti menggodamu jika aku sudah benar-benar memiliki hatimu Shof."


"Aaah Jooo kau sungguh romantis." Elin menyatukan kedua tangannya di depan dada sambil menjatuhkan kepalanya pada dada bidang Edi


Sedangkan Shofia, jangan ditanya lagi kabarnya. Jantungnya sudah seperti menabuh genderang di dalam sana. Hatinya sendiri sudah ingin melarikan diri menemui separuh bagiannya yang sepertinya berada dalam tubuh Jo.


"Aku sungguh-sungguh serius Shof. Aku serius ingin menjadikanmu pengantinku Shof"


"Beri aku sedikit waktu Jo. Aku harus membicarakan semua ini pada keluargaku." perkataan Shofia membuat Jo diam membatu.


"Apa artinya ini Shof?"


"Kamu pasti sudah faham artinya Jo."


Akhirnya pertahanan Shofia luruh. Dia berharap bisa menyandarkan dirinya pada pria di sampingnya ini. Dia yakin jika pria di sampingnya itu mencintainya dengan tulus. Shofia bisa merasakan itu.


Shofia juga yakin jika dia juga telah mencintai Jo kembali. Jo benar-benar membuktikan perkataannya jika dia akan mencuri lagi hati Shofia.

__ADS_1


'Gus Zakaria. Sepertinya aku telah mendapatkan seseorang yang sama sepertimu. Aku akan memperkenalkannya padamu Gus. Namanya Ahmad Jauhar Musthofa. Dia orang yang baik dan perhatian sama sepertimu gus. Dia juga memiliki banyak cinta di hatinya sama sepertimu gus. Semoga pilihanku tepat Gus.


Aku harap aku bisa bahagia bersamanya Gus. Semoga cinta kami membawa kebahagiaan untuk kami. Do'akan aku dari sana Gus. Aku juga akan selalu mendo'akanmu dari sini.'


__ADS_2