
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Pagi hari halaman rumah Shofia sudah ramai di datangi para tamu undangan.
Di dalam kamar, Shofia sudah didandani oleh Jana, ibu dari Rendy yang merupakan seorang perias pengantin yang telah Shofia sewa. Shofia juga sudah menggunakan pakaian adat jawa untuk acara temu temanten.
Ya, hari ini adalah hari walimatul 'ursy yang diadakan di rumah Shofia. Acara itu ditujukan untuk memberi tahu pada masyarakat luas bahwasanya Shofia dan Jo sudah menikah. Agar tidak ada gosip buruk yang beredar di masyarakat.
"Cantik sekali nak." Bunda menemui Shofia yang sudah selesai didandani di kamarnya. Shofia yang memang jarang berdandan membuat semua orang pangling.
"Bunda apa sih." Shofia malu mendengar pujian dari Khusnul. Pipinya yang sudah diberi Perona pipi tambah merona karena malu.
Shofia seperti disulap menjadi seorang putri. Umi yang juga masuk bersama Khusnul menahan haru saat menatap Shofia. Tak terasa air matanya menetes. Beliau teringat akan Zakaria, putranya.
"Mi... " panggilan Shofia menyadarkan Umi. Umi memeluk Shofia dan tersenyum dalam tangis disana.
Umi bahagia walaupun Shofia tidak menjadi menantunya. Namun, beliau yakin jika Shofia akan bahagia bersama Jo.
"Umi senang nak. Akhirnya Umi melihat kamu jadi pengantin." Umi menangkup wajah Shofia. Mencium kedua pipi Shofia. "Umi harap kamu bahagia bersama Har nak." Lanjutnya sebelum mencium kening Shofia lembut.
"Terima kasih Umi."
Kini Shofia berjalan dengan digandeng kedua wanita paruh baya itu. Kedua wanita itu menuntun Shofia untuk duduk di atas pelaminan sebelum dirinya akan dipertemukan dengan Jo.
Acara walimatul ursy ini menggunakan adat jawa dipadukan dengan cara islami. Jadi nanti akan ada beberapa prosesi yang dulu pernah Shofia lihat pada acara pernikahan Rizwan.
Shofia duduk di atas pelaminan dengan ditemani dua orang gadis seusia anak SMP yang juga didandani cantik dengan memakai kebaya yang berwarna merah maroon yang biasa disebut nimas. Selain itu ada dua pemuda dengan usia yang hampir sama juga didandani dengan sesuai dengan dua gadis tadi yang disebut domas. Di sebelah kanan dan kiri kursi Shofia, ada dua gadis kecil seusia anak TK yang didandani dengan kebaya yang senada dengab pakaian yang dipakai domas dan juga nimas yang duduk di kursi kanan dan kiri Shofia. Gadis kecil itu terlihat imut dengan riasan sederhana yang dipakaikan pada keduanya.
__ADS_1
Di depan pelaminan, Rizwan dan Zahra tersenyum ke arah Shofia. Kedua orang itu tentu saja ikut merasa bahagia. Di dekat mereka juga duduk keluarga ndalem. Shofia sangat senang melihat mereka semua. Mereka semua jauh-jauh datang dari tempat mereka untuk menghadiri acara walimatul ursy pernikahan Shofia dan Jo.
Jika bisa Shofia akan turun dari pelaminan dan segera menemui semua orang yang sudah menganggap pernikahannya penting. Tapi itu tidaklah sopan. Masih banyak waktu setelah acara ini untuk menemui mereka.
"Selamat ya Shof. Akhirnya aku bisa melihatmu menikah." kata Rizwan ketika dia menghampiri Shofia di atas pelaminan.
"Terima kasih Riz, neng Zahra. Kalian sudah mau datang jauh-jauh dari Surabaya untuk menghadiri pernikahanku."
"Tentu saja kami akan datang Mbak Shofia. Kami ikut bahagia dengan pernikahan kalian." kata Zahra. Tanpa terduga, Zahra menarik tangan kanan Shofia dan mengarahkannya untuk mengelus perut buncit Zahra.
"Semoga kamu cepat nyusul Shof." kata Rizwan saat melihat kejadian itu.
"Aamiin. Debay sehat-sehat ya di dalam sana. Do'akan Aunty segera kasih kamu adek. Biar bisa bermain bersama kamu."
"Iya Aunty, debay Do'akan Aunty segera punya momongan." kata Zahra dengan suara kecil seperti mewakili anaknya yang masih ada di dalam kandungan.
Kini giliran keluarga ndalem yang naik ke atas pelaminan untuk menemui Shofia. Ziana dan Aisyah bergantian memeluk Shofia. Sedangkan Abah dan Fahmi melihat mereka dari bawah. Sedangkan Yahya tidak ikut karena istrinya sedang hamil muda.
Saat Ziana hendak turun, Shofia mencegahnya. Dia meminta untuk Ziana menemaninya disana. Di atas pelaminan Shofia dan Ziana berbicara dengan suara pelan. Saat ada kabar bahwa rombongan Jo sudah sampai, Shofia gemetar karena gugup. Ziana menggenggam erat tangan Shofia yang tiba-tiba terasa dingin.
"Masak mbak grogi sih. Kan baru tadi pagi nggak ketemu sama mas Har." Ziana meledak Shofia.
"Udah dua hari aku sama Jo dipisahkan Zi." jawab Shofia jujur. Memang sudah dua hari Shofia pulang ke rumahnya. Dia dan Jo juga dilarang saling menghubungi. Awalnya Jo sangat marah dengan keputusan keluarga mereka. Namun karena Shofia yang meminta akhirnya Jo menyanggupi. Selama dua hari itu Jo uring-uringan.
Khusnul dan Mirza menghampiri Shofia di atas pelaminan. Keduanya menuntun Shofia untuk bangun dari duduknya. Ziana kembali duduk ke tempatnya bersama keluarga ndalem.
__ADS_1
Suara hadroh dan juga Sholawat mengiringi langkah Shofia dan Jo yang sama-sama di dampingi oleh kedua orang tua mereka. Shofia berjalan perlahan karena dia memakai jarit khas pengantin.
Dari jauh Jo sudah terlihat. Dia kelihatan sangat tampan dengan baju pengantin lengkap dengan blangkon dan terlihat gagah dengan keris yang di selipkan di pinggang belakangnya. Kalung bunga melati juga terjuntai menghiasi lehernya.
Suara hadroh dan Sholawat berhenti Saat kedua pengantin sudah berhadapan, domas dan nimas segera menukarkan gagar mayang yang dari tadi mereka bawa. Setelah itu gagar mayang yang dibawa domas segera di bawa ke depan rumah SHofia dan melemparkan keduanya ke atas atap rumah.
Shofia dan Jo melakukan ritual temu pengantin yang dipandu oleh Jana. Setelah ritual selesai, Jo dan Shofia dituntun menuju pelaminan menggunakan satu selendang yang ditarik oleh Mirza.
Sesampainya di pelaminan, kedua pengantin didudukkan di kursi, setelah itu ritual panjang pun dimulai lagi. Mulai dari duduk di pangkuan Mirza, sungkeman, kemudian penyerahan beras kuning dan Saling menyuapi. Jo dan Shofia mengikuti semua arahan yang diberikan oleh perias pengantin itu dengan kaku karena gugup, tapi mereka tetap tersenyum bahagia. Mereka berdua tahu bahwa banyak makna yang terkandung dalam setiap ritual itu.
Tradisi nenek moyang yang unik bukan hanya sekedar budaya, banyak makna yang terkandung di dalamnya. Terlebih lagi maksud yang menyertai ritual itu adalah sebuah do'a yang akan menguatkan ikatan pernikahan serta pesan-pesan indah yang menguatkan pernikahan.
Setelah beberapa ritual yang dilakukan kedua pengantin, acara walimatul ursy pun dimulai dengan cara islami. Ada pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an, penyerahan pengantin putra, penerimaan pengantin putra, juga ada Mauidhoh hasanah yang disampaikan oleh Abah.
Dalam Mauidhohnya, Abah memberi petuah-petuah kepada kedua pengantin agar dalam mengarungi biduk rumah tangga selalu di ridloi oleh Allah SWT. Beliau juga memberikan Do'a-do'a terbaik untuk kedua mempelai yang sudah beliau anggap sebagai anaknya. Bahkan Abah sempat menangis haru saat menyatakan rasa bahagianya atas penyatuan Shofia dan Jo.
Hari ini Jo dan Shofia sangat bahagia karena mendapat banyak sekali do'a dari orang-orang yang datang serta orang-orang yang menyayangi mereka. Kebahagiaan Shofia dan Jo juga merupakan kebahagiaan bagi keliarga besar keduanya.
*
*
*
Terima kasih sudah meluangkan waktu membaca karya Author 😁
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak 🐾 okeh?!😘
Maaf banyak Typo bertebaran 🙏