
🍁Jika namamu disebut, kenangan indah menari-nari di fikiranku. Akankah terulang kembali? Atau hanya kakan menjadi kenangan manisku? 🍁
Sudut mata Shofia mengeluarkan setitik air mata. Fikirannya melayang-layang mengingat kenangan beberapa tahun yang lalu. Pekataan Zakia begitu mempengaruhi moodnya.
"Lagu Rindu" Kerispatih
Bintang malam katakan padanya
Aku ingin melukis sinarmu di hatinya
Embun pagi katakan padanya
Biar kudekap erat waktu dingin membelenggunya
Bintang malam sampaikan padanya
Aku ingin melukis sinarmu di hatinya
Embun pagi sampaikan padanya
Biar kudekap erat waktu dingin membelenggunya
Reff#
Tahukah engkau wahai langit
Aku ingin bertemu membelai wajahnya
__ADS_1
Kan kupasang hiasan angkasa yang terindah
Hanya untuk dirinya
Lagu rindu ini kuciptakan
Hanya untuk bidadari hatiku tercinta
Walau hanya ada sementara
Izinkan kuungkap segenap rasa dan kerinduan
Back to reff#
Shofia merasa ada yang aneh. Ya dia mendengar suara gitar yang telah mengiringinya. Lagi! Dan dia bari sadar setelah dia selesai menyanyikan lagunya.
Shofia terkesiap begitu menyadari ada sepasang mata yang juga melihat ke arahnya. Tatapan mereka sama-sama terkunci. Beberapa saat keduanya saling berpandangan dengan sejuta tanya di mata keduanya.
"Shof!" teriak Salwa menyadarkan Shofia dan segera memutus tatapan keduanya. Shofia gelagapan saking gugupnya. Dia segera menatap temannya yang berjalan mendekat ke arahnya.
"Ngapain kamu di sini Shof" tanya Salwa ketika berada di hadapan sahabatnya itu.
"Nunggu Zakia. Dia ke toilet." jawab Shofia sambil menunjuk ke arah toilet.
"Shof mata kamu kenapa berair?" tanya Salwa setelah menyadari ada setitik air mata di sudut mata Shofia.
"Kelilipan tadi." Jawabnya asal. Tapu wajahnya tidak bisa bohong. Wajah sendu dengan binar kerinduan terpancar di kedua matanya.
__ADS_1
"Shof maafin aku ya kalau aku tadi keterlaluan." Salwa sadar jika Shofia menangis dan mungkin sebabnya adalah karena dia menanyakan tentang masa lalu temannya itu.
"It's OK Sal. This is my Sweet memory. So, maybe I look so deep. What the hell!! Shit!!! Why cry? My God, help me please! Loosing my feel now! " racaunya mulai terisak. bahkan dia tidak sadar beberapa kali dia mengumpat.
Salwa melongo dibuatnya. Dia memang tidak begitu mengerti apa yang dibicarakan Shofia. Tapi Shofia bicara menggunakan bahasa inggris adalah hal baru yang dia tidak menyangka.
"Emm maaf Sal. Aku terbawa suasana." Shofia segera menetralkan dirinya. Dia tidak boleh kelihatan lemah di depan sahabatnya.
"Huft! Sekali lagi maaf." lanjutnya samvil memegang lengan Salwa.
"Shof kamu bisa bicara sama aku tentang apapun. Biar kamu lega." Salwa meyakinkan.
"Tidak Sal. Semua hanya masa lalu. Dan sudah berlalu. Biarkanlah tetap menjadi rahasiaku. Yang pasti sekarang akau akan melukis kenangan indah yang baru. Bisakan kamu ikut membantuku?" kata Shofia menoleh pada Salwa.
"Tentu saja!" mereka berbelukan. Shofia begitu kaget melihat gus Zakaria tersenyum ke arahnya di balik jendela itu. Bagaimana bisa dia melupakan keberadaan dari gusnya itu tadi. Dan Bisa-bisanya dia sampai kelepasan mngoceh hal seperti itu. Sungguh memalukan. Wajahnya memerah dan segera melepaskan pelukaanya pada Salwa dan menundukkan kepalanya.
"Eum Sal aku bisa minta tolong tungguin Zakia disini? Lama banget daritadi belum keluar. Aku juga mau ke toilet." Dia ingin segera pergi dari sana.
Dia tidak bisa menahan malunya jika masih berada disana. Setelah disanggupi Salwa dia segera pergi dan masuk ke pondok putri. Dia ingin segera mengambil air wudlu untuk menetralkan hatinya.
Kerinduan, kesedihan, kaget dan juga malu kini bercampur di kepalanya. dia harus segera menghilangkannya.
****
"Aku juga bersedia membantumu melukis cerita indahmu Shof." Kata Zakaria sambil tersenyum.
Sejak pertama dia mendengar suara Shofia dia begitu terkesan dan penasaran. Apalagi setelah tadi mendengar suaranya bahkan ocehannya sungguh membuatnya semakin penasaran.
__ADS_1