
πΈπΈπΈπΈ
Pagi ini Shofia dan Nur sedang keluar pondok. Mereka sedang membeli buku pelajaran serta berbelanja kebutuhan selama di pondok.
Setelah mendapatkan yang dicari, mereka memutuskan untuk Sholat Dhuhur di masjid Al-Ikhlas. Shofia menunggu Nur di teras karena dia sedang berhalangan.
"Hai Shof. Sendirian saja." suara itu mengagetkan Shofia yang sedang membaca buku yang tadi dibelinya.
"Assalaamu'alaikum gus." sapa Shofia saat mengetahui yang menyapanya adalah Gus Zakaria.
"Wa'alaikum salam Shofia. Sepertinya Kita benar-benar jodoh Shof. Sejauh ini kamu pergi dan kita bertemu disini." kata Zakaria.
"Ini hanya kebetulan Gus."
"Tidak ada yang kebetulan di dunia ini Shof. Semua sudah ditakdirkan oleh Allah. Dan sekarang kita ditakdirkan bertemu disini."
"Iya Gus."
"Yes! Berarti kamu mengakui kalau kita ini jodoh." kata Zakaria sambil mengepalkan tangannya ke udara.
"Maaf Gus. bukan itu maksud saya."
"Jadi kamu nggak mau kalau berjodoh denganku?"
"Bukan seperti itu Gus."
"Lalu?"
"Jika memang sudah ditakdirkan oleh Allah, kita tidak bisa menolak."
"Dan aku tidak akan pernah menolak. Aku sangat senang bisa berjodoh denganmu."
"Gus bahkan usia kita saja masih belasan sudah ngomongin jodoh segala." Shofia cemberut. Zakaria semakin semangat menggoda Shofia. Dia terus berbicara masalah jodoh.
"Sudahlah Gus. Kenapa sih suka sekali membuat saya kesal."
"Kan aku sudah bilang kalau kamu cemberut itu semakin menggemaskan."
__ADS_1
"Sudah cukup. Permisi." Shofia segera membereskan barang-barangnya. Zakaria tersenyum melihat tingkah Shofia yang menurutnya sangat lucu. Beberapa kali barangnya jatuh karena saking banyaknya barang dia kesulitan membawanya.
"Kalau kamu kesulitan seharusnya bilang sama aku. Aku akan dengan senang hati membantumu." Zakaria berusaha meraih nelanjaan Shofia.
"Jangan!" tangan Shofia reflek memukul pelan tangan Zakaria. "Maaf-maaf Gus. Tidak sengaja."lanjutnya menyadari perlakuannya.
"Aku maafin dengan satu syarat." Shofia memicingkan matanya.
'padahal pukulannya tidak sakit sama sekali. Aku hanya suka menggodanya saja.' Batin Zakaria
"Syaratnya apa?"
"Syaratnya kamu mau aku anterin kembali ke pondok."
"Tidak, terima kasih."
"Ya sudah aku tidak akan memaafkanmu"
"Aku tahu gus pukulanku tadi tidaklah sakit."
"Memang tidak sakit. Tapi aku sedikit sakit hati karena dipukul seorang perempuan."
"Sudahlah tidak apa-apa. Asal kamu mau aku antar."
"Tidak!"
"Antar!"
"Tidak!"
"Antar!"
"Menyebalkan." Zakaria tersenyum karena berhasil menggoda Shofia. Kini Shofia menyerah. Dia kembali duduk diam sambil mendengarkan orang di sebelahnya terus bicara. Wajahnya ditekuk. Bibirnya cemberut. Membuat Zakaria terus mengembangkan senyumnya.
Tak lama Nur datang. Dia sangat heran mengetahui ada seorang laki-laki yang duduk tak jauh dari sahabatnya dan melihat keduanya seperti sedang berdebat.
Saat Nur mendekat dia begitu kaget mengetahui siapa yang duduk bersama sahabatnya itu. Dia tersenyum mendengar perdebatan antara Zakaria dan shofia.
__ADS_1
"Ayolah Shof. Kali ini aku antar."
"Gus. Aku kesini tidak sendirian."
"Ya sudah aku antar kalian."
"Tidak perlu. Aku tidak mau merepotkan"
"Tidak merepotkan sama sekali. Aku akan mengantarmu dan temanmu."
"Nanti dia mengira kita yang macam-macam"
"Biarkan saja. Cuma satu macam saja kok. Nganterin kamu."
"Ish Gus! Kenapa sih kamu selalu menyebalkan!"
"Ehem" deheman Nur membuat Zakaria menghentikan aksinya. Shofia gugup seperti tertangkap basah.
"Assalaamu'alaikum Gus." sapa Nur.
"Wa'alaikum salam."
"Ayo kita pulang Nur." ajak Shofia segera membereskan barang-barangnya.
"Mbak bolehkah saya antar?"
"Tidak terima kasih" jawab Shofia ketus.
"Boleh Gus." jawab Nur.
"Nur kita bisa pulang sendiri kan." tolak Shofia
"Kenapa pulang sendiri. Gus Zakaria sudah menawarkan kita tumpangan."
Dan disinilah Shofia sekarang. Duduk manis di belakang kursi kemudi. Zakaria tersenyum dibalik kemudi sambil melirik dari spion.
Nur mengamati wajah sahabatnya yang duduk di sebelahnya. Dia kelihatan kesal sekali. Sangat berbeda dengan sebelum dia meninggalkannya untuk Sholat tadi.
__ADS_1
Nur kemudian mengamati Zakaria yang terlihat tersenyum. Kini dia menyadari ada sesuatu diantara keduanya.