
Halaman rumah belakang Shofia terlihat sangat terang. Juga ramai. Hari ini Shofia menepati janjinya pada anak didiknya untuk memberikan hadiah jika hasil yang diperoleh siswanya memuaskan. Dan ternyata metodenya berhasil.
Hasil dari mereka semua sangat memuaskan. Bahkan membuat para guru heran. Semester lalu nilai mereka semua mengerikan. Semua anak kena remedial. San walaupun sudah diremidi nilainya tetap tidak berubah.
Shofia seperti membuat trik sulap yang mengagumkan karena telah berhasil merubah sesuatu yang sepertinya tidak mungkin. Shofia memperoleh apresiasi dari sesama rekan guru bahkan kepala sekolah. Wali murid juga banyak yang menyampaikan terima kasih. Bahkan tak sedikit yang sampai mengirim hadiah.
Shofia mengadakan pesta barbeque di halaman belakang rumahnya malam itu. Acara yang mengikut sertakan para siswa itupun sudah mendapat izin dari pihak sekolah maupun walimurid.
Elin, Edi, Udin, Kalia beserta suami juga hadir malam itu. Rizwan juga turut diundang dan datang jauh-jauh dari Surabaya untuk menghadiri undangan temannya. Tak ketinggalan rekan guru yang ingin ikut juga diperbolehkan.
Sandy, Edi, Rizwan dan Suami Kalia menjadi juru masak malam itu. Mereka bertugas memanggang sate, sosis, daging dan Jug jagung untuk makanan mereka malam itu.
Sedangkan para wanita sibuk mempersiapkan bumbu untuk bahan yang akan dibakar. Dan para pangeran dan putri pada malam ini adalah para Siswa-siswi Shofia. Para remaja itu hanya melihat apa yang dilakukan oleh orang dewasa yang berada di depan mereka.
"Riz itu dibalik. Jangan biarkan gosong." kata Shofia.
"Iya-iya bawel." kata Rizwan membuat Shofia mengerucutkan bibirnya.
"Jangan seperti itu! Minta dicium siapa hah?! Apa aku minta... hap"
"Riz! Jangan bicara sembarangan! Banyak anak di bawah umur disini." kata Shofia sambil menutup mulut Rizwan dengan tangannya.
"Oke-oke! Tapi jangan bawel. Tidak ada yang tahan bawelanmu selain... hap" lagi-lagi tangan Shofia mendarat di bibir Rizwan.
"Ck. Shof kali benar-benar minta dihajar ya! Awas kau!" Shofia segera berlari menjauhi Rizwan yang mengejarnya. Mereka jadi tontonan semua orang yang ada disana malam itu. Mereka tertawa melihat keduanya. Tapi tidak dengan Sandy, daritadi dia mencoba bersikap tenang. Padahal hatinya bergemuruh.
"Sudah Riz. Aku capek. Hosh hosh hosh." Shofia berhenti sambil merunduk dan memegang perutnya yang kram.
"Oke! Aku Maafin kamu kali ini. Tapi kalau lagi-lagi kau begitu awas saja kau!"
__ADS_1
"Apa?! Dasar sahabat tidak tahu terima kasih. Sudah kuundang kesini malah membuatku capek."
Rizwan segera menghampiri Shofia. Memberikan sebotol air mineral yang tadi dia ambil.
"Nih minum. Jangan sampai sakit. Tidak ada yang mau merawat gadis cerewet sepertimu" Dia ingat bagaimana dulu dia yang repot saat gadis itu sakit. Dia yang ditugaskan oleh Zakaria mencari ini itu untuk menuruti keinginan sahabat serta calon istri sahabatnya itu.
"Terima kasih Riz. Tenang saja. Sekarang aku sudah kuat. Ayo cepat bakar jagungnya. Jagung itu tidak akan matang dengan sendirinya." kata Shofia sambil menepuk bahu Rizwan.
"Aku tahu Shof. Kau gadis terkuat yang pernah ada." Rizwan tersenyum tulus. Dialah orang yang paling mengerti tentang kisah pilu Shofia.
Semua orang yang berada disana melihat mereka sebagai pasangan yang romantis. Mereka tidak tahu bahwa keduanya murni berhubungan sebagai sahabat. Bahkan mereka ada yang berdoa jika Rizwan lah yang dapat membahagiakan Shofia nantinya.
Setelah semua bahan selesai dibakar. Mereka makan bersama. Duduk di tikar yang di gelar di halaman belakang yang cukup luas. makanan Sudah dibagi-bagi menjadi beberapa bagian agar memudahkan mengambil.
Setelah makanan habis, para siswa diizinkan pulang. Tapi para orang dewasa disana masih melanjutkan pestanya. Mereka membuat kelompok kecil untuk melakukan beberapa permainan.
Semakin lama mereka sudah semakin akrab. Teman-teman Shofia berkumpul disini. Yang awalnya tidak kenal sekarang jadi akrab. mereka bermain tebak kata. Shofia berpasangan dengan Rizwan. Sandy dengan bu Inun, Kalia dengan suaminya, Elin dengan Edi, sedangkan Udin dengan bu Indah. Sedangkan yang menjadi juri adalah Bu Ema.
Bu Ema membisikkan kata kunci pada Rizwan. Rizwan memberi clue dan shofia bertugas menebaknya.
Kata pertama: makan
Rizwan : yang kau lakukan saat galau
Shofia : makan
kata kedua : botol
Rizwan : yang kuberikan tadi padamu
__ADS_1
Shofia : air
Rizwan : tempat nya
Shofia : botol
kata ketiga : cinta
Rizwan : yang kau rasakan pada Zakaria
Shofia terdiam.
Shofia : ganti pertanyaan Riz
Rizwan : Baiklah. Maafkan aku Shof. Aku tidak bermaksud.
Shofia : Tidak apa-apa Riz. Aku baperan. Ayo kita lanjutkan.
Akhirnya permainan dilanjutkan. Dan pemenang dari lomba itu adalah Elin dan Edi. Sedangkan pihak yang kalah dan menerima hukuman adalah Udiin dan dan Indah. Merekaa harus rela wajah mereka dicoret menggunakan spidol.
"Bagaimana kalau kita main TOD?" Usul Kalia dan disepakati oleh semuanya. Mereka duduk melingkar di tikar itu dengan sebuah botol kosong di tengahnya.
"Karena aku yang menang. Akulah yang akan memutar pertama kali." kata Elin sambil memutar botol itu. Botol berputar dan berhenti menunjuk Inun.
"Shof. Aku serahkan padamu untuk bertanya." Elin belum begitu mengenal Inun. Jadi dia tidak tahu apa yang akan ditanyakan.
"Ah Bu Inun. Mau True apa Dare?"
"True aja deh"
__ADS_1
"Baiklah. Apa Bu Inun sudah punya kekasih?"