
"Mbak beneran mau pulang siang ini?" tanya Ziana saat melihat Shofia membereskan bajunya.
"Iya Zi. Aku sudah janji sama Rizwan untuk datang lebih awal."
"Jadi beneran mbak mau dikenalkan pada maa Har?"
"Aku juga tak tahu sama siapa. Rizwan cuma bilang mau dikenalkan sama temannya. Kamu jadi ikut nggak?"
"Emang boleh?"
"Tentu saja. Bukankah Abah Umi dan lainnya juga akan hadir pada pernikahan Rizwan?"
"Abah sama Umi sudah tidak bisa mbak kalau perjalanan jauh. Mas Fahmi, mbak Aisyah, mas Yahya sama mbak Intan yang hadir."
"Ya sudah. Kalau kamu mau kamu bisa bareng. Kalau nggak mau ya sudah."
"Aku izin Abah dulu ya mbak."
"Heem." Ziana langsung pergi menemui Abah untuk minta izin.
Ziana sangat ingin jika Shofia bisa menikah dengan Har. Dia tahu bagaimana kisah cinta antara Shofia dan kakaknya. Dia tahu jika Shofia masih mencintai sang kakak. Tapi dia berharap jika Shofia bisa mendapatkan jodoh laki-laki yang baik. Seperti mas Har misalnya.
Abah mengizinkan Ziana pergi bersama Shofia. Bagaimana pun juga, gadis itu sudah seperti anaknya sendiri. Abah juga ingin Shofia bahagia.
****
"Beneran mau kembali sekarang nak?" Kata Umi saat Shofia pamit.
"Bukan kembali Umi. Tapi Shofia berangkat ke tempatnya Rizwan dulu."
"Iya. Umi Do'akan supaya urusannya lancar. Umi harap kamu jodoh sama Har."
"Aamiin. Ya sudah Umi. Shofia dan Ziana berangkat dulu."
"Iya nak. Hati-hati di jalan. Kalau capek istirahat dulu. Perjalanannya jauh. Jangan dipaksakan."
"Iya Umi. Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam. Jangan bandel Ziana."
"Iya Umi. Anak Gadis Umi ini sudah dewasa. Bukan anak-anak yang bandel." Ziana cemberut. Nasib sebagai anak bungsu ya gitu. Selalu dianggap anak kecil.
__ADS_1
Umi seperti melepas kedua anak gadisnya. Setelah kepergian mereka Umi mulai terisak. Di depan Shofia dia selalu pura-pura kuat. Kenyataannya adalah jika dia bersama Shofia dia selalu ingat Zakaria. Jika Zakaria sudah menikah dengan Shofia, pasti gadis cantik itu telah menjadi menantunya.
Sejak pertama bertemu dengan Shofia, Umi sudah senang dan cocok dengan Shofia. Jauh sebelum hubungan Kedua anak itu terjalin, Umi sudah memasukkan Shofia pafa daftar calon menantu idamannya.
"Umi. Jangan bersedih terus." kata Intan. Istri Yahya. Dia memang tidak begitu faham awal kisah Zakaria dan Shofia. Tapi cerita tentang pernikahan dan kematian Zakaria dia tahu. Dia juga sedih mengingat kejadian itu.
"Umi sedih setiap memikirkan kehidupan Shofia. Jika Umi melihatnya. Rasanya Umi selalu ingin menangis. Kasian sekali dia."
"Kita Do'akan saja semoga Shofia segera mendapatkan sosok pengganti Zakaria dan hidup bahagia." kata Aisyah.
"Kalian benar. Kita harus mendoakan Shofia. Dia gadis yang baik."
***
Shofia sampai di tempat Rizwan pada malam hari. Rizwan dan keluarganya menyewa penginapan karena tidak ada kerabat di sana. Dan kalau berangkat dari rumah terlalu jauh.
Rizwan sudah menyambutnya di depan penginapan. Dia sudah berdiri sambil tersenyum lebar menyambut temannya. Dia senang karena akhirnya Shofia mau dikenalkan dengan temannya.
"Assalaamu'alaikum calon manten... " kata Shofia setelah turun dari mobil.
"Wa'alaikum salam Warohmatullah. Kamu tidak tahu betapa senangnya aku saat ini." Shofia mengernyit heran. Ada apa sampai Rizwan sebahagia itu. terlibat jelas jika sahabatnya itu memang benar-benar sedang bahagia .Rizwan sangat senang karena akhirnya Shofia mau berkenalan dengan temannya.
"Apa yang membuat mas Rizwan bahagia?" tanya Ziana yang baru saja turun membuat Rizwan kaget. Karena terlalu fokus pada Shofia dia tidak mengetahui jika Ziana ada di dalam mobil Shofia.
"Kan aku sudah bilang mau ke pondok Riz sebelum ke sini."
"Tunggu-tunggu Har juga ada di sana beberapa hari yang lalu. Kamu sudah ketemu Har Shof?"
"Belum"
"Jadi benar mas Rizwan mau mengenalkan mbak Shofia sama mas Har?"
"Iya."
"Mas Har pulang sebelum ketemu mbak Shofia mas. Waktu mbak datang mas Har masih di pondok. Tapi sebelum ketemu sudah pergi dia."
"Ck. Sayang sekali. Padahal sudah sangat dekat. Tapi tak apa. Masih ada kesempatan lain kali."
"Masih ada kamar kosong nggak Riz? Aku capek."
"Ada. Ayo masuk."
__ADS_1
Shofia dan Ziana segera mengikuti Rizwan. Keluarga Rizwan sudah berada di kamar masing-masing. Jadi mereka memutuskan untuk menyapa mereka besok.
Setelah merebahkan tubuhnya Ziana sudah tertidur pulas. Dia tidak pernah bepergian sejauh itu sebelum ini. Apalagi Shofia hanya berhenti saat Mereka melakukan kewajiban Sholat mereka.
Berbeda dengan Shofia, dia tidak bisa tidur. Dia tidak biasa tidur sebelum lewat tengah malam. Shofia kemudian bangun dan keluar kamar.
Shofia duduk di kursi di teras penginapan. Memandang jalanan yang masih ramai, padahal jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Kebiasaanmu bergadang masih sama saja Shof." suara Rizwan mengagetkan Shofia.
Shofia hanya menoleh sebentar tanpa menjawab pertanyaan Rizwan. Dia melanjutkan kegiataanya memandang jalanan.
"Anak gadis nggak baik jam segini belum tidur."
Reaksi dari Shofia membuat Rizwan jengkel. Lagi-lagi Shofia tidak mau menjawab perkataanya. Hanya seulas senyum yang diberikan sebagai respon.
"Apa yang sedang ada di pikiranmu?" Rizwan kini sadar jika Shofia seperti itu berarti ada hal yang sedang dipikirkan secara serius oleh sahabatnya itu. Lagi-lagi Shofia hanya tersenyum. Rizwan benar-benar seperti bicara pada patung.
"Kalau kamu punya hal yang mengganggu fikiranmu, kamu bisa bicara padaku Shof. Aku masih sahabatmu kan?" Rizwan kini sudah duduk di kursi sebelah Shofia.
"Aku bingung dengan hidupku Riz." Rizwan mengernyit bingung.
"Kenapa bingung?"
"Kadang aku merasa sendiri. Padahal aku di kelilingi orang-orang yang sayang padaku. Tapi Entahlah... aku seperti dalam kesendirian yang nggak ketulungan."
"Karena hatimu kosong Shof. Tidak ada yang bisa membuat hatimu tenang."
"Aku merasa aku sudah tenang Riz. Apalagi yang kurang. Aku punya banyak teman, keluarga yang selalu ada."
"Tapi mereka punya kehidupan sendiri yang tidak bisa mereka bagi denganmu."
"Maksudnya?"
"Walaupun keluargamu sendiri, tidak akan bisa berbagi kehidupan denganmu. Misalnya ayah dan bundamu. Ada saatnya mereka menemanimu. Tapi ada kalanya mereka meninggalkanmu. Ke kamar misalnya. Tidak mungkin kan mereka mengajakmu. Zakia juga seperti itu. Setelah mereka masuk dalam dunia mereka, mereka meninggalkanmu."
"Aku masih belum mengerti hubungannya dengan perasaanku Riz."
"Ck. Kau ini begitu tidak peka pada hatimu sendiri."
"Kau ini selalu mengejekku Riz!"
__ADS_1
"Dengarkan aku Shof. Orang yang kau sayangi itu tidak sama dengan orang yang kau cintai. Orang yang kau cintai akan ada di hatimu meski dia tidak ada di dekatmu. Tapi orang yang kau sayang hanya akan ada di sekitarmu. Bukan di hatimu. Makanya kau selalu merasa kesepian. Paham sekarang?"