
Mobil yang dikendarai Jo akhirnya tiba di halaman rumah orang tua Jo. Shofia mengamati rumah itu dari luar. Sepertinya semua masih sama, kecuali pagarnya. Dulu rumah itu tak dilengapi pagar seperti sekarang sehingga semua bebas masuk ke halaman rumah.
Shofia melihat sebuah gazebo yang berada di samping rumah. Tempat dimana dulu dia dan teman-temannya berkumpul ketika mereka berkunjung ke rumah Jo. Tempat itu masih sama seperti dulu.
"Aku sengaja meminta agar gazebo tidak dirubah Sayang. Disana banyak kenangan kita dan teman-teman." Jo menyadari Shofia memperhatikan tempat itu. "Ayo masuk." Jo menggandeng tangan Shofia menuju pintu.
"Woy! Mas Jo!" sebuah teriakan cempreng menghentikan langkah keduanya. Keduanya menoleh ke arah suara.
"Masya Allah... ternyata benar ini Shofia ya? Bude kira Jo main-main saat bilang dia mau menikah denganmu." teriak Yana dari luar pagar rumah Jo. Rumah Yana sendiri tepat di sebelah rumah Jo.
Shofia tersenyum mendengar ocehan tetangga Jo itu. Ya. Bude Yana yang tadi diceritakan Jo. Sudah muncul saja sekarang.
"Yana. Biarkan menantuku masuk dulu." kata bu Hariza, ibunya Jo dari depan pintu.
"Baiklah Har. Jangan lupa itu menantuku juga."
"Enak saja! Cari menantumu sendiri! Ayo nak masuk. Jangan Dengerin Bude Yana." Hariza segera meraih tangan Shofia dan menariknya ke dalam rumah.
Begitulah dari dulu. Hariza dan Yana selalu saja meributkan hal-hal kecil. Tapi aslinya mereka akrab. Tapi begitulah cara mereka berinteraksi, saling berteriak.
"Sini sayang. Ibu sudah kangen sama kamu." Hariza mendudukkan menantunya di sofa ruang tamu.
"Ibu nggak nyangka kamu sekarang sudah jadi mantu ibu. Sejak dulu ibu berharap kamu jadi istrinya Jo. Tapi kalau lihat Jo waktu itu, ibu nggak bisa berharap lebih"
"Memangnya kenapa bu?"
"Tentu saja karena dia ini berandalan. Kamu juga pasti lebih tahu gimana berandalannya anak ibu ini."
"Kenapa ibu membuka aibku?"
"Sedari dulu dia sudah tahu kelakuanmu. Kau ini sering membuat guru-gurumu pusing. "
"Ibu tidak tahu saja, dulu itu dia juga sama kayak aku."
"Sama apanya? Shofia begitu manis sejak dulu. Sedangkan kau kerjaanmu menyusahkan orang."
"Ibu lupa siapa yang punya julukan Queen of the jail? Dia bu!" Jo menunjuk Shofia, sedangkan kedua wanita itu terus menahan tawanya melihat Jo kesal.
"Dia ini otak semua kejahilanku. Aku bisa apa kalau my queen ingin aku melakukan sesuatu?" Jo bersedekap. Mencoba membela dirinya sendiri di depan ibunya.
"Alasan saja!"
"Sayang...jangan diam saja dong." Jo melangkah mendekati Shofia
"Mau apa kamu?" Hariza memukul lengan Jo keras.
"aduh bu! Jangan memukulku. Kenapa sih perempuan suka sekali memukul?" Jo mengusap lengannya yang dipukul ibunya. Lengannya berdenyut. Hariza tidak main-main memukul lengan anaknya.
"Halah! Lempeng kamu. Dipukul dikit aja ngeluh."
"Sayang... bantuin suamimu ini." Jo memelas meminta pembelaan dari Shofia. Namun Shofia hanya tersenyum.
__ADS_1
'Benar kata Jo. Tidak ada yang berubah disini. Ibu juga masih sama seoerti dulu'
"Hei! Dia istrimu kalau berada di dalam kamar. Kalau di luar kamar dia jadi mantuku."
"Sayang ke kamar yuk."
"Pergi sendiri sana! Sudah kubilang dia ini menantuku Jo." Hariza benar-benar tidak memberikan kesempatan untuk Shofia bicara.
"Dia ini menantu ibu karena menjadi istriku bu."
"Sudah sana! Ibu masih kangen sama Shofia."
Hariza menarik wajah Shofia agar memandangnya. Jo terlihat kesal. Dia mengepalkan tangannya memukul udara sebelum meninggalkan kedua wanita yang dicintainya.
Setelah kepergian Jo, Hariza dan Shofia tertawa puas. Mereka selalu kompak dalam hal menggoda Jo. Dari dulu mereka sudah akrab.
Setelah puas tertawa mereka berdua melakukan Tos. Mereka tertawa kembali. Mengingat bagaimana dulu mereka sering menggoda Jo.
"Dia sudah dewasa. Tapi kelakuannya masih sama seperti anak kecil Shof." Hariza mengusap punggung tangan Shofia pelan.
"Dulu ibu kaget waktu dia minta mondok. Waktu itu ibu menanyakan alasannya. Tapi dia hanya mendesah sambil menyebut namamu."
"Benarkah bu?"
"Benar. Ibu tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Hanya namamu yang disebut waktu itu."
"Maafkan Shofia bu." Shofia merasa bersalah.
"Aku tidak menyangka jika karena aku Jo pergi."
"Dia pergi karena keinginannya nak. Dia ingin berubah. Dia ingin menjadi seperti yang kamu inginkan."
"Aku tidak menyangka jika Jo pergi ke pondok bu."
"Bukan hanya kamu yang tidak menyangka nak. Semua orang juga heran sekaligus takjub. Mereka selalu bertanya apa yang menyebabkan Jo tobat."
"Terus ibu jawab apa?"
"Ibu jawab saja alasannya karena Jo ingin membawakan ibu menantu yang paling baik." Shofia menghangat. Dia merasa sangat diterima oleh ibu mertuanya. Sepertinya dia akan mempunyai mertua rasa teman sekarang.
"Dan sekarang ucapan ibu terbukti. Jo membawakan menantu paling baik untuk ibu. Dari dulu ibu sudah bercita-cita jika kamulah yang akan menjadi menantuku. Pasti kita akan bersenang-senang bersama."
"Ya bu. Kita akan bersenang-senang. Sekarang Shofia sudah bisa memasak loh."
"Benarkah? Ibu jadi penasaran. Dulu saja hanya gara-gara menggoreng telur dapurku seperti dibuat perang oleh kalian."
Shofia menggaruk tengkuknya.
Flash Back on....
Dia ingat Apa yang pernah ia dan Jo lakukan di dapur rumah itu. Waktu itu Shofia mampir ke rumah Jo karena dia lapar. Sedangkan uangnya habis untuk membeli tepung untuk dibuat "bermain" dengan gurunya.
__ADS_1
Saat tiba di rumah Jo. Todak ada orang di rumah. Makanan pun tidak ada. Keduanya berniat menggoreng telur yang mereka anggap paling mudah. Tapi yang terjadi malah membuat dapur berantakan.
Cipratan minyak bertebaran dimana-mana. Belum lagi pecahan telur di lantai. Beberapa telur juga digoreng beserta kulitnya. Banyak wadah berantakan di lantai dan juga di meja.
Jo menggunakan Nampan untuk menghindari tubuhnya dari cipratan minyak. Begitu juga dengan Shofia. Keduanya segera berlari menjauh setelah memasukkan telur ke dalam penggorengan Belum lagi suara ledakan-ledakan kecil yang berasal dari telur yang mereka goreng.
Saat Hariza pulang. Dia kaget mendengar suara gaduh dari dapur rumahnya. Saat di datangi, matanya hampir melompat melihat keadaan dapurnya yang seperti kapal pecah.
Dan yang membuat jengkel adalah kedua anak pembuat onar itu hanya tersenyum ketika dimarahi oleh Hariza.
"Ya sudah bu. Tinggal ibu bersihkan. Aku sama Shofia mau makan." kata Jo sambil membawa satu piring nasi.
"Maaf bu. Habisnya Shofia lapar. Tapi ibu belum masak. Kan Shofia belum bisa masak. Jadi belajar dulu. hehehe." Shofia nyengir kuda di depan Hariza yang berkacak pinggang di pintu dapur.
Kemudian Shofia melewati tubuh Hariza mengikuti Jo ke arah gazebo di luar rumah dengan membawa dua buah telur goreng yang berhasil mereka goreng dengan keadaan yang paling baim diantara belasan telur yang gagal.
Flash Back of....
"Ibu masih ingat saja."
"Tentu saja. Itu moment dimana ibu mengutukmu untuk menjadi menantuku."
"Hah? Mengutukku?"
"Tentu saja. Enak saja membuat dapurku seperti medan perang. Makanya aku kutuk biar menjadi menantuku dan akan selalu membersihkan dapur yang dulu kau buat perang bareng Jo."
"Ibu Ada-ada saja."
πΌπΌπΌπΌ
Shofia : Thor! Kenapa mesti ada acara dikutuk segala sih? π€
Author : Bersyukur aja dikutuk menjadi menantunya, daripada jadi batu? Kamu mau? π
Shofia : Enak aja jadi batu! Emang aku Malin Kundang apa?π€ͺ
Jo : Bukan sayang. Kamu kan istri aku yang paling cantik... EMMUACH. π
Author : Aish! Kalau udah berduaan begitu, lebih baik aku pergi aja daripada jadi obat nyamuk. π
Jo : Bukan obat nyamuk Thor! Tapi se...π» kau tahu sendirilah... π
Author : Kalian menjengkelkan! πββπββπββ
Shofia dan Jo : HAHAHAHAHAHAHAHA π€£π€£π€£π€£π€£π€£π€£π€£π€£π€£π€£π€£
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa Like nya ya π