
Tak terasa tinggal satu minggu lagi pernikahan Shofia dan Zakaria akan dilangsungkan. Kedua belah pihak telah mempersiapkan acara itu dengan semangat.
Persiapan umum telah selesai dilakukan di tempat Shofia. Gedung yang dijadikan tempat resepsi juga sudah disewa dengan jasa WO kenalan Shofia. Sedangkan untuk catering sudah diurus oleh para wanita di keluarga besar Shofia. Masalah baju seragam untuk keluarga besar kedua belah pihak juga telah selesai.
****
Sore itu Shofia sedang menyiram bunga di halaman samping rumahnya. Kegiatan yang rutin dilakukan oleh Shofia setiap sore jika berada di rumah. Dia memang suka berkebun. Dia tidak pernah mempermasalahkan tangan dan badannya kotor terkena tanah saat berkebun. Dia bisa berjam-jam menghabiskan waktunya untuk berkebun.
Saat sedang asyiknya melakukan hobynya itu, bundanya dengan tergesa-gesa menghampirinya sambil terisak.
"Nak yang sabar ya.... " kata Bunda saat telah berhasil memeluk Shofia.
flash back on...
Saat itu bunda sedang bersama para wanita untuk menyiapkan kue kering untuk tamu yang mereka undang dalam acara resepsi. Tiba-tiba suara dari Handphone bunda menghentikan sejenak kegiatan mereka.
"Permisi. Saya angkat telfon dulu dari calon besan." kata bunda sambil tersenyum pada para saudara yang disambut senyum dari mereka. Mereka ikut bahagia melihat kebahagiaan keluarga saudara mereka.
__ADS_1
"Assalaamu'alaikum."
"...."
"Inna lillahi wainna ilaihi roji'un."
"...."
"Iya. Kami akan segera kesana. Hiks." Khusnul mulai terisak. Seluruh wanita di tempat itu memandang Khusnul. Mereka tampak bingung dan khawatir melihat raut wajah Khusnul yang kini terlihat pucat.
"...."
Khusnul segera beranjak dari tempat itu tanpa memperdulikan maupun menjawab pertanyaan dari semua orang yang kini menatapnya khawatir.
Khusnul mencari keberadaan sang suami yang tadi dia ketahui baru pulang dari toko milim mereka. Dia segera menceritakan akan telfon dari calon besan mereka.
Mirza tampak bergeming. Dia tidak bisa berfikir apa yang akan terjadi. Kemudian dia meminta san istri untuk mencari anak mereka.
__ADS_1
flash back off...
Disinilah mereka sekarang. Di depan ruang operasi di sebuah rumah sakit. Mereka duduk disana dalam diam. Hanya terdengar isak tangis dari para wanita. Bukan semua wanita. Karena gadis itu hanya diam dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Semenjak sampai dia dipeluk oleh calon ibu mertuanya tadi dia sampai sekarang masih terdiam. Cerita dari Umi tadi masih terngiang di telinganya.
"Saat Zakaria pergi mengambil mahar yang telah dia pesan di tempat temannya dia mengalami kecelakaan. Kata orang-orang dia menghindari anak kecil yang tiba-tiba lari ke jalan. Dia menabrak pohon yang ada di sana." Umi tidak sanggup melanjutkan ceritanya.
"Kata dokter luka di kepalanya parah. Ada pembuluh darah yang pecah di otak. Jadi harus segera dioperasi." kata Yahya juga terngiang bergantian dengan ucapan Umi.
Semua orang memandang Shofia dengan khawatir. Pasalnya mereka melihat Shofia hanya terdiam tanpa mengucapkan apapun. Bahkan saat Ziana terisak di pelukannya dia juga hanya diam. Bahkan air mata tak menetes sedikitpun dari matanya. Hanya matanya yang merah menahan tangisnya.
"Nak kamu tidak apa-apa kan?" tanya Khusnul khawatir.
"Tidak bund. Shofi tidak apa-apa." kata-kata itu malah membuat semua wanita disana semakin terisak. Para pria pun menunjukkan ekspresi khawatir pada Shofia.
Bagaimana seorang gadis merasa tidak apa-apa jika seorang laki-laki yang seminggu lagi akan menjadi suaminya kini terbaring di meja operasi berjuang melawan maut. Tentu saja yang dikatakan Shofia jika dia baik-baik saja adalah kebohongan belaka.
__ADS_1