
☘️ Biarlah waktu yang membawa takdirku. Aku tidak mau banyak berharap. Aku hanya minta bahagia pada waktunya. ☘️
"Dia dimana sekarang?" tanya Salwa.
"Aku tidak tahu. Dia pergi saat kami naik ke kelas 3. Dia memang pemilik hatiku saat ini. Tapi dia masa laluku. Aku sudah berniat move on. Lagipula aku rasa cinta kami hanya sekedar cinta monyet. Pasti segera hilang. Aku yakin akan ada orang lain yang mampu merebut hatiku.Sudah ya jangan dibahas lagi."
"Shof kenapa kamu sembunyikan suaramu?" tanya Fatimah.
"Iya. Padahal dengan suaramu itu kamu bisa terkenal di pondok ini. Bahkan dapat mengalahkan pamornya mbak Ana. benarkan?" kata Salwa meminta dukungan.
"Benar Shof. Kalau suaramu dipakai qiro'at pasti semua orang meleleh mendengarnya." asumsi Nur.
"Pemikiran macam apa itu? Dasar lebay."
"Benar Shof!" kata Fatimah
"Tidak-tidak. Jangan sekali-kali kalian membocorkan suaraku pada orang lain."
"Kenapa?" tanya Salwa.
"Aku tidak mau repot saja." jawab Shofia santai.
"Maksudmu? "
"Bayangkan saja jika mereka mengetahuinya. Waktu qiro'at pasti aku jadi bullyan nanti nya. Disuruh maju, praktek, waktu acara juga ikutan repot. Apalagi kalau ada lomba-lomba. Pasti sangat merepotkan."
Alasan Shofia membuat temannya tidak habis fikir. Semua orang menginginkan mempunyai suara merdu. Tapi teman mereka memilih menutupi kelebihan yang dimilikinya. Itupun dengan alasan yang menurut mereka mengada-ada saja.
__ADS_1
Keempatnya terdiam dalam fikiran masing-masing. Kejadian tentang Zaki tadi sudah mereka lupakan. Fatimah juga sudah mengerti dengan keadaan yang ada. Dia juga bertekad untuk tidak memikirkannya lagi.
🐣🐣🐣🐣
Setelah Sholah maghrib rombongan mereka melanjutkan perjalanan ke makam selanjutnya. Shofia dan teman-temannya kini dapat kembali tertawa setelah kejadian sore tadi.
"Eh aku dengar gus Zakaria ada di pondok lo." Nur mulai bergosip.
"Tahun ini gus Zakaria lulus. Terus mau melanjutkan kuliah di sini." tambah Fatimah.
"Waaah sepertinya mulai sekarang pemandangan akan semakin indah." kata Salwa. Shofia hanya mendengarkan saja. Dia teringat kata-kata Ziana kemarin padanya. Tanpa diminta gadis polos itu menceritakan tentang gus yang sedang teman-teman nya bicarakan saat ini.
"Shof kamu diam saja." selidik Nur.
"Emang aku harus bagaimana?"
"Katanya mau buka hati." jawab Nur.
"Ya kan bisa mulai dengan gus Zakaria Shof. Secara cowok di pondok ini yang kadar ketampanannya hampir sepadan dengan Jo kan ya cuma gus Zakaria." kata Salwa sambil membayang kan wajah Jo dan Zakaria. Benar-benar dua makhluk tampan.
"Eehem. Ya nggak sekarang juga kali. Aku masih ingin fokus belajar. Masak tobatnya cuma satu tahun." kata Shofia.
"Kan bisa sedikit-sedikit dulu Shof" Nur tak mau menyerah.
"Tidak-tidak. Bukan sekarang."
"Iya Shof memang tidak sekarang. Besok kalau sudah sampai pondok."
__ADS_1
"Tapi tidak membuka hati untuk gus Zakaria juga kali. "
"Kenapa?"
"Mana level? Seorang putra kiyai dengan seorang gadis urakan seperti aku." kata Shofia
"Cinta tidak memandang level Shof." kata Nur.
"Aku sungguh tidak sepadan Nur. Tidaklah pantas untuk gus Zakaria."
"Pantas." kata ketiga sahabatnya kompak.
"Kok kalian jadi bahas kemana-mana sih?" Shofia tidak terima diserang oleh ketiga sahabatnya.
"Pokoknya aku dukung Shof" kata Salwa.
"Apa-apaan sih kalian ini! Sekarang biarkan takdir yang menentukan. Aku akan melangkah kemana takdirku membawa." kata Shofia.
Ketiga sahabatnya menyerah. Tidak ada yang bisa merubah keputusan Shofia. Dia adalah gadis keras kepala.
🐱🐱🐱🐱
*Shofia pov
Setelah aku mendengar perkataan para sahabatku yang tukang provokasi itu sepertinya hatiku mulai menghianatiku. Mulutku beberapa kali menolak membuka hatiku untuk gus Zakaria. Tapi dengarlah hatiku bergetar.
Sepertinya jantungkupun merespon berlebihan kali ini. Bagaimana mungkin jantungku berani-beraninya berdetak kencang saat mereka membahas gus Zakaria.
__ADS_1
Aku akui dia memang tampan. Tatapan sendunya menenangkan. Senyumnyapun menawan.
Aish dan sekarang pikiranku yang berhianat*!!!