
Shofia akhirnya haris dirawat inap di rumah sakit. Akibat kelelahan dia menderita tipes. Shofia segera memberi kabar pada keluarganya. Meminya mereka agar tidak khawatir karena sudah ada sahabatnya yang merawat disini.
Di kota ini dia tinggal sendiri dan tidak ada kerabat. Untungnya dia punya sahabat uang dapat diandalkan.
Pagi ini Ruby, Mela dan juga Rina sudah berada di ruang rawat Shofia. Hari ini adalah akhir pekan. Jadi mereka libur. Saat mereka asik berbicara, pintu kamar diketuk. Mela membukakan pintu.
"Assalaamu'alaikum." suara itu membuat senyum Shofia tersebut. Semua teman Shofia terhipnotis sampai lupa tidak menjawab salam.
"Wa'alaikum salam Gus. Pasti Rizwan yang ember ya." kata Shofia sambil melihat Rizwan yang ada di samping Zakaria. Ya orang yang membuat mereka terpesona adalah Zakaria.
"Untung saja dia memberitahuku. Kamu ini selalu saja. Tak bisakan memberitahuku kalau kamu dalam kesusahan Shof." Zakaria menghampiri Shofia.
"Maaf.😊✌"
"Mbak. Mbak pernah bilang dulu sesibuk apapun kita, kita harus menjaga kesehatan kan. Sekarang mbak malah ikut-ikutan aku." kata Ziana yang tiba-tiba masuk kamar.
"Ziana Kangeeen." Shofia merentangkan tangannya agar Ziana memeluknya. Ziana dengan senang hati menghambur ke pelukan Shofia.
"Jangan lama-lama. Aku cemburu." kata Zakaria membuat Ziana, Shofia dan Rizwan tertawa. Sedangkan sedari tadi ketiga gadia yang lebih dulu berada di ruangan itu bingung dengan apa yang terjadi.
"Sabar mas. Belum muhrim. Biar peluknya aku wakilin dulu." kata Ziana membuat pipi Shofia merah.
"Ehm." deheman Mela menyadarkan keempat orang itu bahwa ada manusia lain disana.
"Oh ya maaf. Gus, Zi mereka teman-temanku. Ini Mela. Rina dan yang itu Ruby." Ziana segera menghampiri mereka menjabat tangan mereka bertiga.
__ADS_1
"Aku Ziana. Calon adik iparnya mbak Shofia."
"Nah teman-teman. Ini adalah Gus Zakaria. Tunanganku." Zakaria menyatukan tangannya di depan dadanya sambil tersenyum.
"Terima kasih semuanya. Selama ini mau menjadi sahabat Shofia. Saya sangat bersyukur shofia mendapat teman yang begitu perhatian." kata Zakaria.
"Shof sekarang kita pindah kamar ya." kata Zakaria pada Shofia.
"Pindah kemana?"
"Ruang VIP. Disana lebih nyaman shof. Kalau di kamar VIP aku sama Ziana akan lebih mudah jaga kamu. Kalau disini ruangannya sempit. Tidak ada tempat yang nyaman juga." kata Zakaria.
"Baiklah. Oh ya bisa minta tolong ambilin barang-barang keperluanku selama disini di rumah?"
"Iya nanti biar diambil Ziana. Rizwan tahu kan."
Tak berapa lama suster datang untuk memindahkan Shofia. Ziana pergi mangambil barang di rumah Shofia. Sedangkan Ruby, Rina dan Mela membantu Zakaria memindahkan Shofia.
Benar kata Zakaria, di ruang VIP bukan hanya nyaman untuk pasien, namun juga nyaman untuk pengunjung. Kini ketiga sahabat Shofia duduk di sofa yang berada di dalam kamar itu. Sedangkan Zakaria duduk di kursi samping brangkar Shofia.
"Kenapa sampai kelelahan Shof?" tanga Zakaria cemas.
"Perusahaan Akhir-akhir ini sibuk. Ada proyek besar. Jadi divisiku sibuk mengerjakan banyak laporan. Di kampus aku juga sudah mulai mengajukan Skripsi." jelas Shofia.
"Kalau capek istirahat dulu. Kemampuan tubuh harus diukur juga. Jangan diforsir untuk bekerja terus."
__ADS_1
"Iya-iya. Sudah ya jangan dibahasa."
"Jangan diulangi lagi Shof. Kamu jauh dari keluarga dan jauh dari kami."
"Iya-iya. Mulai menyebalkan deh."
"Tuh kan mulai keluar juteknya. Aku kangem jutekmu Shof."
"Mau aku jutekin lagi?"
"Nggak mau. Aku sudah kenyang sama jutekmu. sekarang aku mau senyummu saja. Ayo mana hadiah senyumku? Aku sudah jauh-jauh datang demi kamu."
"Hemm modus." kata Shofia. Namun senyum terpatri di bibir indahnya.
Ketiga sahabat Shofia yang mendengar pembicaraan mereka tersenyum bahagia. Mereka ikut baper melihat kemesraan keduanya. Walau tanpa saling menyentuh mereka tetap terlihat mesra.
"Memang benar kata Shofia. Tunangannya iti lebih tampan daripada pak Dika." kata Mela.
"Kau benar. Dan yang terpenting dia begitu lemah lembut dan perhatian." kata Ruby.
"Benar." kata Mela dan Rina kompak.
"Masih ada stok yang seperti itu apa tidak ya?" tanya Mela.
"Kalau masih ada aku minta satu." kata Ruby
__ADS_1
"Aku juga." kata Mela dan Rina kompak lagi.