Perjalanan Cinta Shofia

Perjalanan Cinta Shofia
Biarkan Rizwan yang Melaksanakan Tugasnya


__ADS_3

Ziana menarik tangan Shofia ke belakang Ndalem. Dimana disana ada bangunan pondok putri yang Shofia rindukan.


Saat ini sedang libur sekolah. Jadi banyak santri yang pulang kampung. Sedangkan Salwa, Fatimah dan Nur sudah menikah dan pulang ke daerahnya. Shofia terakhir ketemu mereka pada saat pemakaman Zakaria.


Shofia memandangi bangunan megah di hadapannya. Matanya penuh binar kerinduan. Dia merindukan masa-masa indah saat mencari ilmu di sana.


"Ini mbak Shofia ya?" tanya seorang santri yang mengenalnya.


"Iya. Kamu Nita kan? Wah udah jadi pengurus aja." Niya ini adalah adik kelasnya.


"Benar mbak. Alhamdulillah mbak masih ingat. Lama tidak main ke sini mbak."


"Maaf. Sekarang aku jadi guru di SMP, jadi ya nggak bisa bebas mau kemana-mana."


"Mbak hebat! Semakin cantik saja." Niya menatap Shofia dengan kagum. Dari dulu Shodia memang terlihat cantik. Tapi sekarang lebih cantik lagi karena terlihat dewasa.


"Bisa aja kamu. Kamu juga cantik kok." Shofia tersenyum. "Disini sepertinya tidak ada yang berubah ya... "


"Iya mbak. Cuma sekarang agak bebas. Sekarang mulai MA sudah boleh bawa laptop mbak."


"Iya. Sekarang laptop memang diperlukan untuk pembelajaran."


"Mbak. Aku permisi dulu ya. Mau mandi. Sudah sore." Nita kemudian berlalu meninggalkan Shofia dan Ziana.


Ziana mengajak Shofia ke belakang pondok. Menuju sawah lalu Duduk di gubuk kecil seperti dulu. Keduanya diam beberapa waktu. Membiarkan angin menerpa wajah mereka.


"Aku merindukan angin ini Zi. Aku sudah lama tidak merasakan desiran angin sore." Shofia memejamkan matanya dan merentangkan kedua tangannya. Perlahan kakinya turun dari gubuk menuju tepian sawah.


"Mbak pasti sibuk sampai tidak punya waktu."


"Benar Zi. Aku memang sibuk Akhir-akhir ini. Lagian aku juga tidak ada temennya main ke sawah. Masak iya aku mesti sendirian blusukan ke sawah."


"Selama disini aku akan selalu menemani mbak. Ngomong-ngomong mbak disini berapa hari?"


"Insya Allah empat hari Zi. Aku harus ke pernikahan Rizwan lebih awal. Katanya dia mau memperkenalkan temannya padaku."


"Mas Har?"


"Mungkin."


"Dia orangnya baik mbak. Sama kayak mas Zaka dan mas Rizwan."


"Dia sering ngineb disini?"


"Dulu waktu mas Zaka masih di pondok sih sering mbak. Kalau mas Zaka pulang pasti mas Har atau mas Rizwan ikut. Makanya mereka dekat sama Abah dan Umi."

__ADS_1


"Dia pasti orang baik."


"Baik banget mbak. Dia itu dokter mbak. Seumuran dengan mbak deh kayaknya."


"Kok bisa? Gus Zakaria kan umurnya dua tahun di atasku."


"Mereka itu teman di pondok mbak. Dan nggak madang umur kan kalau di pondok. Menurut cerita dari mas Zaka, dulu mereka kumpulan santri yang bandel. Tapi trus insyaf."


"Ow begitu."


"Iya. Mbak ayo kembali ke Ndalem. Sudah mau maghrib."


"Ok."


Shofia dan Ziana melangkahkan kaki mereka kembali ke pondok. Suasana mulai gelap. Lampu sudah mulai dinyalakan. Tepat sampai mereka berdua tiba di ndalem adzan maghrib berkumandang.


Shofia terhenyak mendengar suara adzan yang sangat merdu. Tubuhnya sampai merinding. Hatinya bergetar. Dia merasa desiran lembut di sekujur tubuhnya mendengan lantunan adzan yang begitu merdu itu.


"Yang Adzan mas Har mbak. Suaranya merdu kan. Sama kayak suaranya mas Zaka. Duku mereka suka duet kalau lagi ngineb disini." Ziana mengerti apa yang dipikirkan Shofia.


"Ya Zi. Suaranya merdu sekali. Dulu waktu pertama kali aku menginjakkan kaki di pondok. Suara Gua Zakaria lah yang aku dengar. Suaranya juga bikin hatiku bergemuruh Zi."


"Nanti aku kenalkan." kata Ziana. Mereka pun Sholat di kamar Ziana. Setelah Sholat mereka berdua membaca Al-Qur'an.


*****


"Shofia." Aisyah memeluk Shofia dengan erat. Aisyah menangis.


Semua keluarga ndalem menyayangi Shofia. Semua menganggap Shofia sebagai keluarga mereka.


"Neng Aisyah jangan nangis dong. Nanti aku dimarahin Gus Fahmi."


"Aku kangen sama kamu Shofia. Sudah lama kita tidak ketemu."


"Maaf mbak. Soalnya aku punya tanggung jawab. Jadi tidak bebas."


"Sudah-sudah. Ayo makan dulu."


"Loh Mi mas Har mana?" tanya Ziana ketika tidak mendapati teman kakanya itu."


"Tadi dia dapat telfon dari rumah sakit. Katanya dia ditugaskan jadi relakan di pos banjir." kata Umi.


"Yaaah" Ziana kecewa. Rencananya mau memperkenalkan Shofia dengan teman kakaknya itu gagal.


"Kenapa kamu kecewa begitu?" tanya Yahya.

__ADS_1


"Tadinya mau aku kenalkan sama mbak Shofia. Pantesan tadi Isya'dijak bukan di ayang adzan"


"Pulangnya tadi habis Sholat Maghrib." kata Fahmi. Keluarga Ndalem memang sudah akrab dengan teman-teman Zakaria karena mereka sering menginap.


"Lain kali masih ada waktu Zi." kata Shofia.


"Makan dulu. Daritadi bicara terus. Nanti makanannya Dingin. " kata Umi.


Mereka semua makan dengan lahap. Shofia sangat senang karena diterima baik di keluarga ini. Andaikan di dulu jadi menikah dengan Zakaria pasti dia akan hidup bahagia dengan keluarga besar suaminya ini.


"Mas Rizwan mau memperkenalkan mas Har sama mbak Shofia Bah. Menurut abah bagaimana?" tanya Ziana saat selesai menghabiskan makanannya.


"Emm Har orangnya baik Shofia. Abah juga setuju kalau Rizwan berniat menjodohkan kalian. Dia juga sahabat Zakaria. Dia da Rizwan sudah kami anggap anak. Seperti kamu." kata Abah. Shofia hanya diam mendengarkan. Dia yakin dengan pilihan Abah.


"Kamu harus membuka hati Shofia. Kamu harus bahagia." kata Aisyah.


"Iya mbak. Kalau temannya Rizwan berniat serius menjalin hubungan dengan Shofia, Shofia juga akan mencoba menerimanya."


"Alhamdulillah."


"Tuh kan! Kalau saja mas Har ada disini. Pasti sudah kenalan dan mbah Shofia tetap akan menjadi kakak iparku." kata Ziana membuat semua orang tertawa.


"Tidak apa Zi. Lagian kan aku juga bakal dikenali sama Rizwan."


"Tapi kan aku mau lihat secara langsung."


"Emang kau fikir ini drama korea yang sering kamu tonton Huh! Udah mau nikah masih kayak anak kecil." kata Yahya. Ya. Tahun ini Ziana memang berencana menikah dengan salah satu anak Kiai di kota itu. Shofiapun juga sudah diberitahu.


"Ya sudah besok kalau aku kesana. Kamu bareng aku saja berangkatnya" kata Shofia.


"Baiklah."


🐾🐾🐾🐾🐾


Shofia : Har ini orangnya gimana sih thor?πŸ€—


Author : Orangnya cakep, tinggi, badannya bagus, pinter, baik pokoknya paket plus-plus deh🀩


Shofia : Kalau begitu mau dong thor dikenalinπŸ€”


Author : Iti tugasnya Rizwan Shof. Entah dia ngambek sama aku. πŸ™„


Shofia : Biarin aja dia ngambek Thor😏


Rizwan : Ngomong apa Shof? mau aku katakan perjodohannya?! 😑

__ADS_1


Shofia : Maaf-maaf khilaf. Maafin yang jomblo ini ya calon mantan... 😊


Rizwan : Gitu Dong manis... 😚


__ADS_2