
💐Pernikahan adalah sesuatu yang sakral. Bukan hanya sekedar ucapan sah yang ditunggu💐
Shofia pov...
Pagi ini, aku melihat sahabatku seperti bermetamorfosis. Sahabatku yang biasanya aku lihat slengekan dan semaunya sendiri kini terlihat sangat berbeda.
Lama aku memandangi sahabatku itu. Calon manten yang membuatku pangling. Rizwan terlihat gagah, dewasa dan sangat berwibawa. Jauh berbeda dengan penampilannya sehari-hari ketika bersama denganku.
Aku mulai berfikir, apakah semua orang akan terlihat berbeda jika memakai pakaian khas pengantin? Memakai pakaian serba putih. Mulai dari kemeja, celana, jas bahkan songkok pun berwarna putih.
Sungguh tampan sahabatku ini. Sekarang aku jadi tahu kenapa sampai dia bisa dijadikan mantu sama pak Kiai. Awalnya aku ragu bahwa sang Kiai lah yang minta Rizwan jadi mantunya. Tapi setelah penampilannya berubah sedikit, aura kewibawaan langsung menguar dari dirinya.
Memandang pakaian Rizwan, aku jadi kepikiran bagaimana penampilan gus tercintaku jika dia benar-benar jadi pengantin? Pasti akan sangat tampan.
Dulu waktu fiting baju, aku sudah melihatnya. Tapi melihat sahabatku ini aku jadi penasaran lagi. Jika jadi pengantin pasti gus tercintaku juga akan keluar auranya ..
"Jangan liat terus Shof. Nanti jatuh cinta." kata Rizwan membangunkanku dari lamunanku yang sudah melebar kemana-mana.
"Kalau aku sampai jatuh cinta sama kamu Riz. Dunia bakalan goncang." aku tertawa hambar. Aku tahu leluconku tidak lucu sama sekali.
"Terus Ngapain melihatnya sampai begitu?"
"Aku pangling Riz."
"Pangling?" kulihat Rizwan mengernyitkan dahinya. Mungkin dia bingung.
"Iya. Kamu sangat berbeda." jawabku jujur.
"Yang bikin pangling apanya Shof?" tuh benar kan dia bingung panglingnya kenapa. Secara dia juga cuma pakaian saja yang beda. Tak ada Riasan wajah sedikitpun.
"Kamu terlihat dewasa Riz. Aku nggak nyangka temanku yang slengekan ini bisa berubah drastis dengan pengantin."
"Namanya juga calin manten Shof auranya keluar"
Aku jadi ingat terakhir kalinya aku lihat wajah Gus tercintaku. Di saat meninggal, wajahnya juga bersinar. Terlihat tenang dan lebih tampan. Ah! aku kangen kan jadinya....
"Kenapa melamun?"
__ADS_1
"Emm aku ingat Gus Zakaria Riz. Apakah dia akan setampan dirimu jika jadi pengantin? " kudengar Rizwan menghela nafas pelan.
"Shof, Zakaria sudah tenang disana."
"Aku tahu Riz. Apa salahnya aku mengingatnya. Aku berdo'a agar dia mendapatkan bidadari di sana."
"Saat pemakamannya dulu Shof. Yang aku fikirkan adalah kamu. Bagaimana kamu akan menjalani hari-hari setelah kematiannya yang begitu mendadak. Tapi sekarang aku sudah lega. Ternyata kamu hidup dengan baik. Jauh dari yang aku takutkan."
"Memangnya apa yang kamu takutkan?"
"Aku takut kamu tidak bisa mengiklaskan kepergiannya."
"Kehidupanku juga harus tetap berjalan Riz."
"Kamu benar." Rizwan pergi setelah mendengar pamannya memanggil untuk pergi ke tempat ijab qobul. Aku juga segera mencari Ziana untuk segera berangkat juga.
****
Rizwan pov...
Hari ini aku sangat bahagia. Bagaimana tidak? Hari ini akan menjadi hari yang sangat bersejarah. Hari dimana aku akan mengganti statusku. Hari dimana aku akan melepas masa lajangku.
"Anak ibu sudah ganteng." suara lembut ibuku terdengar ketika aku sedang memakai jam tanganku. Aku segera menoleh dan kudapati beliau tersenyum penuh keharuan menatapku.
"Anak ibu ini kan memang ganteng bu." kataku seraya mendekati ibu. Kutuntun ibuku duduk di ranjang.
Kudapat merasakan kebahagiaan lewat tatapan mata ibuku. Beliau menatapku dalam. Mungkin beliau sedang memikirkan ayahku. Kata Orang wajah ayahku semasa masih muda sama sepertiku. Tangan kanan ibu terulur menyentuh wajahku. Segera kutangkupkan tanganku pada tangan beliau yang sedang menangkap pipi kananku.
"Ibu. Hari ini Rizwan akan menikah. Rizwan minta ibu mendoakan rumah tangga Rizwan menjadi rumah tangga yang sakinah, mawaddah Warohmah." kataku seraya menarik tangan ibu ke atas pangkuannya. Kucium kedua telapak tangan itu bergantian. Kudengar ibu terisak.
"Do'a ibu selalu menyertaimu nak. Ibu Berdo'a semoga semua dilancarkan oleh Allah Azza Wa Jalla. Aamiin. Semoga rumah tanggamu diridloi Allah dan cepat dikaruniai keturunan." kurasa air mataku menetes di atas tanganku. Kuhapuskan air mata itu dengan lembut.
"Aamiin. Bu sebentar lagi Rizwan akan membawa menantu ibu ke rumah. Jadi ibu tidak akan kesepian lagi."
"Iya nak. Ibu sangat bahagia melihatmu memakai pakaian ini Dulu ibu selalu berdoa supaya ibu bisa melihat anak-anak ibu menikah. Tapi ternyata Allah mengambil Zakaria sebelum dia sempat menikah dengan Shofia." ibu mendesah pelan. Ya. Ibu juga menyayangi Zakaria dan juga Har seperti anaknya sendiri. Bahkan kadang aku merasa merekalah anak kandung ibu dan aku hanya anak tiri. Hiks
"Rizwan berniat mengenalkan Shofia sama Har bu." ibu tersenyum. Sepertinya ibu juga setuju dengan rencanaku.
__ADS_1
"Terus mereka mau?"
"Mereka sudah mau aku kenalkan bu. Walaupun sengan perjuangan berat membuat merwka bedua setuju. Rencananya kemarin bu aku kenalkan. Makanya Shofia datang lebih cepat kemarin. Tapi sayang Har tidak bisa datang bu. Dia ada tugas mendadak di pos pengungsian banjir di Jakarta." lagi-lagi ibu mendesah. Ibumu bahkan juga tahu bagaimana Shofia dan Har, sama-sama anti lawan jenis. Selain aku deh untuk Shofia. Entah kami sangat cocok menjadi teman.
"Ibu berharap mereka jodoh Riz. Kelihatannya mereka cocok" tuh kan bener. Penilaian Ibu juga sama dengan penilaiannku.
"Aamin."
"Ya sudah ibu keluar dulu ngurus yang lain. Sebentar lagi kita berangkat."
Setelah ibu keluar, aku juga keluar kamar. Saat aku berdiri sambil memperbaiki penampilanku di depan kamar. Kudapati sahabatku, Shofia memandangiku.
Kuperhatikan Shofia. Namun sepertinya fikirannya sedang tidak berada disini. Dia seperti sedang melamun. Aku tahu dia pasti sedang teringat Zakaria.
Secepatnya aku harus mengenalkannya pada Har. Aku harap Har dapat menghapus kesedihan dalam kehidupan Shofia.
Aku langsung menggodanya. Namun dari perangainya, aku tahu bahwa hatinya sedang gelisah saat ini.
Setelah kutanyakan padanya apakah dia memikirkan Zakaria, ternyata Tebakanku benar.
Aku ingat saat pemakaman Zakaria dulu. Saat berjalan ke pemakaman Di depan keranda ada dua orang yang membawa gagar mayang, simbol dari acara temu pengantin.
Seharusnya benda itu menjadi lambang bertemunya Shofia dan Zakaria seminggu lagi. Namun saat itu, aku melihat benda itu meninggalkan Shofia.
Fikiranku langsung terpusat pada Shofia. Aku memikirkan sahabatku itu. Bagaimana dia akan menjalani hari-hari ke depan setelah kepergian Zakaria. Aku tahu banyak rencana yang mereka buat setelah pernikahan. Aku takut Shofia down.
Tapi ternyata kecemasanku wakti itu tidak ada gunanya. Sahabat perempuanku ini sangat kuat. Perasaan cinta memberinya kekuatan.
Shofia adalah gadis paling kuat yang pernah aku temui. Calon suaminya meninggal satu minggu sebelum tanggal pernikahan. Walaupun aku tahu pasti sangat sakit rasanya saat itu. Tapi dia tidak menangis.
Awalnya aku heran. Saat kembali dari pemakaman aku lihat Shofia bahkan tak menangis sedikitpun. Aku semakin khawatir. Bagaimana kalau dia sampai depresi?
Tapi setelah aku mendengar penjelasan dari Umi. Aku tahu apa yang menjadi alasannya. Sungguh hebat kekuatan cinta kedua sahabatku.
Walaupun Zakaria sudah meninggal, Dia masih tetap memberi kekuatan pada Shofia. Aku jadi iri pada kisah cinta yang pasti akan terukir indah di hati siapa pun yang mengetahui kisahnya. Aku iri pada kisah cinta keduanya yang begitu tulus dan berdasar pada rasa Cinta Kepada Allah SWT.
Saat aku melihat Shofia begitu sendu hari ini. Rasa khawatir itu muncul lagi. Di saat seperti inilah aku yakin bahwa Shofia pasti teringat Zakaria. Dia pasti merasa kangen pada Gus tercintanya itu.
__ADS_1
Aku takut bahwa Shofia masih belum mengiklaskan kematian Zakaria. Namun ternyata aku salah lagi. Ternyata Shofia mengingatnya untuk mendo'akan Zakaria. Bukankan ini adalah kisah cinta yang patut untuk membuat semua orang iri?