
Shofia sedang free sekarang. Dia sedang tidak ada jadwal mengajar saat ini. Dia duduk di ruang guru dengan beberapa guru lain yang juga sedang free.
"Gimana Shof selama ini dengan kelasmu? ." tanya Bu Ema. Guru senior disana. Dulu dia juga adalah guru yang mengajar di kelas Shofia. Bu Ema dululah yang telah menjinakkan kelas Shofia. Namun untuk kelas istimewa angkatan ini dia kewalahan. Mungkin juga karena faktor usia. Dua tahun lagi dia akan pensiun.
"Lumayan bu." jawab Shofia sambil tersenyum.
"Kenapa kamu senyum begitu?"
"Mungkin ini karma." Shofia semakin melabarkan senyumnya. Dia mengingat kejahilan-kejahilannya bersama teman-temannya di masa lalu.
"Kenapa kamu bilang seperti itu?"
"Aku ingat bu. Dulu aku dan teman-temanku begitu jahil. bahkan mungkin melebihi mereka. Jadi aku rasa ini masih belum ada apa-apa daripada kenakalan kami dulu."
"Kamu benar Shof. Kelasmu dulu adalah kelas yang paling istimewa yang pernah ibu temui. Tapi ibu sangat bersyukur mendapatkan kehormatan untuk mengajar kalian. Kalian begitu hebat. Sampai sekarang tak ada yang bisa seperti kelas kalian." Bu Ema juga mengingat bagaimana susahnya dulu dia menaklukkan kelas Shofia.
Kelas Shofia adalah kumpulan siswa yang super jahil. Mereka selalu saja ada ide untuk membuat para guru keluar dari kelas mereka dan mereka bisa dengan leluasa memainkan permainan favorit mereka. Apalagi jika bukan Memukul bangku dengan apa saja yang bisa digunakan memukul kemudian mereka akan bernyanyi sambil teriak-teriak. Kelas 7 C yang sekarang ditangani Shofia bahkan belum ada apa-apanya dibanding kelas Shofia dulu.
"Sampai sekarang aku tidak bisa melupakan kelasmu dulu Shof. Kelas yang penuh kenangan. Kelas yang menghidupkan sekolah ini. Sudah lama sekolah ini begitu tenang tak ada hiburannya. Dan aku bersyukur sebelum aku pensiun aku menemukan lagi kelas seperti itu. Dan lebih menyenangkan lagi, aku akan melihat The Queen of Jahil menanganinya. hahaha" kedua wanita berbeda generasi itu kemudian tertawa renyah.
Yah. Kini Shofia harus bisa menaklukkan kelas 7C yang menjadi kelas yang dibimbingnya. Dia dipercaya sebagai walikelas di kelas itu. Shofia harus memutar otak bagaimana cara untuk menjinakkan mereka.
"Dulu bagaimana ibu bisa menaklukkan kami? Aku masih belum begitu mengerti apa yang mereka mau. Padahal aku sudah enam bulan disini. Tapi sepertinya belum ada perubahan."
__ADS_1
"Dulu kalian itu mudah dipahami Shof. Walaupun kalian itu suoer jahilnya tapi Kalian itu sudah terlihat apa yang kalian inginkan. Tapi sekarang mereka kelasmu itu sulit dilihat."
"Huft... sepertinya aku harus bekerja lebih keras bu." Shofia mendesah.
"Sekarang kamu masih sering berhubungan dengan teman-temanmu dulu?"
"Ada beberapa bu. Elin, Kalia, Edi dan Udin masih sering ketemu."
"Band kalian masih ada?"
"Sudah bubar bu. Kami sibuk sendiri-sendiri. Kalia sudah menikah dan ikut suaminya tinggal di Bandung. Kalau Udin jadi petani sukses bu sekarang. Tanahnya luas. Bulan depan dia sudah mau nikah. Ibu tahu nikahnya sama siapa?"
"Mana ibu tahu?" Bu Ema menoleh pada Shofia.
"Aku sih belum yakin bu. Tapi katanya dia nikahnya sama Sundari. Ibu ingat?"
"Iya bu."
"Ibu juga tidak menyangka jika Udin bisa nikah sama dia."
"Kalau Jo gimana?" mendengar pertanyaan Bu Ema, Shofia terdiam. Semenjak dia mengenal Zakaria, nama Jo perlahan tergeser dari hatinya. Bahkan hampir tidak mengingatnya. Namun entah mengapa Hatinya masih bergetar saat mendengar nama Jo disebut kembali.
"Aku juga tidak tahu bu. Dia masih hilang kontak. Bahkan di grup wa kelas tidak ada. Tidak ada yang pernah bertemu dengannya" jelas Shofia.
__ADS_1
"Dulu dia juga tidak bilang mau pindah kemana. Dia benar-benar jadi misterius."
"Ibu ini masih suka bercanda."
"Apa salahnya!? Biar awet muda."
"Ibu memang awet muda. Dalam usia ibu yang sudah kepala lima ibu masih terlihat cantik."
"Kamu selalu pintar memuji. Eh Shof ibu jadi penasaran."
"Penasaran masalah?"
"Perasaanmu dulu pada Jo... "
"Ibu ini seperti orang muda saja. Kepo!" Shofia tertawa kecil mendengar pertanyaan sang guru yang dirasa aneh.
"Kenapa kamu tertawa?"
"Lucu saja bu. Dulu ibu sering menasehati kami agar tidak pacaran."
"Itu kan dulu Shof. Sekarang kamu sudah dewasa. Sudah cukup umur untuk pacaran. Bahkan menikah." melihat Shofia tersenyum, bu Ema jadi penasaran dengan alumni muridnya itu. "Apa kamu juga masih mencintai Jo sehingga sampai sekarang kamu belum menikah?"
deg...
__ADS_1
Shofia mengangkat tangan kirinya. Disana terlihat terpasang cincin di salah satu jari Shofia. Bu Ema memandang heran. Dia baru kali ini mengamati cincin yang dipakai Shofia. Cincin iti terpasang di jari tengah. Tapi bukan masalah jari mana yang mendapatkan kehormatan memakai cincin itu. Melainkan cincin itu sendiri. Bu Ema tahu betul itu adalah cincin untuk laki-laki.
"Pasangan cincin ini seharusnya melingkar di jari manisku bu. Dan cincin ini bukan disini tempatnya." Shofia tersenyum sambil memainkan cincin itu. Memutarnya pelan.