
Jo membawa Shofia ke sebuah rumah. Rumah itu adalah rumah yang telah dipersiapkan oleh Jo untuk mereka tinggali.
Shofia sangat senang melihat rumah itu. Dari depan terlihat bangunan dua lantai yang berdiri dengan megah. Dua tiang penyangga yang berada di teras membuat rumah itu terlihat kokoh. Di lantai dua ada sebuah balkon yang menghadap ke arah taman. Dinding rumah itu berwarna biru muda dan putih yang merupakan warna kesukaan Shofia.
Di halaman depan ada taman yang ditata dengan rapi lengkap dengan bermacam-macam jenis bunga yang berwarna-warni. Ada sebuah kolam kecil yang berisi banyak ikan hias berbagai warna dan ukuran. Di atas kolam ada dua buah bunga teratai yang sedang mekar.
Setelah puas melihat halaman, Jo membawa Shofia masuk. Di bagian depan adalah ruang tamu. Sofa berwarna biru dengan motif polkadot mengisi ruang tamu itu, lebih ke dalam adalah ruang keluarga. Ada sebuah televisi lebar di depan sebuah kasur yang akan nyaman digunakan untuk tiduran sambil nonton televisi atau bermain game. Selain ada kasur, ada pula sofa lengkap beserta mejanya disana.
"Aku ingin lihat dapurnya Jo." Shofia penasaran dimana tempatnya bertahta sebagai koki untuk keluarga kecilnya.
"Hem" Jo meraih tangan Shofia, menunjukkan letak dapur.
Shofia meninggalkan Jo di meja makan saat sudah melihat segala macam peralatan dapur yang sudah lengkap dan tertata rapi di sudut ruangan. Shofia membuka setiap rak dan takjub melihat isi di dalam setiap rak, semua lengkap. Tak lupa dia membuka lemari es, disana dia juga sudah menemukan banyak sekali sayur-sayuran yang masih segar.
"Ratuku, hari ini apa yang akan ratuku masak untuk rajamu ini?" tanya Jo sambil memeluk Shofia dari belakang.
"Hahaha Jo. Bercanda terus. Raja kodok?"
"Ayolah sayang, kau adalah ratu di istanaku ini." Jo membalikkan badan Shofia. Mencium bibir istrinya, melum*t bibir tipis itu.
"Baiklah Yang Mulia Raja. Hari ini anda ingin makan apa?"
"Bagaimana kalau makan kamu saja." bisik Jo di telinga Shofia yang menimbulkan sensasi aneh yang dirasakan Shofia. Shofia kini hanya bisa terdiam tanpa bicara.
"Jo..." kata Shofia saat merasa tangan Jo sudah mulai nakal dan berkelana mencari lokasi favoritnya.
Tanpa menunggu lama, Jo mengangkat tubuh Shofia. Dia tidak menghiraukan ocehan istrinya yang minta diturunkan. Setelah berhasil menaiki tangga, Jo membungkam bibir cerewet istrinya dengan bibirnya sendiri. Memagutnya dengan penuh cinta. Shofia terbawa suasana dan hanyut dalam kenikmatan yang diberikan suaminya. Membalas ciuman panas yang dilancarkan oleh Jo.
"Ini kamar kita sayang. Tempat kita mencetak anak-anak kita." kata Jo setelah menurunkan tubuh Shofia dan mendekapnya.
"Dasar mesuuum!" teriakan Shofia berhasil membebaskan Shofia dari dekapan suaminya. Itu karena Shofia teriak tepat di telinga Jo sehingga menyebabkan Jo menutup kedua telinganya dengan kedua tangan yang dari tadi mengunci pergerakan istrinya.
__ADS_1
Shofia kemudian melihat isi kamar. Ada sebuah kasur ukuran besar, sebuah nakas di sebelah kanan dan kiri ranjang. ada Dua buah pintu yang membuat Shofia penasaran.
Setelah membuka sebuah pintu, Shofia ternganga karena isi di dalamnya adalah baju-baju yang tertata rapi di dalam lemari kaca, bajunya dan baju Jo di tata terpisah. Ada sebuah lemari yang khusus menyimpan pakaian kerja milik Shofia dan Jo.
"Ini?" Shofia berniat menanyakan atas isi baju-baju kerja yang ada di lemarinya pada Jo yang dari tadi hanya diam memperhatikan keasyikan Shofia melihat isi kamar mereka.
"Aku yang sudah mengambilnya dari rumah bunda."
"Kalau lemari satunya?"
"Itu baju yang kusiapkan untukmu. Jadi kamu tidak perlu membawa dari rumah bunda."
"Terima kasih sayang." Shofia memeluk Jo. Tentu saja Jo akan dengan senang hati membalasnya.
"Ada lagi yang akan membuatmu senang." Jo menarik tangan Shofia ke balkon yang berada di kamar itu.
"Wah sayang. Ini indah sekali." Shofia lagi-lagi meninggalkan Jo demi melihat keindahan yang dilihatnya dari atas balkon. Jo menggeleng-gelengkan kepalanya menyadari kelakuan Shofia.
"Maksudmu apa sayang?"
"Apa kamu lebih menyukai semua ini dibanding suamimu sendiri?" Jo kembali memeluk Shofia.
"Tentu saja tidak sayang. Tentu saja aku lebih menyukaimu." jawaban Shofia membuat Jo sangat senang. Jo tersenyum dengan penuh arti. Shofia jadi salah tingkah karenanya.
"Mau apa sayang?" tanya Shofia saat merasa tangan Jo mulai beraksi di dalam bajunya.
Jo mencium Shofia. Menahan tengkuk Shofia untuk memperdalam ciumannya. Shofia membuka mulutnya dan membalas ciuman panas dari Jo, Jo mendorong sedikit demi sedikit tubuh Shofia agar masuk ke dalam kamar mereka. Jo menutup pintu balkon menggunakan kakinya.
Setelah berada di dalam Jo merebahkan tubuh Shofia secara perlahan ke atas ranjang, dan terjadilah adegan-adegan yang memang seharusnya mereka lakukan di dalam tempat yang Jo bilang Tempat untuk mencetak anak itu.
(Eeemmm silahkan dilanjut sendiri Ea... 😁)
__ADS_1
Setelah pergumulan panjang sore hari itu, Jo mengangkat tubuh polos Shofia ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar itu. Shofia menutup dadanya dengan cara menyilangkan kedua tangannya di depan dua bukit kembar miliknya.
"Untuk apa kau menutupinya sayang? Aku bahkan sudah sangat hafal bentuk dan ukurannya." Jo tersenyum mesum melihat tingkah istrinya itu.
Blush... pipi Shofia terasa terbakar. Merah merona karena malu. Memang benar apa yang dikatakan Jo barusan. Tapi tidak harus dikatakan bukan?
"Sudahlah sayang, kamu tak perlu malu padaku." Jo mencium kening istri yang masih digendongnya itu sebelum membenamkan tubuhnya dan tubuh Shofia ke dalam buthup.
Mereka pun mandi bersama untuk yang pertama kali. Mereka saling menggosok punggung, kaki dan juga tangan mereka. Dan saat Jo menggosok bagian depan tubuh Shofia, ternyata sesuatu yang di bawah sana menjadi tegang. Shofia yang menyadari itu langsung bangun dan berjalan ke bawah shower. Dia harus segera menyelesaikan aktifitas mandinya dengan menghilangkan sabun dari tubuhnya.
Shofia tidak sadar jika hal yang dilakukannya malah membuat hasrat Jo semakin bergejolak. Pemandangan tubuh polos Shofia di bawah pancuran shower semakin membuatnya terpancing. Jo mendekati Shofia dan melancarkan aksinya. Dan pertarungan panas pertama mereka dalam kamar mandipun tak bisa Shofia hindari.
"Lain kali aku nggak mau kalau di ajak mandi berdua." kata Shofia yang kesal sambil menyisir rambutnya yang setengah basah. Jo yang mendengar itu hanya tersenyum mengamati wajah kesal istrinya yang terlihat menggemaskan di matanya.
"Kenapa? Bukannya semakin efektif? Aku bisa menggosok bagian tubuhmu yang tidak bisa kamu bersihkan sendiri?" Kata Jo santai.
"Huh! Kau menghabisiku Berkali-kali di kamar mandi tadi."
"Siapa suruh berdiri dengan tubuh polos yang menggoda itu?"
"....."
"Sayang, kita akan sering melakukannya mulai sekarang." kata Jo membuat tubuh Shofia merinding.
*
*
*
Jangan lupa TINGGALIN Jejak like 👍, VOTE, KOMENT, dan Rate ya 😍
__ADS_1